<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326</id><updated>2012-01-18T23:40:30.074-08:00</updated><category term='Jakarta-Japan Matsuri 2009'/><title type='text'>Priono Winarno</title><subtitle type='html'>Sekadar puisi, foto, fragmen reportase &amp;amp; perjalanan..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-8610386190277492872</id><published>2011-07-29T00:12:00.000-07:00</published><updated>2011-08-03T07:52:35.246-07:00</updated><title type='text'>Happy English di Planet Satwa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-dJhox-1ZstY/TjJiSYvNbBI/AAAAAAAAAJI/hrV6ibPZAIE/s1600/HappyEnglish3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-dJhox-1ZstY/TjJiSYvNbBI/AAAAAAAAAJI/hrV6ibPZAIE/s320/HappyEnglish3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634674151811542034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-aMNxTTBmH1U/TjJhoO1FflI/AAAAAAAAAJA/AJLngiGppTY/s1600/HappyEnglish1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-aMNxTTBmH1U/TjJhoO1FflI/AAAAAAAAAJA/AJLngiGppTY/s320/HappyEnglish1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634673427597327954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruas jalan beraspal kasar dan berlubang di kawasan Gedong Panjang, Penjaringan, Jakarta Utara, itu tak henti mengepulkan debu.  Sengat mentari begitu terik.  Atap pos ronda, pagar, dan pohonan berpupur debu.   Di satu sudut kolong jembatan yang pengap dan sumpek, kerumunan orang yang mayoritas anak-anak duduk lesehan.  Lainnya berdiri berdesakan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang mau pegang ulaaar..!,” Bintang Dwi Nugroho Respati separuh berteriak melalui corong megaphone di tangannya.  &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sayaa..! Sayaa…!&lt;/span&gt;” Sejumlah bocah usia SD itu pun merangsek maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Prasetyo Budi yang siang itu memegang seekor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Boiga dendrophilla&lt;/span&gt; sepanjang hampir dua meter, hanya senyum-senyum begitu jari-jari mungil para bocah mulai meraba tubuh ular berbisa menengah yang juga dikenal sebagai ular cincin emas itu.  Wajah kanak-kanak yang riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Ahad (24/7) lalu menjadi hari yang cukup istimewa bagi tak kurang dua ratusan anak yang mayoritas tinggal di sekitar jalan tol Gedongpanjang, Penjaringan, Jakarta-Utara.  Orang tua mereka berasal dari beragam latar belakang sosial ekonomi.  Buruh serabutan, pedagang kecil, dan sebagainya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain materi pengenalan satwa liar dari spesies mamalia yang disampaikan oleh Mbak Imenk dari Planet Satwa, rekan-rekan pecinta reptil depok yang tergabung dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Deric Education&lt;/span&gt;, berperan besar dalam acara yang juga dihadiri  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;host&lt;/span&gt;  serial &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Jejak Petualang”&lt;/span&gt;  (TV 7), Herna Tyo.  Tyo bahkan tak segan turun tangan membantu  menyiapkan property dan alat peraga berupa aneka reptile dan satwa koleksi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Deric Education&lt;/span&gt; maupun  pribadi.  Beruntung, acara hari itu juga kian ramai oleh dukungan sumbangan ratusan botol sirup dari kolega Happy English serta dari PT. Unilever berupa sampo, sabun, hingga deodoran. Tak ketinggalan majalah Flona dengan sumbangan berupa puluhan eksemplar majalah yang temanya relevan dengan materi edukasi hari itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nah..,&lt;/span&gt; jadi kita tak perlu membunuhnya. Kita bisa menggunakan alat-alat sederhana seperti ini untuk mengusir ataupun mengendalikan ular yang masuk rumah,” terang Abas Nyak Agil Mamih sembari meraih sapu dan pengki.   Dibantu Teguh Prasetyo Budi yang juga sesepuh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Deric Education&lt;/span&gt; serta Roy, Averoes Oktaliza, Arby, Muhammad Nurwanta, dan pegiat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Deric Education&lt;/span&gt; lainnya,  bergantian materi penanganan ular dipaparkan di hadapan anak-anak yang sangat antusias itu.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Empok-empok&lt;/span&gt; yang berdiri di belakang anak-anak tak kalah antusias.  Sesekali mereka menutup mulut sembari mata mendelik melihat tangan seorang relawan Planet Satwa sengaja digigitkan pada seekor ular guna rekonstruksi penanganan gigitan ular. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aiiihhh..!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Siapa yang mau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;digigiit..&lt;/span&gt;!,” seorang relawan berteriak.  “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saiyyyyaaaaa….!&lt;/span&gt;,” beberapa anak maju ke depan dengan gagah berani.  Giliran relawan Planet Satwa sejenak mati kutu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hehe…&lt;/span&gt;dasar bocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengenal dan mencintai satwa  harus dimulai sejak dini. Ini yang ingin ditanamkan pada anak-anak Happy English, sebuah kelas bahasa inggris di kolong tol Penjaringan, Jakarta Utara, bersama dengan komunitas Planet Satwa,” papar relawan humas Happy English Nancy P. Martawardaja yang akrab dipanggil Ecy dalam rilisnya (26/7) terkait program edukasi bertajuk “Happy English Juga Sahabat Satwa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ecy mengimbuhkan, seringkali manusia tidak menyadari bahwa satwa berperan sebagai penyeimbang kehidupan.  “Tidak ada suatu ciptaan apapun yang diciptakan oleh Tuhan tanpa maksud, oleh karena itu kami ingin anak-anak Happy English  mencintai dan memperlakukan satwa dengan baik serta tidak melakukan penyiksaan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak - anak yang mengikuti program edukasi ini merupakan siswa Happy English yang biasa belajar di kolong tol Penjaringan.  Anak - anak tersebut bukanlah anak anak jalanan, pengemis ataupun pengamen.  Mereka bersekolah dan memiliki orang tua yang bekerja sebagai buruh ataupun pedagang kecil.  Dalam keterbatasan fasilitas dan lokasi belajar, sedikitpun semangat mereka tak redup kala mengikuti kelas yang diadakan para relawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas Happy English diadakan sebulan dua kali dengan tempat belajar berlantai semen beralaskan terpal.  “Kami dari Happy English memiliki visi yang sama dengan Planet Satwa dalam memperlakukan satwa, kami ingin anak – anak mencintai dan menjadikan satwa sebagai sahabat mereka.  Oleh karena itu, kami senang sekali bisa mendapat edukasi langsung dari teman – teman Planet Satwa, yang memiliki pengetahuan  mumpuni tentang  satwa “ terang Ecy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Ecy dan kawan-kawan Happy English terkait tradisi memperlakuan satwa secara layak  patut didukung.  Pasalnya, untuk satwa liar, misalnya, tak sedikit dari anak-anak itu yang belum mengenalnya lebih dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pernah ketemu ular?,” tanya saya pada seorang peserta bernama Sadam (9). Bocah bertubuh gemuk itu hanya tersenyum sembari memainkan buku tulisnya. Tiba-tiba matanya berbinar. “Pernah!,” Sadam tersenyum. &lt;br /&gt;“Ular apa?,” Saya menyelidik.&lt;br /&gt;“Ular kobra!,” jawabnya mantap sembari menuding seekor ular kobra dalam boks kaca milik relawan Planet Satwa yang siang itu menjadi salah satu materi edukasi. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oohoh&lt;/span&gt;, itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tho&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abas Nyak Agil Mamih, inisiator Planet Satwa, selama ini  pemahaman publik terkait satwa liar masih sangat kurang. Bahkan untuk hal-hal yang mendasar. “Dampak paling umum adalah munculnya persepsi keliru tentang satwa.  Berikutnya, muncul tindakan atau perlakuan yang juga tidak tepat terhadap satwa liar yang masuk ke habitat manusia,” papar Agil dalam satu kesempatan. Karena itu edukasi dasar terkait satwa liar maupun domestik perlu diberikan sejak dini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agil, mantan pramugari maskapai penerbangan Garuda yang juga pengasuh satwa telantar, itu lantas mencontohkan tindakan kebanyakan orang saat mendapati ular masuk perkampungan.  “Biasanya langsung dibunuh tanpa berpikir panjang kenapa sampai ular masuk rumah penduduk,” ujarnya prihatin.  Biar begitu, Agil tak sepenuhnya menyalahkan tindakan warga mengingat tak semua orang paham dan mampu mengatasi ular atau satwa liar yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nylonong&lt;/span&gt; ke rumah penduduk.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Itu pula yang melatari Agil dan rekan-rekannya menggagas Planet Satwa, belum lama ini.  Tercatat sejumlah kalangan pemerhati dan penyayang reptil, mamalia, unggas, dan banyak lagi, mendukung inisiasi Planet Satwa yang saat ini bermarkas di kediaman Agil di kawasan Rawajati Timur III/1, Jakarta.  Planet Satwa mengakomodasi siapapun yang memiliki kepedulian terhadap satwa tanpa memandang latarbelakang organisasi setiap indvidu yang telibat. Serta bersama-sama mengedukasi dan memberikan advokasi publik terkait paradigma yang tidak tepat dalam penanganan satwa liar maupun domestik.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(credit photos : Happy English)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-8610386190277492872?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/8610386190277492872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/07/happy-english-di-planet-satwa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/8610386190277492872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/8610386190277492872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/07/happy-english-di-planet-satwa.html' title='Happy English di Planet Satwa'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-dJhox-1ZstY/TjJiSYvNbBI/AAAAAAAAAJI/hrV6ibPZAIE/s72-c/HappyEnglish3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-8368005608765325931</id><published>2011-07-25T00:58:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T01:21:37.908-07:00</updated><title type='text'>Mencari Judul ke Sawarna</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-FvC0ZJxaOdU/Ti0ng5Q--VI/AAAAAAAAAII/SPR5jTuvBi4/s1600/P1013088.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-FvC0ZJxaOdU/Ti0ng5Q--VI/AAAAAAAAAII/SPR5jTuvBi4/s320/P1013088.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633202154991712594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mas&lt;/span&gt;, judulnya apa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;yah&lt;/span&gt;, buat tulisan KJS ku?.  Aku kasih judul ‘Kartini Jungle Survival 2010’ tapi kata Redpel  (Redaktur Pelaksana,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-pen&lt;/span&gt;.) ku kurang menarik..”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selarik kalimat muncul di layar hape Saya,  pagi pertengahan Juli lalu.  Si pengirim pesan,  Yulia Qim Deebraska,  seorang sekretaris yang gemar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blusak-blusuk&lt;/span&gt; hutan dan gunung untuk menyalurkan hobi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sport&lt;/span&gt; luar ruangan.  Qim merasa punya utang menulis kegiatan KJS yang diikutinya setahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini hutan kali, yah? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Heheh..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kartini Tanpa Kebaya!   &lt;br /&gt;Bingung, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ah&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan “kreatif” Qim, juga saya alami.  Bukan hanya sekali, mungkin ribuan kali.  Menjadi lain ceritanya jika tengah mengikuti lomba mengarang, misalnya.  Inspirasi judul tulisan gampang didapat dari sederet tema yang diajukan panitia lomba.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tema tulisan ditentukan sebelum mulai menulis, judul menyusul setelah tulisan selesai”… Pesan Yohannes Ratoem, guru mengarang saya di SMP dulu. Wejangan Pak Ratoem itu tampaknya  masih saya praktekkan sekarang, biarpun tidak selalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kasih saja dulu judulnya, ntar ketemu idenya!,” sergah Tengku Taufiqulhadi, mantan Redaktur Internasional harian Media Indonesia, ketika mengajari saya menulis hasil reportase maupun features, sekian tahun silam.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah&lt;/span&gt;? Judul ditulis duluan atau belakangan?  Depan kena belakang kena.  Dua-duanya bisa dilakukan sesuai pilihan.  Semakin terbiasa orang menulis, soal judul bukan lagi perkara sulit… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke lah, Qim… Saya mau menulis perjalanan kecil ke Pantai Sawarna, Lebak, Banten. Mungkin kamu sudah pernah menghirup wangi anginnya.  Lembut pasir kuning tembaga nya.  Di salah satu ceruk pantai, sunyinya serasa menggetarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi 16 April itu, Tim Ogden dan Penny Davis sudah menunggu saya di depan bungalow Villa “QS”, masih di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi.    &lt;br /&gt;Ya, kami berniat trekking dari Pantai Pelabuhan Ratu ke Sawarna.  Penny bekerja di Kedutaan Besar Australia.  Tim, pacar Penny, datang langsung dari Australia atas ajakan Penny.  Botol ketemu tutup, saya akan memandu mereka sehari penuh tepat ketika kantor tengah prei.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya ke Pelabuhan Ratu diantar Susilo, sopir Kedubes Australia.  Laki-laki paruh baya asal Imogiri, Bantul, itu mengaku sudah belasan tahun &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyopir&lt;/span&gt; di kedubes.  “Anak saya kuliah, ya dari hasil nyopir ini, Mas..,” ujar Susilo sembari tersenyum.  Kumisnya baplang, tapi wajahnya ramah cenderung kekanakan.  Tipikal orang yang gampang akrab dengan siapa saja.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;“Jadi, jam berapa kita akan mulai?,” ujar Penny mulai tak sabar sembari memilin rambut coklat muda sebahu yang dikucir ke belakang.  Menyembul dari celah belakang topi kain warna khaki yang bertengger di kepalanya.  Ia sudah siap dengan kemeja lengan panjang digulung sebatas siku, celana pendek warna hitam dan sepatu treknya. Cantik. “Jam 6.30 mulai jalan.  Cuaca akan cerah cenderung panas.  Habiskan dulu sarapanmu,” saya menukas.  Di meja makan tak jauh dari resepsionis sarapan sudah siap. Sepiring nasi goreng,  paha ayam dan telur mata sapi. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Delics, enyaak&lt;/span&gt;..,” Penny melirik saya sembari mesem.    &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;“Hmm, kamu sudah pernah trekking sebelumnya?,” ujar saya kepada Tim. Mulutnya mengunyah irisan timun dan selada. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;It’s my first&lt;/span&gt;!,” terang Tim nyengir.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oalaah, Mas&lt;/span&gt;… &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kami menargetkan sampai Pantai Sawarna sebelum petang.  Dari sana, mobil jemputan akan mengantar kembali ke Villa untuk menginap hingga keesokan hari sebelum kembali ke Jakarta. Trek yang akan dilalui kombinasi antara susur pantai dan menjelajah beberapa bukit kecil.  Ada peta besar terpasang di dinding anyaman bambu, persis di samping meja resepsionis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit molor dari rencana, kami baru start pukul 06.45. Diantar Susilo, kami harus bermobil sekira 15 menit dari penginapan.  Targetnya salah satu pintu masuk perkebunan karet milik PT Perkebunan Nasional (PTPN) setempat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan singkat kami lalui menyusuri jalan setapak bertekstur kasar menyusuri kebun karet. Tak genap setengah jam ketika hampar laut kembali tampak, nun di bawah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sono…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak sulit mencium bibir pantai terdekat yang berbatasan dengan hampar tanaman padi dan perkebunan kelapa milik warga. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Paddy field&lt;/span&gt;..! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Paddy field&lt;/span&gt;..!,” setengah memekik Tim menunjuk hampar sawah yang tak begitu luas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oho&lt;/span&gt;, rupanya baru pertama kali ia melihat dengan mata kepala sendiri rupa tanaman padi. Dasar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ndeso!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di bibir pantai dengan ceruk kecil menjorok ke laut, kami istirah sejenak.  Saatnya ngopi kesiangan. Termos kecil berisi kopi dan teh panas sudah kami siapkan. Penny dan Tim minta teh, saya pilih ngopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara mulai panas menyengat. Tim dan Penny melepas sepatu. Angin laut serasa menampar pagi itu.  Kepingan batu aneka warna di sekitar saya mengingatkan saya pada Pantai Kota Agung di Selatan Lampung.  Saat Sekolah Dasar, di kala senggang saya dan teman-teman sesekali menyinggahi pantai landai itu.  Naik truk dengan ongkos seratus rupiah seorang.  Saat itu, rata-rata harga permen Rp 25 dapat lima butir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eii…! Ei..!…Noo..!&lt;/span&gt;,” pekikan Penny membuat saya terperanjat.  Hah! Sejoli itu berlarian menjauh. Main kejar-kejaran di hampar pasir lembut berwarna kuning tembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngopi, ngemil biskuit, mengunyah beberapa kerat buah pir dan apel. Perjalanan kami teruskan.  O, ya, tak lupa saya pungut beberapa butir batu seukuran telur bebek. Warnanya menarik, merah saga dengan gurat biru setengah lingkaran.  “Untuk apa batu itu, Prio?” Tanya Penny setengah menyelidik.  “Oh, bebek saya belum bertelur. Menaruh ini di sarangnya mungkin akan memacunya untuk bertelur!,” jawab saya sekenanya.  Penny berkacak pinggang mendekati saya. Matanya setengah mendelik, menampakkan mukanya yang kemerahan dengan totol-totol coklat hampir merata. Nyengir, saya menyingkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tengah hari.  Lansekap mulai dominan oleh tebing-tebing tinggi dengan pepohonan mirip bonsai.  Dilihat dari bentuk daun dan epidermis kulitnya sepertinya dari jenis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ficus benyamina&lt;/span&gt;.  Gerumbul pandan laut tak lagi nampak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut, debur ombak, pasir… Laut, debur ombak, pasir…begitu sampai kami mulai membuka bekal makan siang.  Nasi, semur ayam, dan capcay goreng yang dikemas dalam boks plastik.  Penny dan Tim tak mengeluh dengan menu itu.&lt;br /&gt;Sahabat saya Krystyna Krassowska (KK) yang mengajari saya soal menu itu. Di tulisan berikutnya saya akan cerita soal londho edan yang satu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngapain kamu orang Indonesia menyajikan makanan orang asing untuk tamu-tamu kamu. Sajikan makanan khas kamu sendiri, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;doong&lt;/span&gt;! Mereka datang kan, mau belajar, mencoba sesuatu khas lokal” ujar KK suatu ketika. Saya manggut-manggut.  “Tapi tanya dulu kalau mau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pake sambel&lt;/span&gt;,” KK nyerocos lagi.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Okay, mpok&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati pukul dua siang, kawasan Pantai Sawarna mulai nampak. Gulungan ombaknya besar, susul menyusul.  Di kejauhan, beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;surver&lt;/span&gt; mulai memainkan papan selancarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, kami sudah menempuh waktu tak kurang 7 jam. Dan memang tak terasa berlalu secepat itu.  Kami putuskan untuk ke penginapan secepatnya, sore itu juga. Kami harus melewati perkempungan kecil sebelum sampai ke tempat Susilo menunggu dengan mobil jemputannya.  Kampung bertabur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;home stay&lt;/span&gt;. Mirip pelosok gang sekitar Pantai Kuta dengan lalu-lalang turis asing yang menenteng papan selancar.  Bedanya, di sini sesekali terdengar celetukan dalam bahasa sunda…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-8368005608765325931?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/8368005608765325931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/07/mencari-judul-ke-sawarna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/8368005608765325931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/8368005608765325931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/07/mencari-judul-ke-sawarna.html' title='Mencari Judul ke Sawarna'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FvC0ZJxaOdU/Ti0ng5Q--VI/AAAAAAAAAII/SPR5jTuvBi4/s72-c/P1013088.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-4308344813284681230</id><published>2011-04-07T01:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T01:40:35.960-07:00</updated><title type='text'>Wawancara Mr. Mehta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-CuT6s54wkys/TZ13QdIlyqI/AAAAAAAAAH8/1LHxAdYBbz4/s1600/Copy%2Bof%2BRajiv%2BMehta.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CuT6s54wkys/TZ13QdIlyqI/AAAAAAAAAH8/1LHxAdYBbz4/s320/Copy%2Bof%2BRajiv%2BMehta.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592757436846295714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Rajiv I.D. Mehta, &lt;br /&gt;Development Director, ICA Asia Pacific&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Daya Cooperativisme Lebih Hebat dari Parpol!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menarik berdiskusi dengan Mr. Mehta. Sesekali, laki-laki dengan rambut ditumbuhi uban itu menepuk bahu lawan bicaranya manakala mencoba meyakinkan jawabannya. Hangat dan akrab. Tak ada jalur instant menuju ekonomi rakyat yang kuat dan berdaya manfaat. Kebijakan inkonsisten dari pemerintah disebutnya mengganjal penguatan ekonomi rakyat. “Kalau komunitas ekonomi rakyat, federasi koperasi, organisasi koperasi kuat dan solid, ini bisa lebih “menakutkan” sekaligus persuasi paling kongkret daripada partai politik terbesar sekalipun,” ujar&lt;br /&gt;paruh baya yang yang berkantor di 9th Aradhana Enclave, RK Puram, New Delhi itu, dalam wawancara dengan Saya awal Juli setahun silam. Karena cukup menarik, fragmen  wawancara ini saya “repost” di blog ini, ee.. siapa tahu ada gunanya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Monggo&lt;/span&gt; disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemerintah Indonesia mengembangkan program kredit mikro dan kecil dengan lembaga perbankan nonkoperasi yang dikenal dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang debiturnya adalah kalangan usaha kecil dan koperasi. Pendapat Anda? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemukakan, strategi apapun yang tidak mencoba meletakkan diri pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tidak akan bertahan lama. Anda pasti tahu bahwa koperasi punya prinsip. Menolong diri sendiri, transparansi, kejujuran, keadilan, memiliki tanggung jawab yang sama untuk mensukseskan koperasi. Otoritas praktek pengelolaan dipegang oleh anggota. Itu tidak bisa disubtitusi oleh pihak lain, bahkan pemerintah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda mau mengungkapkan bahwa program itu (KUR) tidak akan efektif?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kita harus percaya, dan ini harus dipahami bersama, bahwa koperasi bisa pegang peranan sentral dalam perekonomian. Termasuk dalam mengatasi persoalan finansialnya melalui program-program yang lebih memungkinkan koperasi merepresentasikan kepentingan  ekonomi anggotanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Indonesia ada Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk warga tak mampu. Dana diberikan langsung tanpa agunan dan tanpa cicilan. Tanggapan Anda? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Program pemberdayaan untuk meningkatkan taraf hidup anggota masyarakat lokal yang paling miskin dan tidak beruntung sangat dibutuhkan. Tapi memang bentuknya berbeda, karena sebaiknya memang diikuti dengan pemberdayaan. Tidak diberikan dalam bentuk uang kemudian dibebaskan penggunaannya begitu saja. Kualitas pelayanan mitra kerja dan Otoritas Pengembangan Masyarakat Lokal, peningkatan bagi personel dalam hal kesehatan, pendidikan, pendapatan keluarga, serta keamanan pangan, merupakan bagian yang harus diintegrasikan. Dana sebanyak apapun tanpa pengorganisasian yang tepat akan sia-sia. Adanya penguatan kelompok swadaya masyarakat dan akses ke sumber-sumber pemberi pinjaman formal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa salah satu indikator keberhasilan pemberdayaan untuk peningkatan taraf hidup? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Salah satunya adalah adanya penguatan kelompok swadaya masyarakat dan akses ke sumber-sumber pemberi pinjaman formal. Lainnya adalah terbinanya setidaknya 50 % Organisasi Berbasis Kemasyarakatan (Community Based Organizations) dan terselenggaranya kegiatan pengembangan melalui kerjasama dengan lembaga lokal di pedesaan. Itu semua tidak instant. Diawali dengan membantu dan memfasilitasi masyarakat dalam menerjemahkan rencana tindak lanjut masyarakat atau rencana-rencana pembangunan desa ke dalam rencana prioritas. Juga membantu masyarakat dalam penyusunan proposal proyek, mendapatkan persetujuan proyek dan dan. Proyek-proyek kecil berhasil terlaksana dengan dukungan yang baik.Serta tak bisa ditinggalkan adalah menyusun monitoring berbasiskan kemasyarakatan dan penjajakan implementasi proyek serta melembagakan kerangka pendokumentasian investasi proyek-proyek mikro. Meningkatnya pendapatan/ketersediaan pangan, kesehatan, gizi, tingkat pendidikan sebanyak 75% rumah tangga. Semua desa masing-masing memiliki paling sedikit satu organisasi kemasyarakatan. 80% basis komunitas melibatkan kaum perempuan sebagai peserta aktif dan memiliki peran penting dalam manajemen juga dalam kegiatan sehari-hari mereka. 80% LSM menunjukan kinerja dan pencapaian yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kompleks sekali, Anda punya pengalaman pemberdayaan serupa program BLT? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ya, pengalaman pemberdayaan warga paling miskin di Andhra Pradesh Utara, India, sering saya kemukakan dalam banyak forum. Tapi berbeda dengan kasus di Indonesia yang Anda kemukakan. Pemberdayaan itu tidak sederhana, bukan memberikan uang begitu saja. Program itu difokuskan untuk meningkatkan kesehatan, pendidikan, pendapatan keluarga dan terjaminnya ketersediaan pangan bagi 235 ribu rumah tangga di 4 distrik Andra Pradesh secara signifikan dan berkesinambungan melalui perkuatan organisasi berbasis yang memiliki kapasitas dalam hal perencanaan dan pengelolaan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Koperasi memiliki kapasitas untuk itu, terutama untuk sektor ekonomi dan pemberdayaan sumberdaya manusianya.  Program peningkatan, pendidikan, dan peningkatan pendapatan keluarga tentu terlalu naïf jika hanya melalui pemberian bantuan dana begitu saja. Program itu sukses menyelenggarakan proyek-proyek mikro mengenai pendapatan, kesehatan, keamanan pangan, akses jalan, air dan sanitasi serta perlunya infrastruktur pendidikan bagi masyarakat setempat. Warga mendapatkan pelatihan dalam hal pendidikan, kesehatan, nutrisi , micro-finance dan ketersediaan mata pencaharian. Sedikitnya 1 proyek kecil dapat dituntaskan dengan berhasil di masing-masing kelompok masyarakat. Memberikan pelatihan bagi anggota kelompok swadaya dalam hal manajemen kelompok, manajemen kredit, layanan pengembangan usaha, dan aspek-aspek legal, dsb. Melaksanakan program untuk meningkatkan kepekaan bagi para bankir dan lembaga-lembaga pemberi dukungan dana. Menghubungkan kelompok-kelompok dengan lembaga-lembaga pemberi pinjaman yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa peran pemerintah terkait hal di atas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gerakan koperasi masih membutuhkan dukungan terkait kebijakan nasional yang konsisten dan terukur. Pemerintah lebih ke aspek regulator dan tidak terlibat terlalu jauh.   Harus bebas dari pengaruh politik, dan  koperasi harus mampu memperkuat kompetensi dan keuntungan komparatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang harus dilakukan, bahwa koperasi kompetitif dan memiliki keuntungan komparatif?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Banyak hal bisa dilakukan. Itu sudah bisa dilakukan di banyak negara. Koperasi harus secara agresif mampu memasarkan keuntungan atau kelebihan komparatif mereka yang  berbeda dengan badan usaha lain. Krenanya, koperasi harus fokus pada peningkatan kapasitas anggota, manajemen, dan pengurusnya. Harus meningkatkan daya saing. Saya melihat criteria itu diadopsi oleh koperasi yang berhasil, tak itu di Swedia atau Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melihat trend ekonomi global, bagaimana peluangnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, perkembangan ekonomi saat ini semakin rumit. Dari teknologi, system berikut inovasinya. Permasalahan jadi lebih kompleks, termasuk ekses sosialnya. Tapi bisa anda simak,  sebuah koperasi di Vietnam bahkan sanggup mendonasikan US$ 60 ribu per tahun untuk program-program sosial. Jumlah yang tak kecil untuk negara berkembang seperti Vietnam. Untuk membantu mengatasi kemiskinan, korban perang, bencana alam dan lain-lain.  Kita bisa belajar dari situ, kompleksitas bisa memacu kita menjadi lebih kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masalahnya di Indonesia pemodal asing demikian menguasai sektor ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maka itu seperti saya katakana tadi, regulasi harus konsisten dan terukur. Pemerintah setidaknya bisa membaca trend global. Geraqkan koperasi harus bergerak untuk membangun argumen yang menguntungkan mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masalahnya, koperasi di Indonesia sangat lemah di sektor politis dibanding partai politik atau kelompok penekan dari pemodal besar? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Itu dia, tugas koperasi harus agresif mampu menawarkan kelebihan komparatifnya. Itu tak mudah. Sebab, koperasi harus bebas dari pengaruh politik sedangkan bisnis seringkali menjadi bagian integral, bahkan bisa mengarahkan. Melihat kondisi di Indonesia, yang masuk ke politik pasti akan berada dalam jaring laba-laba yang terkoneksi dengan pusaran politik praktis.&lt;br /&gt;Kalau federasi koperasi, organisasi koperasi kuat dan solid, daya koperasi lebih hebat sekaligus persuasi paling kongkret daripada partai politik terbesar sekalipun, dalam mengambil keputusan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bisa mempengaruhi keputusan politik dong?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jangan salah, petani-petani di Jepang memiliki basis representasi di partai LDP yang legendaris itu. Kebijakan PM yang tak sesuai bahkan bisa mereka gagalkan. Koperasinya tangguh, petaninya kuat, padahal sedikitpun mereka bukan (negara) agraris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lantas, apa faktor yang selama ini menjadi kendala dalam pengembangan koperasi di Indonesia menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Masalah sumberdaya manusia, permodalan, dan manajemen suplai, dan manajemen bisnis masih jadi kelemahan dominan. Ini bukan hanya problem Indonesia, kebanyakan negara-negara berkembang juga begitu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda punya resep agar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cooperatives movement&lt;/span&gt; di Indonesia memiliki posisi tawar kuat di ranah ekonomi dan politik?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Of course.&lt;/span&gt; Selalu mulai dari dalam. Perkuat internal koperasi dari level paling bawah (primary). Luruskan organisasi dan bisnisnya, dan jangan terjebak elitisme. Persoalan juga pada bagaimana koperasi mampu memainkan peran yang lebih besar dalam melawan kemiskinan dengan memimpin aksi nasional yang dapat diimplementasikan gerakan koperasi yang bermitra degan pemerintah dan kekuatan pembangun lain sebagai mitra. Ini juga terkait dengan program Millennium Development Goals (MDGs), sehingga diharapkan dapat mencapai kemajuan substantive untuk mengatasi problem kemiskinan, kelaparan, masalah penyakit, buta huruf, degradasi lingkungan dan perlawanan terhadap diskriminasi perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Secara internal cooperatives movement?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memperkuat relasi dengan anggota itu sudah pasti. Membangun strategi konsolidasi bagi kelangsungan mekanisme intitusi koperasi untuk mencegah intervensi ekternal yang merugikan.  Perlu juga mendokumentasikan praktek-praktek dan pengalaman yang baik untuk mempersiapkan road map bagi aksi yang akan datang dengan model pengalaman yang sukses di tiap negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Biodata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mr. Rajiv I.D. Mehta&lt;br /&gt;Bergabung sebagai direktur ICA Asia Pasifik sejak 2004, Mehta adalah jebolan pasca sarjana bidang biologi radiasi dan manajemen financial. Kariernya membentang 24 tahun di bidang pembangunan. Selama 21 tahun (1980-2001) ia kenyang berkecimpung di koperasi dan selama 3 tahun berikutnya (2002-2004) menjadi delegasi komisi Eropa di India bagi pengembangan koperasi dan NGO. Mehta mengkhususkan diri dalam program-program pelatihan pengembangan bisnis koperasi. Pernah juga berkiprah di ICA Asia Pasifik antara 1990 dana 2001.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-4308344813284681230?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/4308344813284681230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/04/wawancara-mr-mehta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4308344813284681230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4308344813284681230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/04/wawancara-mr-mehta.html' title='Wawancara Mr. Mehta'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CuT6s54wkys/TZ13QdIlyqI/AAAAAAAAAH8/1LHxAdYBbz4/s72-c/Copy%2Bof%2BRajiv%2BMehta.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-1318613772589631713</id><published>2011-04-07T00:42:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T01:02:04.814-07:00</updated><title type='text'>"Betoorr.., Betoorr..,Tolong Bawa Saya.."</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Nv3-G8Y8e7I/TZ1vRl5rqDI/AAAAAAAAAH0/3SPSU69GJhY/s1600/P5240105.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Nv3-G8Y8e7I/TZ1vRl5rqDI/AAAAAAAAAH0/3SPSU69GJhY/s320/P5240105.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592748660286531634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak butuh waktu lama untuk bersepakat harga dengan Usmandi Jambe. Laki-laki paruh baya berkulit legam yang tak henti mengembuskan asap rokok, itu akhirnya bersedia mengantar saya keliling pinggiran Kota Padang dengan ongkos Rp 20 ribu menggunakan betor.  Betor, becak motor,  bercat dominan hitam itu merupakan kombinasi antara sepeda motor, lazimnya produk Jepang, dengan body becak. Angkutan macam ini di beberapa daerah di Sumatera memang lazim. Kali ini saya mendapatinya di kawasan Simpang Siteba, Kota Padang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara nasib, Betor kreasi urang awak ini tak jauh beda dengan becak di pinggiran Kota besar pada umumnya, terpinggirkan. Pemerintah Kota Padang, yang harus diacungi jempol untuk perkara menata jalanan kota sehingga selalu tampak resik, itu melarang ‘betor” berkeliaran di dalam kota. Alhasil, saya harus puas keliling pinggiran kota mulai dari perempatan Siteba ke Gunung Sarik, kemudian melalui jalan tikus menyusuri Pantai Padang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Becak motor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;van&lt;/span&gt; Padang ini memang maha perkasa, sanggup mengangkut 4-5 orang dewasa, belum termasuk si abang yang menyetir becak tentunya. Alhasil, hiruk pikuklah setiap betor penuh penumpang tengah melintas. Jika pun penumpangnya hanya seorang, muatannya dapat dipastikan bejibun. Seperti pada sebuah pagi, akhir Mei silam, terlihat seorang ibu menumpang betor yang sekaligus sebagai armada angkut belanjaan berupa 'segunung' daun singkong dalam buntelan kain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang Abang paling banyak bawa pulang Rp 25 ribu dari menarik betor, dulu bisa sampai Rp 75 ribu,” papar Usmandi. Bapak dua anak asli Siteba ini sudah lebih dari sepuluh tahun narik Betor. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ekonomi keluarga Usmandi masih ditopang oleh istrinya yang memiliki kios buah di Pasar Siteba. Betor yang saya temui di pinggiran Kota Padang itu terlihat kaya dengan sentuhan modifikasi. Mulai dari sekedar hiasan tudung becak hingga stang motor yang diganti dengan setir mobil.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Betor, berikut rupa-rupa nasib penariknya, sebetulnya bukan monopoli Kota Padang. Di Aceh dan Sumatera Utara, becak motor juga memiliki tradisi panjang sebagai pelaku ekonomi rakyat yang seringkali terpinggirkan oleh arus modernisasi. Di kota-kota tersebut, becak motor memiliki ciri khas masing-masing. Di Pematang Siantar, misalnya,  betor tampak unik dengan pemakaian motor besar tempo doeloe bermerek BSA (Birmingham Small Arms). Konon, betor di Siantar bahkan menjadi maskot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda pula dengan becak motor di kota Padang Sidimpuan. DI sana vespa dimodifikasi sebagai betor. Potongan becaknya nyaris sama dengan betor di Siantar, hanya rodanya dibuat lebih kecil untuk mengimbangi ukuran roda vespa. Jadi, siapapun yang menumpang betor ini akan terlihat “ditelan” bodi becak. Di Tebing Tinggi, malah bikin heran, betapa tidak, motor-motor berharga belasan hingga puluhan juta rupiah berjenis sport pun disulap jadi betor. Sebutlah Honda Tiger, Suzuki Thunder, hingga Kawasaki Ninja. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eeng..ing..eeeng..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-1318613772589631713?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/1318613772589631713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/04/betoorr-betoorrtolong-bawa-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1318613772589631713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1318613772589631713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2011/04/betoorr-betoorrtolong-bawa-saya.html' title='&quot;Betoorr.., Betoorr..,Tolong Bawa Saya..&quot;'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Nv3-G8Y8e7I/TZ1vRl5rqDI/AAAAAAAAAH0/3SPSU69GJhY/s72-c/P5240105.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-628913327504840598</id><published>2010-12-23T06:13:00.000-08:00</published><updated>2010-12-23T07:05:43.989-08:00</updated><title type='text'>Sepotong Jumat di Cut Mutiah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TRNcdjZbDJI/AAAAAAAAAHk/XcY_e9NcWiQ/s1600/P1011796.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TRNcdjZbDJI/AAAAAAAAAHk/XcY_e9NcWiQ/s320/P1011796.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553884428265786514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TRNcIUlq9_I/AAAAAAAAAHc/SYoApkKPIMY/s1600/P1011817.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TRNcIUlq9_I/AAAAAAAAAHc/SYoApkKPIMY/s320/P1011817.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553884063513376754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Om.&lt;/span&gt;.koran, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Om..gopek..&lt;/span&gt;!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah laki-laki yang belum genap tujuh tahun itu menyodorkan lipatan koran bekas kepada saya.  Bercelana hitam selutut dan kemeja batik warna biru pudar, copot satu kancingnya.  Menampakkan bulatan pusarnya.  Di tas sekolah bergambar Spiderman, masih menumpuk lipatan koran bekas yang dibanderol gopek (Rp 500,-) per “eksemplar”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuad namanya. Mengaku berumah di Gang Ampiun, tak jauh dari Pasar Cikini, Jakarta Pusat.  Saban jum’at, Fuad jalan kaki sekitar tiga kilometer dari rumahnya menuju Masjid Cut Mutiah.  Keluar Gang Ampiun, Fuad menyusuri Jalan Cikini Raya, persis di depan Stasiun Cikini.  Kaki kurusnya segera saja menapaki trotoar menuju kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM).  Di emperan nan jembar depan TIM, kawan “seprofesi” Fuad telah menunggu.  Tak genap limabelas  menit jalan kaki, mereka sudah berhadapan dengan Masjid Cut Mutiah yang kuno dengan cat dominan putih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran-koran bekas, tiap lipatan berisi rata-rata dua lembar (4 halaman koran) itu dipakai alas duduk orang-orang yang akan salat jum’at di beranda masjid yang dulunya bekas kantor Mister Pieter Adriaan Jacobus Moojen, nun lebih tigabelas dekade silam. Entah, sudah berapa penggal jumat saya habiskan di sini.  Ini memang salah satu lokasi jumatan yang nyaman dan terdekat dengan kantor saya.  Selain di masjid belakang Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ).&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Biarpun sudah membawa sajadah dari kantor, saya terima juga tawaran Fuad.  Selembar uang seribuan bertukar dengan koran bekas. “Makasih, Om!,” balas Fuad Datar. Perawakannya yang ceking lantas menghilang diantara kerumunan orang. “Koran, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Om.&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cuma gopek&lt;/span&gt;..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lusinan bocah sebaya Fuad di pelataran masjid itu.  Selain koran bekas, sebagian menawarkan potongan kertas kecil bertulis angka-angka.  Ini untuk pengunjung masjid yang enggan menanggung resiko pulang salat jumat dengan kaki cakar ayam.  Sandal atau sepatu sama belaka ongkos titipnya, seribu perak. Rak-rak kecil tempat menyimpan sandal dan sepatu tersusun rapi di bawah tangga masjid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berapa kira-kira &lt;span style="font-style:italic;"&gt;turn over&lt;/span&gt; jasa penitipan sandal dan sepatu itu? Jika limaratus pasang sandal dan sepatu saja yang diparkir di sana, ada perputaran uang setidaknya Rp 500 ribu setiap jumat.  Ini belum termasuk lebih tigaratus sepeda motor yang ongkos penitipannya Rp 2.000. Saya belum tahu, bagaimana mereka membagi-bagi kue “bisnis”nya. Berapa persen pula yang masuk ke kas masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masjid-masjid yang menggelar salat jumat lazimnya akan kembali sepi begitu ritual usai. Sebaliknya, keramaian masjid berarsitektur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Art Noveau&lt;/span&gt; ini justru mencapai puncak setelah imam salat jumat menyudahi rakaat terakhirnya.  Mugkin lebih limaratus orang menghambur keluar dari ketiga lantai yang bisa dipakai salat.  Menuruni anak-anak tangga nan sempit. Angin semilir menampar wajah melalui jendela-jendelanya yang lapang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beranda masjid, hampir tak ada sudut yang tersisa dari serbuan lapak-lapak kecil yang digelar seadanya.  Di beranda depan, di sisi kiri dan kanan, hingga luber di sepanjang jalan Cut Mutiah.  Persis di halaman depan masjid, tingkat okupasi pedagang tiban terhadap ruang publik itu hampir paripurna.  Jika anda tengah melongkok pedagang pisau pemotong aneka sayuran jangan kaget jika saat bersamaan pantat anda bersinggungan dengan pantat pengunjung yang tengah menyimak promosi penjual minyak pelebat jenggot.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di emperan depan yang sedikit lebih luas dari lapangan basket, saya mencatat ada lebih dari 30 pedagang tiban.  Macam-macam barang dijajakan di sana.  Mulai dari pakaian anak, VCD bajakan, es cendol, klep pengaman tabung gas, obat sakit gigi, minyak lintah, hingga tahu gejrot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dipilih ! Dipilih! Dipilih..!&lt;/span&gt;” teriakan itu bersahutan dari satu lapak ke lapak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang pikuk.  Biarpun tak beli apapun,  saya suka saja salat jumat di pasar, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;eh&lt;/span&gt;, Masjid Cut Mutiah.  Malahan lebih nyaman duduk beralas koran atau sajadah sembari menunggu dimulainya shalat jumat di emperan masjid yang bisa  menampung seribuan jamaah itu.  Juga karena beberapa pokok angsana dan palem botol yang tumbuh meraksasa menghadirkan hawa silir tak terkira.  Tajuknya rimbun, puluhan burung senang nangkring di sana.  Bersiul. Juga buang kotoran dan menimpa tubuh atau kepala orang-orang yang ada di bawahnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pluk&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong ingatan saya, inilah beberapa komoditas yg dijual di halaman masjid Cut Mutiah, saban jumat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kemeja casual dan batik ( Rp 30 ribu – Rp 75 ribu berbagai merk)&lt;br /&gt;2. Jam tangan aneka merek (mulai Rp 25 ribu. Jam Casio G-Shock yang di dealer resmi paling murah di atas Rp 400 ribu, di sini cukup Rp 80 ribu! Jangan konfrontasi soal asli tidaknya sama Si Abang bakul jam)&lt;br /&gt;3. CD/VCD/DVD  bajakan (Rata-rata Rp 5 ribu sebiji.  Ketika Film “Eat, Pray n Love” yang setting pengambilan gambarnya sebagian di Bali itu blom diputar di bioskop, saya mendapati DVD nya  beredar di sini. Gambarnya lumayan. Tapi jangan ditiru, nonton DVD palsu! )&lt;br /&gt;4. CD pria (Celana Dalem. Mulai Rp 18 ribu per pack isi 3 potong). &lt;br /&gt;5. Majalah anak  (Bobo lawas, Ipin dan Upin, buku mewarnai, Rp 5 ribu isi tiga buku)  &lt;br /&gt;6. Batre hape ( belum pernah tanya harganya)&lt;br /&gt;7. Kartu perdana dari beberapa operator telpon (Mulai Rp 5 ribu. Penjual dengan armada bermobil di luar kompleks masjid pramuniaganya biasanya cantik-cantik)&lt;br /&gt;8. Minyak urut plus jasa pijat (Mulai Rp 10 ribu. Plus pijat tambah ongkos semau si pemijat. Lihai si Abang Pijat ini, sambil jualan dan klaim aneka manfaat, jari jemarinya yang kekar sibuk mengurut  bagian tubuh “pasien” pria yang telanjang dada.  Anehnya, sering saya dapati dari jum’at ke jum’at “pasien” yang diurut sama belaka )&lt;br /&gt;9. Minyak lintah (Diklaim manjur untuk rupa-rupa sakit kulit, Rp 20 ribu per botol)&lt;br /&gt;10. Kacamata terapi (warna-warni dengan lubang garis horizontal mirip teralis jendela kaca nako, Rp 25 ribu sebiji)&lt;br /&gt;11. Ayam-ayaman pegas (Rp 10 ribu seekor. Warna dominan kuning ayam dan coklat ayam. Dari pengalaman saya beli dua kali untuk anak saya, sistem mekanik pegasnya sangat tidak awet. Sepuluh kali putaran biasanya si ayam mogok jalan)&lt;br /&gt;12. Pisau dapur ( Si Abang biasa demo ketajaman si pisau dengan memotong lembaran koran. Tak jelas apakah ini pisau dapur atau pisau kertas. Mulai Rp 5 ribu sebuah)&lt;br /&gt;13. Tahu gejrot (Rp 5 ribu per porsi. Ini favorit saya. Pas legit kuahnya dengan aroma bawang dan tekstur cabai rawit yang kuat.)&lt;br /&gt;14. En cincau ( Rp 3 ribu segelas)&lt;br /&gt;15. Kue rangi (Rp 5 ribu sebungkus isi 8 potong) &lt;br /&gt;16. Gemblong manis ( Beli berapa biji saja boleh, Rp 5 ribu sebungkus isi 8. Mutu ketannya kurang bagus, kemungkinan besar dicampur  tapioka).&lt;br /&gt;17. Juadah bakar (Rp 1.000,- sepotong. Enak dimakan agak sedikit gosong. Menyamarkan kurangnya porsi tepung ketan)&lt;br /&gt;18. Air nira dalam tabung bambu (Rp 3 ribu segelas)&lt;br /&gt;19. Obat-obatan pabrikan aneka merk (obat china juga jamu jawa. Belom Tanya harganya) &lt;br /&gt;20. Celana jeans dan pantaloon (mulai Rp 65 ribu)&lt;br /&gt;21. Sabuk kulit sintetis (mulai Rp 25 ribu termasuk ongkos menambah lubang sabuk . Salah satunya saya pakai hingga sekarang dan belum ada tanda kerusakan hingga tiga bulan terakhir)  &lt;br /&gt;22. Sandal karet dan plastik (mulai Rp 15 ribu sepasang)&lt;br /&gt;23. Sepatu kulit (mulai Rp 45 ribu)&lt;br /&gt;24. Sarung hape ( Rp 10 ribu)&lt;br /&gt;25. Casing hape ( Tidak pernah tanya harga. Hape saya awet bertahun tak pernah ganti)&lt;br /&gt;26. Kredit mobil Suzuki (DP Rp 20 juta saja, angsuran mulai Rp 2,5 juta/bln)&lt;br /&gt;27. Kaus dewasa dan anak (mulai Rp 10 ribu)&lt;br /&gt;28. Pompa angin manual (bola, sepeda, sepeda motor, mulai Rp 15 ribu)&lt;br /&gt;29. Kacamata baca (mulai Rp 10 ribu)&lt;br /&gt;30. Perlengkapan sulap (belum pernah tanya harga,  tak pernah suka disulap)&lt;br /&gt;Di luar halaman masjid&lt;br /&gt;1. Sate padang ( Rp 8 ribu per porsi isi 8 tusuk. Kuahnya lumayan gurih tapi dan potongan daging satenya lumayan anyep)&lt;br /&gt;2. Celana dalam GT Man ( mulai Rp 25 ribu per pack isi 3 biji. Saya heran kok tak ada GT Woman)&lt;br /&gt;3. Hape murah ( mulai Rp 260 ribu, biasanya BB!)&lt;br /&gt;4. Kredit sepeda motor (mulai Rp 460 ribu/bulan tergantung nominal DP)&lt;br /&gt;5. Burung dan kelinci (harga mulai Rp 50 ribu/ekor, burung pentet. Kelinci lokal asal Bogor mulai Rp 25 ribu seekor.  Pecinta burung jangan kesini karena akan dibuat sedih melihat kemasan pembungkus burung yang serupa kantung gorengan dengan sejumlah kecil lubang ventilasi)&lt;br /&gt;6. Rujak potong dan buah iris (Rp 2 ribu sepotong buah, rujak iris Rp 7 ribu seporsi)&lt;br /&gt;7. Bakso Malang (Rp 7 ribu semangkok)&lt;br /&gt;8. Gudeg Jogja (tak pernah niat tanya harga, sebab selalu dibuatkan Emak jika kebetulan pulang kampung)&lt;br /&gt;9. Laksa Bogor (Rp 6 ribu seporsi dengan tahu putih besar, serpihan oncom yang gurih plus harum daun kemangi. Salah satu favorit makan siang saya usai jumatan. Sayang, air untuk cuci mangkoknya kurang terjaga kebersihannya.  Satu ember 10 liter dipakai mencuci lebih dari dua lusin mangkok). &lt;br /&gt;10. Lapak –lapak lainnya niscaya luput dari pandangan mata saya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-628913327504840598?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/628913327504840598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/12/sepotong-jumat-di-cut-mutiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/628913327504840598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/628913327504840598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/12/sepotong-jumat-di-cut-mutiah.html' title='Sepotong Jumat di Cut Mutiah'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TRNcdjZbDJI/AAAAAAAAAHk/XcY_e9NcWiQ/s72-c/P1011796.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-6570338504684032277</id><published>2010-10-12T08:51:00.000-07:00</published><updated>2010-10-12T09:18:44.701-07:00</updated><title type='text'>“Cinta pada Gigitan Pertama…Aouuww..!”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TLSKMhpUNhI/AAAAAAAAAHU/qXudFDw7F9Q/s1600/P1011399.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TLSKMhpUNhI/AAAAAAAAAHU/qXudFDw7F9Q/s320/P1011399.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527194590485165586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Uhh..! Aaww..!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aji Fajri meringis menahan ngilu ketika Aji Rachmat mengurut berulangkali telunjuk kirinya yang mulai membengkak.  Sore itu, tak banyak darah yang bisa dikeluarkan.  “Bengkaknya lokal saja, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kok&lt;/span&gt;. Tak menjalar  terlalu jauh. Biarkan sistem imun tubuh bekerja. Daya tahan tubuh kamu bagus! ,” ujar Aji sembari sesekali mencelupkan jari telunjuk Fajri dalam segelas air panas untuk menghindari darah membeku. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Aww..aww..!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, darah Fajri harus dikeluarkan sebanyak mungkin dari sekitar luka.  Biarpun hanya “keserempet” taring seekor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Naja naja sputatrix&lt;/span&gt; kurang dari satu jam sebelumnya, tetap saja tak bisa disepelekan. Selain menimbulkan luka kecil tak jauh di ruas pertama jari telunjuk, dua benjolan nyaris sebesar kelereng tampak menyembul di ruas jari pertama dan kedua telunjuk kiri Fajri.  “Kamu harus perbanyak makan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup,” Aji menambahkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Fajri beruntung.  Jika saja bisa kobra terinjeksi maksimal ke aliran darahnya maka ceritanya akan lain.  Tanpa penanganan yang tepat, gigitan seekor kobra bisa membunuh manusia dewasa tak sampai hitungan jam.  Racun bisa seekor kobra menyerang darah dan sistem syaraf korbannya dalam sekali gigit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca kawasan Situgintung, Ciputat, tangerang, cerah ketika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Basic Training Muscle&lt;/span&gt; (BTM) Sioux, kembali dihelat untuk yang kedua kalinya tahun ini.  “Ini BTM yang ke empat sejak 2008,” ujar Timmi Fibrin mencoba memastikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya BTM yang pernah saya ikuti, sekitar enam bulan sebelumnya, materi training dasar tak banyak berubah.   Sekitar 17 peserta baru plus belasan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muscle&lt;/span&gt; yang berniat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;up grading&lt;/span&gt; kemampuan, mendapatkan materi biologi ular, identifikasi ular, teknik handling ular, dan penanganan gigitan ular.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dibandingkan dengan BTM yang digelar Maret silam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;grouping&lt;/span&gt;  dan rotasi sesi pelatihan terbilang efektif membantu peserta menyerap semua materi pelatihan.  Materi Biologi Ular disampaikan Winniarlita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Owien&lt;/span&gt; dan Ichsya ul Ulum. Dilengkapi Mamih Agil dan Aji Rachmat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Nandee yang mengisi sesi identifikasi ular, datang dari Bekasi berdua dengan “istri kedua” nya, seekor Raja Kobra (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Opphiphagus hannah&lt;/span&gt;) yang dibuntel kain sarung.  Entah, apakah selama perjalanan menuju Situgintung Si Raja bersin-bersin.  Saya dan Rera jadi ikan remora yang memunguti remah-remah pengetahuan yang disebar Nandee. Dosen Bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan di Jakarta Timur, ini terlihat fasih mengurai klasifikasi beberapa spesies ular berikut jenis dan nama latinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal klasifikasi ular serta berlatih identifikasi, memang penting.  Dimensi ekologis juga masuk di dalamnya.   Mulai dari habitat hidup hingga tipe aktifitas.  Makanan dan cara berburu mangsa.  Identifikasi fisik meliputi bentuk bentuk dan warna kulit hingga bentuk kepala dan tipe gigi (menentukan tingkat bisa).      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik-konflik antara manusia dengan ular, selama ini lebih dikarenakan kurangnya pemahaman manusia pada dunia ular dan karakternya.  Dengan pemahaman yang memadai, kerugian yang ditimbulkan baik oleh manusia maupun ular akibat 'miskomunikasi', bisa diminimalkan.  Ketakutan-ketakutan psikologis dan efek biologis dapat segera ditangani dengan benar.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, sesi klasifikasi dan identifikasi ular bisa dikemas lebih menarik lagi. Saya punya pengalaman kecil yang bagi saya cukup berkesan terkait hal ini.  Bukan ular memang, tapi klasifikasi dan identifikasi tumbuhan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;plantae&lt;/span&gt;), ketika belajar anatomi tumbuhan di laboratorium biologi semasa kuliah, nun hampir 15 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, setiap kelompok mahasiswa bertugas mengklasifikasi dan mengidentifikasi berbagai macam tumbuhan. Mulai dari anatomi fisik, morfologi, hingga perkembangbiakannya. Masing-masing anggota kelompok memegang buku laporan plus alat tulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kesempatan misalnya, dilakukan klasifikasi dan bedah anatomi tanaman singkong (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mannihot uttillisima&lt;/span&gt;). Dihadirkan organ-organ tanaman singkong di meja kerja.  Preparat segar istilahnya.  Berikutnya, masing-masing anggota kelompok menggambar sedetail mungkin anatomi salah satu bagian tanaman singkong itu serta dan diberi nama latinnya, di buku laporan masing-masing. Pada daun misalnya. Digambar mulai dari daun (folium), kemudian anak daun (foliolum), pertulangan, tangkai daun, dan seterusnya. Menyusul kemudian dibahas habitat, tipe perkembangbiakan hingga penyebaran.  Perkara apakah umbi singkong nantinya lebih bagus dibikin getuk atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;peuyeum,&lt;/span&gt; tak ada urusan.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Gambar tak harus bagus, tapi setidaknya mengandung komponen-komponen pokok yang harus diketahui ketika seseorang ingin mengklasifikasi bagian organ tumbuhan. Pengamatan visual,  meraba, dan kemudian menggambarnya, niscaya akan mengaktifkan sekaligus motorik halus dan kasar dalam memahami preparat dan merekamnya dalam ingatan. Hasilnya, dengan metode itu, hingga belasan tahun kemudian, saya masih ingat rupa-rupa tumbuhan berikut klasifikasi dan morfologinya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Mungkin ini bisa dicobakan pada sesi identifikasi dan klasifikasi ular.  Anggota kelompok bisa mengamati dan mengambar sendiri fisik ular. Bentuk tubuh, tipe kepala, tipe gigi (dipandu instruktur), tipe dan rumus sisik! Dan seterusnya.  Tak soal jika diktat atau buku-buku sudah menyediakan ilustrasi serupa. Ini soal proses. Bicara kendala teknis dari metode ini, bisa jadi soal manajemen waktu.  Mengingat proses menggambar jelas lebih memakan waktu dibandingkan presentasi  lisan. &lt;br /&gt;Identifikasi ular, sekali lagi, merupakan entry point fase-fase pengenalan ular selajutnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat menaksir calon laki atau bini, pengenalan harus memadai agar tak timbul penyesalan di kemudian hari. “Melihat beberapa karakter ular, carilah suami yang bertipe kobra,” ujar Bang Nandee yakin. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Entahlah, ini serius atau  seloroh belaka. Kobra memang berbisa tinggi.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;So&lt;/span&gt;, patukannya maut.  Dia agresif siang dan malam hari, pantang mengkeret menghadapi musuh.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah,&lt;/span&gt; mungkin ini soal selera. Masih tetap masuk akal jika tak sedikit perempuan yang lebih memilih laki-laki tipe sapi.  Biarpun manut tapi royal mengucurkan susu, eh duit.  Atau tipe gajah. Biarpun tambun dan terkesan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alon-alon waton mlaku&lt;/span&gt;, dan malah disebut-sebut takut tikus, tapi teduh dan ngemong. Tapi jangan minta saya cerita soal belalainya. Bang Nandee mungkin lebih afdhol untuk menjelaskannya…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari semua itu, saran saya yang sejak terlahir sudah laki-laki, janganlah memilih laki-laki tipe kutu atau tengu. Selain penakut dan inferior, gunanya apa coba?     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari ini aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku... Membahayakan orang lain... Maaf yah buat org2 yang kecewa..&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu muncul dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wall facebook&lt;/span&gt; Yulia Qim Deebraska, pada malam hari jauh ketika acara BTM tuntas. Hari itu, Qim membantu Nurdin Jabrik yang dikenal sebagai handler andal, dan beberapa instruktur Sioux lainnya, mendapat jatah mengawal sesi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handling&lt;/span&gt; ular.  Ini sesi yang sangat menarik, sekaligus berisiko tinggi. Harus didampingi instruktur berpengalaman. Butuh nyali lebih untuk belajar di sesi ini. Tentu, perlu sadar resikonya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada BTM Maret silam, juga di sesi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handling&lt;/span&gt; ular, tercatat lebih dari tiga orang yang tergigit ular. Dua atau tiga peserta lagi sengaja minta digigitkan ular untuk keperluan sesi penanganan gigitan ular.  Dan semuanya melibatkan ular tak berbisa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BTM kali ini memang sempat diwarnai insiden yang bikin cemas.  Ya, pesan Qim itu salah satu responsnya. Bisa jadi ini ekspresi merasa turut bertanggung jawab, pula niscaya tak satu pun instruktur Sioux yang melakukan hal itu karena sebuah kesengajaan.  Ini bisa jadi pelajaran yang sangat berharga.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang tergigit adalah Fajri, seperti diceritakan di awal tulisan ini. Lainnya, sebut saja, Mas Kumis, yang digigit seekor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Phyton reticullatus&lt;/span&gt; sepanjang 3 meter saat hendak handling. Syukurlah, baik Fajri maupun Mas Kumis dapat ditanangani secara cepat dan tepat. Sehingga tak sampai berakibat fatal.  Bisa jadi, gigitan itu mungkin akan menambah cinta pada satwa melata nan ekskotik ini. Cinta pada gigitan pertama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya ampun kak, bukan salah lo kak. Saya yg malah gk enak bgt udah ngerepotin. Makasih bgt ya k...tq buat anak2 sioux..hihi..,” &lt;/span&gt;demikian Fajri menanggapi Qim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga lebih dari tiga jam setelah insiden itu, diam-diam saya terus mengamati Fajri. Selain jari telunjuknya yang masih bengkak, tak ada yang berubah dari penampilan fisik Fajri.  Beberapa kali ia memang muntah-muntah ketika, Sioux dan sebagian peserta BTM berkumpul di rumah Nurdin Jabrik untuk evaluasi.. “Masih mual perutnya, “ terang fajri.  Dua kaleng susu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bear brand&lt;/span&gt; volume kecil dia tenggak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul delapan malam ketika saya bersiap pamit pulang. Fajri malah terlihat asyik mengganyang tiga tusuk sate ayam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi? Madjoe teroes!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-6570338504684032277?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/6570338504684032277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/10/cinta-pada-gigitan-pertamaaouuww.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6570338504684032277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6570338504684032277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/10/cinta-pada-gigitan-pertamaaouuww.html' title='“Cinta pada Gigitan Pertama…Aouuww..!”'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TLSKMhpUNhI/AAAAAAAAAHU/qXudFDw7F9Q/s72-c/P1011399.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-7203794536162527734</id><published>2010-10-05T20:40:00.001-07:00</published><updated>2010-10-05T22:32:55.242-07:00</updated><title type='text'>Dari Romulus Whitaker sampai Mbok Mintorogo   (catatan atas ToT Sioux)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TKv9OzqoL8I/AAAAAAAAAHM/8kPASqDqH4o/s1600/P1011298.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TKv9OzqoL8I/AAAAAAAAAHM/8kPASqDqH4o/s320/P1011298.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524787798729043906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ass. Pakabare, Mas&lt;/span&gt;?  Depok &lt;span style="font-style:italic;"&gt;udan gak&lt;/span&gt;..?&lt;br /&gt;Selarik pesan pendek mampir ke telepon genggam saya, persis ketika hujan mulai menderas dan pekik guntur bersahutan. &lt;br /&gt;“...&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Udan deress…gludug menggelegarr&lt;/span&gt;…,” balas saya.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wakakakak&lt;/span&gt;…Bintaro juga sama, Mas! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Klo&lt;/span&gt; begini terus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sampe&lt;/span&gt; malam. Bisa2 br sampe gintung besok pagi..” balas Abdul Basith, arek Jombang yang sabtu dan ahad ( 2 – 3/10) lalu, sama-sama berniat menghadiri &lt;span style="font-style:italic;"&gt;training of trainer&lt;/span&gt; (ToT) Sioux. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Studi Ular ini memfasilitasi para relawan (muscle Sioux) yang berniat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;up grading&lt;/span&gt; kemampuan mereka dalam belajar menangani ular. Itu setelah sebelumnya mereka diikutkan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;basic training muscle&lt;/span&gt; (BTM). Terakhir, saya ikut BTM sekitar enam bulan silam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08.20 pagi (3/10), langit Situ Gintung bersaput mendung.&lt;br /&gt;Sejumlah lelaki,  anak-anak,   dan perempuan dewasa berbalut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sari&lt;/span&gt;  tampak terpekik tertahan ketika laki-laki tua itu mulai memainkan tongkatnya.  Bersama seorang asisten, laki-laki berambut tak bersisir  berjanggut putih itu tengah berusaha menyergap seekor King Cobra (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ophiophagus hannah&lt;/span&gt;) yang merayap di tepian bukit curam yang dirimbuni pepohonan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala dan nyaris sepertiga bagian tubuh Si Raja Kobra mendongak tegang ketika Pak Tua mulai mendekat.  “Sepertinya ini betina, panjangnya mungkin 15 kaki,”  terangnya dengan seulas senyum tanpa menampakkan gentar sedikitpun.  “Tongkat penjepit ini sepertinya tak efektif, ia masih bisa lolos. Kami tak ingin tergigit,” sambung Pak Tua sembari mesem.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun beberapa belas meter di atas jalan raya yang membelah bukit, perempuan-perempuan yang meyaksikan adegan itu terlihat mulai tegang.  Sebagian menutup mulut atau menggigiti kuku jari. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aiiih…”&lt;/span&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berandai, Pak Tua sejatinya punya pilihan cepat untuk meringkus Raja Kobra yang telah bikin panik orang lewat itu.  Tapi Ia memilih cara yang lebih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyeni&lt;/span&gt;.  Ular dengan bisa ekstra maut itu mula-mula digiring ke sudut-sudut sempit yang terhalang pepohonan.  Sebuah pipa berdiameter 25 senti dan panjang sekitar 30 senti yang pangkalnya dikerudung kantung kain, disiapkan sang asisten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Raja digiring mendekati lubang pipa.   Gagal!   Sosok gemulai itu dengan gesit menghindar ke celah pepohonan.  Pak Tua tak menyerah.  “Kita cegat dari sana! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;You&lt;/span&gt; siapkan pipanya..!,”  Pak Tua mengingatkan asistennya.  Dengan bantuan tongkat penjepit, Pak Tua mulai merangsek mendekati Si Raja.  Butuh tiga hingga empat kali penyergapan yang menegangkan sebelum,…&lt;span style="font-style:italic;"&gt;hups&lt;/span&gt;! Kepala Si Raja masuk ke liang pipa. Dengan sedikit dorongan tongkat, seluruh tubuh Si Kobra sukses diringkus tanpa terluka dan tak seorang pun yang tergigit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Huraahh..&lt;/span&gt;!”  Tepuk tangan terdengar dari atas sana.  Pak Tua dan asistennya dengan tenang naik ke jalan raya dengan senyum kemenangan.  Adegan itu disudahi dengan wajah-wajah semringah. Pak Tua dan asistennya beroleh aplaus panjang, jabatan tangan dan pelukan hangat.  Adapun Si Raja, mungkin senewen sebab gagal lolos dari sergapan densus, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;eh&lt;/span&gt; Pak Tua..&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Pagi itu, saya saksikan adegan di atas dari tayangan video yang direfleksikan melalui sebuah proyektor di  ruangan wisma berukuran 3m X 7m di satu sudut Taman Wisata Situ Gintung, Tangerang. Bersama saya, hampir dua lusin orang duduk lesehan di atas karpet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak Tua yang pemberani lagi nyentrik itu adalah Romulus Whitaker (67 tahun), herpetolog  dan konservationis kehidupan alam liar.  Tampang Romulus mengingatkan saya pada pelukis surealis kenamaan Salvador Dalli.  Bedanya, Romulus “melukis” di alam liar dengan mendirikan Madras Snake Parks dan direktur The Andaman and Nicobar Environment Trust (ANET).  Ia juga pendiri the Madras Crocodile Bank Trust.  Semuanya di negeri Nehru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian Romulus mengingatkan saya pada almarhum Steve Irwin yang beken dengan serial televisi The Crocodile Hunter (“Sang Pemburu Buaya”), sebuah dokumentasi mengenai hewan-hewan buas yang tak umum.  Si bengal Irwin memiliki dan mengelola Australia Zoo di Beerwah, Queensland. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu cuaca mendung ketika saya sampai di Situ Gintung, bersamaan dengan diputarnya video aksi Romulus menangkap dan meneliti karakter Raja Kobra.  Itu adalah hari kedua acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;training of trainer&lt;/span&gt; (ToT) yang diadakan Sioux.  Saya memilih absen di hari pertama karena enggan mengambil resiko cuaca buruk msaat enuju lokasi. Lagipula saya masih sedikit flu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Aji Rachmat naik turun, beradu dengan alunan musik organ tunggal yang disewa sebuah paguyupan organisasi kedaerahan.  Jarak antara wisma tempat ToT berlangsung dan aula tempat organ tunggal tak sampai 20 meter.  Alhasil, suaranya benar-benar memekakkan kuping.  Tahu audiens mulai terganggu, sesekali Aji mencoba rileks dengan menggoyang-goyangkan kepala di sela jeda presentasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, satu dari tiga biduan berkostum seronok di aula tengah menembangkan “Kucing Garong” atau “Keong Racun”. Konsentrasi saya agak terpecah. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sst, wah, stoking nya bolong-bolong&lt;/span&gt;,” Kresno dan Denny, peserta ToT, terkikik.  Tak tahan untuk tak menggosipi biduan yang berjongkok seronok sembari menelepon. Millani Imenk,  sesekali belagak goyang dengan mata setengah merem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu materi pelatihan meliputi identifikasi ular, biologi ular, penanganan gigitan ular, hingga pengantar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handling&lt;/span&gt; ular. Sebagian materi sudah saya dapat ketika BTM, Maret silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sejenak terkesiap ketika proyektor slide menayangkan sebuah essei foto.  Sebut saja kisah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mbok&lt;/span&gt; Mintorogo.   Ini  adalah mozaik kultur kompleks “industri” rumahan pengolahan ular, yang relatif jarang terekspose.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula, tampak tangan keriput Mbok Mintorogo membuka ikatan sebuah karung berisi setidaknya belasan ekor kobra hidup.  Dengan enteng, satu tangannya mencengkeram tubuh seekor kobra layaknya memegang anak kucing yang masih ingusan.  Dalam hitungan detik, diguntingnya leher si kobra sampai putus.  Dengan gerakan akrobatik, darah yang mengucur dari leher kobra dituang dalam gelas.  Tangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Si Mbok&lt;/span&gt; yang satunya lagi menjungkirkan bagian ekor  kobra ke atas.  Posisi ini mencoba memanfaatkan gaya gravitasi untuk mempercepat keluarnya aliran darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, adegan ini sekilas mengingatkan saya pada aksi penjual  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;legen&lt;/span&gt; (air sadapan pohon aren) pikulan, yang menuangkan tabung bambu berisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;legen&lt;/span&gt; ke gelas pembeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari informasi dan pengalaman yang ada, menelan empedu kobra adalah salah satu cara untuk meningkatkan stamina,” ujar Aji.   Peserta ToT manggut-manggut.   “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;emang&lt;/span&gt; komposisi empedu cobra apa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tho&lt;/span&gt;?, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kok&lt;/span&gt; sampai bisa bikin “greng” stamina begitu? ” saya menukas.  Pikiran saya sejenak mengawang pada efek ekstra ajaib ramuan yang diracik Dukun Panoramik dari Negeri Galia dalam Lakon Komik Asterix, besutan Uderzo dan Goschiny.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm,&lt;/span&gt; sampai sekarang memang belum ada yang secara khusus meneliti kompisisi empedu cobra.  Tapi pemanfaatannya memang sudah dipraktekkan dan diakui berbagai kalangan sejak lama,” jawab Aji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ramuan, hingga saat ini, saya tak berhasrat untuk mengkonsumsi bagian tubuh manapun dari si kobra.  Terlebih dikaitkan dengan upaya mendongkrak prana “greng” di tubuh saya.  Saya tak malu memilih berpandangan konservatif dengan semboyan uzur yang saya comot dan plesetkan dari petuah Eropa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;beheula&lt;/span&gt; : "Di dalam tubuh dan jiwa yang sehat, terdapat “greng” yang dahsyat!". &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eeng…iingg…eenggg…&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lain lagi dengan darah kobra. Ini dipercaya untuk menghaluskan kulit,” imbuh Aji.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm…&lt;/span&gt;  Saya melirik Dhyan Savitri, rekan peserta yang duduk persis di samping saya. Dhyan cuma mesem sembari menggeser posisi duduknya. Entah, merasa skeptis karena kulitnya merasa sudah mulus, atau malah diam-diam tergiur pingin mencicip darah cobra biar kulit jadi berpendar seperti kunang-kunang di hari gelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gamang, apakah saya juga akan memberi tahu Melly Chan, istri saya, terkait khasiat darah kobra itu. Tapi, Melly yang lahir dan besar di Palembang punya versi sendiri.  “Mau kulit halus? Makan duren!,”  ujarnya singkat sambil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngeloyor&lt;/span&gt; ke dapur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup sering ke Palembang untuk berbagai keperluan.  Jika diamati, rata-rata kulit gadis-gadisnya memang terang dan bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa kawasan penghasil durian di Thailand juga konon begitu. Gadis-gadis Chiangmay contohnya, terkenal berkulit halus dan menarik. Sayang, saya tak punya kenalan khusus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;awewe&lt;/span&gt; Chiangmay untuk sekadar konfirmasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bisa jadi, justru untuk meningkatkan stamina bukan empedunya, tapi daging kobranya,” sergah Mamih Agil, peserta ToT senior  yang berlatar kedokteran Hewan.  Mamih tak asal cuap.  Yang saya tahu, daging kobra memang kaya protein, jadi relevan juga jika mengaitkannya dengan gizi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oho&lt;/span&gt;, kalo Mas Prio kepengin staminanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;oke&lt;/span&gt; saat kerja keras atau masa pemulihan,  asupan protein perlu didongkrak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;yah&lt;/span&gt;!,” ujar dokter Boyke A. Nugraha dengan gayanya yang khas. Boyke, seksolog beken ini sempat saya temui seusai menjadi pembicara pada sebuah seminar, di Jakarta, Agustus Silam.  Merujuk Boyke, Saya pikir Mamih masuk akal juga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan moralnya, tak perlu menjagal kobra untuk mendapatkan asupan protein ekstra.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, acara yang cukup ditunggu akhirnya dimulai juga : praktek &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handling&lt;/span&gt; ular.  Peserta dikenalkan pada teknik-teknik handling beragam jenis ular di alam terbuka. Beberapa ular koleksi Sioux dikeluarkan dari kandangnya.   Mulai dari yang tak berbisa macam phyton, ular pelangi, ular tikus, hingga yang berbisa tinggi macam kobra dan king kobra.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, belum tuntas sesi handling dipraktekkan, kawasan Situgintung keburu dihumbalang angin rebut.  Ranting-ranting dan dahan beberapa pohon berderak dan patah.  Sejurus kemudian hujan lebat datang.  Ular-ular kembali dikandangkan. Peserta dan panitia kembali memasuki wisma dengan hati separuh dongkol. Termasuk Anissa Sarah Ichachebong, yang siang itu baru bisa meraih buntut seekor kobra. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Menghemat waktu, acara disambung dengan simulasi identifikasi ular di hadapan audiens.  Saya kebagian mengidentifikasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Phyton reticulatus&lt;/span&gt;. Bicara phyton, saya punya “ikatan emosional”  dengan mahluk berkulit cantik ini. Cantik, motif  “batik” natural nya tak ada yang menyamai. Dijamin tak ditemukan jika anda putar-putar sampai pusing di sentra batik Pasar Klewer, Solo. Ataupun jika anda ngotot memburunya sampai dehidrasi dan  semaput di los pasar Beringharjo, Jogja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phyton sepanjang tiga meter pernah masuk rumah saya tanpa permisi, lebih dari lima tahun silam.  Kepalanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyungsep&lt;/span&gt; ke toilet.  Berakhir dengan dijebolnya kloset untuk meringkus phyton yang belum diajari sopan santun itu.  Phyton berkalung kloset.  Cerita lengkapnya bisa disimak di blog ini juga (“Bermain Api Gosong, Bermain Ular…Sioux!”). Gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terbilang agak menyeramkan adalah tatkala menyimak sesi penanganan gigitan ular.  “Jika bagian jempol anda yang tergigit ular berbisa tinggi, segera tekan bagian ini,” Aji mencontohkan. Abdul Basith dijadikan contoh Korban. "Segera balut lengan mulai dari pergelangan hingga mendekati bisep untuk menghidari bisa ular menjalar.,” imbuhnya. “Darah harus segera dikeluarkan sebanyak mungkin  dari sekitar luka. Aji lantas memberi ilustrasi bagaimana mengeluarkan darah itu dengan cara menusuk-nusuk bagian lengan dengan benda tajam, diikuti dengan gerakan mengurut lengan untuk mengeluarkan darah. “Keluarkan darah sebanyak mungkin. Dan untuk menghidanri darah menggumpal, bagian lengan bisa dihangatkan dengan air hangat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak sulit membayangkannya simulasi ini terjadi di kehidupan riil. Ini mengingatkan saya pada adegan John  Rambo mengoperasi sendiri pinggangnya yang  tertembus ranting pohon . Atau Robert de Niro yang mengoperasi pengeluaran peluru dari tubuhnya sendiri dalam “The Ronin”.  Fiktif saja ngeri, apalagi nyata.  "Racun" Hollywood saja ngeri, apalagi racun king kobra. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ampuuun…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Rekan-rekan senior di Yogya yang pernah digigit King Cobra, setelahnya tak mau lagi mengalami untuk yang kedua kali”. &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat, baru saja dapat materi pelatihan, langsung praktek,” ujar Ischya ul Ulum, Ketua Sioux sembari mengajak peserta bertepuk tangan.  Saya masih ragu pada komentarnya, serius atau guyon.  Tapi saya memilih ikut tepuk tangan. &lt;br /&gt;“Insiden” itu terjadi pada sore menjelang acara resmi berakhir.  Dimotori oleh  Mamih Agil dan Winniarlita Irmawatie atau akrab disapa kak Owien, keduanya mengajak peserta ToT untuk keluar ruangan dan mendatangi aula tempat paguyuban warga Pati se Jabotabek yang tengah menghela goyang dombret.  Respons yang gamang.  Sejumlah penghuni ruangan memilih berdiam di tempat.  Tapi  saya dan beberapa rekan memutuskan ikut.  Saya ingin melihat cara eksponen Sioux berinteraksi dengan obyek persuasi dan melihat langsung respons audiens.  Insidental sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak-bapak, Ibu, dan adik-adik, ada yang pernah menemukan ular?,”  tanya Owien di atas panggung. &lt;br /&gt;“Beloom!,” suara dari bibir mungil bocah-bocah di barisan terdepan menggema dominan.  Beberapa peserta pelatihan ToT ikut maju, praktek presentasi identifikasi ular. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini namanya ular Lanang Sapi,” terang Krisno sembari mengangkat seekor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Elaphe radiata&lt;/span&gt; yang dominan dengan warna kuning muda pada bagian depan dan perut.  Empat garis longitudinal warna hitam menghiasi depan tubuhnya.  “Ini tak berbisa…” imbuh Krisno mencoba tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wah, ono ulo sing jenenge sapi, tho&lt;/span&gt;?,” suara berbisik saya tangkap dari mulut seorang bapak persis di samping kiri saya. Bapak ini gumun, ada ular yang namanya sapi.  “Macan juga ada, Pak. Malah bandot(an)pula,” saya menyergah. Tentu dalam hati. Saya ingin memberi tahu dia bahwa ada ular bernama lokal bandotan macan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berturut kemudian Abdul Basith, Adjie, Bintang, dan Denny Rudini mengenalkan dagangan, eh, ular koleksi Sioux yang mereka bawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sauasana sedikit mencekam ketika Yulia Qim Deebraska mulai mengeluarkan kantung berisi King Kobra.  Sepertinya Qim berencana mempraktekkan “death kissing” dengan mencium kepala King Kobra, meskipun belakangan urung dilakukan. Ichsya mengawasi adegan itu dari jarak beberapa langkah sebelum akhirnya memutuskan menghandling Sang Raja dengan tangan kosong. Memasukkannya ke dalam kantung.  Millani Imenk pilih asyik menjepretkan kamera.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Bergantian, Mamih Agil dan Owien bertutur tentang Sioux. Presentasi dadakan tak lebih dari limabelas menit itu diakhiri dengan semboyan maut Sioux, “waspadai, tapi jangan bunuh ular.!.”  Tepuk tangan terdengar ketika personel Sioux meninggalkan panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir acara, sejumlah peserta ToT mendapat sertifikat. Hati kecil ini agak gamang juga. Ibarat menerima raport yang tak semua mata pelajarannya dikuasai. “Ini sebagai stimulus agar kita mau  terus belajar,” papar Idur Rahadian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini memang masih menyisakan celah untuk bisa disebut komprehensif. Tak ada  evaluasi kegiatan secara menyeluruh, tempat semua yang hadir bisa mengutarakan kesan dan  pendapat. Kritik dan otokritik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, setiba di rumah, hingga menjelang tengah malam, beberapa diskusi “ekstraparlementer” bersliweran di kolom &lt;span style="font-style:italic;"&gt;chatting facebook&lt;/span&gt; saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu topik diskusi adalah terkait pemberian sertifikat.  “Bagusnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;up grading&lt;/span&gt;  dilakukan bertahap, diuji kemampuannya terus menerus dan tak langsung diberi sertifikat,”  ujar seorang rekan yang namanya enggan dikutip di blog ini.  “Materi training yang diberikan perlu ditetapkan kriteriumnya dan level penguasaannya, ini untuk membantu mengukur penguasaan materi tiap-tiap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muscle&lt;/span&gt; peserta ToT ,” ujar seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muscle&lt;/span&gt; lainnya.  Benar juga, batin saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya memang tak sempat melakukan simulasi secara resiprokal dengan rekan peserta. Tentang bagaimana cara membuat balutan di area gigitan ular yang benar, simulasi pembedahan darurat jaringan tubuh dan mengurut keluar darah korban yang terkontaminasi bisa ular berbisa. Atau sekadar praktek mencuci luka gigitan ular tak berbisa dengan air bersih dan antiseptik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek-praktek kecil macam itu niscaya menghadirkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trial and error&lt;/span&gt; yang bakal mempengaruhi sikap mental peserta jika berhadapan dengan kasus empirik di lapangan. Saya sungguh merasa kosong.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sesi training hari kedua itu memang agak dominan dengan persuasi dan “monolog” Aji Rachmat. Biarpun dalam beberapa hal bobot materinya saya anggap memiliki kelebihan dibandingkan ketika saya mendapatkan materi yang identik pada BTM beberapa bulan silam. Beberapa informasi di luar materi training juga terbilang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, terus terang saya pribadi masih jauh dari memadai untuk jadi seorang trainer. Tapi saya mencoba berfikir positif dan tak lantas pongah.  Bagaimanapun, kemampuan riil dan fakta pengalaman interaksi di lapangan (dengan ular dan habitatnya) lah yang kelak akan menabalkan kemampuan sejati masing-masing &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muscle&lt;/span&gt; Sioux.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Siapapun yang berniat dan berhasrat melakukan advokasi publik terkait penanganan ular, ketika menghadapi kasus di lapangan, pertama-tama pastilah tak dengan menyorongkan sertifikat sebagai trainer. Partisipasi aktif dan kemampuan riilnya  dalam  mengatasi persoalan terkait ular, jauh lebih substantif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pula, tak itu bandotan macan, kadut, maupun kobra dan teman-temannya, tak menggigit orang dengan pertimbangan kepemilikan sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya salut dengan rekan-rekan Sioux yang sudah lama berkiprah tanpa pamrih. Mengadvokasi publik pada bahaya laten kesalahkaprahan sebagian besar masyarakat kita dalam menangani ular. Etos ini layak dipertahankan, sekaligus diingatkan jika mulai menyeleweng dari misi awalnya. Kultur egalitarian dan sikap terbuka layak terus ditumbuhkan.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ee,&lt;/span&gt; siapa tahu figur-figur sekaliber Romulus Whitaker bisa lahir dari kepompong Sioux.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, sembari berharap untuk bisa berbuat agar sosok-sosok macam Mbok Mintorogo mendapatkan alternatif sumber ekonomi yang lebih manusiawi sekaligus “ularwi”.               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasannya, komentar-komentar terkait ToT yang masuk dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;inbox facebook&lt;/span&gt; saya dari sebagian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muscle&lt;/span&gt; Sioux, anggaplah sebagai sebuah kegairahan. Kecintaan.  Betapa mereka sayang dan berhasrat merawat komunitas yang sudah susah payah didirikan bertahun lamanya.  Cukup memiliki nama dan diakui perannya.  Tak ada ular yang tak retak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;eh&lt;/span&gt; tak menggigit.  Ibarat empedu ular, kritik itu pahit, tapi (konon) bikin “greng”.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang terbatas, cuaca tak bersahabat, serta mayoritas peserta dan panitia yang kelelahan sehabis bergiat hingga dini hari sehari sebelumnya, mungkin juga mempengaruhi konsistensi panitia dalam menggarap ToT yang baru dihela untuk pertama kali. Wajar jika terlihat kurang komprehensif.  Saya masih lebih enak, sebab baru datang ke Situgintung di hari kedua dengan kondisi fisik yang lebih bugar. Bisa jadi saya sedang bersemangat. Maklum lah, saya ini ular baru, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;eh.. muscle&lt;/span&gt; baru...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-7203794536162527734?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/7203794536162527734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/10/dari-romulus-whitaker-sampai-mbok.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/7203794536162527734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/7203794536162527734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/10/dari-romulus-whitaker-sampai-mbok.html' title='Dari Romulus Whitaker sampai Mbok Mintorogo   (catatan atas ToT Sioux)'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TKv9OzqoL8I/AAAAAAAAAHM/8kPASqDqH4o/s72-c/P1011298.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-8180578346404421855</id><published>2010-09-24T07:14:00.000-07:00</published><updated>2010-09-24T07:46:22.902-07:00</updated><title type='text'>"Aku  Rindu  Ia  Bersuara,  Memanggilku..Ibu.."</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TJy4M69-icI/AAAAAAAAAHE/8EnsTjWFeN0/s1600/100_3472.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TJy4M69-icI/AAAAAAAAAHE/8EnsTjWFeN0/s320/100_3472.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520489775376533954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa kawasan Cagaralam, Depok, gerah siang itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemarinya yang kurus dan agak pucat cekatan memainkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;joy stick.&lt;/span&gt;   Matanya tak berkedip menatap monitor televisi, tak sampai dua meter di hadapannya.  Brazil vs Inggris.   Games sepakbola adalah salah satu favorit remaja tinggi kurus berambut jabrik itu, Eko Prasetyo.  Aroma obat menguar tipis dari ruangan itu, dan semakin pekat begitu mendekati sebuah nebulizer, perangkat elektrik pengencer dahak.  Di  tempat itulah selama lebih dari tiga tahun Eko “bermarkas”. Melawan kebosanan dan rasa sakit yang masih mendera. Entah sampai kapan.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selain poster pesepakbola Inggris Frank Lampard, foto bersama kedua adiknya, kliping koran yang dibingkai sederhana menghias dinding kamar seluas empatmeter persegi.   Kliping sebuah koran lokal yang menceritakan kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumnya mengembang begitu saya kembali menyambangi rumahnya, pada sebuah siang beberapa hari menjelang puasa Ramadan.  Rumah petak dengan ongkos sewa tigaratus ribu per bulan.  Ayah Eko karyawan biasa  pada sebuah perusahaan swasta.  “Pakabar, Ko?,”  saya menyodorkan tangan. Ia balas menjabat, mengangguk, tersenyum lepas.  “Baik, Mas,” kali ini ibunya, Etty Herawaty, yang membalas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak jatuh dari kereta api, tiga tahun silam,  Eko masih belum mampu berucap sepatah kata.  Persis di tengah batang lehernya terpasang perangkat logam untuk mengamankan fungsi pernafasan.  Makanan cair masuk melalui selang yang menelusup melalui lubang hidungnya.  “Di sini dibikin sayatan lagi.  Terus di sini. Nah, yang ini bekas sayatan pertama,” Etty menunjuk gurat-gurat bekas sayatan pisau bedah di leher Eko.  Gurat kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat leher Eko yang koyak moyak begitu, sebagian tengkorak kepalanya yang pernah remuk, plus logam terpasang di lehernya, saya jadi teringat aktor Hollywood Arnold Schwarzenegger dalam lakon “Terminator”.  Manusia robot.  Bedanya, Eko manis dan selalu terlihat optimis.  “Bagi saya, Eko itu mukzizat,” Etty, 39 tahun, berujar lirih.  Matanya menerawang.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pagi 06 Agustus 2007. &lt;br /&gt;Aku tengah mempersiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran sekolah anak keduaku yang mulai memasuki SMP ketika berita mengejutkan itu tiba.  Tepat di hari ulang tahunku yang ke 36, senin pagi, sekitar pukul 08.00.  Suara dari seberang HP berujar, bahwa saya harus tabah, sabar, tawakal, pasrah,  dan segera ke RS Pasar Rebo, kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur.  Segera.  Eko Prasetyo (17 tahun), anakku sulungku mengalami kecelakaan,  jatuh dari dalam gerbong dari KA di sepanjang rel Rawa Bambu, tak jauh dari Stasiun Pasar Minggu,  Jakarta Selatan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai disambar petir, sesak dadaku, telingaku terasa terbakar, panas sekali.   Kakiku seperti tak bertulang, lemas sekali.   Tapi aku harus segera melihat buah hatiku, yang keadaannya entah bagaimana aku tak tahu.  Pikiranku campur aduk tak keruan. Di perjalanan pun aku mencoba untuk tenang, tapi kian tak bisa,…bahkan sempat tersirat di pikiranku bahwa aku sampai di rumah sakit hanya mendapati anakku telah menjadi mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku sampai juga di RS Pasar Rebo.  Aku langsung mencari informasi dengan bertanya pada resepsionis, tapi Eko tak ada di situ.  Katanya, tadi memang ada di situ tapi dipindahkan ke RS Harapan Bunda yang letaknya tak begitu jauh dari RS Pasar Rebo. Aku pun  meluncur ke sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang terjadi di depan RS tersebut aku melihat dan mendapat sambutan dari para guru dan teman-teman anakku yang setia menemani.  Mereka menghampiriku dengan menangis histeris memelukku seolah aku ibu mereka sendiri.  Aku tak kuasa menahan semua itu.  Segera aku menemui dan menghampiri anakku yang sedang sekarat.   Dengan sekujur  terbebat perban, darah berceceran ke mana-mana, dan tubuhnya terus mengejang menahan sakit.   Hancur hatiku. &lt;br /&gt;Ibu mana yang sanggup menyaksikan buah hatiunya seperti itu.  Pupus sudah harapanku.  Kematianlah yang ada di pikiranku saat itu.  Siapkah aku ditinggal pergi buah hatiku, dengan cara seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, keluarga dan kerabatku berunding untuk mencapai kesepakatan dengan dokter. Sebab hari itu juga harus dan segera dioperasi.  Anakku terluka parah “Kalau telat, anakmu takkan selamat,” suara itu seperti vonis malaikat pencabut nyawa.  Hasil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;scanning&lt;/span&gt; menunjukkan bagian kepala anakku luka parah kalau tak bisa dikatakan remuk.   Kehilangan banyak darah dan oksigen. Sebagian besar otaknya sudah tertutup darah beku.   Kebingunga memuncak saat pihak rumah sakit memintai biaya Rp 36 juta untuk biaya operasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keributan tak urung terjadi antara pihak RS Harapan Bunda dengan keluargaku. Emosi yang menggunung meledak dalam  isak tangis.   Sampai jam 3 sore, anakku masih dalam kondisi kritis.   Musyawarah menguras pikiran,  alot.  Alasannya bermacam-macam,  ICU penuh, peralatan kurang, juga karena anakku terluka parah.  Hasilnya : anakku ditolak RS Harapan Bunda.  Batinku, apakah ini semua karena kami bukan dari kalangan keluarga berpunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu, anakku masih tergolek lemah antara hidup dan mati.  Dua rumah sakit menolak tubuh tak berdaya anakku.  Apa yang harus kami perbuat? Membiarkan anakku mati dengan cara seperti itu?   Kami berbuat apa saja.  Bapakku akhirnya menghubungi salah satu kerabatnya.  Mobil ambulans akhirnya tiba, mengantarkan tubuh sekarat anakku dengan kepala remuk kehabisan darah (dari jam 08.00 sampai lepas maghrib!), menuju RSPAD Gatot Subroto.  Sampai di UGD jarum jam menunjukkan pukul 19 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, anakku pun masuk ke ruang ICU. Eko mengalami luka parah di bagian kepala.  Berdasarkan hasil diagnosis dokter ICU RS Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto,  Eko  didiagnosa menderita cedera kepala berat (CKB).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada optmisme yang membuncah ketika dokter dan perawat sejenak membesarkan hati kami. Namun, masalah administrasi seringkali seperti es, beku, sehingga pertengkaran kecil kembali terjadi antara aku dengan bagian loket.  Konsultasi dengan dokter menghasilkan percakapan panjang.   Dokter menyarankan agar anakku segera dioperasi, rembukan keluarga kembali digelar.   Malam itu kulalui dengan hati dan pikiran kalut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7/8/07. Pagi tiba. &lt;br /&gt;Kuputuskan untuk menerima saran operasi, dengan salah satu risiko adalah sebagian tempurung kepala anakku harus diangkat.  Lembar persetujuan untuk melakukan operasi terhadap anakku pun kutandatangani.  Pagi sekitar pukul 09.30 aku pun mempersiapkan segalanya. Empat jam kemudian anakku mulai masuk ruang operasi.  Kami sekeluarga menunggu dengan benak dan pikiran tak menentu. Sekitar pukul enam sore, anakku sudah kembali berada di ruang ICU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian, anakku mengalami pembengkakan di bagian dada sebelah kanan.  Ada cairan yang masuk ke dalam tubuhnya, di mana cairan tak masuk ke lambung melainkan ke paru-paru.  Efeknya, badannya membengkak seperti balon diisi air. Akhirnya di sisi pinggangnya dibuat lubang, mengalirlah cairan itu keluar dengan menebar bau tak sedap. Selama dua hari cairan itu masih keluar.  Sekitar tiga minggu kemudian dipasanglah alat bantu pernafasan di leher bagian depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari, terlihat wajah anakku, yang pucat, diam.  Di sisinya tegak tiang infus berikut botolnya. Alat monitor detak jantung, dan ventilator terpasang di tubuh anakku.  Dokter mengatakan bahwa anakku belum sadar. Masih membutuhkan perawatan ekstra.  Anakku dalam kondisi antara koma dan trauma panjang.  Dokter memintaku agar sabar dan pasrah, ikhlas dan berserah diri kepada Sang Pencipta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8/8/07 Entah aku tak begitu paham, peralatan apa saja yang terhubung pada tubuh anakku. &lt;br /&gt;Obat-obatan yang harganya teramat mahal bagi kami, harus ditebus.  Kami hanya ingin  anak kami selamat.  Berikutnya, rutinitas baru harus kujalani untuk memantau keadaan anakku.   Mulai dari menebus obat,  mengambil hasil tes darah, dan aneka pemeriksaan lainnya. Hari-hari seperti teramat panjang. Aku Cuma bisa berdoa, berdoa, dan berdoa demi kesembuhan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT penuh kasih.  Hadiah yang amat berarti bagiku saat itu, didatangkannya, tepat sebulan dari saat anakku mengalami kecelakaan.  Pada 6 September 2007, anakku untuk pertamakalinya tersadar dari tidur panjang.  Matanya terbuka, biarpun cuma sebelah, mulut bergerak-gerak seperti hendak mengabarkan ‘perjalanannya’ selama tidur panjang.  Dokter mengajukan sejumlah pertanyaan sederhana pada anakku yang tergolek lunglai di dipan.  Alhamdulillah, ia bisa meresponsnya.   Sore harinya, anakku dipindahkan di ruang perawatan isolasi PU (Perawatan Umum) di lantai empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai. Sejumlah perilaku yang mengkhawatirkanku muncul dari tabiat anakku yang mulai meronta-ronta biarpun tangan dan kakinya terikat.  Aku kasihan…marah…juga sedih campur aduk.  Selama satu bulan, dibantu perawat, aku dilatih merawat anakku.  Ujian kesabaran bagiku belum berada di garis akhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ramadhan pun tiba. Pada 5 Oktober 2007 anakku sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dari atas kursi roda anakku tampak kurus.  Belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk makan pun harus berupa cairan yang dialirkan melalui selang lewat hidung.   Biarpun begitu kesehatannya berangsur membaik.  Belum, belum selesai. Agenda operasi kembali dijadwalkan pada 9 Januari 2008 berupa operasi vistel.  Ternyata, pada hari itu vistelnya tertutup sempurna dengan sendirinya.  Merayakan Idul Fitri, lazimnya  hari kemenangan itu adalah saat yang membahagiakan. Tapi, justru kesedihanlah yang kurasakan.  Betapa tidak, melihat putraku terbaring lemah, tak mampu berjalan, makan dan minum pun masih menggunakan selang di hidung (sonde).  Kursi roda lah yang menjadi pengganti kakinya selama enam bulan.  Setiap pagi dan sore, kupapah anakku untuk belajar berjalan.  Syukurlah, usaha itu membuahkan hasil, biarpun masih sempoyongan, perlahan tapi pasti anakku mulai bisa tegak di atas kakinya sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada 29 Februari operasi jadi dilaksanakan pada pukul 08.00 dan berakhir sekitar pukul 11.00.  Seusai operasi dokter THT mengungkapkan padaku bahwa anakku harus kembali dioperasi pada 31 Maret.  Sayang, rencana operasi gagal. Pada akhir April,  rencana penutupan saluran pernafasan buatan pun gagal karena adanya infeksi dari virus Hepatitis C.  Duh, dari man asalnya semua itu. Belum selesai satu persoalan muncul lagi persoalan baru.  Setelah itu serangkaian operasi kembali dijalani anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dokter, anakku harus menjalani  pengobatan hepatitis. Terapi melalui suntikan  selama satu tahun, dengan biaya sekali suntik setiap minggu Rp 3 juta.  Dari mana saya harus memenuhi biaya itu? Rumah kontrakkan yang ditempati sejak lebih dari sepuluh tahun lalu itu pun hanya Rp 300 ribu per bulan? Akhirnya, terapi herbal yang lebih murah kujalani.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi demi operasi harus segera dijalani anakku untuk kepulihannya, dan sayangnya, hingga saat ini belum berhasil memunculkan suaranya.  Bahasa tarzan seringkali harus kami gunakan.  Juga bahasa tulisan. Sungguh, aku rindu mendengar suaranya ia memanggilku ibu… &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Yang membuatku berbesar hati adalah, dalam kondisinya yang tak seperti dulu, anakku beriskukuh untuk tetap bersekolah.  Biarpun harus mengulang setingkat lebih rendah dari rekan-rekan seangkatannya dulu.  Aku melihat ada semangat dalam binar mata anakku untuk menatap masa depannya.  Senyumnya memang cerah seperti tak pernah terjadi apa-apa.  Biarpun hingga kini aku belum juga punya jawaban, bagaimana harus menyekolahkan dua anakku lainnya, yang mulai masuk sekolah menengah dan akan memasuki TK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, mana yang harus kudahulukan, sementara suamiku, yang begitu sabar, adalah karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta. Anakku masih harus menjalani operasi lagi, agar ia bisa berkomunikasi dengan guru-guru, rekan dan saudaranya tak lagi dengan bahasa isyarat. ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Di atas penggalan cerita Etty kepada saya, lebih dari setahun lalu.  Kini, kondisi Eko sepertinya terus membaik.  Ia seperti tak pernah kehilangan optimisme.  Dengan leher dililit scarf, ia berani bepergian sendirian.  Naik angkot.  Juga kereta api! Termasuk ketika melamar pekerjaan.  Saya tak tahu bagaimana caranya ia lolos jika suatu ketika harus  menjalani tes wawancara.  Pita suaranya belum berfungsi normal. Karena itu, lewat tulisan ini saya mencoba menemani Eko bersuara…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-8180578346404421855?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/8180578346404421855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/09/aku-rindu-ia-bersuara-memanggilkuibu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/8180578346404421855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/8180578346404421855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/09/aku-rindu-ia-bersuara-memanggilkuibu.html' title='&quot;Aku  Rindu  Ia  Bersuara,  Memanggilku..Ibu..&quot;'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TJy4M69-icI/AAAAAAAAAHE/8EnsTjWFeN0/s72-c/100_3472.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-1158770058418480197</id><published>2010-07-28T01:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T01:44:04.429-07:00</updated><title type='text'>Bocah Laki-laki yang Jatuh Cinta pada Pohon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TE_tv0tHQQI/AAAAAAAAAG0/GZyMLFmEX1A/s1600/P6140143.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TE_tv0tHQQI/AAAAAAAAAG0/GZyMLFmEX1A/s320/P6140143.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498875075900162306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sebatang pohon curhat padaku siang itu.  ia bilang baru didatangi bocah laki-laki yang mengaku cinta kepadanya.  bocah itu mendekat, meraba gurat epidermis wajahnya, lalu ia tersenyum-senyum (rindu yang dikulum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yang bocah itu mau?,  kataku&lt;br /&gt;kambium di pusat tubuhku!&lt;br /&gt;kenapa begitu?&lt;br /&gt;ia berkata dari sanalah dirinya bermula,  ia ingin pulang ke kambiumku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan malamku tiba tapi  segera saja berlalu tanpa kejatuhan sebutir mimpi&lt;br /&gt;dan pada sebuah fajar aku terbangun, terkesiap&lt;br /&gt;mendapati bocah laki-laki itu terbaring &lt;br /&gt;di sisiku&lt;br /&gt;tersenyum senyum (rindu yang dikulum)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-1158770058418480197?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/1158770058418480197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/bocah-laki-laki-yang-jatuh-cinta-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1158770058418480197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1158770058418480197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/bocah-laki-laki-yang-jatuh-cinta-pada.html' title='Bocah Laki-laki yang Jatuh Cinta pada Pohon'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TE_tv0tHQQI/AAAAAAAAAG0/GZyMLFmEX1A/s72-c/P6140143.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-4940223306207947252</id><published>2010-07-18T21:29:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T21:51:36.467-07:00</updated><title type='text'>Waspada!  Koempeni  dan  Kenpeitai  Moentjoel Lagi !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TEPZzhI7XgI/AAAAAAAAAGs/OgYzAULVpi8/s1600/100_3469.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TEPZzhI7XgI/AAAAAAAAAGs/OgYzAULVpi8/s320/100_3469.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495475449414508034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TEPZTzZQC4I/AAAAAAAAAGk/g5tEtIIou7Q/s1600/100_3464.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TEPZTzZQC4I/AAAAAAAAAGk/g5tEtIIou7Q/s320/100_3464.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495474904558996354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir!..Minggir..!  Awas, haik!  Bagerooo..!,”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenpeitai bermata sipit dengan samurai tersampir di pinggang itu mengibaskan tangan.  Menyuruh seorang ibu muda yang menggandeng putri kecilnya itu menepi.  Saat menghardik itu loh!  Mimiknya serius meyakinkan, mulutnya dimonyong-monyongkan.  Seragam hijau lumut bertabur pangkat kemiliteran kekaisaran Jepang di pundak dan dada, kian membuatnya berwibawa.  Sesekali Sang Kenpei menaikturunkan kacamata bulatnya.  Mendelik-delik ke arah si bocah.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eeh,&lt;/span&gt; alih-alih takut, si ibu dan putrinya malah senang dan cekikian.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah, kok!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Woah&lt;/span&gt;! Pipiku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tau&lt;/span&gt; ditampar kempei &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ping pindo!&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pluok!..pluok! Loro tenan!&lt;/span&gt; Kempei &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kui&lt;/span&gt; kejam, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;galak’e ngepol&lt;/span&gt;!” (“Wah, pipiku pernah ditampar kenpeitai dua kali. Plok! Plok!  Sakit banget. Kenpei itu kejam, galak banget!”) ujar Mbah Darmo (80an), menceritakan pengalamannya ditampar kenpei, lebih dari enampuluh tahun silam.  Mbah Darmo yang saya temui di Yogyakarta, awal Juni, adalah satu dari sekian ribu mantan pekerja paksa di masa pendudukan Jepang  (romusha).  Di luar performa fisik dan pendengaran yang kian menurun, ingatan Mbah Darmo relatif tajam.  Suatu ketika misalnya, Mbah Darmo bersama ratusan pemuda lainnya dari kawasan Prambanan, digiring ke lapangan terbuka di kawasan Maguwoharjo.  “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nyang&lt;/span&gt; Meguwo, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;awakku kon ngatoske dalan&lt;/span&gt; pesawat Jepang.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bayarane beras sak pincukan. Kabeh korengen!&lt;/span&gt;,” (Di Maguwo, Saya disuruh mengeraskan landasan pesawat tentara Jepang.  Bayarannya beras sepincuk. Semua romusha korengan!) papar Mbah Darmo dengan tatapan menerawang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, lapangan udara Maguwoharjo yang penggarapannya di masa Dai Nippon berkuasa melibatkan ribuan romusha, itu telah menjadi Bandara Internasional Adi Sutjipto. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kancaku tau dibaret nganggo&lt;/span&gt; bayonet &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wetenge&lt;/span&gt;!,”(temanku pernah digores perutnya menggunakan bayonet) imbuh Mbah Darmo, yang juga adalah paman ayah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, Kenpei galak yang berlagak di Senayan dan seputaran Jakarta sejak 16 – 18 Juli lalu itu ternyata gadungan alias imitasi. Bilah samurai, pistol jenis Vickers, juga senapan semi otomatis di punggungnya, adalah tiruan belaka. Pula, mana ada kenpei Jepang menyandang nama Sutjipto. “Ya, saya ikut meramaikan saja, Mas!,” terang Kenpei Tjipto mengaku. Ketika saya cegat di “pasar klitikan”, sepanjang balkon kawasan kolam renang Gelora Bung Karno yang hari itu berubah jadi pasar onderdil sepeda bekas dari berbagai daerah, Kenpei Tjipto tengah memilah lampu sepeda bekas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Kenpei  Tjipto hanyalah satu dari lebih duaribu penghela sepeda onthels yang tengah berpesta dalaam… &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kongres Sepeda Indonesiaa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupa belaka dandanan para onthelis yang saya temui ahad (18/7) lalu.  Dari yang berbaju adat daerah,  sosok punakawan,  koki,  hingga (yang cukup banyak) adalah peserta dengan atribut serba &lt;span style="font-style:italic;"&gt;djadoel&lt;/span&gt;. Tak heran jika bazaar memorabilia dan barang-barang bekas, paling heboh disatroni pengunjung.  “Silakan, Mas! Ini kacamata asli loh!,” ujar Munadi, penjual aneka kacamata “tempo doeloe”.  Ia membanderol dagangannya dengan kisaran harga belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah.  Munadi yang datang dari Subang, Jawa Barat, juga menawarkan radio kuno dan bermacam kaset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Muntholib (48), yang datang dari Madiun beserta 50an rekan penggemar onthel. Diangkut kereta api barang mereka langsir ke Stasiun pasar Senen.  Bersama sepeda onthel kesayangan, ikut terangkut  perlengkapan masak dan pernak-pernik yang akan dipamerkan saat arak-arakan keliling Jakarta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suasana akrab dan guyup terlihat ketika Muntholib dan sohib penggemar onthel dari berbagai daerah bersua.  “Ini nikmatnya ngonthel, Mas! Kita ndak menonjolkan apa yang kita punya, tapi menawarken apa yang kita bisa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hehe&lt;/span&gt;”. Siang itu, dari semula hanya karyawan swasta dengan tiga anak, Muntholib &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moncer&lt;/span&gt; jadi Letnan Kolonel Tentara Repoeblik Indonesia (TRI).  Lengkap dengan seragam warna khaki, peci warna krem dipasang miring, plus selempang kulit dengan sepucuk pistol di pinggangnya yang gendut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aaangkat tangann..&lt;/span&gt;! Menyerah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ato modiarr&lt;/span&gt;!,” ancam Muntholib kepada koleganya yang hari itu jadi tentara KNIL, salah satu korps tentara bentukan militer kolonial Belanda.  Ditodong Letkol Muntholib, tentara Kumpeni yang menyandang senapan laras panjang itu pilih angkat tangan dengan raut muka belagak kecut.  Fragmen guyon itu pun diakhiri dengan tawa yang pecah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Asyik sekali bersua dan ngobrol dengan para onthelis dari berbagai kota yang mengepung Ibu Kota. Saya memang lebih terbiasa dengan sepeda gunung, dan cukup rutin bersepeda. Saya merasakan bagaimana para onthelis sangat jarang “pamer kekayaan” sepeda. Mereka lebih condong menawarkan kebersahajaan dan solidaritas.  Tapi, buang jauh-jauh anggapan bahwa sepeda onthel berikut komponennya murahan belaka.  Terlebih yang orisinil dan memang berusia lawas.  Di sebuah stand “Gazzelle” misalnya, tampak dipajang sepeda tua seharga Rp 10 juta – Rp 20an juta.  Lainnya di kisaran Rp 15 juta.  Di kalangan penggemar sepeda gunung, sepeda seharga Rp 30 juta – Rp 100 juta lebih, tidaklah mengherankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari semua itu, kalangan onthelis itu telah “memamerkan” sesuatu yang sangat bernilai.  Etalase toko sepeda  manapun tak mungkin memajangnya, karena teramat mahal dan langka : kebersahajaan dan solidaritas.  Entah, di mana saya bisa membelinya untuk saya pamerkan setiap kali bersepeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-4940223306207947252?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/4940223306207947252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/waspada-koempeni-dan-kenpeitai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4940223306207947252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4940223306207947252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/waspada-koempeni-dan-kenpeitai.html' title='Waspada!  Koempeni  dan  Kenpeitai  Moentjoel Lagi !'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TEPZzhI7XgI/AAAAAAAAAGs/OgYzAULVpi8/s72-c/100_3469.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-5975917918561054810</id><published>2010-07-13T06:47:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T07:21:00.959-07:00</updated><title type='text'>Layang-Layang Putus yang Melukis Sendiri Langit Rumahnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDx1wC9Q5aI/AAAAAAAAAGc/pHA-dJeRgMQ/s1600/100_3320.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDx1wC9Q5aI/AAAAAAAAAGc/pHA-dJeRgMQ/s200/100_3320.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493395113773163938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDx0b_DUrsI/AAAAAAAAAGU/w2DqbPLYAHE/s1600/100_3322.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDx0b_DUrsI/AAAAAAAAAGU/w2DqbPLYAHE/s320/100_3322.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493393669615824578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia datang menjelma layang-layang&lt;br /&gt;menggembala kawanan awan berbulu abu-abu&lt;br /&gt;mengawinkannya tiap sepasang, menjadikannya bunting dan beranak pinak&lt;br /&gt;menjelmakan hujan&lt;br /&gt;menyisakan pelangi&lt;br /&gt;yang ia lukis dengan warna-warni tubuhnya sendiri&lt;br /&gt;dan angin pun cemburu&lt;br /&gt;enggan mengajaknya berdansa &lt;br /&gt;sebuah hempasan bahkan memutuskan tali&lt;br /&gt;layang-layang memilih pulang,&lt;br /&gt;melukis sendiri langit rumahnya &lt;br /&gt;yang tak bertepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(gondangdia, 0710)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-5975917918561054810?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/5975917918561054810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/layang-layang-putus-yang-melukis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5975917918561054810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5975917918561054810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/layang-layang-putus-yang-melukis.html' title='Layang-Layang Putus yang Melukis Sendiri Langit Rumahnya'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDx1wC9Q5aI/AAAAAAAAAGc/pHA-dJeRgMQ/s72-c/100_3320.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-950010932346114969</id><published>2010-07-10T03:48:00.000-07:00</published><updated>2010-07-10T04:05:33.770-07:00</updated><title type='text'>Gasing Bambu yang Mengitari Dunianya Sendiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDhT82UgdkI/AAAAAAAAAGM/AFFgS5SCNO0/s1600/P1010127.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDhT82UgdkI/AAAAAAAAAGM/AFFgS5SCNO0/s320/P1010127.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492232050417104450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat memberiku gasing bambu buat anakku ketika senja layu. Gasing yang indah dengan lubang hitam dari galaksi yang belum terpetakan. Stephen Hawking niscaya dibuat kagum manakala satu postulat tatasurya rancangannya telah gugur karenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak bagi putraku.  Ia mendekap gasing itu dari malam ke malam.  Hingga ke tubir mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpinya gasing pemberian sahabatku itu terus berputar. Memanen gravitasi dan menyedot segala saja yang ada di sekitarnya. Guling.  Selimut.  Kasur.  Setruman nyamuk.  Laptop yang masih menyala menunggu ditulisi puisi.  Minyak kayu putih.  Sajadah.  Papan selancar.  Sepeda gunung.  Terakhir, menyedot aku dan istriku yang belum selesai bercumbu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buitenzoorg. 07.10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-950010932346114969?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/950010932346114969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/gasing-bambu-yang-mengitari-dunianya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/950010932346114969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/950010932346114969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/gasing-bambu-yang-mengitari-dunianya.html' title='Gasing Bambu yang Mengitari Dunianya Sendiri'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDhT82UgdkI/AAAAAAAAAGM/AFFgS5SCNO0/s72-c/P1010127.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-5584008850356021360</id><published>2010-07-09T07:08:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T07:32:36.247-07:00</updated><title type='text'>Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDcy8tKXY8I/AAAAAAAAAGE/w7f8QR20R_I/s1600/P1010095.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDcy8tKXY8I/AAAAAAAAAGE/w7f8QR20R_I/s320/P1010095.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491914289098220482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menjelma hujan sore tadi. Menawariku basah tepian musim yang tak mungkin menumbuhkan sekuntum kenanga di kebun benakku. Lelangit pekat. Seperti sekeping gulana di alisnya yang pekat dengan perdu berpucuk ungu. Tempat serangga menitipkan larva dan beranak pinak menjelma kupu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspal masih lembab. Telanjang tanpa segumpil batu serupa onak di sela jari kakimu. Seperti telanjangmu ketika mengantarku pulang ke beranda waktu. Tuhan titip salam, kepadamu. Ujarnya diserta petir berulang kali. &lt;br /&gt;Sampai di sebuah tikungan aku menatapnya untuk terakhir kali.&lt;br /&gt;Ia menjelma api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Buitenzorg, July 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-5584008850356021360?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/5584008850356021360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/perempuan-yang-mengantarku-pulang-senja_09.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5584008850356021360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5584008850356021360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/perempuan-yang-mengantarku-pulang-senja_09.html' title='Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu (2)'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDcy8tKXY8I/AAAAAAAAAGE/w7f8QR20R_I/s72-c/P1010095.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-3959613065613632315</id><published>2010-07-08T06:48:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T07:06:26.605-07:00</updated><title type='text'>Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDXdmqzeFwI/AAAAAAAAAF8/fK6nE1HEVzk/s1600/P1010105.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDXdmqzeFwI/AAAAAAAAAF8/fK6nE1HEVzk/s320/P1010105.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491538977043126018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu datang sebagai hujan. Bertamu kepadaku ketika senja mulai menepi. Ia ketuk pintu benakku tiga kali antara ragu dan rindu bertemu. Tapi engsel pintu kubiarkan kaku. Mengawali diam benakku ragu. Sebab aku cemas ia masih menggenggam halilintar. Yang hanya menjadikanku terhenyak dan kuyup. Juga terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu datang menjelma badai. Tempias ujung rambutnya melembabkan waktu. Tiba-tiba jam dinding berhenti berdetak begitu binar matanya menyandera mataku. Sampai aku tak sanggup melihat selain sekeping ingatan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keretaku datang dan perempuan itu mulai melambai dari kejauhan. Perlahan dengan jemari lentik rinai hujan. Yang tak sanggup aku genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keretaku menjauh. Benakku berpeluh. Ketika hujan reda, perempuan itu pulang sebagai awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Buitenzorg, July 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-3959613065613632315?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/3959613065613632315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/perempuan-yang-mengantarku-pulang-senja.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/3959613065613632315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/3959613065613632315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/07/perempuan-yang-mengantarku-pulang-senja.html' title='Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TDXdmqzeFwI/AAAAAAAAAF8/fK6nE1HEVzk/s72-c/P1010105.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-6325794239972375942</id><published>2010-06-08T07:35:00.000-07:00</published><updated>2010-08-03T01:15:29.521-07:00</updated><title type='text'>Yuuk, Latihan Njogett...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TA5hCOQza_I/AAAAAAAAAF0/ShYc7kndy_0/s1600/P6020965.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TA5hCOQza_I/AAAAAAAAAF0/ShYc7kndy_0/s320/P6020965.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480424487372680178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anik Triyani menulis begini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas bagaimana cara kita menemukan inspirasi dalam menulis?" Pertanyaan itu terlontar cukup semangat dari hati. "Coba temukan inspirasi-inspirasi itu dari kejadian yang kita temui dalam keseharian". It's simple answer. Tapi, jika dimaknai dengan semangat dari hati, kata-kata ini layaknya sebuah mutiara biru bagi yang tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, kenapa keinginan untuk menulis ini berkobar dalam setiap kedipan mata. Ada rasa bersalah lebih tepatnya, melintas dalam setiap ingatan. Memang, sudah seumur jagung tumbuh keinginan menulis ini. Setelah agak lama terkubur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu, kejadian yang membuatku merasa enggan untuk menulis. Ku stop kebiasaanku menulis apapun. Dulu fiksi, essay, perjalanan keseharian, pengalaman ironis bahkan yang tragis sekalipun aku tulis. Kini, bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali menulis. Aneh, aku tak menyadari hal itu hingga sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sampai saatnya aku bertemu dengan "sang penangsang". Baru aku ingat bahwa selama ini aku telah melupakan kesukaanku. Hobi yang membuat imajinasiku tumbuh, hati kaya, dan tangan menjadi tebal (karena seringnya ngetik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sedetik aku katakan, sebab aku merasa kekurangan waktu. Bertemu dengan "sang penangsang". Biar begitu, inspirasi mengalir dengan deras. Dan, hati ini merasa malu. Malu untuk membohongi diri bahwa ternyata keinginan menulis itu masih ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama "semangat dari hati" tidak bergerak. Untuk mulai bermain dalam dunia yang selama ini kulupakan. Yup, dunia menulis, bermain dengan hati. Benar sekali kata-kata tokoh Mentari pada novel “9 Matahari”. Bahwa, "Roda memang berputar, namun adakala roda itu akan menjadi bocor atau kempis. Maka dari itu roda tidak bisa diputar lagi”. Eits, tunggu dulu... biarpun roda sudah tidak bisa menggelinding, setidaknya masih bisa dipindah tempatkan! Iya, bila perlu dengan diseret atau diangkat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…"Anik menulis lagi!!!". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuakui, dulu aku sempat kecewa dengan apa yang namanya "bermain" menulis. Aku down. Hasrat memainkan pena redup. Aku belum berusaha untuk membuat diri ini up lagi untuk menarikan pena dan mengekspresikan gelinjang dari relung hati dan pikiran lewat segores tulisan. Dan oke! aku akan membuat roda ini berpindah tempat. Akan kupaksa diri ini untuk menyeretnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih "sang penangsang", yang telah menggerakkan dan membangkitkan kesadaran ini.  Memulai lagi memainkan pena, mengekspresikan rasa dan mengelola pikiran dengan MENULIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plok...Plok...Plok, kutepuk dada ini dengan semangat dari hati yang membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas adalah “kesan” Anik Triani, seorang mahasiswa UGM, Yogyakarta, seusai menemani rekan- rekannya mengikuti pelatihan menulis di kampusnya, 2 Juni lalu.  Dia menuliskan itu di dinding facebook saya. Itu adalah yang kedua kali saya diundang untuk menemani mereka belajar menulis. Kedua kali pula saya ketemu Anik. November dua tahun  silam adalah yang pertama, di acara yang juga hampir sama. Mereka mengajak saya bareng-bareng belajar menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri berpendapat menulis memang bukan hal gampang. Menulis yang bagus maksudnya. Dengan cukup “gizi” dan cukup "seksi".  Untuk itulah saya tak pernah berhenti berlatih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja seusai pelatihan, Anik, dan dua rekannya, Fajar dan Vemy, menemani saya mengganyang seporsi Nasi Ayam Brekele di Kafetaria. Tak jauh dari Gelanggang Mahasiswa UGM.  Ebiet, adik yang saya minta antar- jemput, memilih menu Ayam Lumpur Lapindo.  Menu yang disebut terakhir tak ada hubungannya dengan perusahaan Bakrie. Lapindo versi UGM itu berupa seporsi nasi dan daging ayam dengan siraman kuah kental warna coklat terang berikut empat iris buncis rebus dan wortel.  Entah, apakah penggagas menu ini pernah melongok kawasan bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sono&lt;/span&gt;… Seingat saya, “kuah” lumpur yang bikin ribuan warga Sidorajo jatuh nelangsa itu berwarna abu-abu pekat.  “Betul, Mas, kafetaria ini memang baru setahun terakhir berdiri,” ujar Fajar. &lt;br /&gt;Seporsi brekele dan lumpur lapindo dihargai Rp 6.500.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana cara Mas Prio mendapatkan inspirasi dalam menulis?” Anik membuka percakapan. Sembari meneguk segelas jeruk panas, saya cerita sekelumit pengalaman menulis kepada mereka. Menulis berita maupun fiksi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi? Saya jadi teringat dengan sebuah pengalaman pada 1997. Bersama dua rekan pers mahasiswa, Timotius Suwardi dan Aris Budiprasetyo, saya membuat janji wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer di rumahnya, Jalan Multikarya, kawasan Utan Kayu. &lt;br /&gt;Menerima kami bertiga, laki-laki tua -  wafat 2006 dalam usia 81 tahun -  itu hanya mengenakan kaus oblong putih dengan warna yang sudah pudar. Celana pendek katun plus kaus usang yang sewarna dengan kaus oblong. Kebersahajaan itu tak mengurangi rasa “gentar” kami ketika bertemu sastrawan yang beberapa kali didapuk sebagai nominee peraih nobel sastra itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, kami ingin melakukan verifikasi terkait budaya kekerasan yang merebak. Juga relasi kekerasan oleh negara yang dialaminya saat 14 tahun mendekam di Pulau Buru. Referensi saya untuk soal ini hanya satu, buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ditulis Pram semasa dalam pembuangan di di Pulau Buru, kesan saya hanya hanya satu : mengerikan! Selebihnya adalah soal kepiawaian Pram menuturkan fakta-fakta secara lugas dan nyaris tanpa emosi. Beberapa buku karya Pram lainnya yang sudah saya baca sebelum wawancara itu berlangsung adalah Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.      &lt;br /&gt;“Ah, kalian tak usah pura-pura tak tahu. Di pundak yang muda-muda ini kekerasan (orde baru) itu harus kalian tulis!” ujar Pram dengan air muka tenang.  Lantas mengembuskan asap rokok kreteknya. Djambu Bol. Saya yang bukan perokok dibuatnya terbatuk setidaknya enam kali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang dalam, Muthmainah Thamrin, istri Pram, menyiapkan teh manis buat berempat.  Muthmainah, putri Muhammad Hoesni Thamrin, itu terlihat anggun dan masih gesit.  Gurat-gurat kecantikan masih tampak di wajahnya. “Silakan diminum,” ujarnya dengan seulas senyum. Lalu bergegas menyingkir ke dalam saat kami kembali meneruskan obrolan.  Saya yakin, Muthmainah bisa mendengar percakapan kami.  Beberapa kali kami harus bertanya dengan volume suara tinggi agar Pram dengar apa yang kami tanyakan. Hajaran popor senapan seorang prajurit TNI bernama Sulaiman memang telah menjadikan pendengaran Pram rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Pram adalah ketika saya mulai bekerja dan menetap di Jakarta, pada 2000. Percakapan tak pernah bisa berlangsung lama. Pram masih menjadi magnet bagi siapapun.  Termasuk anak-anak muda yang ingin minta tanda tangan, berfoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku apa lagi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nih&lt;/span&gt;, yang akan bapak tulis?,” saya mendekati Pram seusai memberi orasi budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM). &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nggak&lt;/span&gt;. Saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; mampu menulis lagi sekarang. Sudah tua..”&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah&lt;/span&gt;, terus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngapain aja&lt;/span&gt; di rumah?”&lt;br /&gt;“Biasa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mbakar&lt;/span&gt; sampah di kebon, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hehe&lt;/span&gt;..,” Pram tersenyum, membetulkan topi pet warna hitam di kepalanya sembari mengembuskan asap tembakau dari cangklong. Beberapa jenak kemudian percakapan terputus, lusinan anak muda menghambur mengajaknya foto bersama.  Pram tak menolak. Terkekeh.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Pram, atau Pram itu sendiri, adalah salah satu inspirator saya dalam menulis. Ia tak lumer dengan kondisi penuh tekanan. Dan memilih terus menulis. Entah, bagaimana dia menggali sumber-sumber tulisannya ketika dalam pasungan era kolonial Belanda atau pun orde baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku dan arsip penting di Perpustakaan, harta yang sangat dicintainya, ludes dibakar tentara sebelum ia digiring ke Buru sebagai tapol. &lt;br /&gt;Atau jangan-jangan, penderitaan itulah sumber inspirasi terbesarnya. Mungkinkah “penderitaan inspiratif” dikondisikan?     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah&lt;/span&gt;, terus sejak kapan Mas Prio mulai menulis?” ujar Anik di sela jeda latihan menulis sore itu. &lt;br /&gt;“Sejak SMP, saya mulai rutin menulis puisi, juga cerpen,” saya mencoba mengingat.  Buku catatan harian semasa SMP masih saya miliki. Kebanyakan puisi. Ketika berada di atas geladak kapal ferry di Selat Sunda, misalnya, saya menulis puisi. Tentang buih putih di laut, bintang di langit.  Tentang harapan. Ya, saya akan mulai sekolah menengah di Yogyakarta sejak itu. &lt;br /&gt;Juga puisi-puisi cinta anak ingusan.  Jatuh hati pada seorang gadis berkacamata yang sering melintas di depan rumah. Saya hanya berani menatapnya dari balik pagar perdu.  Dan membiarkan puisi saya merayunya diam-diam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu saya selalu ingat, menulis juga merupakan kerja kesunyian.  Kerja diam-diam.  Jika benak sedang kumuh dan rusuh, tak sepatah kata pun bisa kuanyam hari itu.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di SMP pula saya mulai menulis prosa cukup kontinyu. Juga membaca. &lt;br /&gt;Yohannes Ratoem, guru Bahasa Indonesia di SMP Xaverius Gisting, Lampung, sukar untuk tidak saya sebut perannya. Sepekan dua kali ia mengajarkan pada semua siswa bagaimana mengarang yang baik. Seingat saya, nilai tertinggi pelajaran mengarang di sekolah itu adalah tujuh. Tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ratoem, paruh baya berpostur tinggi kurus dengan tatanan rambut klimis belah samping. Jika berdiri atau berjalan, posturnya agak melengkung seperti pisang ambon. Jago mendongeng. Ketika pelajaran Bahasa Indonesia menyisakan waktu sepuluh atau limabelas menit, ia akan mengisinya dengan dongeng bersambung. Macam-macam temanya.  Kisah Burung Ardana dan Bejo Santoso adalah dua judul yang saya masih ingat jalan ceritanya.  Jika mulai mendongeng seisi kelas seperti tersihir.  Dari Ratoem pula saya belajar membahasakan imajinasi. Ratoem guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya kenal. Ratoem sangat disiplin. Sejumlah kawan pernah kena tampar gara-gara iseng saat ia mengurai sebuah tema. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratoem pula yang meminta saya untuk jadi “Pemimpin Redaksi” majalah dinding sekolah. Tugasnya mencari naskah, menulis, menempel dan mengganti naskah yang hendak “diterbitkan” di majalah dinding berukuran 1m x 3m. Dalam kegiatan yang mengasyikkan itu, saya dibantu Lidya, gadis keturunan Tionghoa yang juga senang menulis. Lidya baik dan rendah hati. Juga cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara sebuah puisi pula saya dan sejumlah rekan pernah di interogasi di ruang perpustakaan oleh guru BP. Ceritanya, banyak teman yang tak suka dengan cara seorang guru (baru) saat mengajar dan memberi nilai. Sering &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyrempet&lt;/span&gt; saru dan royal jika merokok di depan kelas. Pernah, saat mengajar, ia menyuruh seorang teman untuk membelikan rokok di warung yang berlokasi di seberang jalan. Lebih lucu lagi, ia tak segan-segan membagi kunci jawaban saat ulangan harian. Saya lantas diminta membuat puisi kritik dan ditempel di majalah dinding oleh teman-teman sekelas. Saya kerjakan. Di bawah judul puisi terang-terangan saya tulis : "Kepada Pak SB". Belum genap dua jam ditempel, puisi saya kena breidel. Saya dengar Pak Ratoem yang memberangus puisi itu. Saya dan sejumlah rekan lantas ditanyai oleh guru BP. Sama sekali tak dimarahi. Mereka tanya apakah "fakta-fakta" dalam puisi itu benar adanya. "Kalian boleh mengkritik, tapi sebaiknya jangan ditulis nama yang kalian tuju. Ini juga agak keras," ujar Ratoem di depan kelas, sehari setelah insiden puisi protes itu. Saya lihat wajah Ratoem. Ia sama sekali tak marah atau kecewa. Ada segurat senyum, yang segera saja saya artikan sebagai sebentuk dukungan. Seorang guru paling sepuh dan sangat dihormati, juga terang-terangan memberi dukungan. "Katakan saja kalau memang benar, jangan takut-takut!," ujar Pak Ponijo Sepuh, pengampu pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) itu. Kabarnya, gara-gara puisi itu, guru yang kami kritik lewat puisi mendapat teguran dari dewan sekolah.          &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atmosfer masa sekolah sungguh inspiratif bagi saya. Di sana saya juga menjalin hubungan baik dengan petugas perpustakaan. Membantu melayani peminjaman buku bagi murid-murid pada jam istirahat. Bonusnya, saya bisa meminjam buku sebanyak yang sanggup saya baca.  Novel Layar Terkembang, Siti Nurbaya (Marah Roesli), Atheis (Achdiat KM), hingga Monte Cristo karya Alexander Dumas, adalah beberapa karya yang saat itu saya pinjam dan baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti mengupas bawang, fakta-fakta yang hendak kita tulis harus dikupas lapis demi lapis. Semakin dalam, kebenaran (fungsional) akan terkuak.  Untuk itu kita juga harus telaten membaca.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti namanya, SMP itu dikelola sebuah yayasan Katolik. Sementara saya dari keluarga muslim.  Seingat saya, mayoritas murid di kelas saya beragama Islam. Teman-teman saya juga berasal dari latar belakang beragam.  Keturunan Tionghoa, Batak, Lampung, Palembang, juga Jawa.  Hanya guru-gurunya yang mayoritas berasal dari Yogyakarta. Mungkin pengalaman itu yang, hingga saat ini, membantu saya dalam menenggang perbedaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu memasukkan saya ke sekolah ini karena terkenal dengan kultur disiplin dan bereputasi akademik yang bagus.  Mungkin juga karena Ibu kenal dengan beberapa guru di sana. Pilihannya cukup masuk akal.  Kala kanak-kanak saya memang badung.  Gemar bikin onar.  Tapi, saya juga sholat dan rutin mengaji di rumah Mang Udin dan Lik Suwarni, ustadz kampung sebelah. Meski juga tetap suka bikin ribut.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Latar belakang yang beragam itulah yang mempengaruhi saya untuk tidak berfikir monolitik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jika kamu menulis tentang konflik berlatarbelakang etnis dan primordial, kamu akan mendekati obyektif ketika ruang redaksi memiliki latar belakang yang beragam. Tak itu perbedaan etnik maupun agama,” saya memberikan contoh kepada Anik. Mahasiswi Sastra Inggris semester delapan ini manggut-manggut.  Obyektifitas bukan tujuan jurnalisme. Orang akan lintang pukang untuk bisa bersikap obyektif. Malahan, akan cenderung  utopis jika obyektifitas dipaksa dijadikan tujuan dalam jurnalisme. “Yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati obyektif. Caranya, dengan disiplin verifikasi, selalu nggak puas dengan fakta yang sudah didapat.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya hanya ingin memberi tahu Anik, juga Fajar, Dilla, Galeh, Laras, Febby, Amanda, dan teman-teman peserta pelatihan menulis yang lain,   bahwa menulis yang bagus memang tidak mudah.  Dengan kesadaran itu kita terpacu untuk bersungguh-sungguh dan berusaha keras melakukannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, baru kamu bisa menari dalam kata-katamu sendiri.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yuuk,&lt;/span&gt; latihan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;njoget…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nang ning nong ning nang ning gungg…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-6325794239972375942?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/6325794239972375942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/06/yuuk-latihan-njogett.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6325794239972375942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6325794239972375942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/06/yuuk-latihan-njogett.html' title='Yuuk, Latihan Njogett...'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/TA5hCOQza_I/AAAAAAAAAF0/ShYc7kndy_0/s72-c/P6020965.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-5888691361749284777</id><published>2010-05-26T21:04:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T21:28:09.076-07:00</updated><title type='text'>Interview With "The Climate Hero" Hehe..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S_30kSLGIpI/AAAAAAAAAFs/54dcLqxxazw/s1600/P2240706.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S_30kSLGIpI/AAAAAAAAAFs/54dcLqxxazw/s320/P2240706.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475801626143236754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tri Mumpuni Wiyatno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Social Entrepreneurs&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Banyak Orang Pintar yang 'Minteri'”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Republic of Indonesia&lt;/span&gt;, Mas!, ujarnya dengan mata separuh mendelik dan jari telunjuk menuding wajah saya. Saya tersenyum, dia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyengir&lt;/span&gt;. Ceplas-ceplos ketika bertutur soal ironi di republik ini. Mimiknya ekspresif, kadang jenaka.   Postur kelahiran Semarang 44 tahun silam itu boleh mungil, tapi jangan tanya kiprah dan energinya yang seperti tak pernah kehabisan “batre”. Ia membantu ribuan desa memberdayakan ekonominya melalui program energi mandiri. Karyanya diakui PBB, lantas mendapuknya dengan gelar “Climate Hero”.  April kemarin di Washington, bahkan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uncle&lt;/span&gt; Barrack memujinya sebagai sosok perempuan Social Entrepreneurs jempolan yang banyak menawarkan perubahan.  Buah pemikiran dan aksi perempuan energik ini diterapkan dan berguna bagi masyarakat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;udik&lt;/span&gt; Cicemet, pedesaan Beijing hingga Dubrovnik di Kroasia. Saya lantas mengajaknya bercakap seusai menjadi pemateri sebuah seminar di sebuah hotel di Jakarta, akhir Februari silam. Saya suka kesederhanaan dan kerendahan hati perempuan yang akrab disapa Bu Puni, itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bu Puni, ngapain sih sampeyan repot-repot  ngurusin listrik di udik-udik. Kan dah ada PLN? “Kendaraannya” apa?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat harus mandiri energi. Sebagian besar saya menggunakan wahana koperasi. Saya tidak punya tendensi pada orang-orang yang merusak koperasi. Saya ingin membuktikan. Saya pencinta Bung Hatta, saya membaca bukunya sampai mendapat ide-ide. Jadi, sebenarnya prisnip-prisnisp koperasi Hatta diikuti dengan benar dan juga koperasi yang benar maka Indonesia itu gampang dimakmurkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sedikit pengetahuan saya, banyak juga koperasi yang jeblok. Piye, Bu?&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah! Lah !&lt;/span&gt; Persoalannya sekarang itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kan,&lt;/span&gt; seakan-akan koperasi itu pekerjaannya pemerintah. Kemudian orang-orang yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; benar bikin koperasi agar gampang korupsi dari situ, inilah yang merusak nama koperasi. Makanya saya ubah, bahwa koperasi itu alat yang bagus. Sapujagat untuk memakmurkan rakyat Indonesia. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Geto loh, Mas&lt;/span&gt;..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nggak “disetrum” PLN? Jadi kompetitor, kan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nggak.&lt;/span&gt; Karena kami mengurusi listrik mikro hidro, pelan-pelan. Jika anda melihat koperasi di Cintamekar, Jawa Barat, bagaimana pengurusnya mempunyai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;power&lt;/span&gt;, bisa amanah. Jadi, yang terpenting bagaimana memilih orang yang bermoral. Itu pelan-pelan. Orang takut dengan agama , dia punya komitmen bahwa hidup ini cuma sebentar, kalau mati tak membawa duit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Idealnya menurut Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengurus (pemimpin) harus benar-benar dipilih oleh rakyat. Dipandang oleh rakyat sebagai orang yang punya amanah. Ini terjadi karena pemilihannya yang bersih dan bagus. Saya juga melibatkan semua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stakeholder&lt;/span&gt; atau teman. Contohnya, waktu koperasi di Cintamekar  dibentuk, namanya Koperasi Mekarsari. Saya kaget kenapa ada seorang ketua terpilih, padahal dia tidak pintar, ngomong saja susah.  Belakangan saya tanyakan kepada warga, ternyata sang ketua itu dianggap jujur dalam segala hal, tak pernah nyolong atau berbohong. Jadi, dia dipilih bukan karena pintar. Orang pintar saat ini banyak yang ‘minteri’ (mengakali) kita. Maka orang seperti kita harus jeli.  Nah, antara lain itulah caranya jika hendak mendirikan institusi pemberdaya masyarakat agar benar-benar baik. Yang hancur itu karena ulah segelintir orang yang tak benar. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gak genah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kunci sukses leadership ideal menurutmu gimana, Bu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Kunci sukses itu orang yang punya visi membangun dengan hati untuk rakyat itu menjadi pendamping yang baik . Tanpa itu omong kosong!  Rakyat itu harus dipercaya, dia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;everybody exchange speaker&lt;/span&gt;, semua orang itu adalah agen perubahan. Nah, itu yang kadang-kadang kita nggak yakin.  Ini yang harus diyakini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;yaummal yakin&lt;/span&gt; semua orang itu agen perubahan.  Kalau dia tak bisa berubah berarti ada hal-hal yang kurang yang harus kita bantu agar bisa berubah menjadi ke arah yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana dengan peran institusi pemberdaya lain macam LSM, asosiasi dll?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sama-sama menolong diri sendiri, merubah diri sendiri, sebetulnya sama. Cuma, katanya sih, embordingnya yang berbeda. Tapi intinya sama.  Setiap orang itu bisa membantu diri sendiri. Hanya, seperti saya katakan tadi,  ada yang bukan karena kesalahan mereka, secara struktural dia sudah dininabobokan. Atau memang dia miskin ekstrim secara struktural, dia miskin segala macem. Jadi kan (kesannya) bodoh. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kayak&lt;/span&gt; orang ketiduran, membangunkannya butuh kesabaran, perlu hati, ikhlas. Kalau tidak yah ketemu provokator, tapi jangan putus asa. Di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;developmentice&lt;/span&gt;, itu ibarat sebuah lorong, proses yang kita nggak boleh capek. Harus terus, jatuh bangun-jatuh bangun. Apalagi mendampingi rakyat, harus punya komitmen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa pendapat anda terkait dana-dana pemerintah yang diterima institusi non pemerintah, koperasi, dll dengan alasan sebagai stimulus kemandirian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mas,&lt;/span&gt; coba anda keliling dulu. Tanya pada koperasi kalau dia mendapatkan (dana) program pemerintah lewat Kandep atau segala macam.  Kalau Anda bisa menunjukkan kepada saya, misalnya, jika sebuah koperasi terima uang 100 juta dari pemerintah dan tetap diberikan utuh Rp 100 juta (tanpa ditilep), itu baru  bagus. Faktanya? Lihat di lapangan seperti apa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda punya cerita terkait kecenderungan korup di atas?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Tanya juga pada dinas, kalau dinas benar-benar ikhlas tidak melakukan pemotongan sedikitpun, itu baru sukses. Selama ini, saya sering ditelpon, Bu (kami) dibohongi. Memang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue bego&lt;/span&gt; apa?  Mereka Tanya lagi, Bu, si ini dan itu pernah menyetor uang ke kami. Kira-kira yah, ibu akan mendapat uang Rp 900 juta, tapi ibu setor ke kami dulu Rp 100 juta. Saya banyak ketemu dengan koperasi-koperasi  yang ditipu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyetor&lt;/span&gt; 1 mobil dan segala macam untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.  Gimana itu?  Kita mau bilang oknum? Yah, nggak mungkinlah. Dari mana orang-orang itu tahu kalau koperasi mau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyebar&lt;/span&gt; duit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajaran apa yang bisa diambil?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Intinya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;accountability&lt;/span&gt; itu penting. Nah, ini yang kita kekurangan sampai sekarang.  Baik di level aparatnya yang kemudian menular ke masyarakat. Muncullah budaya skeptis. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah&lt;/span&gt;, ini kan uang pemerintah,  bisa saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;habisin&lt;/span&gt; lah, wong saya juga sering ditipu-tipu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iya&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kan?&lt;/span&gt; Itu Bukan uang pemerintah, itu uang rakyat!  Dia (pemerintah) menjalankan amanah.  Kalau menjalankan amanah untuk mendiskus uang saja enggak didiskus dengan baik. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nggak&lt;/span&gt; amanah, yah jangan harap sesuatu yang diawali dengan yang tidak baik akan sukses. Rasulullah bilang, hasilnya amburadul! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;That’s Republik Indonesia, Mas!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Betul, betul, betul..!&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Ooalaah..&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-5888691361749284777?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/5888691361749284777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/05/interview-with-climate-hero-hehe.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5888691361749284777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5888691361749284777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/05/interview-with-climate-hero-hehe.html' title='Interview With &quot;The Climate Hero&quot; Hehe..'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S_30kSLGIpI/AAAAAAAAAFs/54dcLqxxazw/s72-c/P2240706.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-6175945216279458658</id><published>2010-05-03T21:47:00.000-07:00</published><updated>2010-05-06T18:58:57.606-07:00</updated><title type='text'>Yang Melata di Mata Sang Bocah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S9-pr6L03sI/AAAAAAAAAFk/X5iq2MHUkLE/s1600/P4170856.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S9-pr6L03sI/AAAAAAAAAFk/X5iq2MHUkLE/s320/P4170856.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467275044469399234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Bagus ya, Kak. Uler apa ni namanya?”&lt;br /&gt;“Sanca batik”&lt;br /&gt;“Oo, batik… Kalo yang coklat ini?”&lt;br /&gt;“Ini ular pelangi. Coba dielus, dipegang…”&lt;br /&gt;“Pelangi ya…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wyna, bocah cilik menjelang kelas satu SD itu antusias betul. Matanya yang bening perpendar penuh rasa ingin tahu. Icha Cebong dari Lembaga Studi Ular SIOUX, dengan sabar menjawab semua tanya sang bocah. Mahluk-mahluk melata beraneka motif dan warna. Ruangan berpenerangan temaram di Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta-Pusat, itu memang terlalu remang. Memberi kesan “wingit” pada interior gedung peninggalan Belanda yang masih terawat apik itu.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Tak ada ekspresi takut atau geli sedikit pun tergurat di wajah Wyna yang siang itu datang ditemani adiknya yang belum genap empat tahun, Iwa, dan kedua orangtua mereka. Iwa sama antusiasnya dengan sang kakak ketika Icha memperkenalkan beberapa ular milik SIOUX yang hari itu dipajang. Wyna adalah satu dari ratusan, atau seribuan, pengunjung yang melintas di stand SIOUX. Hari itu Icha ditemani Defry, Bintang, Deny, dan beberapa Muscle SIOUX lainnya.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sabtu dan Ahad, 17 - 18 April lalu, SIOUX memang berpartisipasi dalam sebuah acara bersama lebih dari tigapuluh komunitas sosial dan lingkungan hidup yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Ada komunitas Bike to Work (B2W), Pecinta Astronomi, Komunitas 1001 Buku, Komunitas Musik, Pegiat Lingkungan, hingga komunitas batik dengan pewarna alami. Acara dihelat tanpa sponsor menjelang peringatan hari bumi. Komunitas-komunitas kecil ini dirasa memberikan energi positif di tengah tumpukan persoalan yang mendera Jakarta. Kemacetan, polusi, sampah, dan banyak lagi. “KumKum: Kumpul Yuk Kumpul! untuk Berbagi dan Berbuat”. Demikian panitia memberi judul acara dua hari yang meriah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang bersama Qen dan bundanya yang tengah hamil. “Aku pengin lihat ular teman-teman Ayah, pengin pegang-pegang,” ujar Qen dengan mata berbinar. Hampir dua tahun lalu, dalam ajang pameran Flora dan Fauna, ia juga tampak senang bermain dengan ular koleksi sebuah  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pet shop&lt;/span&gt;. Di rumah, reptil peliharaan kami berupa lima ekor kura-kura dari tiga spesies. Qen menyebutnya Robert dan kawan-kawan. Tak ada seekor ular pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari itu, Qen berpuas-puas bermain dengan beberapa ular koleksi SIOUX.  Melly Chan, bunda Qen, juga bisa ngobrol dengan sahabat-sahabat saya dari komunitas SIOUX. Melany (Imenk) misalnya, Ibu tiga anak yang tinggal di Bekasi ini selain mengoleksi sejumlah reptil, juga membuka pintu rumahnya lebar-lebar “menampung” ular temuan yang tak dikehendaki. Atau Dhiyan Savitri, perempuan fotografer penyuka travelling yang punya pengalaman digigit ular. “Hmm, ini kesayanganku,” ujarnya sembari mencium seekor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Phyton reticulatus&lt;/span&gt; yang mencoba menyusup di celah jilbabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur bisa bergabung dalam Muscle SIOUX. Hasrat memperkenalkan rupa-rupa makhluk ciptaan-Nya yang luar biasa itu pada Qen, bisa tersalurkan. Makhluk melata yang sering dipahami secara salah kaprah oleh banyak orang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Blepp..blepp..blepp..!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-6175945216279458658?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/6175945216279458658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/05/yang-melata-di-mata-sang-bocah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6175945216279458658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6175945216279458658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/05/yang-melata-di-mata-sang-bocah.html' title='Yang Melata di Mata Sang Bocah'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S9-pr6L03sI/AAAAAAAAAFk/X5iq2MHUkLE/s72-c/P4170856.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-1544689588769040299</id><published>2010-03-08T19:49:00.000-08:00</published><updated>2010-03-08T20:35:48.234-08:00</updated><title type='text'>“Bermain Api Gosong,  Bermain Ular…Sioux!”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5XPoR54MyI/AAAAAAAAADo/fr5rEZ2511I/s1600-h/P3070710.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5XPoR54MyI/AAAAAAAAADo/fr5rEZ2511I/s320/P3070710.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5446487615282361122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa permisi,  sosok memanjang dan bergaya gemulai itu dengan percaya diri menyelinap melalui sela-sela jeruji besi pintu gerbang, mengarah ke beranda samping rumah.  Tampangnya boleh juga, kombinasi warna kuning muda, cokelat tanah, hitam dan putih susu.  Mozaik warna yang tak saya ketahui nama motif dan desainernya.  Tak sopan memang, main slonong begitu saja.  Tapi untuk sekedar mendekat dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;say hello&lt;/span&gt; atau malah sekalian mengusirnya agar minggat, saya kurang bernyali.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah, wong&lt;/span&gt; si gemulai itu, tak lain dan tak bukan adalah seekor ular phyton!  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hrrr…&lt;/span&gt; Panjangnya saja tak kurang dari tiga meter. Itu artinya, panjang tubuh pebasket NBA dari klub Houston Rockets yang kondang itu,  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;koh&lt;/span&gt; Yao Ming, yang menjulang dengan 2,34 meter masih kalah panjang dan gemulai dari Si Phyton yang median tubuhnya bergaris tengah mencapai sekitar delapan senti.  Digebuk saja?  Ah, secantik dan semontok itu?  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Teganya, teganya!&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oops..!&lt;/span&gt; Tahu aksinya tak terusik, memaksa saya membayar akibatnya.  Ceritanya, dari beranda samping rumah, Si Phyton melata masuk ke pintu samping rumah.  Berbelok menuju kamar mandi, persis ketika asisten rumah tangga kakak saya, sebut saja namanya Manoharum, tengah asyik mencuci pakaian sembari berdendang riang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Marilah mencuci…hei..hei..heii,  nyuci sambil nyanyi hei..hei..heii..,”&lt;/span&gt; lagaknya Titik Puspa di panggung Aneka Ria Safari TVRI.  Begitu Si Phyton menampakkan diri di hadapan Mano yang hanya mengenakan celana pendek ketat, nyanyiannya sontak berubah jadi histeria. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ Hei!, Ula!..Ula!..Ula! Tuoloong..!”&lt;/span&gt; pekiknya tanpa sempat menyembunyikan logat tegal nya yang kental.  Mano melonjak-lonjak menghambur keluar kamar mandi masih dengan sekujur lengan dan tubuh penuh cemong busa sabun.  &lt;br /&gt;Mendengar itu, kakak perempuan saya yang berada di ruangan berbeda tergopoh menuju sumber keributan. Eh, alih-alih menghibur Mano yang pucat pasi, kakak saya malah ketularan panik dan berteriak sejadi-jadinya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tuoloong…!”&lt;/span&gt;  Alhasil, kampung di salah satu ruas Jalan Cagaralam, Pancoranmas, Depok itu pun jadi heboh. Berduyun tetangga dan orang yang melintas di jalan menengok, lantas masuk ke halaman rumah. Mungkin, siang itu ada lebih dari dua lusin orang yang datang.    &lt;br /&gt;Kegaduhan itu berdampak buruk, menjadikan Si Phyton panik. Ia lantas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngeloyor&lt;/span&gt; menuju toilet yang terletak bersebelahan dengan kamar mandi. Sepertinya ia ingin keluar, sementara lorong menuju pintu keluar sudah dipenuhi warga. Si Phyton malang  terjebak, memaksa masuk dalam lubang toilet.  (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Waduh! Bau lah, &lt;/span&gt;Phyt!)&lt;br /&gt;Beberapa orang mulai mendekat dan masuk ke toilet yang lubang (maaf) tinjanya sudah disusupi kepala  ular. Rupanya kepala ular keras kepala itu tersangkut dalam rongga toilet. Macet!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat mengatasinya, mula-mula beberapa orang menggelitik bagian-bagian tubuh si ular. Dikiranya, jika syaraf gelinya terstimulasi ia akan memutuskan keluar dengan sukarela sembari terkekeh-kekeh kegelian, lantas menyerah.  Eh, tak semudah itu. Tetap saja si ular &lt;span style="font-style:italic;"&gt;keukeuh&lt;/span&gt; enggan keluar.  Seorang warga yang tampaknya cerdas lantas mencari cara lain dengan menepuk-nepuk agak keras beberapa bagian tubuh ular. Pikirnya, jika dikitik-kitik tidak kegelian mungkin kalau ditampar-tampar si ular akan menjadi tahu diri dan sadar akan perbuatannya yang memalukan. Hasilnya? Gagal total! Skor 2 – 0 untuk ketabahan hati Si Phyton yang memilih semedi dalam kloset.  Entah gemas atau jengkel, beberapa orang mulai hilang kesabaran dan menarik paksa tubuh si ular. “Potong &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aje&lt;/span&gt; lehernya, gelontor kepalanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pake aer&lt;/span&gt;, beres!” seru seorang warga yang mulai terserang penyakit syaraf nomor tiga likur saking putus asanya. “Jangan, jangan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kesian&lt;/span&gt;,” sergah yang lain.  Alot!  Skor pun berubah lagi menjadi 3 – 0, lagi-lagi untuk kemenangan Si Phyton!  Hmm, gemulai-gemulai ternyata tangguh juga dia.  Saya sentuh tubuhnya, hangat dan lembut. Sisiknya berkilau ditimpa cahaya lampu kamar mandi. Beberapa bagian permukaan kulit di dekat leher tampak lecet-lecet. Mungkin akibat ditarik paksa oleh warga yang kurang tahu dan rendah rasa 'peri keularannya'. Saya jelas salah satu dari yang paling merasa bersalah. Tak bisa berbuat apa-apa. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Emphaty is not enough!&lt;/span&gt;,” pekik pawang reptil  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;beken &lt;/span&gt; asal Australia (almarhum) Steve Irwin, sembari lengannya yang kekar memiting leher seekor buaya bandot bergigi tonggos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya warga mulai hilang akal, dan itu menular. Setelah dengan terpaksa kakak saya mengijinkannya, menggunakan linggis dan palu godam, kloset  diputuskan dibongkar. Sungguh keputusan yang demokratis diktatorial plus tengil tak ketulungan! &lt;br /&gt;Setelah selama sekitar setengah jam yang menegangkan, evakuasi yang ekstra ngawur itu pun berhasil menjebol kloset sekaligus gagal mengeluarkan kepala si ular dari lubang tinja. Empat orang dengan tergopoh menggotong tubuh si ular yang berkalung kloset keluar kamar mandi dalam keadaan masih hidup. Entah, di bawa ke mana phyton malang itu selanjutnya. Yang jelas, kami harus membayar mahal untuk itu : kloset yang jebol dan harus diganti serta sirnanya kesempatan untuk menyelamatkan Si Phyton dari kemungkinan terburuk. Ini semua akibat ketidaktahuan saya dalam memperlakukan dan menangani ular. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I’am sorry,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bebe…&lt;/span&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…Tau Terminal Lebak Bulus, kan? Terus aja, sbelum UIN Syarif belok ke kiri ke kampung utan. Tanya aja lokasi Pulau Wisata Situ Gintung…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pesan singkat itu mampir ke telepon genggam saya, di malam akhir pekan 6 Maret lalu. Pengirimnya Timmi, Koordinator Diklat Sioux.  Belakangan saya tahu, Timmi sesekali dipanggil rekan-rekan Sioux dengan sebutan Timothy. Lain waktu dipanggil Timun. Wajahnya memang belum setampan Timothy Dalton (salah satu pemeran James Bond yang playboy itu). Tapi juga terlalu manis untuk diberikan begitu saja pada Sang Kancil, karakter dalam dongeng pengantar tidur yang gemar mencuri dan melahap timun Pak Tani tanpa pernah merasa bersalah sedikitpun. (ctt : Bang Timmi,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Peace..!&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, hasrat untuk bisa belajar memperlakukan dan menangani ular secara baik dan benar, di habitatnya di alam terbuka maupun yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;slebor&lt;/span&gt; main &lt;span style="font-style:italic;"&gt;slonong&lt;/span&gt; masuk rumah orang, baru kesampaian pada 7 Maret lalu. Itu artinya sekitar lima tahun setelah peristiwa ular phyton berkalung sorban eh, kloset,  berlalu. Tak ada kata terlambat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lewat sebuah acara bertajuk Basic Training Muscle (BTM) Sioux, di kawasan Pulau Situ Gintung, Cirendeau, Ciputat, saya memulai proses pembelajaran yang menyenangkan. Bersama lebih dari dua lusin peserta lainnya yang datang dari Jabodetabekdung,  saya dan teman-teman sama sekali tak berniat jadi pawang ular. Istilah “pawang” dalam konteks ‘sosiologis-klenik’ nya memang coba dihindari atau setidaknya direduksi,  setidaknya untuk membedakannya dengan stigma “pawang” yang telanjur kental dengan irasionalitas atau serba “magic” di khalayak awam (biarpun juga tak berniat untuk berbenturan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika boleh beranalogi, Sioux ibarat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), yang menganalisis gejala dan unsur-unsur cuaca untuk memprediksi cuaca itu sendiri. Adapun Sioux, berikhtiar menganalisis unsur-unsur biologi, fisik, ekologi dan bahkan psikologi ular agar perlakuan dan penanganannya tak salah kaprah seperti kasus phyton malang di awal cerita.  Karena itu, unsur-unsur berupa kembang atau kemenyan tak ditemukan dalam setiap “ritual” Sioux.&lt;br /&gt;“Persepsi masyarakat tentang ular masih cenderung negatif. Efeknya, saking dekatnya interaksi ular dengan manusia, kalau ketemu cenderung dibunuh. Ular identik dengan bahaya dan stigma buruk lainnya.  Itu karena kurangnya pengetahuan manusia. Bukan salah ularnya, loh!,” Terang Boim Pengembara, salah seorang awak Sioux dalam pengantarnya.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdiri pada 23 November 2003, Sioux menabalkan diri sebagai organisasi terbuka yang bergiat dalam edukasi dan sosialisasi penanganan ular secara benar.  Kata Sioux sendiri, bagi penggemar film-film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wild west&lt;/span&gt; mungkin cukup familiar. Diametral dengan istilah Cherookee, Mohawk, Mohicans, atau Dakota, menyebut beberapa nama Suku Bangsa Indian di  Amerika Utara, yang kini hanya tinggal nama (juga merk mobil dan gaya rambut). Sioux dalam khazanah setempat bisa bermakna ular. Bisa jadi Suku Sioux memang memuliakan ular.  Saya belum sempat menggali lebih jauh literaturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijtihad “memuliakan” ular a la Sioux ini jelas bukan gawe main-main. Personel Sioux yang terdiri dari beragam latar belakang itu memang tak mungkin merasa cukup dengan wawasan dan ilmu tentang ular yang terus berkembang. Biarpun begitu, dalam usianya yang belum genap satu dekade, benih-benih yang dengan susah payah disemai mulai tumbuh dan bahkan berbuah. Apresiasi khalayak mulai terlihat. “Terus terang kami tak menyangka Sioux bisa seperti sekarang. Sioux dulu hanya digawangi empat orang,” ujar Irwan, salah satu pendiri dan kini Ketua Umum Sioux 2009-2011. Irwan yang berlatar belakang  pendidikan accounting itu semula  mengaku tak tahu menahu dan tak tertarik pada ular. "Mengapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muscle&lt;/span&gt;? Kami ingin Anda menjadi otot penguat bagi Sioux dalam menjalankan visi dan misinya," imbuh Irwan."Dan saya berharap Anda tidak memperjualbelikan ular". &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Too well!&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah manis usaha Sioux juga bisa berupa seringnya frekuensi ekspose  dari media massa elektronik dan cetak dalam beragam mata acara. Sebut saja “Jejak Petualang” (TV7), Expedition (Metro TV), hingga “Laptop Si Unyil” (TV7), adalah beberapa acara TV yang sering melibatkan Sioux. Ekspose ini dinilai perlu dalam strategi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;branding&lt;/span&gt;. Popularitas Sioux perlahan ikut terkerek naik. Undangan untuk mengisi acara dan program edukasi pun mengalir dari berbagai daerah. Dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Dari kalangan pecinta alam, institusi militer hingga taman kanak-kanak. Apresiasi dan capaian yang patut disyukuri.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, apresiasi yang tulus juga tumbuh dari khalayak awam seperti peserta BTM Sioux yang hadir minggu awal Maret itu. Bukan hanya melalui sorotan kamera televisi yang mau tak mau, lambat atau cepat, bersinggungan dengan komersialisasi dan komodifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak beragam motif mereka untuk belajar tentang ular melalui BTM Sioux. Seorang perempuan guru Bahasa Inggris ,misalnya, mengajak dua keponakannya yang berusia 15 dan 11 tahun untuk turut serta. “Saya cuma ingin mengajak keponakan saya ini untuk melakukan kegiatan positif tapi tidak (berkesan) pamer. Ini daripada mereka, juga saya, keluyuran di mal !,” ujarnya lugas.  Lain lagi dengan seorang peserta laki-laki yang tampaknya pendiam “ Saya takut ular. Dan saya punya saudara yang meninggal akibat gigitan ular. Saya tak mau jadi korban berikutnya,” ujarnya nyaris tanpa ekspresi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu peserta maju memperkenalkan diri dan memaparkan motivasi mereka bergabung dalam BTM Sioux. Termasuk beberapa muka lama Muscle Sioux yang terbilang sudah akrab dengan ular. Lany misalnya, perempuan paruh baya yang tinggal di Taman Wisma Asri, Bekasi ini, membawa serta Dimas yang masih berusia belasan tahun. “Saya baru saja berkonflik dengan warga di sekitar kompleks akibat ketidaktahuan mereka tentang ular. Mereka mengultimatum agar ular-ular yang saya tamping di rumah dibuang!,” imbuh perempuan penyuka kegiatan alam terbuka itu ekspresif. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm,&lt;/span&gt; menangani ular ternyata bukan perkara interaksi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zoological&lt;/span&gt; belaka, bahkan sampai ke ranah (konflik) sosial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jeda makan siang, Lany sempat berujar kepada saya, bahwa oknum-oknum tertentu di kompleks perumahannya memang tampak provokatif, merekalah yang diduga takut ular. Lany menengarai, “polemik ular” melulu hanya sasaran antara dari target sesungguhnya yang Lany sendiri mengaku tak tahu secara pasti. “Saya kan menampung dan merawat ular sudah lama, lah kok ribut-ributnya baru sekarang. Aneh kan?,” ujarnya masgul.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara BTM Sioux sendiri berlangsung menarik dan jauh dari membosankan. Dikemas dalam suasana cair, interaksi egaliter. Sederhana tapi terukur. Acara yang dimulai pukul 08.30 hingga berakhir pukul 17.15 itu serasa hanya bergulir dua jam saja. Mengasyikkan sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Biologi Ular misalnya, cukup menyita waktu terkait banyaknya lontaran pertanyaan dari peserta.  Dipresentasikan oleh ‘Gonyosoma’ Iil, materi pertama itu berupa pengenalan singkat morfologi dan anatomi ular. Organ dan sistem organ. Dari system respirasi, digesti, sekresi hingga reproduksi. Beberapa terminologi dalam sesi ini cukup saya akrabi. Kebetulan, ketika kuliah di Yogya lebih dari sepuluh tahun silam, selama tiga tahun saya sempat jadi co. assisten di laboratorium Biologi Umum. Dalam praktek pengenalan anatomi biasanya saya menemani adik kelas melakukan pembedahan aneka satwa dan mencandra organ dan sistem organ tubuhnya. Lazimnya pembedahan dilakukan pada hewan mamalia (binatang menyusui), reptilian, juga Aves (bangsa burung/unggas). Saya paling tak tega jika harus mengeksekusi seekor marmot nan lucu atau burung puyuh dengan memasukkannya dalam stoples yang di bagian dasarnya berisi segumpal kapas yang dibasahi kloroform sebelum selanjutnya membedah mahluk-mahluk tak berdosa itu dalam kaidah teknik yang dingin dan baku. Tapi lama-lama saya jadi biasa juga. Biarpun untuk keperluan ilmiah tetap saja bagi saya itu serupa penjagalan. Saya berharap Tuhan mengampuni dosa-dosa saya. Akan halnya membedah ular, saya belum pernah dan semoga saja tidak akan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ular bereproduksi dengan tiga cara, melahirkan (vivipar), bertelur (ovipar) dan ovovivipar. Yang disebut terakhir ini ‘mengerami’ embrio telurnya di dalam tubuh sampai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mature&lt;/span&gt;, kemudian melahirkannya layaknya vivipar,” ujar Iil menerangkan. Perempuan berjilbab jebolan Fakultas Kedokteran IPB 2002 ini adalah mantan Ketua Umum Sioux beberapa periode sebelumnya. Entah karena presenternya yang cantik atau memang materi presentasinya yang dirasa urgen, pertanyaan pun datang bertubi. Mulai dari fenomena ular berkepala dua, membedakan ular jantan dan betina, hingga bagaimana ular berkopulasi (berhubungan suami istri ular). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mbak,&lt;/span&gt; bagiamana dengan ular yang makan tubuhnya sendiri. Saya pernah melihat ada ular makan tubuhnya sendiri mulai dari ekornya,” pertanyaan surprise ini datang dari seorang peserta berambut a la Giring Nidji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wah&lt;/span&gt;, itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mah&lt;/span&gt; ular bunuh diri!,” celetuk peserta lainnya disambut tawa yang lain. Tapi Si Giring, eh, si penanya, tetap serius dengan pertanyaannya. “Mmm…kalau ular makan ular (kanibal) memang ada, tapi kalau ular yang makan tubuhnya sendiri sampai sekarang  saya belum menemukan referensinya,” Iil mencoba berterus terang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, ada-ada saja, ular kok harakiri.                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sesi  diskusi kelompok, sesi praktek penanganan ular menjadi salah satu atraksi yang menarik sekaligus mendebarkan.  Diperagakan oleh kru Sioux yang berpengalaman, beberapa teknik menangkap ular diperlihatkan. Nurdin Jabrik misalnya, salah satu snake handler Sioux andal ini memperagakan teknik “bergaul” dengan seekor ular kobra. Jabrik cukup gampang dikenali lewat sejumlah posenya ketika mencium  King Cobra.  “Butuh keterampilan, keberanian khusus dan latihan kontinu untuk bisa melakukan hal semacam ini,” papar Jabrik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesi berikutnya adalah cara menangkap ular.  Ini tergantung lokasi ditemukan dan jenis ularnya.  “Cara ini seperti matador di Amerika, eh, Spanyol,”  Papar Rudi “Idur” Rahadian salah satu kru Sioux sembari tangannya meraih karung berbahan katun seukuran kantung kemasan tepung terigu. Bisa juga menggunakan selembar kain. Seekor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Phyton reticulus&lt;/span&gt; sepanjang empat meter dan berdimater tubuh bagian tengah mencapai sepuluh senti dilepaskan dari kantung pembungkusnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm&lt;/span&gt;…agresif dan galak juga. Ketika Jabrik memegang ekornya kepala Si Phyton berusaha memburunya sembari bersiap mematuk. Jika kepala ular mengarah ke kanan Jabrik lantas berputar kekiri, begitu  pula sebaliknya. Di depan, Idur bersiap dengan karung yang diregangkan di kedua sisi atas kiri dan kanan dengan kedua tangan. Jari-jari tangan agak dilipat ke sisi dalam untuk menghindari patukan ular. Sisi bawah kantung terigu atau lembaran kain sedikit ditekan menggunakan ujung kedua kaki sehingga kantung/kain matador tampak teregang merata. “Jika ularnya berukuran besar seperti ini, tak dianjurkan menangkapnya sendirian,” imbuh Idur mewanti-wanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan dan tenang Idur lantas mengecilkan elevasi bentangan kain dari semula vertikal terhadap permukaan tanah menjadi diagonal dan secara perlahan sejajar tanah menutup seluruh kepala ular. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Happ!&lt;/span&gt; Dalam hitungan detik kepala ular telah berada dalam genggaman (lihat foto). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ular juga bisa ditangkap dengan tangan terbuka maupun dengan bantuan tongkat jika terutama untuk ular berbisa tinggi.  Diluar pengetahuan karakter dan type ular, dibutuhkan ketenangan dan keyakinan yang kuat agar ular bisa ditangkap dengan benar dan aman. "Yang pasti selalu ingat STOP. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Silence, Think, Observe, dan Prepare&lt;/span&gt;," kembali Boim Pengembara buka suara. Ini langkah standar untuk menghadapi ular. "Waspada dan jangan bunuh ular!"   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm&lt;/span&gt;, inilah saatnya! Jika sehari-hari saya hanya mampu mengelus-elus lima ekor kura-kura peliharaan saya, inilah waktunya mencoba menangkap ular yang ukurannya dua kali lipat dari Si Phyton yang menyatroni kloset di rumah saya nun lima tahun silam. Dengan tangan kosong tentunya. Karena beberapa peserta yang mencoba terlihat  sukses melakukannya, nyali saya pun ikut naik berlipat. Antusias malah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…hihuu!, syukurlah saya bisa melakukannya. Saat itulah, rasa geli atau ketakutan saya pada ular mendadak sirna. Ah, mungkin hanya berkurang saja. Plus rasa sayang pada ular mulai bersemi di hati. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Engg…ingg…eeengg…! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kendurkan dulu pegangannya, rahang atas dan bawah diratakan begini,” ujar Bang Oney merapikan latihan menangkap phyton galak pertama saya hari itu. Ya, saya juga merasakannya, pegangan saya masih terlihat kaku dan terlalu keras menekan kepala dan leher si phyton. Tapi saya cukup senang dengan latihan saya hari itu. Pikiran saya lantas melayang, seandainya saya lebih tenang dan terlatih lima tahun lalu, mungkin kloset di rumah saya masih aman sampai sekarang, dan saya punya ular phyton baru  tanpa perlu memeliharanya dari orok atau membelinya dari pengepul mata duitan.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semburat matahari senja mengulas epidermis ranting-ranting angsana. Pelepah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cocos nucifera&lt;/span&gt; berkesiur disapu angin, bersiul. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;“M&lt;span style="font-style:italic;"&gt;akasih banget&lt;/span&gt;, Bang. Terus terang saya belum puas. Masih banyak hal yang pengen saya tahu dan  butuh saya latih,” kata saya sembari menjabat erat tangan Timmi. Jabat erat penuh rasa terimakasih juga saya sodorkan pada kru Sioux lain.  Mbak Iil, Riri Goddes, Qim, Bang Oney, Bang Irwan, Nurdin Jabrik, Idur rahadian, Boim Pengembara,  Icha Cebong, semuanya. Juga rekan-rekan BTM Sioux yang sejak hari itu akan menjadi sahabat-sahabat baru saya. “Jangan lupa kontak FB, Mas,” papar Sigit dan Abdul Basith. “Wah, kamu dah mulai keracunan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;uler tuh&lt;/span&gt;,” celetuk Denny Rudini, rekan peserta yang berasal dari Cimanggis, Depok. “Hehe..lihat saja,” balas saya sembari berjanji suatu saat akan mampir ke rumahnya melihat ular peliharaannya. &lt;br /&gt;Senja itu hati dan pikiran saya terasa penuh. Penuh yang nyaman, dan terus saya nikmati sensasi itu dengan mengemudikan sepeda motor dengan kecepatan santai sepanjang Ciputat menuju Depok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di rumah lewat maghrib, sosok kecil dengan senyum jenaka itu sudah menunggu.  “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Huh, gak enak&lt;/span&gt; seharian&lt;span style="font-style:italic;"&gt; gak ada&lt;/span&gt; Ayah,” ujarnya dengan bibir agak cemberut.  Saya peluk bocah kecil itu.  Sungguh, saya tak sabar untuk mentransfer pengetahuan dan pengalaman yang saya dapat barusan ke tubuh mungil dalam pelukan saya itu. Saya berjanji akan mengajaknya serta di event-event Sioux selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, agar tak disebut pulang dengan tangan hampa, saya memilih mengawalinya dengan mengajarkan tepuk ular pada Qen Ghifary Wisanggenie, putra saya yang akan genap lima tahun akhir april mendatang. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tepuk ular…plok!-plok!-plok!, panjang…plok!-plok!-plok!, bersisik…plok!plok!plok!, berbisa…plok!plok!plok!, blep blep blep…&lt;/span&gt; (menjulurkan lidah maju mundur)”. Hehe…mata Qen berpendar girang.  “Lagi, Yah! Lagi, Yah!.,” ujarnya dengan raut muka penasaran minta diajari.  Mudah-mudahan guru TK nya tak ketakutan nanti. Tapi, jika toh akhirnya Tepuk Ular akan dicantumkan dalam  kurikulum tambahan di TK Qen kelak, saya akan minta gurunya agar mengurus izin ke Sioux sebagai pemegang hak cipta Tepuk Ular yang menggelikan tapi&lt;span style="font-style:italic;"&gt; cihui&lt;/span&gt; itu.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Blep blep blep..!   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-1544689588769040299?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/1544689588769040299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/03/bermain-api-gosong-bermain-ularsioux.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1544689588769040299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1544689588769040299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/03/bermain-api-gosong-bermain-ularsioux.html' title='“Bermain Api Gosong,  Bermain Ular…Sioux!”'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5XPoR54MyI/AAAAAAAAADo/fr5rEZ2511I/s72-c/P3070710.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-7161600389453350383</id><published>2010-02-02T21:17:00.000-08:00</published><updated>2010-02-03T20:46:55.564-08:00</updated><title type='text'>Cerita Bocah Pasar : Salep Tokcer sampai  'Sex Education' Tangkur Buaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S2k1n-LhIhI/AAAAAAAAADg/eUTF7OYYYSE/s1600-h/P8080008.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S2k1n-LhIhI/AAAAAAAAADg/eUTF7OYYYSE/s320/P8080008.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433933386221691410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya tak keberatan disebut bocah pasar. Itu sekitar 25 tahun silam. Ketika saya masih sekolah dasar di Gisting Bawah, lebih 70 kilometer jaraknya dari Tanjungkarang, Lampung Selatan. Itu sekedar untuk membedakannya dengan kawan-kawan saya yang berumah di lereng Gunung Tanggamus. Bocah alas, hutan. Lagipula saya memang senang sekali dengan suasana pasar tradisional Gisting Bawah, terlebih ketika hari jumat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gisting, sebuah desa berhawa sejuk, masih termasuk lereng Gunung Tanggamus (2.500 mdpl), penghasil kol, sawi, dan hortikultura musiman lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat adalah ketika bagian depan pasar yang berhadapan dengan jalan raya akan dipenuhi tenda-tenda besar dengan pengeras suara terpacak di atas tiang bambu. Saling beradu kencang menarik perhatian penghuni pasar dan lalu lalang orang. Dari semua itu, saya paling senang mendekati tenda penjual obat. Atraksi-atraksinya menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaaakh!..aaaakh..! aaaaakh!...grrrk...!" Bunyi mengerikan itu menguar dari corong  pengeras suara. Saya tergopoh, juga beberapa orang, mendekati tenda  penjual obat gosok. Bukan cuma saya, kerumunan puluhan, mungkin seratusan orang segera saja membentuk koloni. Menyaingi tenda-tenda lain yang sontak sepi. O, ya, di sini tak pernah ada anggapan, obat yg laku adalah obat yang manjur, melainkan yang laku adalah yang paling menarik 'atraksi marketingnya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan menegangkan bulu kuduk tadi bersumber dari tenda penjual salep. Mengerikan kawan! Sungguh bar-bar yang saya lihat di sebuah jumat menjelang siang itu. Sesosok tubuh laki-laki dewasa bertelanjang dada dengan kepala tertutup kain terbaring di tengah arena. Penonton, laki-laki perempuan, dewasa, kakek-kakak, dan anak-anak seperti saya, berebut mendekat. Antara takut dan penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di leher laki-laki dewasa itu...astagfirullah! Menancap sebilah golok! Dari samping kiri leher tembus ke sisi kanan. Darah berleleran. Sekitar tiga orang "pawang" acara itu, anehnya, tak tampak panik. Santai saja. Mengelap keringat, menghirup kopi, menata kotak-kotak kecil seukuran boks film negatif yang disusun di atas koper hitam lusuh. Satu orang saja yang serius memperhatikan korban 'pembunuhan' sadis itu. Ya, itulah untuk pertama kali saya melihat dengan mata kepala sendiri orang yang lehernya ditembus golok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis rasa ngeri, seorang kru laki-laki lantas menyomot sekotak obat yang tertata rapi di atas koper. Membuka tutupnya, lantas jari telunjuk gemuknya mencolek banyak-banyak salep berwarna kehitaman, mendekati si korban pejagalan. Ah! Tanpa perubahan berarti pada air mukanya, dicabutnya sebilah golok dari leher si korban dengan tangan kiri. Sreezz..! Salep warna hitam yang munjung di ujung jari tangan kanannya segera saja dioleskan ke kedua sisi leher bekas 'tembusan' golok. Ajaib! Tak ada bekas luka menganga sedikitpun di leher 'korban'. Halus. Tak berbekas. Manjur nian itu salep. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diperintah para penonton yang terkejut berebut mundur beberapa langkah dari barisan. Ini dia! Laki-laki yang saya kira sudah wassalam oleh tembusan golok di leher itu lantas bangkit lagi! Berdiri seperti orang linglung dengan sebagian dada dan lehernya masih menyisakan bekas darah. Dengan entengnya ia duduk di bangku kecil yang sudah disiapkan di tengah-tengah arena. Tugas untuknya selesai. Ia pun minta minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya saya kira sudah bisa diduga. Si penjual salep tak kesulitan meraup ribuan rupiah dari penonton yang masih terkesiap takjub pada horor barusan. Sekitar seribu rupiah harga satu kemasan salep hitam itu. Si penjual salep berujar bahwa salep hitam itu multi fungsi. Kadas, kurap, panu, korengan, bahkan kutil menahun, bisa ditumpas dalam sekali oles. Entah, apakah di antara pembeli ada yang berminat pada salep itu guna 'mengobati' kasus seperti adegan horor yang barusan ditampilkan.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;Di atas adalah satu pengalaman si bocah pasar yang sangat mencekam. Kisah lainnya tentu masih banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pula saya menjumpai penjual obat kulit (yang diklaim berbahan baku minyak ular) yang aneh. Bukan atraksinya benar yang aneh. Dua orang penjual itu hanya memamerkan dua ekor ular pithon jinak yang dikerangkeng dalam sebuah kotak kayu. Si pithon sebesar lengan anak kecil itu sendiri terlihat lamban dan malas. Menjulur-julurkan lidah hitamnya yang bercabang. Tak banyak pengunjung yang tertarik. Mungkin gemas karena sepi peminat, satu laki-laki penjual minyak gosok itu mencengkeram mikropon. Ia berkoar keras agar siapapun yang memiliki ular agar sudi dibawa ke sumber suara. "Kobra boleh, sanca mau, welang dan weling juga silakan!". Ia akan membelinya dengan harga tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh percaya diri diulanginya pengumuman itu. Hmm, ada yang mendengar 'tantangan' itu rupanya. Tak sampai limapuluh meter dari tempat si penjual minyak gosok buka praktek, seorang 'Mang Sol Sepatu (biasa disingkat Mang Solpatu) berambut kribo bertubuh kekar terlihat menghampiri tenda penjual obat. Pada lengannya yang dibelit gelang akar bahar terlihat seekor ular berwarna coklat kekuningan tengah melingkar. Lengan kanannya memegang leher si ular yang tampaknya galak. Mang Solpatu bermaksud menyambangi Mang Obat Gosok. Si tukang minyak gosok melihat itu. Eh, ndilalah menyambutnya dengan senang sebab tawaran terjawab, kedua Mang Obat Gosok malah tampak terperanjat dari tempat duduknya lantas menjauh dari arena dengan muka ketakutan. Meninggalkan puluhan botol minyak gosoknya yang sepi peminat. "mang Solpatu tentu saja bingung. Minta ular dijawab ular, eh malah kabur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, selain atraksi sulap, 'mencekam' atau malah horor, atraksi berupa cerita-cerita semi cabul cukup menarik perhatian pengunjung. Saya bahkan belajar 'sex education' untuk pertama kali ya, dari bakul obat dan jamu di pasar itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu jumat misalnya, berhubung saya masuk sekolah siang (seusai sembahyang jumat) pagi-pagi saya sudah berangkat ke pasar. Jalan kaki sekitar tujuh menit dari rumah. Di salah satu lapak penjual obat, saya mendapati sebuah benda aneh berselimut kain mori putih di sisi kanannya. Saya dekati, wah...kepala seekor buaya! Awetan tentu saja. Hanya kedua bola matanya saja yang diganti dengan dua butir kelereng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jualan minyak buaya? Bukan. Laki-laki itu mengacung-acungkan sebentuk benda tak lazim sepanjang duapuluh lima sentimeter berwarna putih dan kuning kecoklatan. Tak lurus benar, tapi melengkung dengan diameter pangkalnya tak lebih dari tiga senti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tangkur buaya, Pak! Kon**l buaya! Manjur bagi yang lemah gairah rumah tangga!" pekik laki-laki yang hari itu tampaknya memilih beraksi single tanpa asisten. Hmm, tangkur buaya. Ini untuk pertama kali saya mendengar ada istilah 'tangkur' dalam jagad pengobatan alternatif khas pasar. Bapak penjual kemaluan buaya itu tampak bersemangat bercerita. Ia lantas memberi tips-tips agar gairah pasutri bangkit dan rumah tangga jadi sejahtera, disertai bunyi-bunyi rintihan dan lenguhan aneh. Mata saya mendelik, mulut melongo mendengar kata-katanya, tapi tak paham maksudnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenak kemudian, pengebiri buaya ini lantas dengan cekatan memainkan pisau tajamnya. Memotong batangan-batangan yang diklaim 'anu buaya' yang telah dikeringkan itu menjadi seukuran dua sentimeter dan membanderol nya seharga seribu rupiah. Cukup murah menimbang klaim fungsinya yang katanya bikin rumah tangga jadi sejahtera. Seingat saya, banyak juga peminatnya. Bahkan seorang ibu-ibu dengan celemek yang masih terikat di perutnya (biasanya penjual sayuran)dengan terkikik malu-malu ikut-ikutan membeli seiris kemaluan (buaya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat respons tak terduga, keruan saja si penjual tangkur kian bergairah tanpa harus mengunyah sendiri sepipil kecil pun tangkur hasil buruannya yang entah dari sungai dan rawa mana. Segera saja saya membayangkan si pemburu tangkur pastilah jagoan layaknya tarzan si raja rimba dan rawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silakan bapak-bapak, ibu-ibu, rendam tangkur ini di air panas, kopi atau teh. Lebih bagus lagi direndam di segelas anggur. Minum pagi dan malam hari. Rasakan khasiatnya!" ujarnya berapi-api. Melihat lusinan tangkur diiris-iris layaknya sebatang wortel, entah berapa ekor populasi buaya 'pria' yang jadi impoten. Kasihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya masih bingung dengan ungkapan-ungkapan berbau ranjang yang diceritakan si penjual tangkur buaya. Penasaran, saya datangi bapak saya yang tengah asyik dengan pekerjaannya. Saya ceritakan tentang tangkur buaya. Apa betul itu buaya sungguhan, dan seterusnya. Seingat saya bapak tidak marah. Malah, dengan senyum simpul bapak saya menjawab bahwa si penjual tengah 'ndobos'. Ngibul. "Itu tangkur sapi dari rumah jagal! Gak ada manfaat seupilpun &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mbok&lt;/span&gt; kamu makan setengah kilo sekalipun!" ujar bapak saya dengan nada yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan bapak menjadikan saya tambah bingung. "Ooh...tangkur buaya palsu, ya. Kalo begitu, bapak dah pernah pake tangkur yang asli, ya?". Bapak saya diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran berhitung kreatif juga pernah saya serap dari pasar. Tapi bukan sebangsa kumon atau jarimatika yang sedang ngetren itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada penjual yang menawarkan rupa-rupa barang dengan harga banting. Barang-barang tertentu sungguh-sungguh dibantingkan di atas barang pertama yang ditawarkan. Rumit? Begini, pertama-tama si abang menawarkan kain batik sidomukti (saya belum pernah dengar lagi namanya saat ini). Diambilnya kain batik yang dikemas menarik dalam kardus berukuran panjang duapuluh lima senti, lebar tujuh, dan tebal tiga senti, diletakkan di tangan kiri. Si abang bilang harga batik ini di toko 25 ribu perak. Mengaku tak tega, si abang memang tak menurunkan harga, tapi...buk!...membantingkan sehelai kain katun di atas sidomukti. jangan kuatir, harga tetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bantingan pertama, si abang akan melihat air muka para calon pembeli. Tak tampak ada yang berminat? Dibantingkan lagi sebuah radio transistor kecil di atas kain katun. Harga masih tetap! Saat itulah si abang berorasi, betapa murahnya barang-barang berguna ini. "Bapak-bapak dan ibu-ibu bisa pergi kondangan dengan batik baru sambil mendengarkan Rhoma Irama di radio!" ujarnya atraktif. Lantas meluncurlah lagu "Begadang" dari mulut si abang untuk mencairkan suasana yang mulai tegang. Keringat berleleran di sekujur muka, leher dan lengan. Eh, penontong bergeming. Rupanya menunggu 'bantingan maut' berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik! Ini yang terakhir bapak-bapak ibu-ibu. Jangan menyesal ya? Jangan menyesal ya? Duuua limaa reeboooo!" diangkatnya sebilah gunting kain berukuran sedang lantas dibanting pelan di atas gundukan barang di lengan kirinya. Suasana biasanya berubah hening. Hmm.., pada bantingan ketiga atau kadang keempat itu (biasanya tambahan berupa barang remeh temeh seperti sebungkus peniti atau kapur barus), lazimnya sudah ada penonton yang mengacungkan jari. "Dibungkuus! Dibungkuus!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terus berulang kali. Kejutan-kejutan akan muncul dalam kombinasi barang yang ditawarkan atau dibanting. Apa tak rugi? Menurut pikiran bocah seusia saya kala itu, setumpuk barang itu jelas terbilang murah. Entah bagaimana strategi 'pricing' nya agar si abang beroleh untung. Sepotong kain batik, sehelai kain sarung tenun samarinda (lagi-lagi klaim sepihak), radio transistor, dan belasan item produk lainnya. Sebenarnya masih ada kipas angin, setrika dll, tapi sepertinya hanya gula-gula penarik minat. Siapa tahu dibantingkan juga, begitu mungkin benak para penonton, termasuk saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini saya belum tahu cara menghitung untung dari metode jualan barang semacam itu. Soal atraktif dan efisien, sepertinya ya. Sebab sebelum  azan duhur berkumandang, barang-barang dagangan si abang sudah sangat banyak berkurang. Mungkin barangnya banyak yang palsu, saya menduga. Mutunya rendah tapi diklaim sebagai asli dan bagus. Tak mungkin saya menanyakan langsung trik-trik berhitung a la si abang banting. Bocah ingusan mau tahu apa.                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan sebagai bocah pasar itulah yang membuat saya selalu menyenangi atmosfer pasar tradisional. Pikuk, kumuh, becek tak jadi soal. Biarpun tentu semua penyayang pasar tardisioanl berharap ada perbaikan yang berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini pun saya masih rutin mengunjungi pasar tradisioanl, di Depok atau pinggiran Jakarta. Setidaknya menemani istri memilah cumi atau tenggiri di los ikan. Murah dan segar biarpun tanpa kulkas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering sedih melihat pasar-pasar tradisional meredup dan (terlebih) berubah wujud jadi mal-mal mewah dengan harga kios yang hanya bisa dijangkau kantong pedagang sekelas cukong. Interaksi sosial yang akrab antara penjual dan pembeli di 'pasar becek'(yang kuat dengan motif ekonomi sekalipun)selalu menggelitik syaraf rindu. Di sana, tak ada penjual yang senyam-senyumnya suka dipaksakan layaknya pramuniaga di pasar swalayan. Di pasar tradisional, penjual sayur bisa senewen jika sayur dagangannya dibilang berulat. Tukang ikan bahkan bisa langsung mengumpat jika tongkolnya dibilang busuk. Terbuka saja. Dan pembeli memang tak harus selalu jadi raja. Wong zaman demokrasi begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam, dari sehebat-hebat pasar swalayan modern yang semilir dengan AC dan kesiur wangi para pramuniaganya, saya tak pernah lagi mendapati 'atraksi dagang' yang penuh kejutan, pelajaran strategi 'pricing' abang 'bantingan', dan...apalagi, 'sex education' tangkur buaya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_______________________________&lt;br /&gt;*Untuk Adikku tersayang, Ebiet : (kau belum lahir) Dan aku sudah (pernah) berdagang di sini, bahkan ketika aku belum bisa menghapus ingusku sendiri. Bersama Emak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-7161600389453350383?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/7161600389453350383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/02/cerita-bocah-pasar-pendidikan-sex.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/7161600389453350383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/7161600389453350383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2010/02/cerita-bocah-pasar-pendidikan-sex.html' title='Cerita Bocah Pasar : Salep Tokcer sampai  &apos;Sex Education&apos; Tangkur Buaya'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S2k1n-LhIhI/AAAAAAAAADg/eUTF7OYYYSE/s72-c/P8080008.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-1805112108287668311</id><published>2009-10-25T08:55:00.001-07:00</published><updated>2009-10-28T22:03:45.036-07:00</updated><title type='text'>Antara Verry,  “Sum”  dan Mujinem</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/SuR8SDVgK9I/AAAAAAAAADY/35f-W9Fjy70/s1600-h/undanganmonolog.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/SuR8SDVgK9I/AAAAAAAAADY/35f-W9Fjy70/s200/undanganmonolog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396574903071681490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sorot matanya nanar, rasa getun teramat sangat yang lama dipendam.   ”…Terminal tiga itu…sarang perampok!” sembur perempuan bertubuh ramping itu dengan bibir agak bergetar. Tata cahaya di panggung minimalis itu meredup perlahan. Beberapa jenak, lantas, byarr! Lampu-lampu kembali berpendar terang. Tepuk tangan terdengar dari  bangku penonton.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam, 12 Oktober itu, Bernadetta Verry Handayani tengah mementaskan teater dalam monolog “Sum ; Cerita dari Rantau”. “Sum” adalah oleh-oleh hasil riset Verry selama sepekan mengamati fragmen hidup sejumlah TKW di bandara, juga di kampungnya.&lt;br /&gt; Banyak orang mahfum, biarpun dielu-elu sebagai ‘Pahlawan Devisa’, para TKW seringkali diperas setiba di negeri sendiri. Bandara Soekarno Hatta disebu-sebut sebagai salah satu ladang empuk praktik pemerasan para “pahlawan” itu. “Sarang Perampok!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan naskah ditulis oleh Andri Nur Latif, rekan Verry di Teater Garasi, “Sum” dipentaskan di halaman parkir kantor Komnas HAM sebagai bagian dari kampanye mendorong perlindungan perempuan pekerja migran  alias TKW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok langsung ke Semarang, dipentaskan di sana,” papar Verry kepada saya, beberapa jenak saat mulai memerankan “Sum”.  Menjelang pentas, ia tak henti menggerakkan tubuh. Meregangkan otot. Melompat-lompat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibantu Bahrul Ulum, rekan Verry di Teater Garasi, sebuah microphone berukuran mini diselipkan di sisi kaus dekat leher.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak properti di panggung 5m x 8 m beralas karpet merah itu. Seperangkat meja kursi kecil.  Tape recorder, gentong keramik tanah liat, juga beberapa foto. Satu foto perempuan dipastikan dikenal hampir semua penonton di pentas itu. Marsinah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Verry harus melupakan semuanya malam itu. Sebab ia akan  menjelma “Sum”. Tak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Verry, Antonius Sukirno, terbaring lemah di kasur tuanya. Stroke menjadikan ritus geraknya teramat jarang keluar dari radius emperan rumah, kamar mandi, tempat tidur. “Maemnya masih bagus, masih bisa merepons omongan orang. Cuma, Bapak memang harus menenangkan hati, itu yang nggak mudah” ujar Ibunda Verry kepada Saya di rumahnya, sekitar dua pekan sebelum Verry mementaskan “Sum” di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada tugas ke Yogya, sesekali saya menyempatkan mampir ke rumah Verry.  Menengok putri kecilnya, Lantannya Randya Gentari. Obrolan saya dengan Sukirno tak jauh dari perkara cuaca, atau Jogja pasca gempa. Kegiatan sehari-hari. Kadang politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, Sukirno simpati pada sebuah partai politik besar yang dikenal memiliki garis politik oposisi dengan pemerintah. Ia antusias ketika diajak bicara. Tak pernah mencoba berjarak. Saya lihat, ia biasa mengoleskan minyak angin atau balsem di sekitar leher dan hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbakyu mu memang begitu. Hobby. Mungkin hatinya di situ," Ujar Sukirno sembari membetulkan gagang kacamatanya. Entah, Sukirno menyesal atau mengerti pilihan putri keduanya itu untuk menggeluti teater. "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Woo,&lt;/span&gt; ya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mbakyumu&lt;/span&gt; sampai ke Jepang juga, kok. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mbuh&lt;/span&gt;, mau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mentas&lt;/span&gt; di mana lagi nanti," imbuh Sukirno. Kulirik air mukanya ketika mengucapkan kata itu. Mata Sukirno agak melebar, ada binar samar di sana.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar terakhir yang saya terima, Sukirno dirawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantannya, biasa disapa Tanya. Saat ini belajar di sebuah sekolah alam di Yogya. “Lantanya itu kan nama bunga. Lantana, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lantana camara linnaeus&lt;/span&gt;” kata saya kepada Teguh Susilo Adjie. “Lah, Randya Gentari, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kuwi artine ora nduwe gentar&lt;/span&gt;,” imbuh Adjie dengan mata separuh mendelik dan gigi menyeringai. Sepertinya ia memang tak gentar memberi puterinya nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya atau Nyanya, tampaknya punya hasrat seni juga. Saya pernah melihatnya meliukkan tubuh mengikuti lantunan akapela dari mulut Bapaknya. Geraknya spontan, tapi tampak tidak ngawur. Persendian di lengan dan jarinya nampak lentur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga gemar menggambar. Obyek rumah dengan kupu-kupu, burung, dan jemuran. Sesekali diimbuhi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;balloon&lt;/span&gt;, kotak dialog antar penghuni bidang gambar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menari, mungkin ini karena Adjie yang dulunya memang seniman tari. Saya pernah menyaksikan salah satu nomor tarinya di Teater Utan Kayu (TUK), Jakarta Timur.  Saya tak ingat apa judul tariannya. Penata tarinya adalah Sutopo Tedjo Baskoro. Ia menari antara lain bersama Flory Fono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga menyaksikannya pentas di Taman Ismail Marzuki.  Ia berduet dengan penari asal Jepang, Uki Naka, dalam satu nomor tari dengan koreografer Bagus Budi Indarto. Semua tari kontemporer.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Nyanya terlihat luwes membawakan sebuah tarian, mungkin memang karena pengaruh Adjie. Tapi, saya tak mendapati gelagat apapun dari keluarga Adjie dalam hal tari. Dalam hal menggambar, lukis, mungkin ada. Kakek dan Ayahnya terampil dalam menggambar. Pamannya pelukis dan guru seni rupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) lah yang pertama kali membentuknya menjadi penari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk si tahun akhir sebuah SLTA di Prambanan, ketika Adjie minta agar saya mengambilkan formulir pendaftaran cantrik PSBK. Adjie tak berani pergi ke PSBK di Kasihan, Bantul, sendiri saja. Berikutnya, saya juga yang mengantarkannya untuk mendaftar sebagai cantrik, murid tari. Saat itu, empu tari Bagong Kussudiardjo (BK), masih hidup dan berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya belum pernah menyaksikan Nyanya berakting, secara sadar atau dikondisikan.&lt;br /&gt;Jauh sebelum melakonkan “Sum”, saya menyaksikan aksi teatrikal Verry pertama kali pada 1999. Di Gedung Taman Budaya Yogyakarta (sebelumnya Gedung Societet Militer). Pada awal Desember sepuluh tahun silam itu Ia memerankan tokoh Lucky dalam lakon “Sementara Menunggu Godot” (While Waiting for Godot). Aslinya Waiting for Godot, karya Samuel Beckett. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disutradarai Retno Ratih Damayanti, semua karakter dimainkan  aktor perempuan Teater Garasi. Verry jugalah yang menerjemahkan script karya besar Beckett itu dalam bahasa Indonesia. Saat itu saya masih kuliah semester akhir di sebuah PT di Yogya.&lt;br /&gt;Saya tak pernah benar-benar paham lakon Godot. Tapi pernah membaca polemiknya di beberapa mimbar sastra dan “pasar wacana”, jauh sebelum saya menyaksikan pementasan Godot oleh Garasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan yang menyaksikan pementasan itu berpendapat, bahwa jalinan dialog antara Estragon (Gogo), Vladimir (Didi), Pozzo, Boy dan Lucky yang dibawakan aktor-aktor Garasi itu memikat. Lantas ia minta pendapat saya. “Absurd. Lebih dari itu saya kasihan pada Lucky, punggungnya pasti memar sebab membungkuk dari awal hingga akhir pementasan,” jawab saya.  Selanjutnya, di sepanjang perjalanan menuju kost, teman saya itu tak bertanya lagi sepatah kata pun menyoal pertunjukan malam itu.&lt;br /&gt;Lamat-lamat saja yang bisa ingat dari pementasa Godot oleh Garasi. Satu hal, saya juga seperti diajak menunggu tak tentu temu oleh biksu cilik Do Nyeom (Kim Tae Jin ?) dalam film Korea,  "a Little Monk". Nyeom teramat sukar meraba deskripsi, seperti apa sebenarnya raut muka ibunya. Sedari kecil ia dititipkan di kuil yang dirimbuni pokok-pokok maple dan digurat selarik sungai berair bening itu. Mungkin Nyeom lebih beruntung, sebab ia masih bisa membayangkan rupa sang ibu lewat perempuan-perempuan yang pernah melintas di selasar kuil itu. Gogo, Didi, Pozzo? Mengandaikan eksistensi Godot di ceruk-ceruk kegalauan mereka sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“...&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Banyak hal yang kita tunggu tak akan pernah datang. Meski magnolia-magnolia mekar dan rontok, lagi dan lagi. Meski goresan di pohon maple makin tinggi dan tinggi..&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;“.. yang bukan milik kita tak akan pernah datang pada kita..&lt;/span&gt;”  “Do Nyeom,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; kau beruntung, mempunyai sesuatu yang kau cari..,&lt;/span&gt;”  hibur Paman Penebang Kayu, sebelum Nyeom memutuskan minggat dari kuil. Menerabas kepekatan hujan salju. Mencari Godot nya sendiri.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting Verry bersama Garasi lainnya yang sempat saya simak adalah Repertoar Hujan (Rain Repertoire). Teater yang naskah dan penyutradaraannya dibesut Gunawan Maryanto itu saya saksikan di Gedung Bentara Budaya, di kawasan Palmerah Selatan, sekitar 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sependek yang saya ingat, Verry bermain, antara lain, dengan Jamaluddin Latif. &lt;br /&gt;Minim dialog, kaya gerak.  Di penggal adegan, saya dapati keduanya berduel menggunakan gerakan silat, kuda lumping, tari topeng, dan entah apa lagi. Mengingat kuda-kudanya, sepertinya formasi Bangau Putih. Atau malah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ten kutzu dachi&lt;/span&gt;, juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hiba dachi,&lt;/span&gt; formasi yang pernah saya pelajari bersama Adjie saat kami masih di sekolah menengah.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Gunawan, dibandingkan Repertoar, saya lebih bisa menikmati puisi-puisinya.  Juga sejumlah cerpennya. Terakhir, saya baca cerpennya di sebuah harian terbitan Jakarta berjudul “Mugiyono”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pementasan teater lagi saya lupa judulnya. Digelar di Pusat Kebudayaan Perancis, Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“’Waktu Batu’, apik banget&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lah&lt;/span&gt; kamu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ora&lt;/span&gt; nonton,” ujar Verry suatu ketika. Kali ini dengan nada menyayangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sekitar dua malam “Waktu Batu” dipentaskan di gedung kesenian yang hanya berjarak sepelemparan batu dari kantor saya di bilangan Cikini. Entah, berapa lusin lagi garapan awak Garasi yang absen saya tonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dari yang sedikit itu, “Sum” adalah yang paling realis. Saya sempat ingin tanya, apakah lakon ini adalah pesanan sebuah institusi atau sebentuk partisipasi. &lt;br /&gt;Ketika saya mulai duduk di kursi penonton menyaksikan Verry melakoni “Sum”, ingatan saya langsung melayang pada Mujinem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paruh baya, sulung dari tiga bersaudara kelahiran Dusun Adiluwih, Pringsewu, Lampung Selatan. Di kawasan eks transmigran asal Pulau Jawa itu, Mujinem tinggal bersama Ibunya, Suci dan kedua adik lelakinya, Mujiman dan Kukuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan Mujinem berlangsung sejak saya kanak-kanak. Gadis sederhana berparas manis, rutin membantu ibu di dapur dan warung kecilnya. Sesekali juga ke kebun. Tipikal gadis-gadis sebaya di kampung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang adik, Mujiman, laki-laki tampan bertubuh tinggi, paling sering mengajak saya ke kebun yang cukup luas di belakang rumah.  Rambutan, kelapa, pisang, dan vegetasi khas tegalan tumbuh rimbun di sana. Musim rambutan adalah saat paling dinanti, buahnya besar-besar dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nglotok&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;Mujiman juga yang paling tahu melebihi siapapun bahwa saya menggemari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenthos&lt;/span&gt;. Itu istilah setempat untuk menamai bakal tunas yang menyembul di sisi dalam buah kelapa. Bentuknya membulat dengan warna putih kekuningan. Tekstur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenthos&lt;/span&gt; renyah dengan rasa legit yang khas.  Berbutir-butir kelapa, umumnya berusia tua, telah dibelah oleh tangan kokoh Mujiman hanya untuk memenuhi hasrat saya mengudap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenthos&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;Aksi  Mujiman membelah kelapa tua untuk menemukan barang sebutir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenthos&lt;/span&gt; hanya bisa dihentikan oleh hardikan Suti, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bu Lik&lt;/span&gt; (tante) Mujiman. Hardikan itu melengking, yang anehnya selalu disertai telunjuk dan cemberut muka yang selalu mengarah kepada saya, putranya. Padahal saya hanya bertugas mengunyah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenthos&lt;/span&gt;, tak lebih.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Kukuh, laki-laki kekar tapi tak sejangkung Mujiman, lebih sering bermain dengan Teguh Susilo Adji, keponakannya yang relatif sebaya. &lt;br /&gt;Di malam hari, Kukuh gemar mengeluarkan bunyi-bunyian aneh di samping dekat tempat tidur saya, itu jika saya menginap di rumahnya. Suara itu terdengar jelas, sebab dinding anyaman bambu (gedheg) selalu menyisakan banyak celah. Maka, suatu malam saya akan mendapati suara orong-orong, tokek, burung hantu, atau bahkan cekikik tawa kuntilanak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Biarpun takut, saya tahu suara-suara itu keluar dari mulut Kukuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Mujiman terbilang sukses sebagai petani kakao. Pringsewu, dan sebagaian Lampung mengalami booming kakao lima tahun terakhir. “Kakao basah harganya Rp 14 ribu sekilo,” papar Mujiman ketika saya mengunjungi rumahnya dua tahun lalu. Sepekan dua kali Mujiman menghunus parang buat memotong buah berbentuk lonjong itu di kebun. &lt;br /&gt;Sekali panen, Mujiman bisa menjemur setidaknya dua kuintal buah bahan baku utama industri coklat itu di emperan rumah. Mula-mula sepotong kayu dihantamkan pada permukaan buah kakao, dicongkel bijinya yang diselubungi lapisan lendir warna putih. Lantas dijemur. “Belum sampai kering saja sudah dibeli pemborong,” ujar Mujiman. &lt;br /&gt;Kakao menjadikan mereka cukup makmur. Padahal, lebih dari dua dekade lalu, keluarga kecil Suci adalah konsumen &lt;span style="font-style:italic;"&gt;oyek&lt;/span&gt; yang telaten. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oyek&lt;/span&gt;, penganan berbahan baku hasil parutan ubi kayu yang dikeringkan itu adalah makanan pokok pengganti beras di kawasan sulit air itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saya mendapati &lt;span style="font-style:italic;"&gt;oyek&lt;/span&gt; yang ditanak layaknya beras itu disajikan bersama dadar telur bebek. Biarpun teramat lapar, jangan terlalu kenyang makan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;oyek&lt;/span&gt;. Buang air besar bakal menjadi ritus yang agak merepotkan. Sampai sepuluh tahun silam, jamban atau wc masih berupa kubangan kecil dengan air menggenang.  WC cemplung istilah lainnya. Jaraknya dengan rumah tak selalu dalam hitungan langkah. Malahan bisa berada di tengah kebun, seratus atau duaratus meter dari pintu belakang rumah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kakao, kini, di depan rumah Mujiman berdiri Warung sembako berukuran 5m x 7m. Setahun lalu, Mujiman bahkan bisa memberangkatkan Ibunya, Suci, ibadah haji di Mekkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun lebih makmur, saya tetap merasa ada yang hilang. Saya tak bisa lagi berharap biarpun hanya sebutir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenthos&lt;/span&gt;. Juga rambutan. Tanaman-tanaman yang selalu jadi motivasi utama saya mengunjungi tempat itu kini telah habis dibabat. Berganti dengan ratusan pokok kakao dengan tajuk merimbun. Mujinem, biarpun kini kampungnya lebih makmur berkat kakao, sepertinya belum berniat pulang. Sejak belasan tahun silam Mujinem telah menggantikan peran “Sum” dalam arti sesungguhnya. Jadi TKW di Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Mujinem kerasan di Arab Saudi. Majikannya baik. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ora tega ninggalke anakke majikanku suwe-suwe,”&lt;/span&gt; ujarnya ketika mampir ke tempat saya tinggal, di Depok, sekitar setahun lalu. Ia tak tega meninggalkan anak-anak majikannya terlalu lama. &lt;br /&gt;Seperti dituturkan Mujinem, ibu-ibu warga Arab Saudi  jarang sekali momong anak dengan ketelatenan khas umumnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;emak-emak&lt;/span&gt; di negeri ini. Dari memandikan, mengganti popok, bikin susu, mengantar sekolah, hingga menidurkan, semua ditangani pembantu.  Mujinem tak cerita, ke mana saja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;enyak-enyak&lt;/span&gt; Arab itu pergi begitu mereka tak di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, saat di mana pembantu bisa lepas tangan adalah saat majikannya ‘membuat anak’ dan melahirkannya ke muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Mujinem, saya mengenal puteranya, Sugeng Prantio. Lulusan Fakultas Kehutanan IPB. Anak yang cerdas dan mandiri. Hingga saat ini ia bekerja di sebuah lembaga internasional yang bergerak dalam kampanye pemberdayaan masyarakat hutan lestari, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Forest Trust&lt;/span&gt; (TFT), di Kendari, Sulawesi Tenggara. &lt;br /&gt;Jika “Sum” digambarkan sebagai ‘mengenaskan’, saya tak melihat sedikit pun tergambar hal itu di kerut wajah Mujinem. Sayang, saat itu saya tak tanya, apakah ia juga pernah mengalami “perampokan” di terminal tiga, seperti yang pernah dialami “Sum” dan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekilas, di gurat wajah Mujinem yang mulai menua, memang bisa dilihat raut kepasrahan. Menjadikannya gampang rindu untuk kembali ke rumah majikan di Arab Saudi daripada pulang ke kampung sendiri. &lt;br /&gt;Atau, gemerincing rial tetaplah daya tarik yang sukar ditampik. Tak mudah didapat jika hanya mengandalkan sepetak dua kebun kakao di kampung sulit air. Belasan tahun jelas bukan waktu sekejap. Di tengah humbalang kisah derita TKW yang lazim tersaji di koran-koran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berubah modus, perampok seringkali tetaplah perampok. Di terminal berapa saja. Dan Mujinem hanya lebih beruntung daripada “Sum”. Bernadetta Verry Handayani dan garasi kembali menegaskan itu lewat pementasannya. Malam lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-1805112108287668311?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/1805112108287668311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/antara-verry-sum-dan-mujinem.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1805112108287668311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1805112108287668311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/antara-verry-sum-dan-mujinem.html' title='Antara Verry,  “Sum”  dan Mujinem'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/SuR8SDVgK9I/AAAAAAAAADY/35f-W9Fjy70/s72-c/undanganmonolog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-2209125214827073425</id><published>2009-10-12T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T20:45:24.984-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta-Japan Matsuri 2009'/><title type='text'>Ganji Ayu di Matsuri, Apem Terbang di Yaqowiyyu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/StP3YCDdjhI/AAAAAAAAACg/eS3I9eFcyYE/s1600-h/Mikoshi1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 156px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/StP3YCDdjhI/AAAAAAAAACg/eS3I9eFcyYE/s200/Mikoshi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391925171132927506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/StP27U5OzoI/AAAAAAAAACY/wnT7ZBcn0sM/s1600-h/Okinawa+Eisa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/StP27U5OzoI/AAAAAAAAACY/wnT7ZBcn0sM/s200/Okinawa+Eisa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391924677974085250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganji yang satu ini sungguh membuat saya kesengsem. Bukan cuma senyum lebar di gurat wajah manisnya yang memesona, tapi kombinasi gerak memukul taiko (gendang) kecil seukuran rebana  yang berpadu rancak dengan gerak tubuh dan langkah kakinya juga enak disimak. Ia satu dari empatbelas ganji yang sore itu mendapat jatah  membawakan tarian Okinawa Esia, salah satu acara “Jakarta- Japan Matsuri 2009(JJM 2009)” yang berakhir  ahad, 11 Oktober lalu.&lt;br /&gt;Di habitatnya, Kota Okinawa, Festival Eisa digelar untuk menandai  datangnya musim panas. Festival digelar sejak awal Juni.  Lazimnya, tarian dengan instrumen taiko berbagai ukuran itu dibawakan oleh 20-30 penari yang sekaligus berperan sebagai pemukul  taiko alias Ganji.&lt;br /&gt;Lah, ganji ayu yang saya lihat dalam formasi penari Okinawa Esia itu pentas di salah satu sisi Lapangan Monas saat Jakarta memasuki musim hujan. Jadi, kebalikan dengan musim pergelaran serupa di Perfektur Okinawa sono. Alhamdulillah, biarpun digelar saat awal musim penghujan, cuaca di Jakarta sepanjang sore itu ndilalah cerah belaka. Entah, berapa pawang hujan yang disiagakan agar “Saudara Tua” bisa maksimal mementaskan fragmen budaya dari negerinya. Sesore itu hidung saya tak menghirup bau kemenyan..   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, pagelaran tari Okinawa Eisa hari itu berlangsung teramat singkat, tak sampai sepuluh menit. Panggung semi terbuka berukuran 12 x 6 meter itu juga terlampau sesak oleh ratusan penonton yang berjubel merubunginya. Saya jadi kesulitan mengambil sudut yang pas untuk memotret Ganji ayu dan kawan-kawannya  saat beraksi membawakan tarian Eisa Okinawa. Untuk jarak sedekat itu, saya  hanya membawa kamera dengan lensa 200 milimeter. Ditambah lagi, Melly San, istri saya, sudah melayangkan sikutan kecil ke arah rusuk.  Pertanda saya harus menjauhi panggung untuk menuju stand-stand lain yang juga dijubeli pengunjung. Gagal sudah rencana saya menuntaskan gairah yang masih meluap untuk mengabadikan lebih banyak lagi aksi mBak ganji…dan kawan-kawan. &lt;br /&gt;Di sudut berbeda, keringat Odajima San terus mengucur dari wajahnya yang bulat. Handukkecil warna  hijau yang tersampir di lehernya yang kekar nyaris kuyup. Ia adalah satu dari lebih dari selusin calon pembawa arak-arakan mikoshi. “Ini salah satu bentuk persembahan kepada Tuhan,” papar Odajima San kepada saya melalui percakapan yang diterjemahkan Erizawati, rekan saya, atau tepatnya sohib Melly San. Erizawati dan Melly San satu angkatan saat kuliah pada jurusan Sastra Jepang di Universitas Bung Hatta, Padang, pertengahan 90an. &lt;br /&gt;Sungguh beruntung hari itu kami mengajak serta Erizawati. Kemampuan berbahasa Jepangnya jempolan. Gadis minang bertubuh mungil ini punya sertifikat level 1 ( skala 1-4) atau level tertinggi dalam  kemampuan berbahasa Jepang. Erizawati, Melly Chan dan juga beberapa rekannya memanggilnya Iwat, pernah beberapa tahun belajar di Jepang. Makanya Erizawati alias Iwat cukup cas-cis-cus bercakap maupun menulis dalam Hiragana dan Katagana. Pengalaman kerjanya sebagai penerjemah di beberapa perusahaan memungkinkannya bolak-balik ‘melancong’ ke Jepang. Setelah resign dari pekerjaan penerjemah pada sebuah perusahaan di Batam, kini ia bekerja di sebuah perusahaan lain di Cikarang, lagi-lagi sebagai penerjemah. Kata Melly San, gajinya lumayan gede. “Lebih lagi masih single, keponakannya saja dibelikan Mio,” ujar Melly San kepada saya suatu ketika. Hingga tulisan ini selesai diposting, Iwat tampaknya masih senang melajang. Kalau tak ada aral melintang, kami merencanakan untuk menulis (adaptasi) sebuah novel penulis Jepang. Iwat sempat semalam menginap di rumah saya di kawasan Cagaralam, Depok. Tampaknya ia kangen ngobrol dengan Melly San. Masih menurut Melly, Iwat cenderung pendiam jika tak menemukan orang atau topik percakapan yang menurutnya menarik. Tapi, seharian menginap di rumah, saya sesekali mengamati Iwat bercakap dengan Qen Ghifary Wisanggenie (4,5 tahun) putra saya. Padahal, diantara kakak dan para keponakan Qen dikenal suka usil dan biang ribut.   &lt;br /&gt;Beberapa jam sebelum kami berangkat menonton JJM 2009 di kawasan Monas, Erizawati masih sempat memberikan saya halaman prolog, serta dua bab dari terjemahan novel yang jadi proyek kami. “Berapa lama kamu menerjemahkan ini,” kata saya sembari membaca paragraf demi paragraf prolog dan dua bab yang terlihat mengalir dan wajar lazimnya bukan hasil terjemahan itu. “Beberapa jam saja, kulakukan sepulang kerja,” ujar Erizawati enteng. Sekilas bisa dilihat novel yang ditulis berdasar kisah nyata itu. Mungil. Kertas tipis halus warna kekuningan, mirip kertas yang dipakai Majalah TIME, dengan size tak lebih dari 15 x 25 sentimeter. Tebalnya kira-kira dua sentimeter dengan aksara Jepang di lembar-lembarnya.      &lt;br /&gt; “Ya, di Jepang Mikoshi biasa diadakan pada musim panas,” imbuh Mishima San, rekan Odajima. Mishima San juga tampak berkeringat, kacamata hitamnya kontras dengan warna kulit mukanya yang kuning cerah. Ketika Erizawati, Mishima San dan Odajima Shan bercakap, gesture tubuh mereka beberapa kali terlihat terbungkuk-bungkuk. Batin saya, kalau Erizawati menguasai bahasa etnik India, saat bercakap seperti hari itu, pasti kepalanya yang menggeleng-geleng seperti aktor-aktris Bollywood berdialog. Punggungnya nganggur.     &lt;br /&gt;Sekilas, bentuk Mikoshi menyerupai miniatur kuil yang diletakkan pada dua bilah kayu panjang yang berfungsi sebagai tandu. “Kuil” mini itu dominan dengan warna merah dan emas. Di Jepang, tak jarang Mikoshi dilapisi emas dan aneka asesoris. Orang Jepang percaya ada Dewa yang tinggal disitu. “Beratnya satu ton dan 250 kg,” ujar Mishima San sembari menunjuk dua mikoshi itu. Satu ton? Salah duga, saya kira cukup enteng. Ukurannya saja tak lebih tinggi dari 1,5 m dan lebar 1,5 m. Mikoshi satunya lagi malah berukuran hampir separuh dari yang pertama. Sore itu saya melihat keduanya terongok tak jauh dari panggung utama festival. Diberi tali tambang pembatas warna putih dan dijaga setengah lusin petugas keamanan berseragam biru. Banyak juga pengunjung yang menjadikannya latar belakang untuk berfoto. Saya juga memotretnya dari beberapa sudut. Iseng saya amati, rata-rata pengunjung yang berfoto dengan latar belakang mikoshi berpose dengan jari tangan membentuk huruf V, victory. Saya tak yakin, mereka barusan memenangi kuis atau lotre. &lt;br /&gt;Di sisi depan mikoshi ada sebotol sake dan beberapa gelas plastik. “Apakah para pemanggul mikoshi dibiarkan teler dulu sebelum mulai mengaraknya,” Tanya saya iseng. “Ah, tidak, tidak! Mereka tidak boleh mabuk saat memikulnya,” sergah Mishima San. Ooo..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat sebotol sake, bir khas jepang hasil fermentasi beras, membuat  saya membayangkan lagak langkah Jacky Chan dalam film kungfu Drunken Master, yang tetap sakti biarpun dalam keadaan teler. Ternyata, mabuk bagi pemikul mikoshi haram hukumnya.     &lt;br /&gt;Saya melihat lusinan pemikul Mikoshi sedang bersiap. Macam-macam model pakaian mereka, agak susah mendeskripsikannya di sini. Mereka terdiri dari orang tua hingga anak-anak (umumnya sebagai pengiring). Laki-laki maupun perempuan. Hari itu, cukup mudah membedakan mereka yang “warga” Jepang asli maupun partisipan lokal yang “kejepang-jepangan”. Warna kulit mereka khas. Dan, terus terang ini yang membuat saya cukup bergairah menikmati Matsuri : gadis-gadis Jepang yang rata-rata cantik. Ketika saya mengungkapkan ini dihadapan Melly San dan Erizawati, spontan mereka menjawab bersamaan “Wuooo….”. Wisanggenie yang kecapekan dan saya gendong di punggung memilih diam saja. Dari pengalaman bergaul dengan Wisanggenie selama ini, nampaknya dia tahu maksud kata-kata saya barusan. Tapi, sepertinya hari itu Wisanggenie ada di pihak kaum laki-laki.     &lt;br /&gt;Sinar matahari sore itu boleh redup, tapi tidak demikian dengan semangat seorang laki-laki berkewarganegaraan Jepang bertubuh tegap itu. Ia tengah memandu latihan gerak langkah duapuluhan gadis cilik (5 – 12 tahunan) yang akan berperan sebagai pengiring arak-arakan mikoshi. “Satu..! dua..! tiga..! ampat..! Ulangi-ulangi..! Yak, mulai, satu..! dua..! tiga..!,” teriaknya dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih.  Dasar anak-anak, “Ee, tunggu! Tunggu! Kesini..! Saya kira kamu dibawa kucing garong!” ujarnya mengingatkan bocah-bocah yang memakai dandanan unik yang sering mencelat keluar dari barisan itu. Beberapa pengunjung tertawa melihat polah pemandu yang kocak plus tingkah bocah-bocah cilik dengan dandanan bak dewi-dewi khayangan dengan tongkatnya yang bergemerincing.  Beberapa bocah berusia paling muda terlihat paling sering ngeloyor keluar barisan sebelum satu tahapan latihan usai. Mereka menuju emaknya masing-masing yang ikut menyaksikan latihan. Dewi-dewi khayangan mungil ber make up menor dengan bibir bergincu merah menyala itu rupanya kehausan, minta disuapi makanan kecil atau es buah. Maklum, bocah-bocah Indonesia asli, Pelatih San! &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Yaaqowwiyuu…&lt;br /&gt;Melihat arak-arakan Mikoshi hari itu mengingatkan saya dengan arak-arakan serupa, yang rutin digelar di salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bedanya, yang diarak bukannya miniatur kuil layaknya Mikoshi, melainkan gunungan kue apem. Dan entah, berapa ratus kilogram beratnya. Ritual Yaqowwiyu namanya. &lt;br /&gt;Digelar dikawasan Jatinom, sekitar 20 kilometer utara Klaten. Arak-arakan pemanggul gunungan apem, penganan tradisional berbahan tepung beras dan gula merah itu, digelar setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa. Setelah didoakan, tumpukan ribuan potong apem itu disebarkan ke ribuan pengunjung yang menyemut. Mereka percaya apem yang mereka peroleh akan membawa berkah. &lt;br /&gt;Tradisi ini konon digelar menandai kepulangan Kyai Ageng Gribig, seorang ulama penyebar ajaran Islam asal Jatinom seusai berhaji di Mekah. Kabarnya, beliau menenteng oleh-oleh kue apem untuk dibagikan kepada tetangga dan kerabatnya. Belum jelas benar, apakah apemnya made in Mekah atau racikan sang kyai sendiri. Yang jelas, sang kyai kekurangan stok apem akibat pincangnya supplay and demand. Alhasil, beliau memerintahkan pengikutnya untuk memproduksi lebih banyak apem untuk dibagikan pada hari Jum'at Pon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan samakan karakter warga Jepang yang biasa disiplin dan tertib dengan masyarakat Indonesia, terlebih di era Kyai Gribig sekian abad silam. Tumpukan kue apem berwarna coklat muda itu harus dibagikan dengan cara dilemparkan melalui panggung yang tinggi. Maklum, budaya antri belum ada. &lt;br /&gt;Anehnya, biarpun sekarang budaya antri sudah mulai terlihat, setidaknya di depan teler bank, supermarket, atau di loket-loket bioskop Kota Klaten dan sekitarnya, panitia tradisi apeman tampaknya menolak keras mengubah metode pembagian apemnya. Tak ada ide, misalnya, pembagian apem melalui sistem kupon, paket pos, atau sekedar membuat barisan antrian. Alhasil, wuss…wuss…wuss.. Ribuan orang berebut kue berdiameter tak lebih dari sepuluh sentimeter berketebalan rata-rata dua sentimeter itu ke manapun ia dilemparkan. Apem terbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ketidakdisplinan” khas warga Indonesia ini anehnya tak pernah diprotes oleh siapapun. Termasuk Komnas Ham, Komnas Perempuan dan Anak, tak juga Kontras. Bayangkan, laki-perempuan, anak-anak hingga nenek-nenek berebut apem dengan gairah yang sama, tapi dengan tenaga dan daya tangkap apem yang berlainan. Tak terhitung kisah nenek-nenek atau mbakyu-mbakyu yang terinjak-injak hingga semaput, sementara hak-hak mereka sebagai warga negara (Jatinom) untuk mendapatkan barang sebiji apem malah luput. Belum lagi bocah-bocah cilik yang menangis hiteris terjepit massa, bahkan hilang sesaat sebab ditinggalkan orangtua mereka yang berjibaku berebut apem.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Mikoshi, tradisi Yaqowwiyu alias apeman kental dengan nuansa religius. Seperti dikatakan Odajima San dan sohibnya, Mishima San di atas, Mikoshi adalah sebentuk bakti rakyat Jepang pada Tuhan mereka. Yaqowwiyu? Kalimat yang bermaknai Allah Yang Mahakuat, itu konon diucapkan Kyai Ageng Gribig pada saat membagi kue apem….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-2209125214827073425?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/2209125214827073425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ganji-ayu-di-matsuri-apem-terbang-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/2209125214827073425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/2209125214827073425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ganji-ayu-di-matsuri-apem-terbang-di.html' title='Ganji Ayu di Matsuri, Apem Terbang di Yaqowiyyu'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/StP3YCDdjhI/AAAAAAAAACg/eS3I9eFcyYE/s72-c/Mikoshi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-4321162803614848128</id><published>2009-10-09T01:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T01:12:17.802-07:00</updated><title type='text'>Tebing Siung#1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/Ss7wKBDPuiI/AAAAAAAAABQ/vhZShEE64sU/s1600-h/PC280383.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/Ss7wKBDPuiI/AAAAAAAAABQ/vhZShEE64sU/s200/PC280383.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390509858880469538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada deru di situ&lt;br /&gt;Pada angin pada gelombang&lt;br /&gt;Pasir dan kulit kerang&lt;br /&gt;Dan ombak yang selalu patah sebelum sampai tepi kakimu&lt;br /&gt;Begitu berulang tanpa enggan semusim pun&lt;br /&gt;Dan ketika cakrawala redup&lt;br /&gt;Sisa unggun api mencelup surai cemara&lt;br /&gt;Geliat akar pandan dan remah cangkang serangga&lt;br /&gt;Menjalankan sebuah lakon pada layar cadas purba   &lt;br /&gt;dan sampai unggun padam dan api memudar&lt;br /&gt;Uap garam menggantung menyisakan tanya&lt;br /&gt;Babad apakah yang tergelar semalam&lt;br /&gt;(Siung, Dec 08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-4321162803614848128?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/4321162803614848128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/tebing-siung1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4321162803614848128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4321162803614848128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/tebing-siung1.html' title='Tebing Siung#1'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/Ss7wKBDPuiI/AAAAAAAAABQ/vhZShEE64sU/s72-c/PC280383.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-4335279044690417576</id><published>2009-10-09T01:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T01:03:08.818-07:00</updated><title type='text'>Menari Angin</title><content type='html'>Mari menari seperti angin&lt;br /&gt;Kembalikan kita kepada ingin&lt;br /&gt;Tak sepoi tak letup&lt;br /&gt;Kesiur benak kembali setangkup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaukah itu&lt;br /&gt;Menyulur kepada reranting kering&lt;br /&gt;Merayapi anak-anak daun tepian dinding&lt;br /&gt;Tempat kita menuliskan&lt;br /&gt;aksara seribu ingin &lt;br /&gt;Dengan kapur barus yang kau tabur seperti pelukis gila&lt;br /&gt;Menggurat sepasang wajah&lt;br /&gt;Menari tanpa jeda&lt;br /&gt;Entah apakah kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;gondangdia&lt;br /&gt;11/02&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-4335279044690417576?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/4335279044690417576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/menari-angin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4335279044690417576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4335279044690417576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/menari-angin.html' title='Menari Angin'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-2363564583489628154</id><published>2009-10-09T00:59:00.002-07:00</published><updated>2009-10-09T01:01:38.117-07:00</updated><title type='text'>Wisanggenie#3</title><content type='html'>Aku tahu kau menunggu&lt;br /&gt;Biarpun jemariku lengang buatmu&lt;br /&gt;Senja itu&lt;br /&gt;Mainan atau gula-gula&lt;br /&gt;Durian atau apa saja&lt;br /&gt;Tapi aku tahu&lt;br /&gt;Kau menunggu&lt;br /&gt;Tidakkah itu lebih berharga dari apapun?&lt;br /&gt;Selamat sore,&lt;br /&gt;Anakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(05-08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-2363564583489628154?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/2363564583489628154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/wisanggenie3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/2363564583489628154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/2363564583489628154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/wisanggenie3.html' title='Wisanggenie#3'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-4989711762227887131</id><published>2009-10-09T00:59:00.001-07:00</published><updated>2009-10-09T00:59:34.446-07:00</updated><title type='text'>Mudah Rindu</title><content type='html'>Aku lakilaki yang mudah rindu&lt;br /&gt;Kepada hasrat tak tentutuju&lt;br /&gt;(10/07/08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-4989711762227887131?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/4989711762227887131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/mudah-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4989711762227887131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4989711762227887131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/mudah-rindu.html' title='Mudah Rindu'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-4396696652876124448</id><published>2009-10-09T00:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T00:53:59.140-07:00</updated><title type='text'>Wisanggenie#2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/Ss7sB6yf8gI/AAAAAAAAABI/H5CLInOp3PA/s1600-h/P1220136.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/Ss7sB6yf8gI/AAAAAAAAABI/H5CLInOp3PA/s200/P1220136.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390505321714151938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Ayaah..aku mandi bolaa.. &lt;br /&gt;Kata suara di seberang sana &lt;br /&gt;pekik girang menghumbalang&lt;br /&gt;dan entah kata apa lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi segera saja berkelebat warna warna pelangi&lt;br /&gt;melintas ingatan &lt;br /&gt;apakah aku pernah mengulumnya&lt;br /&gt;seperti sekeping sugus&lt;br /&gt;dari sang karib&lt;br /&gt;yang entah kini di mana&lt;br /&gt;biar&lt;br /&gt;selarik warnalah aku&lt;br /&gt;bagi pelangimu)&lt;br /&gt;9/10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-4396696652876124448?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/4396696652876124448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/wisanggenie2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4396696652876124448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/4396696652876124448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/wisanggenie2.html' title='Wisanggenie#2'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/Ss7sB6yf8gI/AAAAAAAAABI/H5CLInOp3PA/s72-c/P1220136.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-6191087803983411436</id><published>2009-10-08T01:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-08T01:48:37.388-07:00</updated><title type='text'>Ode Garba#1</title><content type='html'>: melly chan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gumpal awan itu akhirnya mengendap di perutmu&lt;br /&gt;tumbuh bersama pusaran waktu&lt;br /&gt;matamu masih juga nanar&lt;br /&gt;seakan galau menantikannya berembus keluar&lt;br /&gt;menjelma sepotong bulan&lt;br /&gt;atau jatuh sebagai rintik hujan&lt;br /&gt;yang akan membasuh wajahmu &lt;br /&gt;atau hanya sebuah goncangan&lt;br /&gt;selaksa lindu,&lt;br /&gt;yang sowan di kampungmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(gondangdia, 08/10)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-6191087803983411436?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/6191087803983411436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ode-garba1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6191087803983411436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/6191087803983411436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ode-garba1.html' title='Ode Garba#1'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-2675459573580601827</id><published>2009-10-08T01:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-08T01:36:41.111-07:00</updated><title type='text'>Wisanggenie#1</title><content type='html'>sudah senja, nak&lt;br /&gt;dan aku masih juga gugup&lt;br /&gt;sebab langit tak memberiku warta&lt;br /&gt;kepada siapa benak harus didedahkan&lt;br /&gt;kepada gelap &lt;br /&gt;atau menunggu yang berarti siksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihat, mentari lindap sudah&lt;br /&gt;gelap datang&lt;br /&gt;gulana terulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nak, tuntun ayah pulang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-2675459573580601827?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/2675459573580601827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/wisanggenie1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/2675459573580601827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/2675459573580601827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/wisanggenie1.html' title='Wisanggenie#1'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-1332826990004711938</id><published>2009-10-06T08:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T08:23:33.145-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Hujan senja itu tak memberiku pilihan&lt;br /&gt;Tak menawari jawab dan hasrat &lt;br /&gt;Sementara di tanah pijakan tak kutemu teteduhan&lt;br /&gt;Kuputuskan menekuri alir kali yang melaju&lt;br /&gt;dituntun waktu &lt;br /&gt;seperti anjing setia kepada tuannya&lt;br /&gt;di balik setumpuk batu di tepi pelimbahan itu alir kali bermuara&lt;br /&gt; pecah jelma kepingan kaca&lt;br /&gt;memantulkan raut wajahku &lt;br /&gt;dan raut wajah seekor anjing&lt;br /&gt;entah siapa tuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Nov 08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-1332826990004711938?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/1332826990004711938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/hujan-senja-itu-tak-memberiku-pilihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1332826990004711938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1332826990004711938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/hujan-senja-itu-tak-memberiku-pilihan.html' title=''/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-1137974048386875953</id><published>2009-10-06T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T08:17:19.113-07:00</updated><title type='text'>Ketika hujan Reda 3</title><content type='html'>Suatu ketika tuhan datang kepadaku dalam jelmaan hujan &lt;br /&gt;yang tak kunjung reda&lt;br /&gt;dari senja ke senja &lt;br /&gt;tak memberi jeda bagiku dan matahari sekedar bertatap muka&lt;br /&gt;tentu menggigil aku tak terkira &lt;br /&gt;dan berharap dia berhenti sejenak saja&lt;br /&gt;memberiku kesempatan untuk tak bersamanya&lt;br /&gt;tapi dia ngeyel&lt;br /&gt;menaburiku dengan rintik yang kian menderas &lt;br /&gt;seperti serbuk gula di atas sekeping donat&lt;br /&gt;taruhan : ketika hujan reda&lt;br /&gt;aku pasti disantapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;depok, 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-1137974048386875953?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/1137974048386875953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ketika-hujan-reda-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1137974048386875953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/1137974048386875953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ketika-hujan-reda-3.html' title='Ketika hujan Reda 3'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-5008152097637274624</id><published>2009-10-06T08:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T08:10:34.960-07:00</updated><title type='text'>Ketika Hujan Reda 2</title><content type='html'>Sesenja itu hujan masih turun&lt;br /&gt;Seperti tak sudi ditamui kemarau&lt;br /&gt;Yang mengetuk pintu rumahnya dengan sopan santun&lt;br /&gt;Pergi!&lt;br /&gt;Hardiknya masih dengan petir berulangkali&lt;br /&gt;Tapi kemarau tak hilang sabar &lt;br /&gt;Menunggu dalam penantian hati teramat jembar&lt;br /&gt;Menjadikan hujan kian gusar&lt;br /&gt;Meludahkan halilintar&lt;br /&gt;Aku jengah juga sebetulnya&lt;br /&gt;Tapi tak bisa berbuat apa&lt;br /&gt;Sebab sering sajakku hadir dengan awalan : &lt;br /&gt;ketika hujan reda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5-08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-5008152097637274624?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/5008152097637274624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ketika-hujan-reda-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5008152097637274624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/5008152097637274624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ketika-hujan-reda-2.html' title='Ketika Hujan Reda 2'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4069547598009918326.post-640792020349676096</id><published>2009-10-06T07:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T07:35:43.241-07:00</updated><title type='text'>Ketika Hujan Reda1</title><content type='html'>Ketika Hujan Reda1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separuh bulan mengunjungimu di tengah malam&lt;br /&gt;Menyelinap di sela jalinan ranting anggur yang kau pangkas dalam sepekan&lt;br /&gt;Ada kabut menyelimuti tepinya&lt;br /&gt;Pendarnya ragu &lt;br /&gt;Seperti benakmu&lt;br /&gt;Tak ada awan secabikan sebab hampar langitlah awan-awan itu&lt;br /&gt;Yang sebentar lagi menjelma jawaban : mengapa bulan selalu sendirian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 0ct 09 (Yk, Nov 08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4069547598009918326-640792020349676096?l=prionowinarno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://prionowinarno.blogspot.com/feeds/640792020349676096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ketika-hujan-reda1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/640792020349676096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4069547598009918326/posts/default/640792020349676096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://prionowinarno.blogspot.com/2009/10/ketika-hujan-reda1.html' title='Ketika Hujan Reda1'/><author><name>Prio Winarno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15925398636999587106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_j48xFz-9y3g/S5hcVQYMlGI/AAAAAAAAAFE/BJBOgkVoCi0/S220/P3070743.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
