Jumat, 09 Juli 2010

Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu (2)


Perempuan itu menjelma hujan sore tadi. Menawariku basah tepian musim yang tak mungkin menumbuhkan sekuntum kenanga di kebun benakku. Lelangit pekat. Seperti sekeping gulana di alisnya yang pekat dengan perdu berpucuk ungu. Tempat serangga menitipkan larva dan beranak pinak menjelma kupu.

Aspal masih lembab. Telanjang tanpa segumpil batu serupa onak di sela jari kakimu. Seperti telanjangmu ketika mengantarku pulang ke beranda waktu. Tuhan titip salam, kepadamu. Ujarnya diserta petir berulang kali.
Sampai di sebuah tikungan aku menatapnya untuk terakhir kali.
Ia menjelma api.

(Buitenzorg, July 2010)

Kamis, 08 Juli 2010

Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu


Perempuan itu datang sebagai hujan. Bertamu kepadaku ketika senja mulai menepi. Ia ketuk pintu benakku tiga kali antara ragu dan rindu bertemu. Tapi engsel pintu kubiarkan kaku. Mengawali diam benakku ragu. Sebab aku cemas ia masih menggenggam halilintar. Yang hanya menjadikanku terhenyak dan kuyup. Juga terbakar.

Perempuan itu datang menjelma badai. Tempias ujung rambutnya melembabkan waktu. Tiba-tiba jam dinding berhenti berdetak begitu binar matanya menyandera mataku. Sampai aku tak sanggup melihat selain sekeping ingatan masa lalu.

Keretaku datang dan perempuan itu mulai melambai dari kejauhan. Perlahan dengan jemari lentik rinai hujan. Yang tak sanggup aku genggam.

Keretaku menjauh. Benakku berpeluh. Ketika hujan reda, perempuan itu pulang sebagai awan.

(Buitenzorg, July 2010)

Selasa, 08 Juni 2010

Yuuk, Latihan Njogett...




Anik Triyani menulis begini…

"Mas bagaimana cara kita menemukan inspirasi dalam menulis?" Pertanyaan itu terlontar cukup semangat dari hati. "Coba temukan inspirasi-inspirasi itu dari kejadian yang kita temui dalam keseharian". It's simple answer. Tapi, jika dimaknai dengan semangat dari hati, kata-kata ini layaknya sebuah mutiara biru bagi yang tahu.

Entahlah, kenapa keinginan untuk menulis ini berkobar dalam setiap kedipan mata. Ada rasa bersalah lebih tepatnya, melintas dalam setiap ingatan. Memang, sudah seumur jagung tumbuh keinginan menulis ini. Setelah agak lama terkubur.

Sejak kejadian itu, kejadian yang membuatku merasa enggan untuk menulis. Ku stop kebiasaanku menulis apapun. Dulu fiksi, essay, perjalanan keseharian, pengalaman ironis bahkan yang tragis sekalipun aku tulis. Kini, bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali menulis. Aneh, aku tak menyadari hal itu hingga sekarang.

Dan sampai saatnya aku bertemu dengan "sang penangsang". Baru aku ingat bahwa selama ini aku telah melupakan kesukaanku. Hobi yang membuat imajinasiku tumbuh, hati kaya, dan tangan menjadi tebal (karena seringnya ngetik).

Hanya sedetik aku katakan, sebab aku merasa kekurangan waktu. Bertemu dengan "sang penangsang". Biar begitu, inspirasi mengalir dengan deras. Dan, hati ini merasa malu. Malu untuk membohongi diri bahwa ternyata keinginan menulis itu masih ada.

Sudah lama "semangat dari hati" tidak bergerak. Untuk mulai bermain dalam dunia yang selama ini kulupakan. Yup, dunia menulis, bermain dengan hati. Benar sekali kata-kata tokoh Mentari pada novel “9 Matahari”. Bahwa, "Roda memang berputar, namun adakala roda itu akan menjadi bocor atau kempis. Maka dari itu roda tidak bisa diputar lagi”. Eits, tunggu dulu... biarpun roda sudah tidak bisa menggelinding, setidaknya masih bisa dipindah tempatkan! Iya, bila perlu dengan diseret atau diangkat!

Dan…"Anik menulis lagi!!!".

Kuakui, dulu aku sempat kecewa dengan apa yang namanya "bermain" menulis. Aku down. Hasrat memainkan pena redup. Aku belum berusaha untuk membuat diri ini up lagi untuk menarikan pena dan mengekspresikan gelinjang dari relung hati dan pikiran lewat segores tulisan. Dan oke! aku akan membuat roda ini berpindah tempat. Akan kupaksa diri ini untuk menyeretnya!

Terima kasih "sang penangsang", yang telah menggerakkan dan membangkitkan kesadaran ini. Memulai lagi memainkan pena, mengekspresikan rasa dan mengelola pikiran dengan MENULIS.

Plok...Plok...Plok, kutepuk dada ini dengan semangat dari hati yang membara.

***

Di atas adalah “kesan” Anik Triani, seorang mahasiswa UGM, Yogyakarta, seusai menemani rekan- rekannya mengikuti pelatihan menulis di kampusnya, 2 Juni lalu. Dia menuliskan itu di dinding facebook saya. Itu adalah yang kedua kali saya diundang untuk menemani mereka belajar menulis. Kedua kali pula saya ketemu Anik. November dua tahun silam adalah yang pertama, di acara yang juga hampir sama. Mereka mengajak saya bareng-bareng belajar menulis.

Saya sendiri berpendapat menulis memang bukan hal gampang. Menulis yang bagus maksudnya. Dengan cukup “gizi” dan cukup "seksi". Untuk itulah saya tak pernah berhenti berlatih.

Senja seusai pelatihan, Anik, dan dua rekannya, Fajar dan Vemy, menemani saya mengganyang seporsi Nasi Ayam Brekele di Kafetaria. Tak jauh dari Gelanggang Mahasiswa UGM. Ebiet, adik yang saya minta antar- jemput, memilih menu Ayam Lumpur Lapindo. Menu yang disebut terakhir tak ada hubungannya dengan perusahaan Bakrie. Lapindo versi UGM itu berupa seporsi nasi dan daging ayam dengan siraman kuah kental warna coklat terang berikut empat iris buncis rebus dan wortel. Entah, apakah penggagas menu ini pernah melongok kawasan bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo sono… Seingat saya, “kuah” lumpur yang bikin ribuan warga Sidorajo jatuh nelangsa itu berwarna abu-abu pekat. “Betul, Mas, kafetaria ini memang baru setahun terakhir berdiri,” ujar Fajar.
Seporsi brekele dan lumpur lapindo dihargai Rp 6.500.

“Gimana cara Mas Prio mendapatkan inspirasi dalam menulis?” Anik membuka percakapan. Sembari meneguk segelas jeruk panas, saya cerita sekelumit pengalaman menulis kepada mereka. Menulis berita maupun fiksi.

Inspirasi? Saya jadi teringat dengan sebuah pengalaman pada 1997. Bersama dua rekan pers mahasiswa, Timotius Suwardi dan Aris Budiprasetyo, saya membuat janji wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer di rumahnya, Jalan Multikarya, kawasan Utan Kayu.
Menerima kami bertiga, laki-laki tua - wafat 2006 dalam usia 81 tahun - itu hanya mengenakan kaus oblong putih dengan warna yang sudah pudar. Celana pendek katun plus kaus usang yang sewarna dengan kaus oblong. Kebersahajaan itu tak mengurangi rasa “gentar” kami ketika bertemu sastrawan yang beberapa kali didapuk sebagai nominee peraih nobel sastra itu.

Siang itu, kami ingin melakukan verifikasi terkait budaya kekerasan yang merebak. Juga relasi kekerasan oleh negara yang dialaminya saat 14 tahun mendekam di Pulau Buru. Referensi saya untuk soal ini hanya satu, buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ditulis Pram semasa dalam pembuangan di di Pulau Buru, kesan saya hanya hanya satu : mengerikan! Selebihnya adalah soal kepiawaian Pram menuturkan fakta-fakta secara lugas dan nyaris tanpa emosi. Beberapa buku karya Pram lainnya yang sudah saya baca sebelum wawancara itu berlangsung adalah Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.
“Ah, kalian tak usah pura-pura tak tahu. Di pundak yang muda-muda ini kekerasan (orde baru) itu harus kalian tulis!” ujar Pram dengan air muka tenang. Lantas mengembuskan asap rokok kreteknya. Djambu Bol. Saya yang bukan perokok dibuatnya terbatuk setidaknya enam kali.

Di ruang dalam, Muthmainah Thamrin, istri Pram, menyiapkan teh manis buat berempat. Muthmainah, putri Muhammad Hoesni Thamrin, itu terlihat anggun dan masih gesit. Gurat-gurat kecantikan masih tampak di wajahnya. “Silakan diminum,” ujarnya dengan seulas senyum. Lalu bergegas menyingkir ke dalam saat kami kembali meneruskan obrolan. Saya yakin, Muthmainah bisa mendengar percakapan kami. Beberapa kali kami harus bertanya dengan volume suara tinggi agar Pram dengar apa yang kami tanyakan. Hajaran popor senapan seorang prajurit TNI bernama Sulaiman memang telah menjadikan pendengaran Pram rusak.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Pram adalah ketika saya mulai bekerja dan menetap di Jakarta, pada 2000. Percakapan tak pernah bisa berlangsung lama. Pram masih menjadi magnet bagi siapapun. Termasuk anak-anak muda yang ingin minta tanda tangan, berfoto.

“Buku apa lagi nih, yang akan bapak tulis?,” saya mendekati Pram seusai memberi orasi budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM).
Nggak. Saya nggak mampu menulis lagi sekarang. Sudah tua..”
Lah, terus ngapain aja di rumah?”
“Biasa, mbakar sampah di kebon, hehe..,” Pram tersenyum, membetulkan topi pet warna hitam di kepalanya sembari mengembuskan asap tembakau dari cangklong. Beberapa jenak kemudian percakapan terputus, lusinan anak muda menghambur mengajaknya foto bersama. Pram tak menolak. Terkekeh.

Pengalaman Pram, atau Pram itu sendiri, adalah salah satu inspirator saya dalam menulis. Ia tak lumer dengan kondisi penuh tekanan. Dan memilih terus menulis. Entah, bagaimana dia menggali sumber-sumber tulisannya ketika dalam pasungan era kolonial Belanda atau pun orde baru.

Buku-buku dan arsip penting di Perpustakaan, harta yang sangat dicintainya, ludes dibakar tentara sebelum ia digiring ke Buru sebagai tapol.
Atau jangan-jangan, penderitaan itulah sumber inspirasi terbesarnya. Mungkinkah “penderitaan inspiratif” dikondisikan?

Lah, terus sejak kapan Mas Prio mulai menulis?” ujar Anik di sela jeda latihan menulis sore itu.
“Sejak SMP, saya mulai rutin menulis puisi, juga cerpen,” saya mencoba mengingat. Buku catatan harian semasa SMP masih saya miliki. Kebanyakan puisi. Ketika berada di atas geladak kapal ferry di Selat Sunda, misalnya, saya menulis puisi. Tentang buih putih di laut, bintang di langit. Tentang harapan. Ya, saya akan mulai sekolah menengah di Yogyakarta sejak itu.
Juga puisi-puisi cinta anak ingusan. Jatuh hati pada seorang gadis berkacamata yang sering melintas di depan rumah. Saya hanya berani menatapnya dari balik pagar perdu. Dan membiarkan puisi saya merayunya diam-diam.

Sejak itu saya selalu ingat, menulis juga merupakan kerja kesunyian. Kerja diam-diam. Jika benak sedang kumuh dan rusuh, tak sepatah kata pun bisa kuanyam hari itu.

Di SMP pula saya mulai menulis prosa cukup kontinyu. Juga membaca.
Yohannes Ratoem, guru Bahasa Indonesia di SMP Xaverius Gisting, Lampung, sukar untuk tidak saya sebut perannya. Sepekan dua kali ia mengajarkan pada semua siswa bagaimana mengarang yang baik. Seingat saya, nilai tertinggi pelajaran mengarang di sekolah itu adalah tujuh. Tak lebih.

Pak Ratoem, paruh baya berpostur tinggi kurus dengan tatanan rambut klimis belah samping. Jika berdiri atau berjalan, posturnya agak melengkung seperti pisang ambon. Jago mendongeng. Ketika pelajaran Bahasa Indonesia menyisakan waktu sepuluh atau limabelas menit, ia akan mengisinya dengan dongeng bersambung. Macam-macam temanya. Kisah Burung Ardana dan Bejo Santoso adalah dua judul yang saya masih ingat jalan ceritanya. Jika mulai mendongeng seisi kelas seperti tersihir. Dari Ratoem pula saya belajar membahasakan imajinasi. Ratoem guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya kenal. Ratoem sangat disiplin. Sejumlah kawan pernah kena tampar gara-gara iseng saat ia mengurai sebuah tema.

Ratoem pula yang meminta saya untuk jadi “Pemimpin Redaksi” majalah dinding sekolah. Tugasnya mencari naskah, menulis, menempel dan mengganti naskah yang hendak “diterbitkan” di majalah dinding berukuran 1m x 3m. Dalam kegiatan yang mengasyikkan itu, saya dibantu Lidya, gadis keturunan Tionghoa yang juga senang menulis. Lidya baik dan rendah hati. Juga cantik.

Gara-gara sebuah puisi pula saya dan sejumlah rekan pernah di interogasi di ruang perpustakaan oleh guru BP. Ceritanya, banyak teman yang tak suka dengan cara seorang guru (baru) saat mengajar dan memberi nilai. Sering nyrempet saru dan royal jika merokok di depan kelas. Pernah, saat mengajar, ia menyuruh seorang teman untuk membelikan rokok di warung yang berlokasi di seberang jalan. Lebih lucu lagi, ia tak segan-segan membagi kunci jawaban saat ulangan harian. Saya lantas diminta membuat puisi kritik dan ditempel di majalah dinding oleh teman-teman sekelas. Saya kerjakan. Di bawah judul puisi terang-terangan saya tulis : "Kepada Pak SB". Belum genap dua jam ditempel, puisi saya kena breidel. Saya dengar Pak Ratoem yang memberangus puisi itu. Saya dan sejumlah rekan lantas ditanyai oleh guru BP. Sama sekali tak dimarahi. Mereka tanya apakah "fakta-fakta" dalam puisi itu benar adanya. "Kalian boleh mengkritik, tapi sebaiknya jangan ditulis nama yang kalian tuju. Ini juga agak keras," ujar Ratoem di depan kelas, sehari setelah insiden puisi protes itu. Saya lihat wajah Ratoem. Ia sama sekali tak marah atau kecewa. Ada segurat senyum, yang segera saja saya artikan sebagai sebentuk dukungan. Seorang guru paling sepuh dan sangat dihormati, juga terang-terangan memberi dukungan. "Katakan saja kalau memang benar, jangan takut-takut!," ujar Pak Ponijo Sepuh, pengampu pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) itu. Kabarnya, gara-gara puisi itu, guru yang kami kritik lewat puisi mendapat teguran dari dewan sekolah.

Atmosfer masa sekolah sungguh inspiratif bagi saya. Di sana saya juga menjalin hubungan baik dengan petugas perpustakaan. Membantu melayani peminjaman buku bagi murid-murid pada jam istirahat. Bonusnya, saya bisa meminjam buku sebanyak yang sanggup saya baca. Novel Layar Terkembang, Siti Nurbaya (Marah Roesli), Atheis (Achdiat KM), hingga Monte Cristo karya Alexander Dumas, adalah beberapa karya yang saat itu saya pinjam dan baca.

Seperti mengupas bawang, fakta-fakta yang hendak kita tulis harus dikupas lapis demi lapis. Semakin dalam, kebenaran (fungsional) akan terkuak. Untuk itu kita juga harus telaten membaca.

Seperti namanya, SMP itu dikelola sebuah yayasan Katolik. Sementara saya dari keluarga muslim. Seingat saya, mayoritas murid di kelas saya beragama Islam. Teman-teman saya juga berasal dari latar belakang beragam. Keturunan Tionghoa, Batak, Lampung, Palembang, juga Jawa. Hanya guru-gurunya yang mayoritas berasal dari Yogyakarta. Mungkin pengalaman itu yang, hingga saat ini, membantu saya dalam menenggang perbedaan.

Ibu memasukkan saya ke sekolah ini karena terkenal dengan kultur disiplin dan bereputasi akademik yang bagus. Mungkin juga karena Ibu kenal dengan beberapa guru di sana. Pilihannya cukup masuk akal. Kala kanak-kanak saya memang badung. Gemar bikin onar. Tapi, saya juga sholat dan rutin mengaji di rumah Mang Udin dan Lik Suwarni, ustadz kampung sebelah. Meski juga tetap suka bikin ribut.

Latar belakang yang beragam itulah yang mempengaruhi saya untuk tidak berfikir monolitik.

“Jika kamu menulis tentang konflik berlatarbelakang etnis dan primordial, kamu akan mendekati obyektif ketika ruang redaksi memiliki latar belakang yang beragam. Tak itu perbedaan etnik maupun agama,” saya memberikan contoh kepada Anik. Mahasiswi Sastra Inggris semester delapan ini manggut-manggut. Obyektifitas bukan tujuan jurnalisme. Orang akan lintang pukang untuk bisa bersikap obyektif. Malahan, akan cenderung utopis jika obyektifitas dipaksa dijadikan tujuan dalam jurnalisme. “Yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati obyektif. Caranya, dengan disiplin verifikasi, selalu nggak puas dengan fakta yang sudah didapat.”

Saya hanya ingin memberi tahu Anik, juga Fajar, Dilla, Galeh, Laras, Febby, Amanda, dan teman-teman peserta pelatihan menulis yang lain, bahwa menulis yang bagus memang tidak mudah. Dengan kesadaran itu kita terpacu untuk bersungguh-sungguh dan berusaha keras melakukannya.

Setelahnya, baru kamu bisa menari dalam kata-katamu sendiri. Yuuk, latihan njoget…
Nang ning nong ning nang ning gungg…

Rabu, 26 Mei 2010

Interview With "The Climate Hero" Hehe..


Tri Mumpuni Wiyatno
Social Entrepreneurs

“Banyak Orang Pintar yang 'Minteri'”

“Inilah, The Republic of Indonesia, Mas!, ujarnya dengan mata separuh mendelik dan jari telunjuk menuding wajah saya. Saya tersenyum, dia nyengir. Ceplas-ceplos ketika bertutur soal ironi di republik ini. Mimiknya ekspresif, kadang jenaka. Postur kelahiran Semarang 44 tahun silam itu boleh mungil, tapi jangan tanya kiprah dan energinya yang seperti tak pernah kehabisan “batre”. Ia membantu ribuan desa memberdayakan ekonominya melalui program energi mandiri. Karyanya diakui PBB, lantas mendapuknya dengan gelar “Climate Hero”. April kemarin di Washington, bahkan, Uncle Barrack memujinya sebagai sosok perempuan Social Entrepreneurs jempolan yang banyak menawarkan perubahan. Buah pemikiran dan aksi perempuan energik ini diterapkan dan berguna bagi masyarakat udik Cicemet, pedesaan Beijing hingga Dubrovnik di Kroasia. Saya lantas mengajaknya bercakap seusai menjadi pemateri sebuah seminar di sebuah hotel di Jakarta, akhir Februari silam. Saya suka kesederhanaan dan kerendahan hati perempuan yang akrab disapa Bu Puni, itu.


Bu Puni, ngapain sih sampeyan repot-repot ngurusin listrik di udik-udik. Kan dah ada PLN? “Kendaraannya” apa?

Masyarakat harus mandiri energi. Sebagian besar saya menggunakan wahana koperasi. Saya tidak punya tendensi pada orang-orang yang merusak koperasi. Saya ingin membuktikan. Saya pencinta Bung Hatta, saya membaca bukunya sampai mendapat ide-ide. Jadi, sebenarnya prisnip-prisnisp koperasi Hatta diikuti dengan benar dan juga koperasi yang benar maka Indonesia itu gampang dimakmurkan.

Sedikit pengetahuan saya, banyak juga koperasi yang jeblok. Piye, Bu?
Lah! Lah ! Persoalannya sekarang itu kan, seakan-akan koperasi itu pekerjaannya pemerintah. Kemudian orang-orang yang nggak benar bikin koperasi agar gampang korupsi dari situ, inilah yang merusak nama koperasi. Makanya saya ubah, bahwa koperasi itu alat yang bagus. Sapujagat untuk memakmurkan rakyat Indonesia. Geto loh, Mas..!

Nggak “disetrum” PLN? Jadi kompetitor, kan?
Nggak. Karena kami mengurusi listrik mikro hidro, pelan-pelan. Jika anda melihat koperasi di Cintamekar, Jawa Barat, bagaimana pengurusnya mempunyai power, bisa amanah. Jadi, yang terpenting bagaimana memilih orang yang bermoral. Itu pelan-pelan. Orang takut dengan agama , dia punya komitmen bahwa hidup ini cuma sebentar, kalau mati tak membawa duit.

Idealnya menurut Anda?
Pengurus (pemimpin) harus benar-benar dipilih oleh rakyat. Dipandang oleh rakyat sebagai orang yang punya amanah. Ini terjadi karena pemilihannya yang bersih dan bagus. Saya juga melibatkan semua stakeholder atau teman. Contohnya, waktu koperasi di Cintamekar dibentuk, namanya Koperasi Mekarsari. Saya kaget kenapa ada seorang ketua terpilih, padahal dia tidak pintar, ngomong saja susah. Belakangan saya tanyakan kepada warga, ternyata sang ketua itu dianggap jujur dalam segala hal, tak pernah nyolong atau berbohong. Jadi, dia dipilih bukan karena pintar. Orang pintar saat ini banyak yang ‘minteri’ (mengakali) kita. Maka orang seperti kita harus jeli. Nah, antara lain itulah caranya jika hendak mendirikan institusi pemberdaya masyarakat agar benar-benar baik. Yang hancur itu karena ulah segelintir orang yang tak benar. Gak genah.

Kunci sukses leadership ideal menurutmu gimana, Bu?
Kunci sukses itu orang yang punya visi membangun dengan hati untuk rakyat itu menjadi pendamping yang baik . Tanpa itu omong kosong! Rakyat itu harus dipercaya, dia everybody exchange speaker, semua orang itu adalah agen perubahan. Nah, itu yang kadang-kadang kita nggak yakin. Ini yang harus diyakini, yaummal yakin semua orang itu agen perubahan. Kalau dia tak bisa berubah berarti ada hal-hal yang kurang yang harus kita bantu agar bisa berubah menjadi ke arah yang lebih baik.

Bagaimana dengan peran institusi pemberdaya lain macam LSM, asosiasi dll?
Sama-sama menolong diri sendiri, merubah diri sendiri, sebetulnya sama. Cuma, katanya sih, embordingnya yang berbeda. Tapi intinya sama. Setiap orang itu bisa membantu diri sendiri. Hanya, seperti saya katakan tadi, ada yang bukan karena kesalahan mereka, secara struktural dia sudah dininabobokan. Atau memang dia miskin ekstrim secara struktural, dia miskin segala macem. Jadi kan (kesannya) bodoh. Kayak orang ketiduran, membangunkannya butuh kesabaran, perlu hati, ikhlas. Kalau tidak yah ketemu provokator, tapi jangan putus asa. Di developmentice, itu ibarat sebuah lorong, proses yang kita nggak boleh capek. Harus terus, jatuh bangun-jatuh bangun. Apalagi mendampingi rakyat, harus punya komitmen.

Apa pendapat anda terkait dana-dana pemerintah yang diterima institusi non pemerintah, koperasi, dll dengan alasan sebagai stimulus kemandirian?
Mas, coba anda keliling dulu. Tanya pada koperasi kalau dia mendapatkan (dana) program pemerintah lewat Kandep atau segala macam. Kalau Anda bisa menunjukkan kepada saya, misalnya, jika sebuah koperasi terima uang 100 juta dari pemerintah dan tetap diberikan utuh Rp 100 juta (tanpa ditilep), itu baru bagus. Faktanya? Lihat di lapangan seperti apa.

Anda punya cerita terkait kecenderungan korup di atas?
Tanya juga pada dinas, kalau dinas benar-benar ikhlas tidak melakukan pemotongan sedikitpun, itu baru sukses. Selama ini, saya sering ditelpon, Bu (kami) dibohongi. Memang gue bego apa? Mereka Tanya lagi, Bu, si ini dan itu pernah menyetor uang ke kami. Kira-kira yah, ibu akan mendapat uang Rp 900 juta, tapi ibu setor ke kami dulu Rp 100 juta. Saya banyak ketemu dengan koperasi-koperasi yang ditipu nyetor 1 mobil dan segala macam untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. Gimana itu? Kita mau bilang oknum? Yah, nggak mungkinlah. Dari mana orang-orang itu tahu kalau koperasi mau nyebar duit.

Pelajaran apa yang bisa diambil?
Intinya, accountability itu penting. Nah, ini yang kita kekurangan sampai sekarang. Baik di level aparatnya yang kemudian menular ke masyarakat. Muncullah budaya skeptis. Ah, ini kan uang pemerintah, bisa saya habisin lah, wong saya juga sering ditipu-tipu. Iya, kan? Itu Bukan uang pemerintah, itu uang rakyat! Dia (pemerintah) menjalankan amanah. Kalau menjalankan amanah untuk mendiskus uang saja enggak didiskus dengan baik. Nggak amanah, yah jangan harap sesuatu yang diawali dengan yang tidak baik akan sukses. Rasulullah bilang, hasilnya amburadul! That’s Republik Indonesia, Mas!

Betul, betul, betul..! Ooalaah..!

Senin, 03 Mei 2010

Yang Melata di Mata Sang Bocah



“Bagus ya, Kak. Uler apa ni namanya?”
“Sanca batik”
“Oo, batik… Kalo yang coklat ini?”
“Ini ular pelangi. Coba dielus, dipegang…”
“Pelangi ya…”


Wyna, bocah cilik menjelang kelas satu SD itu antusias betul. Matanya yang bening perpendar penuh rasa ingin tahu. Icha Cebong dari Lembaga Studi Ular SIOUX, dengan sabar menjawab semua tanya sang bocah. Mahluk-mahluk melata beraneka motif dan warna. Ruangan berpenerangan temaram di Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta-Pusat, itu memang terlalu remang. Memberi kesan “wingit” pada interior gedung peninggalan Belanda yang masih terawat apik itu.

Tak ada ekspresi takut atau geli sedikit pun tergurat di wajah Wyna yang siang itu datang ditemani adiknya yang belum genap empat tahun, Iwa, dan kedua orangtua mereka. Iwa sama antusiasnya dengan sang kakak ketika Icha memperkenalkan beberapa ular milik SIOUX yang hari itu dipajang. Wyna adalah satu dari ratusan, atau seribuan, pengunjung yang melintas di stand SIOUX. Hari itu Icha ditemani Defry, Bintang, Deny, dan beberapa Muscle SIOUX lainnya.

Pada Sabtu dan Ahad, 17 - 18 April lalu, SIOUX memang berpartisipasi dalam sebuah acara bersama lebih dari tigapuluh komunitas sosial dan lingkungan hidup yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Ada komunitas Bike to Work (B2W), Pecinta Astronomi, Komunitas 1001 Buku, Komunitas Musik, Pegiat Lingkungan, hingga komunitas batik dengan pewarna alami. Acara dihelat tanpa sponsor menjelang peringatan hari bumi. Komunitas-komunitas kecil ini dirasa memberikan energi positif di tengah tumpukan persoalan yang mendera Jakarta. Kemacetan, polusi, sampah, dan banyak lagi. “KumKum: Kumpul Yuk Kumpul! untuk Berbagi dan Berbuat”. Demikian panitia memberi judul acara dua hari yang meriah itu.

Saya datang bersama Qen dan bundanya yang tengah hamil. “Aku pengin lihat ular teman-teman Ayah, pengin pegang-pegang,” ujar Qen dengan mata berbinar. Hampir dua tahun lalu, dalam ajang pameran Flora dan Fauna, ia juga tampak senang bermain dengan ular koleksi sebuah pet shop. Di rumah, reptil peliharaan kami berupa lima ekor kura-kura dari tiga spesies. Qen menyebutnya Robert dan kawan-kawan. Tak ada seekor ular pun.

Dan hari itu, Qen berpuas-puas bermain dengan beberapa ular koleksi SIOUX. Melly Chan, bunda Qen, juga bisa ngobrol dengan sahabat-sahabat saya dari komunitas SIOUX. Melany (Imenk) misalnya, Ibu tiga anak yang tinggal di Bekasi ini selain mengoleksi sejumlah reptil, juga membuka pintu rumahnya lebar-lebar “menampung” ular temuan yang tak dikehendaki. Atau Dhiyan Savitri, perempuan fotografer penyuka travelling yang punya pengalaman digigit ular. “Hmm, ini kesayanganku,” ujarnya sembari mencium seekor Phyton reticulatus yang mencoba menyusup di celah jilbabnya.

Saya bersyukur bisa bergabung dalam Muscle SIOUX. Hasrat memperkenalkan rupa-rupa makhluk ciptaan-Nya yang luar biasa itu pada Qen, bisa tersalurkan. Makhluk melata yang sering dipahami secara salah kaprah oleh banyak orang. Blepp..blepp..blepp..!

Senin, 08 Maret 2010

“Bermain Api Gosong, Bermain Ular…Sioux!”



Tanpa permisi, sosok memanjang dan bergaya gemulai itu dengan percaya diri menyelinap melalui sela-sela jeruji besi pintu gerbang, mengarah ke beranda samping rumah. Tampangnya boleh juga, kombinasi warna kuning muda, cokelat tanah, hitam dan putih susu. Mozaik warna yang tak saya ketahui nama motif dan desainernya. Tak sopan memang, main slonong begitu saja. Tapi untuk sekedar mendekat dan say hello atau malah sekalian mengusirnya agar minggat, saya kurang bernyali. Lah, wong si gemulai itu, tak lain dan tak bukan adalah seekor ular phyton! Hrrr… Panjangnya saja tak kurang dari tiga meter. Itu artinya, panjang tubuh pebasket NBA dari klub Houston Rockets yang kondang itu, koh Yao Ming, yang menjulang dengan 2,34 meter masih kalah panjang dan gemulai dari Si Phyton yang median tubuhnya bergaris tengah mencapai sekitar delapan senti. Digebuk saja? Ah, secantik dan semontok itu? Teganya, teganya!

Oops..! Tahu aksinya tak terusik, memaksa saya membayar akibatnya. Ceritanya, dari beranda samping rumah, Si Phyton melata masuk ke pintu samping rumah. Berbelok menuju kamar mandi, persis ketika asisten rumah tangga kakak saya, sebut saja namanya Manoharum, tengah asyik mencuci pakaian sembari berdendang riang. “Marilah mencuci…hei..hei..heii, nyuci sambil nyanyi hei..hei..heii..,” lagaknya Titik Puspa di panggung Aneka Ria Safari TVRI. Begitu Si Phyton menampakkan diri di hadapan Mano yang hanya mengenakan celana pendek ketat, nyanyiannya sontak berubah jadi histeria. “ Hei!, Ula!..Ula!..Ula! Tuoloong..!” pekiknya tanpa sempat menyembunyikan logat tegal nya yang kental. Mano melonjak-lonjak menghambur keluar kamar mandi masih dengan sekujur lengan dan tubuh penuh cemong busa sabun.
Mendengar itu, kakak perempuan saya yang berada di ruangan berbeda tergopoh menuju sumber keributan. Eh, alih-alih menghibur Mano yang pucat pasi, kakak saya malah ketularan panik dan berteriak sejadi-jadinya. “Tuoloong…!” Alhasil, kampung di salah satu ruas Jalan Cagaralam, Pancoranmas, Depok itu pun jadi heboh. Berduyun tetangga dan orang yang melintas di jalan menengok, lantas masuk ke halaman rumah. Mungkin, siang itu ada lebih dari dua lusin orang yang datang.
Kegaduhan itu berdampak buruk, menjadikan Si Phyton panik. Ia lantas ngeloyor menuju toilet yang terletak bersebelahan dengan kamar mandi. Sepertinya ia ingin keluar, sementara lorong menuju pintu keluar sudah dipenuhi warga. Si Phyton malang terjebak, memaksa masuk dalam lubang toilet. (Waduh! Bau lah, Phyt!)
Beberapa orang mulai mendekat dan masuk ke toilet yang lubang (maaf) tinjanya sudah disusupi kepala ular. Rupanya kepala ular keras kepala itu tersangkut dalam rongga toilet. Macet!

Buat mengatasinya, mula-mula beberapa orang menggelitik bagian-bagian tubuh si ular. Dikiranya, jika syaraf gelinya terstimulasi ia akan memutuskan keluar dengan sukarela sembari terkekeh-kekeh kegelian, lantas menyerah. Eh, tak semudah itu. Tetap saja si ular keukeuh enggan keluar. Seorang warga yang tampaknya cerdas lantas mencari cara lain dengan menepuk-nepuk agak keras beberapa bagian tubuh ular. Pikirnya, jika dikitik-kitik tidak kegelian mungkin kalau ditampar-tampar si ular akan menjadi tahu diri dan sadar akan perbuatannya yang memalukan. Hasilnya? Gagal total! Skor 2 – 0 untuk ketabahan hati Si Phyton yang memilih semedi dalam kloset. Entah gemas atau jengkel, beberapa orang mulai hilang kesabaran dan menarik paksa tubuh si ular. “Potong aje lehernya, gelontor kepalanya pake aer, beres!” seru seorang warga yang mulai terserang penyakit syaraf nomor tiga likur saking putus asanya. “Jangan, jangan, kesian,” sergah yang lain. Alot! Skor pun berubah lagi menjadi 3 – 0, lagi-lagi untuk kemenangan Si Phyton! Hmm, gemulai-gemulai ternyata tangguh juga dia. Saya sentuh tubuhnya, hangat dan lembut. Sisiknya berkilau ditimpa cahaya lampu kamar mandi. Beberapa bagian permukaan kulit di dekat leher tampak lecet-lecet. Mungkin akibat ditarik paksa oleh warga yang kurang tahu dan rendah rasa 'peri keularannya'. Saya jelas salah satu dari yang paling merasa bersalah. Tak bisa berbuat apa-apa. “Emphaty is not enough!,” pekik pawang reptil beken asal Australia (almarhum) Steve Irwin, sembari lengannya yang kekar memiting leher seekor buaya bandot bergigi tonggos.

Tampaknya warga mulai hilang akal, dan itu menular. Setelah dengan terpaksa kakak saya mengijinkannya, menggunakan linggis dan palu godam, kloset diputuskan dibongkar. Sungguh keputusan yang demokratis diktatorial plus tengil tak ketulungan!
Setelah selama sekitar setengah jam yang menegangkan, evakuasi yang ekstra ngawur itu pun berhasil menjebol kloset sekaligus gagal mengeluarkan kepala si ular dari lubang tinja. Empat orang dengan tergopoh menggotong tubuh si ular yang berkalung kloset keluar kamar mandi dalam keadaan masih hidup. Entah, di bawa ke mana phyton malang itu selanjutnya. Yang jelas, kami harus membayar mahal untuk itu : kloset yang jebol dan harus diganti serta sirnanya kesempatan untuk menyelamatkan Si Phyton dari kemungkinan terburuk. Ini semua akibat ketidaktahuan saya dalam memperlakukan dan menangani ular. I’am sorry, bebe…

***

…Tau Terminal Lebak Bulus, kan? Terus aja, sbelum UIN Syarif belok ke kiri ke kampung utan. Tanya aja lokasi Pulau Wisata Situ Gintung…

Pesan singkat itu mampir ke telepon genggam saya, di malam akhir pekan 6 Maret lalu. Pengirimnya Timmi, Koordinator Diklat Sioux. Belakangan saya tahu, Timmi sesekali dipanggil rekan-rekan Sioux dengan sebutan Timothy. Lain waktu dipanggil Timun. Wajahnya memang belum setampan Timothy Dalton (salah satu pemeran James Bond yang playboy itu). Tapi juga terlalu manis untuk diberikan begitu saja pada Sang Kancil, karakter dalam dongeng pengantar tidur yang gemar mencuri dan melahap timun Pak Tani tanpa pernah merasa bersalah sedikitpun. (ctt : Bang Timmi, Peace..!)

***

Alhamdulillah, hasrat untuk bisa belajar memperlakukan dan menangani ular secara baik dan benar, di habitatnya di alam terbuka maupun yang slebor main slonong masuk rumah orang, baru kesampaian pada 7 Maret lalu. Itu artinya sekitar lima tahun setelah peristiwa ular phyton berkalung sorban eh, kloset, berlalu. Tak ada kata terlambat!

Lewat sebuah acara bertajuk Basic Training Muscle (BTM) Sioux, di kawasan Pulau Situ Gintung, Cirendeau, Ciputat, saya memulai proses pembelajaran yang menyenangkan. Bersama lebih dari dua lusin peserta lainnya yang datang dari Jabodetabekdung, saya dan teman-teman sama sekali tak berniat jadi pawang ular. Istilah “pawang” dalam konteks ‘sosiologis-klenik’ nya memang coba dihindari atau setidaknya direduksi, setidaknya untuk membedakannya dengan stigma “pawang” yang telanjur kental dengan irasionalitas atau serba “magic” di khalayak awam (biarpun juga tak berniat untuk berbenturan).

Jika boleh beranalogi, Sioux ibarat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), yang menganalisis gejala dan unsur-unsur cuaca untuk memprediksi cuaca itu sendiri. Adapun Sioux, berikhtiar menganalisis unsur-unsur biologi, fisik, ekologi dan bahkan psikologi ular agar perlakuan dan penanganannya tak salah kaprah seperti kasus phyton malang di awal cerita. Karena itu, unsur-unsur berupa kembang atau kemenyan tak ditemukan dalam setiap “ritual” Sioux.
“Persepsi masyarakat tentang ular masih cenderung negatif. Efeknya, saking dekatnya interaksi ular dengan manusia, kalau ketemu cenderung dibunuh. Ular identik dengan bahaya dan stigma buruk lainnya. Itu karena kurangnya pengetahuan manusia. Bukan salah ularnya, loh!,” Terang Boim Pengembara, salah seorang awak Sioux dalam pengantarnya.

Berdiri pada 23 November 2003, Sioux menabalkan diri sebagai organisasi terbuka yang bergiat dalam edukasi dan sosialisasi penanganan ular secara benar. Kata Sioux sendiri, bagi penggemar film-film wild west mungkin cukup familiar. Diametral dengan istilah Cherookee, Mohawk, Mohicans, atau Dakota, menyebut beberapa nama Suku Bangsa Indian di Amerika Utara, yang kini hanya tinggal nama (juga merk mobil dan gaya rambut). Sioux dalam khazanah setempat bisa bermakna ular. Bisa jadi Suku Sioux memang memuliakan ular. Saya belum sempat menggali lebih jauh literaturnya.

Ijtihad “memuliakan” ular a la Sioux ini jelas bukan gawe main-main. Personel Sioux yang terdiri dari beragam latar belakang itu memang tak mungkin merasa cukup dengan wawasan dan ilmu tentang ular yang terus berkembang. Biarpun begitu, dalam usianya yang belum genap satu dekade, benih-benih yang dengan susah payah disemai mulai tumbuh dan bahkan berbuah. Apresiasi khalayak mulai terlihat. “Terus terang kami tak menyangka Sioux bisa seperti sekarang. Sioux dulu hanya digawangi empat orang,” ujar Irwan, salah satu pendiri dan kini Ketua Umum Sioux 2009-2011. Irwan yang berlatar belakang pendidikan accounting itu semula mengaku tak tahu menahu dan tak tertarik pada ular. "Mengapa muscle? Kami ingin Anda menjadi otot penguat bagi Sioux dalam menjalankan visi dan misinya," imbuh Irwan."Dan saya berharap Anda tidak memperjualbelikan ular". Too well!

Buah manis usaha Sioux juga bisa berupa seringnya frekuensi ekspose dari media massa elektronik dan cetak dalam beragam mata acara. Sebut saja “Jejak Petualang” (TV7), Expedition (Metro TV), hingga “Laptop Si Unyil” (TV7), adalah beberapa acara TV yang sering melibatkan Sioux. Ekspose ini dinilai perlu dalam strategi branding. Popularitas Sioux perlahan ikut terkerek naik. Undangan untuk mengisi acara dan program edukasi pun mengalir dari berbagai daerah. Dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Dari kalangan pecinta alam, institusi militer hingga taman kanak-kanak. Apresiasi dan capaian yang patut disyukuri.

Sejatinya, apresiasi yang tulus juga tumbuh dari khalayak awam seperti peserta BTM Sioux yang hadir minggu awal Maret itu. Bukan hanya melalui sorotan kamera televisi yang mau tak mau, lambat atau cepat, bersinggungan dengan komersialisasi dan komodifikasi.

Simak beragam motif mereka untuk belajar tentang ular melalui BTM Sioux. Seorang perempuan guru Bahasa Inggris ,misalnya, mengajak dua keponakannya yang berusia 15 dan 11 tahun untuk turut serta. “Saya cuma ingin mengajak keponakan saya ini untuk melakukan kegiatan positif tapi tidak (berkesan) pamer. Ini daripada mereka, juga saya, keluyuran di mal !,” ujarnya lugas. Lain lagi dengan seorang peserta laki-laki yang tampaknya pendiam “ Saya takut ular. Dan saya punya saudara yang meninggal akibat gigitan ular. Saya tak mau jadi korban berikutnya,” ujarnya nyaris tanpa ekspresi.

Satu persatu peserta maju memperkenalkan diri dan memaparkan motivasi mereka bergabung dalam BTM Sioux. Termasuk beberapa muka lama Muscle Sioux yang terbilang sudah akrab dengan ular. Lany misalnya, perempuan paruh baya yang tinggal di Taman Wisma Asri, Bekasi ini, membawa serta Dimas yang masih berusia belasan tahun. “Saya baru saja berkonflik dengan warga di sekitar kompleks akibat ketidaktahuan mereka tentang ular. Mereka mengultimatum agar ular-ular yang saya tamping di rumah dibuang!,” imbuh perempuan penyuka kegiatan alam terbuka itu ekspresif. Hmm, menangani ular ternyata bukan perkara interaksi zoological belaka, bahkan sampai ke ranah (konflik) sosial.

Ketika jeda makan siang, Lany sempat berujar kepada saya, bahwa oknum-oknum tertentu di kompleks perumahannya memang tampak provokatif, merekalah yang diduga takut ular. Lany menengarai, “polemik ular” melulu hanya sasaran antara dari target sesungguhnya yang Lany sendiri mengaku tak tahu secara pasti. “Saya kan menampung dan merawat ular sudah lama, lah kok ribut-ributnya baru sekarang. Aneh kan?,” ujarnya masgul.

Acara BTM Sioux sendiri berlangsung menarik dan jauh dari membosankan. Dikemas dalam suasana cair, interaksi egaliter. Sederhana tapi terukur. Acara yang dimulai pukul 08.30 hingga berakhir pukul 17.15 itu serasa hanya bergulir dua jam saja. Mengasyikkan sekali.

Pelajaran Biologi Ular misalnya, cukup menyita waktu terkait banyaknya lontaran pertanyaan dari peserta. Dipresentasikan oleh ‘Gonyosoma’ Iil, materi pertama itu berupa pengenalan singkat morfologi dan anatomi ular. Organ dan sistem organ. Dari system respirasi, digesti, sekresi hingga reproduksi. Beberapa terminologi dalam sesi ini cukup saya akrabi. Kebetulan, ketika kuliah di Yogya lebih dari sepuluh tahun silam, selama tiga tahun saya sempat jadi co. assisten di laboratorium Biologi Umum. Dalam praktek pengenalan anatomi biasanya saya menemani adik kelas melakukan pembedahan aneka satwa dan mencandra organ dan sistem organ tubuhnya. Lazimnya pembedahan dilakukan pada hewan mamalia (binatang menyusui), reptilian, juga Aves (bangsa burung/unggas). Saya paling tak tega jika harus mengeksekusi seekor marmot nan lucu atau burung puyuh dengan memasukkannya dalam stoples yang di bagian dasarnya berisi segumpal kapas yang dibasahi kloroform sebelum selanjutnya membedah mahluk-mahluk tak berdosa itu dalam kaidah teknik yang dingin dan baku. Tapi lama-lama saya jadi biasa juga. Biarpun untuk keperluan ilmiah tetap saja bagi saya itu serupa penjagalan. Saya berharap Tuhan mengampuni dosa-dosa saya. Akan halnya membedah ular, saya belum pernah dan semoga saja tidak akan.

“Ular bereproduksi dengan tiga cara, melahirkan (vivipar), bertelur (ovipar) dan ovovivipar. Yang disebut terakhir ini ‘mengerami’ embrio telurnya di dalam tubuh sampai mature, kemudian melahirkannya layaknya vivipar,” ujar Iil menerangkan. Perempuan berjilbab jebolan Fakultas Kedokteran IPB 2002 ini adalah mantan Ketua Umum Sioux beberapa periode sebelumnya. Entah karena presenternya yang cantik atau memang materi presentasinya yang dirasa urgen, pertanyaan pun datang bertubi. Mulai dari fenomena ular berkepala dua, membedakan ular jantan dan betina, hingga bagaimana ular berkopulasi (berhubungan suami istri ular).

“Mbak, bagiamana dengan ular yang makan tubuhnya sendiri. Saya pernah melihat ada ular makan tubuhnya sendiri mulai dari ekornya,” pertanyaan surprise ini datang dari seorang peserta berambut a la Giring Nidji.

Wah, itu mah ular bunuh diri!,” celetuk peserta lainnya disambut tawa yang lain. Tapi Si Giring, eh, si penanya, tetap serius dengan pertanyaannya. “Mmm…kalau ular makan ular (kanibal) memang ada, tapi kalau ular yang makan tubuhnya sendiri sampai sekarang saya belum menemukan referensinya,” Iil mencoba berterus terang.

Hmm, ada-ada saja, ular kok harakiri.

Setelah sesi diskusi kelompok, sesi praktek penanganan ular menjadi salah satu atraksi yang menarik sekaligus mendebarkan. Diperagakan oleh kru Sioux yang berpengalaman, beberapa teknik menangkap ular diperlihatkan. Nurdin Jabrik misalnya, salah satu snake handler Sioux andal ini memperagakan teknik “bergaul” dengan seekor ular kobra. Jabrik cukup gampang dikenali lewat sejumlah posenya ketika mencium King Cobra. “Butuh keterampilan, keberanian khusus dan latihan kontinu untuk bisa melakukan hal semacam ini,” papar Jabrik.

Sesi berikutnya adalah cara menangkap ular. Ini tergantung lokasi ditemukan dan jenis ularnya. “Cara ini seperti matador di Amerika, eh, Spanyol,” Papar Rudi “Idur” Rahadian salah satu kru Sioux sembari tangannya meraih karung berbahan katun seukuran kantung kemasan tepung terigu. Bisa juga menggunakan selembar kain. Seekor Phyton reticulus sepanjang empat meter dan berdimater tubuh bagian tengah mencapai sepuluh senti dilepaskan dari kantung pembungkusnya. Hmm…agresif dan galak juga. Ketika Jabrik memegang ekornya kepala Si Phyton berusaha memburunya sembari bersiap mematuk. Jika kepala ular mengarah ke kanan Jabrik lantas berputar kekiri, begitu pula sebaliknya. Di depan, Idur bersiap dengan karung yang diregangkan di kedua sisi atas kiri dan kanan dengan kedua tangan. Jari-jari tangan agak dilipat ke sisi dalam untuk menghindari patukan ular. Sisi bawah kantung terigu atau lembaran kain sedikit ditekan menggunakan ujung kedua kaki sehingga kantung/kain matador tampak teregang merata. “Jika ularnya berukuran besar seperti ini, tak dianjurkan menangkapnya sendirian,” imbuh Idur mewanti-wanti.

Dengan perlahan dan tenang Idur lantas mengecilkan elevasi bentangan kain dari semula vertikal terhadap permukaan tanah menjadi diagonal dan secara perlahan sejajar tanah menutup seluruh kepala ular. Happ! Dalam hitungan detik kepala ular telah berada dalam genggaman (lihat foto).

Ular juga bisa ditangkap dengan tangan terbuka maupun dengan bantuan tongkat jika terutama untuk ular berbisa tinggi. Diluar pengetahuan karakter dan type ular, dibutuhkan ketenangan dan keyakinan yang kuat agar ular bisa ditangkap dengan benar dan aman. "Yang pasti selalu ingat STOP. Silence, Think, Observe, dan Prepare," kembali Boim Pengembara buka suara. Ini langkah standar untuk menghadapi ular. "Waspada dan jangan bunuh ular!"

Hmm, inilah saatnya! Jika sehari-hari saya hanya mampu mengelus-elus lima ekor kura-kura peliharaan saya, inilah waktunya mencoba menangkap ular yang ukurannya dua kali lipat dari Si Phyton yang menyatroni kloset di rumah saya nun lima tahun silam. Dengan tangan kosong tentunya. Karena beberapa peserta yang mencoba terlihat sukses melakukannya, nyali saya pun ikut naik berlipat. Antusias malah.

Dan…hihuu!, syukurlah saya bisa melakukannya. Saat itulah, rasa geli atau ketakutan saya pada ular mendadak sirna. Ah, mungkin hanya berkurang saja. Plus rasa sayang pada ular mulai bersemi di hati. Engg…ingg…eeengg…!

“Kendurkan dulu pegangannya, rahang atas dan bawah diratakan begini,” ujar Bang Oney merapikan latihan menangkap phyton galak pertama saya hari itu. Ya, saya juga merasakannya, pegangan saya masih terlihat kaku dan terlalu keras menekan kepala dan leher si phyton. Tapi saya cukup senang dengan latihan saya hari itu. Pikiran saya lantas melayang, seandainya saya lebih tenang dan terlatih lima tahun lalu, mungkin kloset di rumah saya masih aman sampai sekarang, dan saya punya ular phyton baru tanpa perlu memeliharanya dari orok atau membelinya dari pengepul mata duitan.

***

Semburat matahari senja mengulas epidermis ranting-ranting angsana. Pelepah Cocos nucifera berkesiur disapu angin, bersiul.

“Makasih banget, Bang. Terus terang saya belum puas. Masih banyak hal yang pengen saya tahu dan butuh saya latih,” kata saya sembari menjabat erat tangan Timmi. Jabat erat penuh rasa terimakasih juga saya sodorkan pada kru Sioux lain. Mbak Iil, Riri Goddes, Qim, Bang Oney, Bang Irwan, Nurdin Jabrik, Idur rahadian, Boim Pengembara, Icha Cebong, semuanya. Juga rekan-rekan BTM Sioux yang sejak hari itu akan menjadi sahabat-sahabat baru saya. “Jangan lupa kontak FB, Mas,” papar Sigit dan Abdul Basith. “Wah, kamu dah mulai keracunan uler tuh,” celetuk Denny Rudini, rekan peserta yang berasal dari Cimanggis, Depok. “Hehe..lihat saja,” balas saya sembari berjanji suatu saat akan mampir ke rumahnya melihat ular peliharaannya.
Senja itu hati dan pikiran saya terasa penuh. Penuh yang nyaman, dan terus saya nikmati sensasi itu dengan mengemudikan sepeda motor dengan kecepatan santai sepanjang Ciputat menuju Depok.

***

Tiba di rumah lewat maghrib, sosok kecil dengan senyum jenaka itu sudah menunggu. “Huh, gak enak seharian gak ada Ayah,” ujarnya dengan bibir agak cemberut. Saya peluk bocah kecil itu. Sungguh, saya tak sabar untuk mentransfer pengetahuan dan pengalaman yang saya dapat barusan ke tubuh mungil dalam pelukan saya itu. Saya berjanji akan mengajaknya serta di event-event Sioux selanjutnya.

Malam itu, agar tak disebut pulang dengan tangan hampa, saya memilih mengawalinya dengan mengajarkan tepuk ular pada Qen Ghifary Wisanggenie, putra saya yang akan genap lima tahun akhir april mendatang. “Tepuk ular…plok!-plok!-plok!, panjang…plok!-plok!-plok!, bersisik…plok!plok!plok!, berbisa…plok!plok!plok!, blep blep blep… (menjulurkan lidah maju mundur)”. Hehe…mata Qen berpendar girang. “Lagi, Yah! Lagi, Yah!.,” ujarnya dengan raut muka penasaran minta diajari. Mudah-mudahan guru TK nya tak ketakutan nanti. Tapi, jika toh akhirnya Tepuk Ular akan dicantumkan dalam kurikulum tambahan di TK Qen kelak, saya akan minta gurunya agar mengurus izin ke Sioux sebagai pemegang hak cipta Tepuk Ular yang menggelikan tapi cihui itu. Blep blep blep..!

Selasa, 02 Februari 2010

Cerita Bocah Pasar : Salep Tokcer sampai 'Sex Education' Tangkur Buaya


Saya tak keberatan disebut bocah pasar. Itu sekitar 25 tahun silam. Ketika saya masih sekolah dasar di Gisting Bawah, lebih 70 kilometer jaraknya dari Tanjungkarang, Lampung Selatan. Itu sekedar untuk membedakannya dengan kawan-kawan saya yang berumah di lereng Gunung Tanggamus. Bocah alas, hutan. Lagipula saya memang senang sekali dengan suasana pasar tradisional Gisting Bawah, terlebih ketika hari jumat.

Gisting, sebuah desa berhawa sejuk, masih termasuk lereng Gunung Tanggamus (2.500 mdpl), penghasil kol, sawi, dan hortikultura musiman lainnya.

Jumat adalah ketika bagian depan pasar yang berhadapan dengan jalan raya akan dipenuhi tenda-tenda besar dengan pengeras suara terpacak di atas tiang bambu. Saling beradu kencang menarik perhatian penghuni pasar dan lalu lalang orang. Dari semua itu, saya paling senang mendekati tenda penjual obat. Atraksi-atraksinya menarik.

"Aaaaakh!..aaaakh..! aaaaakh!...grrrk...!" Bunyi mengerikan itu menguar dari corong pengeras suara. Saya tergopoh, juga beberapa orang, mendekati tenda penjual obat gosok. Bukan cuma saya, kerumunan puluhan, mungkin seratusan orang segera saja membentuk koloni. Menyaingi tenda-tenda lain yang sontak sepi. O, ya, di sini tak pernah ada anggapan, obat yg laku adalah obat yang manjur, melainkan yang laku adalah yang paling menarik 'atraksi marketingnya'.

Teriakan menegangkan bulu kuduk tadi bersumber dari tenda penjual salep. Mengerikan kawan! Sungguh bar-bar yang saya lihat di sebuah jumat menjelang siang itu. Sesosok tubuh laki-laki dewasa bertelanjang dada dengan kepala tertutup kain terbaring di tengah arena. Penonton, laki-laki perempuan, dewasa, kakek-kakak, dan anak-anak seperti saya, berebut mendekat. Antara takut dan penasaran.

Di leher laki-laki dewasa itu...astagfirullah! Menancap sebilah golok! Dari samping kiri leher tembus ke sisi kanan. Darah berleleran. Sekitar tiga orang "pawang" acara itu, anehnya, tak tampak panik. Santai saja. Mengelap keringat, menghirup kopi, menata kotak-kotak kecil seukuran boks film negatif yang disusun di atas koper hitam lusuh. Satu orang saja yang serius memperhatikan korban 'pembunuhan' sadis itu. Ya, itulah untuk pertama kali saya melihat dengan mata kepala sendiri orang yang lehernya ditembus golok.

Belum habis rasa ngeri, seorang kru laki-laki lantas menyomot sekotak obat yang tertata rapi di atas koper. Membuka tutupnya, lantas jari telunjuk gemuknya mencolek banyak-banyak salep berwarna kehitaman, mendekati si korban pejagalan. Ah! Tanpa perubahan berarti pada air mukanya, dicabutnya sebilah golok dari leher si korban dengan tangan kiri. Sreezz..! Salep warna hitam yang munjung di ujung jari tangan kanannya segera saja dioleskan ke kedua sisi leher bekas 'tembusan' golok. Ajaib! Tak ada bekas luka menganga sedikitpun di leher 'korban'. Halus. Tak berbekas. Manjur nian itu salep.

Tanpa diperintah para penonton yang terkejut berebut mundur beberapa langkah dari barisan. Ini dia! Laki-laki yang saya kira sudah wassalam oleh tembusan golok di leher itu lantas bangkit lagi! Berdiri seperti orang linglung dengan sebagian dada dan lehernya masih menyisakan bekas darah. Dengan entengnya ia duduk di bangku kecil yang sudah disiapkan di tengah-tengah arena. Tugas untuknya selesai. Ia pun minta minum.

Berikutnya saya kira sudah bisa diduga. Si penjual salep tak kesulitan meraup ribuan rupiah dari penonton yang masih terkesiap takjub pada horor barusan. Sekitar seribu rupiah harga satu kemasan salep hitam itu. Si penjual salep berujar bahwa salep hitam itu multi fungsi. Kadas, kurap, panu, korengan, bahkan kutil menahun, bisa ditumpas dalam sekali oles. Entah, apakah di antara pembeli ada yang berminat pada salep itu guna 'mengobati' kasus seperti adegan horor yang barusan ditampilkan.

Di atas adalah satu pengalaman si bocah pasar yang sangat mencekam. Kisah lainnya tentu masih banyak.

Pernah pula saya menjumpai penjual obat kulit (yang diklaim berbahan baku minyak ular) yang aneh. Bukan atraksinya benar yang aneh. Dua orang penjual itu hanya memamerkan dua ekor ular pithon jinak yang dikerangkeng dalam sebuah kotak kayu. Si pithon sebesar lengan anak kecil itu sendiri terlihat lamban dan malas. Menjulur-julurkan lidah hitamnya yang bercabang. Tak banyak pengunjung yang tertarik. Mungkin gemas karena sepi peminat, satu laki-laki penjual minyak gosok itu mencengkeram mikropon. Ia berkoar keras agar siapapun yang memiliki ular agar sudi dibawa ke sumber suara. "Kobra boleh, sanca mau, welang dan weling juga silakan!". Ia akan membelinya dengan harga tinggi.

Dengan penuh percaya diri diulanginya pengumuman itu. Hmm, ada yang mendengar 'tantangan' itu rupanya. Tak sampai limapuluh meter dari tempat si penjual minyak gosok buka praktek, seorang 'Mang Sol Sepatu (biasa disingkat Mang Solpatu) berambut kribo bertubuh kekar terlihat menghampiri tenda penjual obat. Pada lengannya yang dibelit gelang akar bahar terlihat seekor ular berwarna coklat kekuningan tengah melingkar. Lengan kanannya memegang leher si ular yang tampaknya galak. Mang Solpatu bermaksud menyambangi Mang Obat Gosok. Si tukang minyak gosok melihat itu. Eh, ndilalah menyambutnya dengan senang sebab tawaran terjawab, kedua Mang Obat Gosok malah tampak terperanjat dari tempat duduknya lantas menjauh dari arena dengan muka ketakutan. Meninggalkan puluhan botol minyak gosoknya yang sepi peminat. "mang Solpatu tentu saja bingung. Minta ular dijawab ular, eh malah kabur...

Seingat saya, selain atraksi sulap, 'mencekam' atau malah horor, atraksi berupa cerita-cerita semi cabul cukup menarik perhatian pengunjung. Saya bahkan belajar 'sex education' untuk pertama kali ya, dari bakul obat dan jamu di pasar itu!

Suatu jumat misalnya, berhubung saya masuk sekolah siang (seusai sembahyang jumat) pagi-pagi saya sudah berangkat ke pasar. Jalan kaki sekitar tujuh menit dari rumah. Di salah satu lapak penjual obat, saya mendapati sebuah benda aneh berselimut kain mori putih di sisi kanannya. Saya dekati, wah...kepala seekor buaya! Awetan tentu saja. Hanya kedua bola matanya saja yang diganti dengan dua butir kelereng.

Jualan minyak buaya? Bukan. Laki-laki itu mengacung-acungkan sebentuk benda tak lazim sepanjang duapuluh lima sentimeter berwarna putih dan kuning kecoklatan. Tak lurus benar, tapi melengkung dengan diameter pangkalnya tak lebih dari tiga senti.

"Ini tangkur buaya, Pak! Kon**l buaya! Manjur bagi yang lemah gairah rumah tangga!" pekik laki-laki yang hari itu tampaknya memilih beraksi single tanpa asisten. Hmm, tangkur buaya. Ini untuk pertama kali saya mendengar ada istilah 'tangkur' dalam jagad pengobatan alternatif khas pasar. Bapak penjual kemaluan buaya itu tampak bersemangat bercerita. Ia lantas memberi tips-tips agar gairah pasutri bangkit dan rumah tangga jadi sejahtera, disertai bunyi-bunyi rintihan dan lenguhan aneh. Mata saya mendelik, mulut melongo mendengar kata-katanya, tapi tak paham maksudnya.

Beberapa jenak kemudian, pengebiri buaya ini lantas dengan cekatan memainkan pisau tajamnya. Memotong batangan-batangan yang diklaim 'anu buaya' yang telah dikeringkan itu menjadi seukuran dua sentimeter dan membanderol nya seharga seribu rupiah. Cukup murah menimbang klaim fungsinya yang katanya bikin rumah tangga jadi sejahtera. Seingat saya, banyak juga peminatnya. Bahkan seorang ibu-ibu dengan celemek yang masih terikat di perutnya (biasanya penjual sayuran)dengan terkikik malu-malu ikut-ikutan membeli seiris kemaluan (buaya).

Melihat respons tak terduga, keruan saja si penjual tangkur kian bergairah tanpa harus mengunyah sendiri sepipil kecil pun tangkur hasil buruannya yang entah dari sungai dan rawa mana. Segera saja saya membayangkan si pemburu tangkur pastilah jagoan layaknya tarzan si raja rimba dan rawa.

"Silakan bapak-bapak, ibu-ibu, rendam tangkur ini di air panas, kopi atau teh. Lebih bagus lagi direndam di segelas anggur. Minum pagi dan malam hari. Rasakan khasiatnya!" ujarnya berapi-api. Melihat lusinan tangkur diiris-iris layaknya sebatang wortel, entah berapa ekor populasi buaya 'pria' yang jadi impoten. Kasihan.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya masih bingung dengan ungkapan-ungkapan berbau ranjang yang diceritakan si penjual tangkur buaya. Penasaran, saya datangi bapak saya yang tengah asyik dengan pekerjaannya. Saya ceritakan tentang tangkur buaya. Apa betul itu buaya sungguhan, dan seterusnya. Seingat saya bapak tidak marah. Malah, dengan senyum simpul bapak saya menjawab bahwa si penjual tengah 'ndobos'. Ngibul. "Itu tangkur sapi dari rumah jagal! Gak ada manfaat seupilpun mbok kamu makan setengah kilo sekalipun!" ujar bapak saya dengan nada yakin.

Penjelasan bapak menjadikan saya tambah bingung. "Ooh...tangkur buaya palsu, ya. Kalo begitu, bapak dah pernah pake tangkur yang asli, ya?". Bapak saya diam saja.

Pelajaran berhitung kreatif juga pernah saya serap dari pasar. Tapi bukan sebangsa kumon atau jarimatika yang sedang ngetren itu.

Ada penjual yang menawarkan rupa-rupa barang dengan harga banting. Barang-barang tertentu sungguh-sungguh dibantingkan di atas barang pertama yang ditawarkan. Rumit? Begini, pertama-tama si abang menawarkan kain batik sidomukti (saya belum pernah dengar lagi namanya saat ini). Diambilnya kain batik yang dikemas menarik dalam kardus berukuran panjang duapuluh lima senti, lebar tujuh, dan tebal tiga senti, diletakkan di tangan kiri. Si abang bilang harga batik ini di toko 25 ribu perak. Mengaku tak tega, si abang memang tak menurunkan harga, tapi...buk!...membantingkan sehelai kain katun di atas sidomukti. jangan kuatir, harga tetap.

Pada bantingan pertama, si abang akan melihat air muka para calon pembeli. Tak tampak ada yang berminat? Dibantingkan lagi sebuah radio transistor kecil di atas kain katun. Harga masih tetap! Saat itulah si abang berorasi, betapa murahnya barang-barang berguna ini. "Bapak-bapak dan ibu-ibu bisa pergi kondangan dengan batik baru sambil mendengarkan Rhoma Irama di radio!" ujarnya atraktif. Lantas meluncurlah lagu "Begadang" dari mulut si abang untuk mencairkan suasana yang mulai tegang. Keringat berleleran di sekujur muka, leher dan lengan. Eh, penontong bergeming. Rupanya menunggu 'bantingan maut' berikutnya.

"Baik! Ini yang terakhir bapak-bapak ibu-ibu. Jangan menyesal ya? Jangan menyesal ya? Duuua limaa reeboooo!" diangkatnya sebilah gunting kain berukuran sedang lantas dibanting pelan di atas gundukan barang di lengan kirinya. Suasana biasanya berubah hening. Hmm.., pada bantingan ketiga atau kadang keempat itu (biasanya tambahan berupa barang remeh temeh seperti sebungkus peniti atau kapur barus), lazimnya sudah ada penonton yang mengacungkan jari. "Dibungkuus! Dibungkuus!"

Begitu terus berulang kali. Kejutan-kejutan akan muncul dalam kombinasi barang yang ditawarkan atau dibanting. Apa tak rugi? Menurut pikiran bocah seusia saya kala itu, setumpuk barang itu jelas terbilang murah. Entah bagaimana strategi 'pricing' nya agar si abang beroleh untung. Sepotong kain batik, sehelai kain sarung tenun samarinda (lagi-lagi klaim sepihak), radio transistor, dan belasan item produk lainnya. Sebenarnya masih ada kipas angin, setrika dll, tapi sepertinya hanya gula-gula penarik minat. Siapa tahu dibantingkan juga, begitu mungkin benak para penonton, termasuk saya.

Sampai saat ini saya belum tahu cara menghitung untung dari metode jualan barang semacam itu. Soal atraktif dan efisien, sepertinya ya. Sebab sebelum azan duhur berkumandang, barang-barang dagangan si abang sudah sangat banyak berkurang. Mungkin barangnya banyak yang palsu, saya menduga. Mutunya rendah tapi diklaim sebagai asli dan bagus. Tak mungkin saya menanyakan langsung trik-trik berhitung a la si abang banting. Bocah ingusan mau tahu apa.

Kenangan sebagai bocah pasar itulah yang membuat saya selalu menyenangi atmosfer pasar tradisional. Pikuk, kumuh, becek tak jadi soal. Biarpun tentu semua penyayang pasar tardisioanl berharap ada perbaikan yang berarti.

Hingga kini pun saya masih rutin mengunjungi pasar tradisioanl, di Depok atau pinggiran Jakarta. Setidaknya menemani istri memilah cumi atau tenggiri di los ikan. Murah dan segar biarpun tanpa kulkas.

Saya sering sedih melihat pasar-pasar tradisional meredup dan (terlebih) berubah wujud jadi mal-mal mewah dengan harga kios yang hanya bisa dijangkau kantong pedagang sekelas cukong. Interaksi sosial yang akrab antara penjual dan pembeli di 'pasar becek'(yang kuat dengan motif ekonomi sekalipun)selalu menggelitik syaraf rindu. Di sana, tak ada penjual yang senyam-senyumnya suka dipaksakan layaknya pramuniaga di pasar swalayan. Di pasar tradisional, penjual sayur bisa senewen jika sayur dagangannya dibilang berulat. Tukang ikan bahkan bisa langsung mengumpat jika tongkolnya dibilang busuk. Terbuka saja. Dan pembeli memang tak harus selalu jadi raja. Wong zaman demokrasi begini.

Akhirul kalam, dari sehebat-hebat pasar swalayan modern yang semilir dengan AC dan kesiur wangi para pramuniaganya, saya tak pernah lagi mendapati 'atraksi dagang' yang penuh kejutan, pelajaran strategi 'pricing' abang 'bantingan', dan...apalagi, 'sex education' tangkur buaya.

_______________________________
*Untuk Adikku tersayang, Ebiet : (kau belum lahir) Dan aku sudah (pernah) berdagang di sini, bahkan ketika aku belum bisa menghapus ingusku sendiri. Bersama Emak.