Jumat, 29 Juli 2011

Happy English di Planet Satwa





Seruas jalan beraspal kasar dan berlubang di kawasan Gedong Panjang, Penjaringan, Jakarta Utara, itu tak henti mengepulkan debu. Sengat mentari begitu terik. Atap pos ronda, pagar, dan pohonan berpupur debu. Di satu sudut kolong jembatan yang pengap dan sumpek, kerumunan orang yang mayoritas anak-anak duduk lesehan. Lainnya berdiri berdesakan.

“Siapa yang mau pegang ulaaar..!,” Bintang Dwi Nugroho Respati separuh berteriak melalui corong megaphone di tangannya.
Sayaa..! Sayaa…!” Sejumlah bocah usia SD itu pun merangsek maju.

Teguh Prasetyo Budi yang siang itu memegang seekor Boiga dendrophilla sepanjang hampir dua meter, hanya senyum-senyum begitu jari-jari mungil para bocah mulai meraba tubuh ular berbisa menengah yang juga dikenal sebagai ular cincin emas itu. Wajah kanak-kanak yang riang.

Ya, Ahad (24/7) lalu menjadi hari yang cukup istimewa bagi tak kurang dua ratusan anak yang mayoritas tinggal di sekitar jalan tol Gedongpanjang, Penjaringan, Jakarta-Utara. Orang tua mereka berasal dari beragam latar belakang sosial ekonomi. Buruh serabutan, pedagang kecil, dan sebagainya.

Selain materi pengenalan satwa liar dari spesies mamalia yang disampaikan oleh Mbak Imenk dari Planet Satwa, rekan-rekan pecinta reptil depok yang tergabung dalam Deric Education, berperan besar dalam acara yang juga dihadiri host serial “Jejak Petualang” (TV 7), Herna Tyo. Tyo bahkan tak segan turun tangan membantu menyiapkan property dan alat peraga berupa aneka reptile dan satwa koleksi Deric Education maupun pribadi. Beruntung, acara hari itu juga kian ramai oleh dukungan sumbangan ratusan botol sirup dari kolega Happy English serta dari PT. Unilever berupa sampo, sabun, hingga deodoran. Tak ketinggalan majalah Flona dengan sumbangan berupa puluhan eksemplar majalah yang temanya relevan dengan materi edukasi hari itu.

Nah.., jadi kita tak perlu membunuhnya. Kita bisa menggunakan alat-alat sederhana seperti ini untuk mengusir ataupun mengendalikan ular yang masuk rumah,” terang Abas Nyak Agil Mamih sembari meraih sapu dan pengki. Dibantu Teguh Prasetyo Budi yang juga sesepuh Deric Education serta Roy, Averoes Oktaliza, Arby, Muhammad Nurwanta, dan pegiat Deric Education lainnya, bergantian materi penanganan ular dipaparkan di hadapan anak-anak yang sangat antusias itu. Empok-empok yang berdiri di belakang anak-anak tak kalah antusias. Sesekali mereka menutup mulut sembari mata mendelik melihat tangan seorang relawan Planet Satwa sengaja digigitkan pada seekor ular guna rekonstruksi penanganan gigitan ular. Aiiihhh..!

“Siapa yang mau digigiit..!,” seorang relawan berteriak. “Saiyyyyaaaaa….!,” beberapa anak maju ke depan dengan gagah berani. Giliran relawan Planet Satwa sejenak mati kutu. Hehe…dasar bocah.

“Mengenal dan mencintai satwa harus dimulai sejak dini. Ini yang ingin ditanamkan pada anak-anak Happy English, sebuah kelas bahasa inggris di kolong tol Penjaringan, Jakarta Utara, bersama dengan komunitas Planet Satwa,” papar relawan humas Happy English Nancy P. Martawardaja yang akrab dipanggil Ecy dalam rilisnya (26/7) terkait program edukasi bertajuk “Happy English Juga Sahabat Satwa".

Ecy mengimbuhkan, seringkali manusia tidak menyadari bahwa satwa berperan sebagai penyeimbang kehidupan. “Tidak ada suatu ciptaan apapun yang diciptakan oleh Tuhan tanpa maksud, oleh karena itu kami ingin anak-anak Happy English mencintai dan memperlakukan satwa dengan baik serta tidak melakukan penyiksaan”.

Anak - anak yang mengikuti program edukasi ini merupakan siswa Happy English yang biasa belajar di kolong tol Penjaringan. Anak - anak tersebut bukanlah anak anak jalanan, pengemis ataupun pengamen. Mereka bersekolah dan memiliki orang tua yang bekerja sebagai buruh ataupun pedagang kecil. Dalam keterbatasan fasilitas dan lokasi belajar, sedikitpun semangat mereka tak redup kala mengikuti kelas yang diadakan para relawan.

Kelas Happy English diadakan sebulan dua kali dengan tempat belajar berlantai semen beralaskan terpal. “Kami dari Happy English memiliki visi yang sama dengan Planet Satwa dalam memperlakukan satwa, kami ingin anak – anak mencintai dan menjadikan satwa sebagai sahabat mereka. Oleh karena itu, kami senang sekali bisa mendapat edukasi langsung dari teman – teman Planet Satwa, yang memiliki pengetahuan mumpuni tentang satwa “ terang Ecy.

Harapan Ecy dan kawan-kawan Happy English terkait tradisi memperlakuan satwa secara layak patut didukung. Pasalnya, untuk satwa liar, misalnya, tak sedikit dari anak-anak itu yang belum mengenalnya lebih dekat.

“Kamu pernah ketemu ular?,” tanya saya pada seorang peserta bernama Sadam (9). Bocah bertubuh gemuk itu hanya tersenyum sembari memainkan buku tulisnya. Tiba-tiba matanya berbinar. “Pernah!,” Sadam tersenyum.
“Ular apa?,” Saya menyelidik.
“Ular kobra!,” jawabnya mantap sembari menuding seekor ular kobra dalam boks kaca milik relawan Planet Satwa yang siang itu menjadi salah satu materi edukasi.
Oohoh, itu tho...

Menurut Abas Nyak Agil Mamih, inisiator Planet Satwa, selama ini pemahaman publik terkait satwa liar masih sangat kurang. Bahkan untuk hal-hal yang mendasar. “Dampak paling umum adalah munculnya persepsi keliru tentang satwa. Berikutnya, muncul tindakan atau perlakuan yang juga tidak tepat terhadap satwa liar yang masuk ke habitat manusia,” papar Agil dalam satu kesempatan. Karena itu edukasi dasar terkait satwa liar maupun domestik perlu diberikan sejak dini.

Agil, mantan pramugari maskapai penerbangan Garuda yang juga pengasuh satwa telantar, itu lantas mencontohkan tindakan kebanyakan orang saat mendapati ular masuk perkampungan. “Biasanya langsung dibunuh tanpa berpikir panjang kenapa sampai ular masuk rumah penduduk,” ujarnya prihatin. Biar begitu, Agil tak sepenuhnya menyalahkan tindakan warga mengingat tak semua orang paham dan mampu mengatasi ular atau satwa liar yang nylonong ke rumah penduduk.

Itu pula yang melatari Agil dan rekan-rekannya menggagas Planet Satwa, belum lama ini. Tercatat sejumlah kalangan pemerhati dan penyayang reptil, mamalia, unggas, dan banyak lagi, mendukung inisiasi Planet Satwa yang saat ini bermarkas di kediaman Agil di kawasan Rawajati Timur III/1, Jakarta. Planet Satwa mengakomodasi siapapun yang memiliki kepedulian terhadap satwa tanpa memandang latarbelakang organisasi setiap indvidu yang telibat. Serta bersama-sama mengedukasi dan memberikan advokasi publik terkait paradigma yang tidak tepat dalam penanganan satwa liar maupun domestik.

(credit photos : Happy English)

Senin, 25 Juli 2011

Mencari Judul ke Sawarna



Mas, judulnya apa yah, buat tulisan KJS ku?. Aku kasih judul ‘Kartini Jungle Survival 2010’ tapi kata Redpel (Redaktur Pelaksana,-pen.) ku kurang menarik..”

Selarik kalimat muncul di layar hape Saya, pagi pertengahan Juli lalu. Si pengirim pesan, Yulia Qim Deebraska, seorang sekretaris yang gemar blusak-blusuk hutan dan gunung untuk menyalurkan hobi sport luar ruangan. Qim merasa punya utang menulis kegiatan KJS yang diikutinya setahun silam.

Kartini hutan kali, yah? Heheh..
Kartini Tanpa Kebaya!
Bingung, ah!

Kebingungan “kreatif” Qim, juga saya alami. Bukan hanya sekali, mungkin ribuan kali. Menjadi lain ceritanya jika tengah mengikuti lomba mengarang, misalnya. Inspirasi judul tulisan gampang didapat dari sederet tema yang diajukan panitia lomba.

“Tema tulisan ditentukan sebelum mulai menulis, judul menyusul setelah tulisan selesai”… Pesan Yohannes Ratoem, guru mengarang saya di SMP dulu. Wejangan Pak Ratoem itu tampaknya masih saya praktekkan sekarang, biarpun tidak selalu.

“Kasih saja dulu judulnya, ntar ketemu idenya!,” sergah Tengku Taufiqulhadi, mantan Redaktur Internasional harian Media Indonesia, ketika mengajari saya menulis hasil reportase maupun features, sekian tahun silam. Lah? Judul ditulis duluan atau belakangan? Depan kena belakang kena. Dua-duanya bisa dilakukan sesuai pilihan. Semakin terbiasa orang menulis, soal judul bukan lagi perkara sulit…

Oke lah, Qim… Saya mau menulis perjalanan kecil ke Pantai Sawarna, Lebak, Banten. Mungkin kamu sudah pernah menghirup wangi anginnya. Lembut pasir kuning tembaga nya. Di salah satu ceruk pantai, sunyinya serasa menggetarkan.

Pagi 16 April itu, Tim Ogden dan Penny Davis sudah menunggu saya di depan bungalow Villa “QS”, masih di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi.
Ya, kami berniat trekking dari Pantai Pelabuhan Ratu ke Sawarna. Penny bekerja di Kedutaan Besar Australia. Tim, pacar Penny, datang langsung dari Australia atas ajakan Penny. Botol ketemu tutup, saya akan memandu mereka sehari penuh tepat ketika kantor tengah prei.

Keduanya ke Pelabuhan Ratu diantar Susilo, sopir Kedubes Australia. Laki-laki paruh baya asal Imogiri, Bantul, itu mengaku sudah belasan tahun nyopir di kedubes. “Anak saya kuliah, ya dari hasil nyopir ini, Mas..,” ujar Susilo sembari tersenyum. Kumisnya baplang, tapi wajahnya ramah cenderung kekanakan. Tipikal orang yang gampang akrab dengan siapa saja.

“Jadi, jam berapa kita akan mulai?,” ujar Penny mulai tak sabar sembari memilin rambut coklat muda sebahu yang dikucir ke belakang. Menyembul dari celah belakang topi kain warna khaki yang bertengger di kepalanya. Ia sudah siap dengan kemeja lengan panjang digulung sebatas siku, celana pendek warna hitam dan sepatu treknya. Cantik. “Jam 6.30 mulai jalan. Cuaca akan cerah cenderung panas. Habiskan dulu sarapanmu,” saya menukas. Di meja makan tak jauh dari resepsionis sarapan sudah siap. Sepiring nasi goreng, paha ayam dan telur mata sapi. “Delics, enyaak..,” Penny melirik saya sembari mesem.

“Hmm, kamu sudah pernah trekking sebelumnya?,” ujar saya kepada Tim. Mulutnya mengunyah irisan timun dan selada. “It’s my first!,” terang Tim nyengir. Oalaah, Mas

Kami menargetkan sampai Pantai Sawarna sebelum petang. Dari sana, mobil jemputan akan mengantar kembali ke Villa untuk menginap hingga keesokan hari sebelum kembali ke Jakarta. Trek yang akan dilalui kombinasi antara susur pantai dan menjelajah beberapa bukit kecil. Ada peta besar terpasang di dinding anyaman bambu, persis di samping meja resepsionis.

Sedikit molor dari rencana, kami baru start pukul 06.45. Diantar Susilo, kami harus bermobil sekira 15 menit dari penginapan. Targetnya salah satu pintu masuk perkebunan karet milik PT Perkebunan Nasional (PTPN) setempat.

Perjalanan singkat kami lalui menyusuri jalan setapak bertekstur kasar menyusuri kebun karet. Tak genap setengah jam ketika hampar laut kembali tampak, nun di bawah sono…
Tak sulit mencium bibir pantai terdekat yang berbatasan dengan hampar tanaman padi dan perkebunan kelapa milik warga. “Paddy field..! Paddy field..!,” setengah memekik Tim menunjuk hampar sawah yang tak begitu luas. Oho, rupanya baru pertama kali ia melihat dengan mata kepala sendiri rupa tanaman padi. Dasar ndeso!

Di bibir pantai dengan ceruk kecil menjorok ke laut, kami istirah sejenak. Saatnya ngopi kesiangan. Termos kecil berisi kopi dan teh panas sudah kami siapkan. Penny dan Tim minta teh, saya pilih ngopi.

Udara mulai panas menyengat. Tim dan Penny melepas sepatu. Angin laut serasa menampar pagi itu. Kepingan batu aneka warna di sekitar saya mengingatkan saya pada Pantai Kota Agung di Selatan Lampung. Saat Sekolah Dasar, di kala senggang saya dan teman-teman sesekali menyinggahi pantai landai itu. Naik truk dengan ongkos seratus rupiah seorang. Saat itu, rata-rata harga permen Rp 25 dapat lima butir.

Eii…! Ei..!…Noo..!,” pekikan Penny membuat saya terperanjat. Hah! Sejoli itu berlarian menjauh. Main kejar-kejaran di hampar pasir lembut berwarna kuning tembaga.

Ngopi, ngemil biskuit, mengunyah beberapa kerat buah pir dan apel. Perjalanan kami teruskan. O, ya, tak lupa saya pungut beberapa butir batu seukuran telur bebek. Warnanya menarik, merah saga dengan gurat biru setengah lingkaran. “Untuk apa batu itu, Prio?” Tanya Penny setengah menyelidik. “Oh, bebek saya belum bertelur. Menaruh ini di sarangnya mungkin akan memacunya untuk bertelur!,” jawab saya sekenanya. Penny berkacak pinggang mendekati saya. Matanya setengah mendelik, menampakkan mukanya yang kemerahan dengan totol-totol coklat hampir merata. Nyengir, saya menyingkir.

Hampir tengah hari. Lansekap mulai dominan oleh tebing-tebing tinggi dengan pepohonan mirip bonsai. Dilihat dari bentuk daun dan epidermis kulitnya sepertinya dari jenis Ficus benyamina. Gerumbul pandan laut tak lagi nampak.

Laut, debur ombak, pasir… Laut, debur ombak, pasir…begitu sampai kami mulai membuka bekal makan siang. Nasi, semur ayam, dan capcay goreng yang dikemas dalam boks plastik. Penny dan Tim tak mengeluh dengan menu itu.
Sahabat saya Krystyna Krassowska (KK) yang mengajari saya soal menu itu. Di tulisan berikutnya saya akan cerita soal londho edan yang satu ini.

“Ngapain kamu orang Indonesia menyajikan makanan orang asing untuk tamu-tamu kamu. Sajikan makanan khas kamu sendiri, doong! Mereka datang kan, mau belajar, mencoba sesuatu khas lokal” ujar KK suatu ketika. Saya manggut-manggut. “Tapi tanya dulu kalau mau pake sambel,” KK nyerocos lagi. Okay, mpok!

Mendekati pukul dua siang, kawasan Pantai Sawarna mulai nampak. Gulungan ombaknya besar, susul menyusul. Di kejauhan, beberapa surver mulai memainkan papan selancarnya.

Sejauh ini, kami sudah menempuh waktu tak kurang 7 jam. Dan memang tak terasa berlalu secepat itu. Kami putuskan untuk ke penginapan secepatnya, sore itu juga. Kami harus melewati perkempungan kecil sebelum sampai ke tempat Susilo menunggu dengan mobil jemputannya. Kampung bertabur home stay. Mirip pelosok gang sekitar Pantai Kuta dengan lalu-lalang turis asing yang menenteng papan selancar. Bedanya, di sini sesekali terdengar celetukan dalam bahasa sunda…

Kamis, 07 April 2011

Wawancara Mr. Mehta



Mr. Rajiv I.D. Mehta,
Development Director, ICA Asia Pacific

“Daya Cooperativisme Lebih Hebat dari Parpol!”


Menarik berdiskusi dengan Mr. Mehta. Sesekali, laki-laki dengan rambut ditumbuhi uban itu menepuk bahu lawan bicaranya manakala mencoba meyakinkan jawabannya. Hangat dan akrab. Tak ada jalur instant menuju ekonomi rakyat yang kuat dan berdaya manfaat. Kebijakan inkonsisten dari pemerintah disebutnya mengganjal penguatan ekonomi rakyat. “Kalau komunitas ekonomi rakyat, federasi koperasi, organisasi koperasi kuat dan solid, ini bisa lebih “menakutkan” sekaligus persuasi paling kongkret daripada partai politik terbesar sekalipun,” ujar
paruh baya yang yang berkantor di 9th Aradhana Enclave, RK Puram, New Delhi itu, dalam wawancara dengan Saya awal Juli setahun silam. Karena cukup menarik, fragmen wawancara ini saya “repost” di blog ini, ee.. siapa tahu ada gunanya. Monggo disimak.



Pemerintah Indonesia mengembangkan program kredit mikro dan kecil dengan lembaga perbankan nonkoperasi yang dikenal dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang debiturnya adalah kalangan usaha kecil dan koperasi. Pendapat Anda?


Saya kemukakan, strategi apapun yang tidak mencoba meletakkan diri pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tidak akan bertahan lama. Anda pasti tahu bahwa koperasi punya prinsip. Menolong diri sendiri, transparansi, kejujuran, keadilan, memiliki tanggung jawab yang sama untuk mensukseskan koperasi. Otoritas praktek pengelolaan dipegang oleh anggota. Itu tidak bisa disubtitusi oleh pihak lain, bahkan pemerintah.


Anda mau mengungkapkan bahwa program itu (KUR) tidak akan efektif?
Kita harus percaya, dan ini harus dipahami bersama, bahwa koperasi bisa pegang peranan sentral dalam perekonomian. Termasuk dalam mengatasi persoalan finansialnya melalui program-program yang lebih memungkinkan koperasi merepresentasikan kepentingan ekonomi anggotanya.


Di Indonesia ada Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk warga tak mampu. Dana diberikan langsung tanpa agunan dan tanpa cicilan. Tanggapan Anda?
Program pemberdayaan untuk meningkatkan taraf hidup anggota masyarakat lokal yang paling miskin dan tidak beruntung sangat dibutuhkan. Tapi memang bentuknya berbeda, karena sebaiknya memang diikuti dengan pemberdayaan. Tidak diberikan dalam bentuk uang kemudian dibebaskan penggunaannya begitu saja. Kualitas pelayanan mitra kerja dan Otoritas Pengembangan Masyarakat Lokal, peningkatan bagi personel dalam hal kesehatan, pendidikan, pendapatan keluarga, serta keamanan pangan, merupakan bagian yang harus diintegrasikan. Dana sebanyak apapun tanpa pengorganisasian yang tepat akan sia-sia. Adanya penguatan kelompok swadaya masyarakat dan akses ke sumber-sumber pemberi pinjaman formal.


Apa salah satu indikator keberhasilan pemberdayaan untuk peningkatan taraf hidup?
Salah satunya adalah adanya penguatan kelompok swadaya masyarakat dan akses ke sumber-sumber pemberi pinjaman formal. Lainnya adalah terbinanya setidaknya 50 % Organisasi Berbasis Kemasyarakatan (Community Based Organizations) dan terselenggaranya kegiatan pengembangan melalui kerjasama dengan lembaga lokal di pedesaan. Itu semua tidak instant. Diawali dengan membantu dan memfasilitasi masyarakat dalam menerjemahkan rencana tindak lanjut masyarakat atau rencana-rencana pembangunan desa ke dalam rencana prioritas. Juga membantu masyarakat dalam penyusunan proposal proyek, mendapatkan persetujuan proyek dan dan. Proyek-proyek kecil berhasil terlaksana dengan dukungan yang baik.Serta tak bisa ditinggalkan adalah menyusun monitoring berbasiskan kemasyarakatan dan penjajakan implementasi proyek serta melembagakan kerangka pendokumentasian investasi proyek-proyek mikro. Meningkatnya pendapatan/ketersediaan pangan, kesehatan, gizi, tingkat pendidikan sebanyak 75% rumah tangga. Semua desa masing-masing memiliki paling sedikit satu organisasi kemasyarakatan. 80% basis komunitas melibatkan kaum perempuan sebagai peserta aktif dan memiliki peran penting dalam manajemen juga dalam kegiatan sehari-hari mereka. 80% LSM menunjukan kinerja dan pencapaian yang baik.


Kompleks sekali, Anda punya pengalaman pemberdayaan serupa program BLT?
Ya, pengalaman pemberdayaan warga paling miskin di Andhra Pradesh Utara, India, sering saya kemukakan dalam banyak forum. Tapi berbeda dengan kasus di Indonesia yang Anda kemukakan. Pemberdayaan itu tidak sederhana, bukan memberikan uang begitu saja. Program itu difokuskan untuk meningkatkan kesehatan, pendidikan, pendapatan keluarga dan terjaminnya ketersediaan pangan bagi 235 ribu rumah tangga di 4 distrik Andra Pradesh secara signifikan dan berkesinambungan melalui perkuatan organisasi berbasis yang memiliki kapasitas dalam hal perencanaan dan pengelolaan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Koperasi memiliki kapasitas untuk itu, terutama untuk sektor ekonomi dan pemberdayaan sumberdaya manusianya. Program peningkatan, pendidikan, dan peningkatan pendapatan keluarga tentu terlalu naïf jika hanya melalui pemberian bantuan dana begitu saja. Program itu sukses menyelenggarakan proyek-proyek mikro mengenai pendapatan, kesehatan, keamanan pangan, akses jalan, air dan sanitasi serta perlunya infrastruktur pendidikan bagi masyarakat setempat. Warga mendapatkan pelatihan dalam hal pendidikan, kesehatan, nutrisi , micro-finance dan ketersediaan mata pencaharian. Sedikitnya 1 proyek kecil dapat dituntaskan dengan berhasil di masing-masing kelompok masyarakat. Memberikan pelatihan bagi anggota kelompok swadaya dalam hal manajemen kelompok, manajemen kredit, layanan pengembangan usaha, dan aspek-aspek legal, dsb. Melaksanakan program untuk meningkatkan kepekaan bagi para bankir dan lembaga-lembaga pemberi dukungan dana. Menghubungkan kelompok-kelompok dengan lembaga-lembaga pemberi pinjaman yang ada.


Apa peran pemerintah terkait hal di atas?
Gerakan koperasi masih membutuhkan dukungan terkait kebijakan nasional yang konsisten dan terukur. Pemerintah lebih ke aspek regulator dan tidak terlibat terlalu jauh. Harus bebas dari pengaruh politik, dan koperasi harus mampu memperkuat kompetensi dan keuntungan komparatif.


Apa yang harus dilakukan, bahwa koperasi kompetitif dan memiliki keuntungan komparatif?
Banyak hal bisa dilakukan. Itu sudah bisa dilakukan di banyak negara. Koperasi harus secara agresif mampu memasarkan keuntungan atau kelebihan komparatif mereka yang berbeda dengan badan usaha lain. Krenanya, koperasi harus fokus pada peningkatan kapasitas anggota, manajemen, dan pengurusnya. Harus meningkatkan daya saing. Saya melihat criteria itu diadopsi oleh koperasi yang berhasil, tak itu di Swedia atau Vietnam.


Melihat trend ekonomi global, bagaimana peluangnya?
Harus diakui, perkembangan ekonomi saat ini semakin rumit. Dari teknologi, system berikut inovasinya. Permasalahan jadi lebih kompleks, termasuk ekses sosialnya. Tapi bisa anda simak, sebuah koperasi di Vietnam bahkan sanggup mendonasikan US$ 60 ribu per tahun untuk program-program sosial. Jumlah yang tak kecil untuk negara berkembang seperti Vietnam. Untuk membantu mengatasi kemiskinan, korban perang, bencana alam dan lain-lain. Kita bisa belajar dari situ, kompleksitas bisa memacu kita menjadi lebih kompetitif.


Masalahnya di Indonesia pemodal asing demikian menguasai sektor ini
Maka itu seperti saya katakana tadi, regulasi harus konsisten dan terukur. Pemerintah setidaknya bisa membaca trend global. Geraqkan koperasi harus bergerak untuk membangun argumen yang menguntungkan mereka.

Masalahnya, koperasi di Indonesia sangat lemah di sektor politis dibanding partai politik atau kelompok penekan dari pemodal besar?
Itu dia, tugas koperasi harus agresif mampu menawarkan kelebihan komparatifnya. Itu tak mudah. Sebab, koperasi harus bebas dari pengaruh politik sedangkan bisnis seringkali menjadi bagian integral, bahkan bisa mengarahkan. Melihat kondisi di Indonesia, yang masuk ke politik pasti akan berada dalam jaring laba-laba yang terkoneksi dengan pusaran politik praktis.
Kalau federasi koperasi, organisasi koperasi kuat dan solid, daya koperasi lebih hebat sekaligus persuasi paling kongkret daripada partai politik terbesar sekalipun, dalam mengambil keputusan publik.


Bisa mempengaruhi keputusan politik dong?
Jangan salah, petani-petani di Jepang memiliki basis representasi di partai LDP yang legendaris itu. Kebijakan PM yang tak sesuai bahkan bisa mereka gagalkan. Koperasinya tangguh, petaninya kuat, padahal sedikitpun mereka bukan (negara) agraris.


Lantas, apa faktor yang selama ini menjadi kendala dalam pengembangan koperasi di Indonesia menurut Anda?
Masalah sumberdaya manusia, permodalan, dan manajemen suplai, dan manajemen bisnis masih jadi kelemahan dominan. Ini bukan hanya problem Indonesia, kebanyakan negara-negara berkembang juga begitu.


Anda punya resep agar cooperatives movement di Indonesia memiliki posisi tawar kuat di ranah ekonomi dan politik?
Of course. Selalu mulai dari dalam. Perkuat internal koperasi dari level paling bawah (primary). Luruskan organisasi dan bisnisnya, dan jangan terjebak elitisme. Persoalan juga pada bagaimana koperasi mampu memainkan peran yang lebih besar dalam melawan kemiskinan dengan memimpin aksi nasional yang dapat diimplementasikan gerakan koperasi yang bermitra degan pemerintah dan kekuatan pembangun lain sebagai mitra. Ini juga terkait dengan program Millennium Development Goals (MDGs), sehingga diharapkan dapat mencapai kemajuan substantive untuk mengatasi problem kemiskinan, kelaparan, masalah penyakit, buta huruf, degradasi lingkungan dan perlawanan terhadap diskriminasi perempuan.


Secara internal cooperatives movement?
Memperkuat relasi dengan anggota itu sudah pasti. Membangun strategi konsolidasi bagi kelangsungan mekanisme intitusi koperasi untuk mencegah intervensi ekternal yang merugikan. Perlu juga mendokumentasikan praktek-praktek dan pengalaman yang baik untuk mempersiapkan road map bagi aksi yang akan datang dengan model pengalaman yang sukses di tiap negara.



Biodata
Mr. Rajiv I.D. Mehta
Bergabung sebagai direktur ICA Asia Pasifik sejak 2004, Mehta adalah jebolan pasca sarjana bidang biologi radiasi dan manajemen financial. Kariernya membentang 24 tahun di bidang pembangunan. Selama 21 tahun (1980-2001) ia kenyang berkecimpung di koperasi dan selama 3 tahun berikutnya (2002-2004) menjadi delegasi komisi Eropa di India bagi pengembangan koperasi dan NGO. Mehta mengkhususkan diri dalam program-program pelatihan pengembangan bisnis koperasi. Pernah juga berkiprah di ICA Asia Pasifik antara 1990 dana 2001.

"Betoorr.., Betoorr..,Tolong Bawa Saya.."



Tak butuh waktu lama untuk bersepakat harga dengan Usmandi Jambe. Laki-laki paruh baya berkulit legam yang tak henti mengembuskan asap rokok, itu akhirnya bersedia mengantar saya keliling pinggiran Kota Padang dengan ongkos Rp 20 ribu menggunakan betor. Betor, becak motor, bercat dominan hitam itu merupakan kombinasi antara sepeda motor, lazimnya produk Jepang, dengan body becak. Angkutan macam ini di beberapa daerah di Sumatera memang lazim. Kali ini saya mendapatinya di kawasan Simpang Siteba, Kota Padang.

Bicara nasib, Betor kreasi urang awak ini tak jauh beda dengan becak di pinggiran Kota besar pada umumnya, terpinggirkan. Pemerintah Kota Padang, yang harus diacungi jempol untuk perkara menata jalanan kota sehingga selalu tampak resik, itu melarang ‘betor” berkeliaran di dalam kota. Alhasil, saya harus puas keliling pinggiran kota mulai dari perempatan Siteba ke Gunung Sarik, kemudian melalui jalan tikus menyusuri Pantai Padang.

Becak motor van Padang ini memang maha perkasa, sanggup mengangkut 4-5 orang dewasa, belum termasuk si abang yang menyetir becak tentunya. Alhasil, hiruk pikuklah setiap betor penuh penumpang tengah melintas. Jika pun penumpangnya hanya seorang, muatannya dapat dipastikan bejibun. Seperti pada sebuah pagi, akhir Mei silam, terlihat seorang ibu menumpang betor yang sekaligus sebagai armada angkut belanjaan berupa 'segunung' daun singkong dalam buntelan kain.

“Sekarang Abang paling banyak bawa pulang Rp 25 ribu dari menarik betor, dulu bisa sampai Rp 75 ribu,” papar Usmandi. Bapak dua anak asli Siteba ini sudah lebih dari sepuluh tahun narik Betor. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ekonomi keluarga Usmandi masih ditopang oleh istrinya yang memiliki kios buah di Pasar Siteba. Betor yang saya temui di pinggiran Kota Padang itu terlihat kaya dengan sentuhan modifikasi. Mulai dari sekedar hiasan tudung becak hingga stang motor yang diganti dengan setir mobil.

Betor, berikut rupa-rupa nasib penariknya, sebetulnya bukan monopoli Kota Padang. Di Aceh dan Sumatera Utara, becak motor juga memiliki tradisi panjang sebagai pelaku ekonomi rakyat yang seringkali terpinggirkan oleh arus modernisasi. Di kota-kota tersebut, becak motor memiliki ciri khas masing-masing. Di Pematang Siantar, misalnya, betor tampak unik dengan pemakaian motor besar tempo doeloe bermerek BSA (Birmingham Small Arms). Konon, betor di Siantar bahkan menjadi maskot.

Beda pula dengan becak motor di kota Padang Sidimpuan. DI sana vespa dimodifikasi sebagai betor. Potongan becaknya nyaris sama dengan betor di Siantar, hanya rodanya dibuat lebih kecil untuk mengimbangi ukuran roda vespa. Jadi, siapapun yang menumpang betor ini akan terlihat “ditelan” bodi becak. Di Tebing Tinggi, malah bikin heran, betapa tidak, motor-motor berharga belasan hingga puluhan juta rupiah berjenis sport pun disulap jadi betor. Sebutlah Honda Tiger, Suzuki Thunder, hingga Kawasaki Ninja. Eeng..ing..eeeng..

Kamis, 23 Desember 2010

Sepotong Jumat di Cut Mutiah







Om..koran, Om..gopek..!”

Bocah laki-laki yang belum genap tujuh tahun itu menyodorkan lipatan koran bekas kepada saya. Bercelana hitam selutut dan kemeja batik warna biru pudar, copot satu kancingnya. Menampakkan bulatan pusarnya. Di tas sekolah bergambar Spiderman, masih menumpuk lipatan koran bekas yang dibanderol gopek (Rp 500,-) per “eksemplar”.

Fuad namanya. Mengaku berumah di Gang Ampiun, tak jauh dari Pasar Cikini, Jakarta Pusat. Saban jum’at, Fuad jalan kaki sekitar tiga kilometer dari rumahnya menuju Masjid Cut Mutiah. Keluar Gang Ampiun, Fuad menyusuri Jalan Cikini Raya, persis di depan Stasiun Cikini. Kaki kurusnya segera saja menapaki trotoar menuju kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM). Di emperan nan jembar depan TIM, kawan “seprofesi” Fuad telah menunggu. Tak genap limabelas menit jalan kaki, mereka sudah berhadapan dengan Masjid Cut Mutiah yang kuno dengan cat dominan putih.

Koran-koran bekas, tiap lipatan berisi rata-rata dua lembar (4 halaman koran) itu dipakai alas duduk orang-orang yang akan salat jum’at di beranda masjid yang dulunya bekas kantor Mister Pieter Adriaan Jacobus Moojen, nun lebih tigabelas dekade silam. Entah, sudah berapa penggal jumat saya habiskan di sini. Ini memang salah satu lokasi jumatan yang nyaman dan terdekat dengan kantor saya. Selain di masjid belakang Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Biarpun sudah membawa sajadah dari kantor, saya terima juga tawaran Fuad. Selembar uang seribuan bertukar dengan koran bekas. “Makasih, Om!,” balas Fuad Datar. Perawakannya yang ceking lantas menghilang diantara kerumunan orang. “Koran, Om.. Cuma gopek..!”

Ada lusinan bocah sebaya Fuad di pelataran masjid itu. Selain koran bekas, sebagian menawarkan potongan kertas kecil bertulis angka-angka. Ini untuk pengunjung masjid yang enggan menanggung resiko pulang salat jumat dengan kaki cakar ayam. Sandal atau sepatu sama belaka ongkos titipnya, seribu perak. Rak-rak kecil tempat menyimpan sandal dan sepatu tersusun rapi di bawah tangga masjid.

Berapa kira-kira turn over jasa penitipan sandal dan sepatu itu? Jika limaratus pasang sandal dan sepatu saja yang diparkir di sana, ada perputaran uang setidaknya Rp 500 ribu setiap jumat. Ini belum termasuk lebih tigaratus sepeda motor yang ongkos penitipannya Rp 2.000. Saya belum tahu, bagaimana mereka membagi-bagi kue “bisnis”nya. Berapa persen pula yang masuk ke kas masjid.

Di masjid-masjid yang menggelar salat jumat lazimnya akan kembali sepi begitu ritual usai. Sebaliknya, keramaian masjid berarsitektur Art Noveau ini justru mencapai puncak setelah imam salat jumat menyudahi rakaat terakhirnya. Mugkin lebih limaratus orang menghambur keluar dari ketiga lantai yang bisa dipakai salat. Menuruni anak-anak tangga nan sempit. Angin semilir menampar wajah melalui jendela-jendelanya yang lapang.

Di beranda masjid, hampir tak ada sudut yang tersisa dari serbuan lapak-lapak kecil yang digelar seadanya. Di beranda depan, di sisi kiri dan kanan, hingga luber di sepanjang jalan Cut Mutiah. Persis di halaman depan masjid, tingkat okupasi pedagang tiban terhadap ruang publik itu hampir paripurna. Jika anda tengah melongkok pedagang pisau pemotong aneka sayuran jangan kaget jika saat bersamaan pantat anda bersinggungan dengan pantat pengunjung yang tengah menyimak promosi penjual minyak pelebat jenggot.

Di emperan depan yang sedikit lebih luas dari lapangan basket, saya mencatat ada lebih dari 30 pedagang tiban. Macam-macam barang dijajakan di sana. Mulai dari pakaian anak, VCD bajakan, es cendol, klep pengaman tabung gas, obat sakit gigi, minyak lintah, hingga tahu gejrot.

Dipilih ! Dipilih! Dipilih..!” teriakan itu bersahutan dari satu lapak ke lapak lainnya.

Siang yang pikuk. Biarpun tak beli apapun, saya suka saja salat jumat di pasar, eh, Masjid Cut Mutiah. Malahan lebih nyaman duduk beralas koran atau sajadah sembari menunggu dimulainya shalat jumat di emperan masjid yang bisa menampung seribuan jamaah itu. Juga karena beberapa pokok angsana dan palem botol yang tumbuh meraksasa menghadirkan hawa silir tak terkira. Tajuknya rimbun, puluhan burung senang nangkring di sana. Bersiul. Juga buang kotoran dan menimpa tubuh atau kepala orang-orang yang ada di bawahnya. Pluk!


Sepotong ingatan saya, inilah beberapa komoditas yg dijual di halaman masjid Cut Mutiah, saban jumat :

1. Kemeja casual dan batik ( Rp 30 ribu – Rp 75 ribu berbagai merk)
2. Jam tangan aneka merek (mulai Rp 25 ribu. Jam Casio G-Shock yang di dealer resmi paling murah di atas Rp 400 ribu, di sini cukup Rp 80 ribu! Jangan konfrontasi soal asli tidaknya sama Si Abang bakul jam)
3. CD/VCD/DVD bajakan (Rata-rata Rp 5 ribu sebiji. Ketika Film “Eat, Pray n Love” yang setting pengambilan gambarnya sebagian di Bali itu blom diputar di bioskop, saya mendapati DVD nya beredar di sini. Gambarnya lumayan. Tapi jangan ditiru, nonton DVD palsu! )
4. CD pria (Celana Dalem. Mulai Rp 18 ribu per pack isi 3 potong).
5. Majalah anak (Bobo lawas, Ipin dan Upin, buku mewarnai, Rp 5 ribu isi tiga buku)
6. Batre hape ( belum pernah tanya harganya)
7. Kartu perdana dari beberapa operator telpon (Mulai Rp 5 ribu. Penjual dengan armada bermobil di luar kompleks masjid pramuniaganya biasanya cantik-cantik)
8. Minyak urut plus jasa pijat (Mulai Rp 10 ribu. Plus pijat tambah ongkos semau si pemijat. Lihai si Abang Pijat ini, sambil jualan dan klaim aneka manfaat, jari jemarinya yang kekar sibuk mengurut bagian tubuh “pasien” pria yang telanjang dada. Anehnya, sering saya dapati dari jum’at ke jum’at “pasien” yang diurut sama belaka )
9. Minyak lintah (Diklaim manjur untuk rupa-rupa sakit kulit, Rp 20 ribu per botol)
10. Kacamata terapi (warna-warni dengan lubang garis horizontal mirip teralis jendela kaca nako, Rp 25 ribu sebiji)
11. Ayam-ayaman pegas (Rp 10 ribu seekor. Warna dominan kuning ayam dan coklat ayam. Dari pengalaman saya beli dua kali untuk anak saya, sistem mekanik pegasnya sangat tidak awet. Sepuluh kali putaran biasanya si ayam mogok jalan)
12. Pisau dapur ( Si Abang biasa demo ketajaman si pisau dengan memotong lembaran koran. Tak jelas apakah ini pisau dapur atau pisau kertas. Mulai Rp 5 ribu sebuah)
13. Tahu gejrot (Rp 5 ribu per porsi. Ini favorit saya. Pas legit kuahnya dengan aroma bawang dan tekstur cabai rawit yang kuat.)
14. En cincau ( Rp 3 ribu segelas)
15. Kue rangi (Rp 5 ribu sebungkus isi 8 potong)
16. Gemblong manis ( Beli berapa biji saja boleh, Rp 5 ribu sebungkus isi 8. Mutu ketannya kurang bagus, kemungkinan besar dicampur tapioka).
17. Juadah bakar (Rp 1.000,- sepotong. Enak dimakan agak sedikit gosong. Menyamarkan kurangnya porsi tepung ketan)
18. Air nira dalam tabung bambu (Rp 3 ribu segelas)
19. Obat-obatan pabrikan aneka merk (obat china juga jamu jawa. Belom Tanya harganya)
20. Celana jeans dan pantaloon (mulai Rp 65 ribu)
21. Sabuk kulit sintetis (mulai Rp 25 ribu termasuk ongkos menambah lubang sabuk . Salah satunya saya pakai hingga sekarang dan belum ada tanda kerusakan hingga tiga bulan terakhir)
22. Sandal karet dan plastik (mulai Rp 15 ribu sepasang)
23. Sepatu kulit (mulai Rp 45 ribu)
24. Sarung hape ( Rp 10 ribu)
25. Casing hape ( Tidak pernah tanya harga. Hape saya awet bertahun tak pernah ganti)
26. Kredit mobil Suzuki (DP Rp 20 juta saja, angsuran mulai Rp 2,5 juta/bln)
27. Kaus dewasa dan anak (mulai Rp 10 ribu)
28. Pompa angin manual (bola, sepeda, sepeda motor, mulai Rp 15 ribu)
29. Kacamata baca (mulai Rp 10 ribu)
30. Perlengkapan sulap (belum pernah tanya harga, tak pernah suka disulap)
Di luar halaman masjid
1. Sate padang ( Rp 8 ribu per porsi isi 8 tusuk. Kuahnya lumayan gurih tapi dan potongan daging satenya lumayan anyep)
2. Celana dalam GT Man ( mulai Rp 25 ribu per pack isi 3 biji. Saya heran kok tak ada GT Woman)
3. Hape murah ( mulai Rp 260 ribu, biasanya BB!)
4. Kredit sepeda motor (mulai Rp 460 ribu/bulan tergantung nominal DP)
5. Burung dan kelinci (harga mulai Rp 50 ribu/ekor, burung pentet. Kelinci lokal asal Bogor mulai Rp 25 ribu seekor. Pecinta burung jangan kesini karena akan dibuat sedih melihat kemasan pembungkus burung yang serupa kantung gorengan dengan sejumlah kecil lubang ventilasi)
6. Rujak potong dan buah iris (Rp 2 ribu sepotong buah, rujak iris Rp 7 ribu seporsi)
7. Bakso Malang (Rp 7 ribu semangkok)
8. Gudeg Jogja (tak pernah niat tanya harga, sebab selalu dibuatkan Emak jika kebetulan pulang kampung)
9. Laksa Bogor (Rp 6 ribu seporsi dengan tahu putih besar, serpihan oncom yang gurih plus harum daun kemangi. Salah satu favorit makan siang saya usai jumatan. Sayang, air untuk cuci mangkoknya kurang terjaga kebersihannya. Satu ember 10 liter dipakai mencuci lebih dari dua lusin mangkok).
10. Lapak –lapak lainnya niscaya luput dari pandangan mata saya..

Selasa, 12 Oktober 2010

“Cinta pada Gigitan Pertama…Aouuww..!”





“Uhh..! Aaww..!”
Aji Fajri meringis menahan ngilu ketika Aji Rachmat mengurut berulangkali telunjuk kirinya yang mulai membengkak. Sore itu, tak banyak darah yang bisa dikeluarkan. “Bengkaknya lokal saja, kok. Tak menjalar terlalu jauh. Biarkan sistem imun tubuh bekerja. Daya tahan tubuh kamu bagus! ,” ujar Aji sembari sesekali mencelupkan jari telunjuk Fajri dalam segelas air panas untuk menghindari darah membeku. "Aww..aww..!"

Ya, darah Fajri harus dikeluarkan sebanyak mungkin dari sekitar luka. Biarpun hanya “keserempet” taring seekor Naja naja sputatrix kurang dari satu jam sebelumnya, tetap saja tak bisa disepelekan. Selain menimbulkan luka kecil tak jauh di ruas pertama jari telunjuk, dua benjolan nyaris sebesar kelereng tampak menyembul di ruas jari pertama dan kedua telunjuk kiri Fajri. “Kamu harus perbanyak makan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup,” Aji menambahkan.

Fajri beruntung. Jika saja bisa kobra terinjeksi maksimal ke aliran darahnya maka ceritanya akan lain. Tanpa penanganan yang tepat, gigitan seekor kobra bisa membunuh manusia dewasa tak sampai hitungan jam. Racun bisa seekor kobra menyerang darah dan sistem syaraf korbannya dalam sekali gigit.

**

Cuaca kawasan Situgintung, Ciputat, tangerang, cerah ketika Basic Training Muscle (BTM) Sioux, kembali dihelat untuk yang kedua kalinya tahun ini. “Ini BTM yang ke empat sejak 2008,” ujar Timmi Fibrin mencoba memastikan.

Seperti halnya BTM yang pernah saya ikuti, sekitar enam bulan sebelumnya, materi training dasar tak banyak berubah. Sekitar 17 peserta baru plus belasan muscle yang berniat up grading kemampuan, mendapatkan materi biologi ular, identifikasi ular, teknik handling ular, dan penanganan gigitan ular.

Dibandingkan dengan BTM yang digelar Maret silam, grouping dan rotasi sesi pelatihan terbilang efektif membantu peserta menyerap semua materi pelatihan. Materi Biologi Ular disampaikan Winniarlita Owien dan Ichsya ul Ulum. Dilengkapi Mamih Agil dan Aji Rachmat.

Bang Nandee yang mengisi sesi identifikasi ular, datang dari Bekasi berdua dengan “istri kedua” nya, seekor Raja Kobra (Opphiphagus hannah) yang dibuntel kain sarung. Entah, apakah selama perjalanan menuju Situgintung Si Raja bersin-bersin. Saya dan Rera jadi ikan remora yang memunguti remah-remah pengetahuan yang disebar Nandee. Dosen Bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan di Jakarta Timur, ini terlihat fasih mengurai klasifikasi beberapa spesies ular berikut jenis dan nama latinnya.

Mengenal klasifikasi ular serta berlatih identifikasi, memang penting. Dimensi ekologis juga masuk di dalamnya. Mulai dari habitat hidup hingga tipe aktifitas. Makanan dan cara berburu mangsa. Identifikasi fisik meliputi bentuk bentuk dan warna kulit hingga bentuk kepala dan tipe gigi (menentukan tingkat bisa).

Konflik-konflik antara manusia dengan ular, selama ini lebih dikarenakan kurangnya pemahaman manusia pada dunia ular dan karakternya. Dengan pemahaman yang memadai, kerugian yang ditimbulkan baik oleh manusia maupun ular akibat 'miskomunikasi', bisa diminimalkan. Ketakutan-ketakutan psikologis dan efek biologis dapat segera ditangani dengan benar.

Sebenarnya, sesi klasifikasi dan identifikasi ular bisa dikemas lebih menarik lagi. Saya punya pengalaman kecil yang bagi saya cukup berkesan terkait hal ini. Bukan ular memang, tapi klasifikasi dan identifikasi tumbuhan (plantae), ketika belajar anatomi tumbuhan di laboratorium biologi semasa kuliah, nun hampir 15 tahun silam.

Kala itu, setiap kelompok mahasiswa bertugas mengklasifikasi dan mengidentifikasi berbagai macam tumbuhan. Mulai dari anatomi fisik, morfologi, hingga perkembangbiakannya. Masing-masing anggota kelompok memegang buku laporan plus alat tulis.

Suatu kesempatan misalnya, dilakukan klasifikasi dan bedah anatomi tanaman singkong (Mannihot uttillisima). Dihadirkan organ-organ tanaman singkong di meja kerja. Preparat segar istilahnya. Berikutnya, masing-masing anggota kelompok menggambar sedetail mungkin anatomi salah satu bagian tanaman singkong itu serta dan diberi nama latinnya, di buku laporan masing-masing. Pada daun misalnya. Digambar mulai dari daun (folium), kemudian anak daun (foliolum), pertulangan, tangkai daun, dan seterusnya. Menyusul kemudian dibahas habitat, tipe perkembangbiakan hingga penyebaran. Perkara apakah umbi singkong nantinya lebih bagus dibikin getuk atau peuyeum, tak ada urusan.

Gambar tak harus bagus, tapi setidaknya mengandung komponen-komponen pokok yang harus diketahui ketika seseorang ingin mengklasifikasi bagian organ tumbuhan. Pengamatan visual, meraba, dan kemudian menggambarnya, niscaya akan mengaktifkan sekaligus motorik halus dan kasar dalam memahami preparat dan merekamnya dalam ingatan. Hasilnya, dengan metode itu, hingga belasan tahun kemudian, saya masih ingat rupa-rupa tumbuhan berikut klasifikasi dan morfologinya.

Mungkin ini bisa dicobakan pada sesi identifikasi dan klasifikasi ular. Anggota kelompok bisa mengamati dan mengambar sendiri fisik ular. Bentuk tubuh, tipe kepala, tipe gigi (dipandu instruktur), tipe dan rumus sisik! Dan seterusnya. Tak soal jika diktat atau buku-buku sudah menyediakan ilustrasi serupa. Ini soal proses. Bicara kendala teknis dari metode ini, bisa jadi soal manajemen waktu. Mengingat proses menggambar jelas lebih memakan waktu dibandingkan presentasi lisan.
Identifikasi ular, sekali lagi, merupakan entry point fase-fase pengenalan ular selajutnya.

Ibarat menaksir calon laki atau bini, pengenalan harus memadai agar tak timbul penyesalan di kemudian hari. “Melihat beberapa karakter ular, carilah suami yang bertipe kobra,” ujar Bang Nandee yakin. Hmm..

Entahlah, ini serius atau seloroh belaka. Kobra memang berbisa tinggi. So, patukannya maut. Dia agresif siang dan malam hari, pantang mengkeret menghadapi musuh.

Ah, mungkin ini soal selera. Masih tetap masuk akal jika tak sedikit perempuan yang lebih memilih laki-laki tipe sapi. Biarpun manut tapi royal mengucurkan susu, eh duit. Atau tipe gajah. Biarpun tambun dan terkesan alon-alon waton mlaku, dan malah disebut-sebut takut tikus, tapi teduh dan ngemong. Tapi jangan minta saya cerita soal belalainya. Bang Nandee mungkin lebih afdhol untuk menjelaskannya…

Lebih dari semua itu, saran saya yang sejak terlahir sudah laki-laki, janganlah memilih laki-laki tipe kutu atau tengu. Selain penakut dan inferior, gunanya apa coba?

**

“…Hari ini aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku... Membahayakan orang lain... Maaf yah buat org2 yang kecewa...”

Pesan itu muncul dari wall facebook Yulia Qim Deebraska, pada malam hari jauh ketika acara BTM tuntas. Hari itu, Qim membantu Nurdin Jabrik yang dikenal sebagai handler andal, dan beberapa instruktur Sioux lainnya, mendapat jatah mengawal sesi handling ular. Ini sesi yang sangat menarik, sekaligus berisiko tinggi. Harus didampingi instruktur berpengalaman. Butuh nyali lebih untuk belajar di sesi ini. Tentu, perlu sadar resikonya.

Pada BTM Maret silam, juga di sesi handling ular, tercatat lebih dari tiga orang yang tergigit ular. Dua atau tiga peserta lagi sengaja minta digigitkan ular untuk keperluan sesi penanganan gigitan ular. Dan semuanya melibatkan ular tak berbisa.

BTM kali ini memang sempat diwarnai insiden yang bikin cemas. Ya, pesan Qim itu salah satu responsnya. Bisa jadi ini ekspresi merasa turut bertanggung jawab, pula niscaya tak satu pun instruktur Sioux yang melakukan hal itu karena sebuah kesengajaan. Ini bisa jadi pelajaran yang sangat berharga.

Salah satu yang tergigit adalah Fajri, seperti diceritakan di awal tulisan ini. Lainnya, sebut saja, Mas Kumis, yang digigit seekor Phyton reticullatus sepanjang 3 meter saat hendak handling. Syukurlah, baik Fajri maupun Mas Kumis dapat ditanangani secara cepat dan tepat. Sehingga tak sampai berakibat fatal. Bisa jadi, gigitan itu mungkin akan menambah cinta pada satwa melata nan ekskotik ini. Cinta pada gigitan pertama.

Ya ampun kak, bukan salah lo kak. Saya yg malah gk enak bgt udah ngerepotin. Makasih bgt ya k...tq buat anak2 sioux..hihi..,” demikian Fajri menanggapi Qim.

Hingga lebih dari tiga jam setelah insiden itu, diam-diam saya terus mengamati Fajri. Selain jari telunjuknya yang masih bengkak, tak ada yang berubah dari penampilan fisik Fajri. Beberapa kali ia memang muntah-muntah ketika, Sioux dan sebagian peserta BTM berkumpul di rumah Nurdin Jabrik untuk evaluasi.. “Masih mual perutnya, “ terang fajri. Dua kaleng susu bear brand volume kecil dia tenggak.

Menjelang pukul delapan malam ketika saya bersiap pamit pulang. Fajri malah terlihat asyik mengganyang tiga tusuk sate ayam.

Jadi? Madjoe teroes!

Selasa, 05 Oktober 2010

Dari Romulus Whitaker sampai Mbok Mintorogo (catatan atas ToT Sioux)


Ass. Pakabare, Mas? Depok udan gak..?
Selarik pesan pendek mampir ke telepon genggam saya, persis ketika hujan mulai menderas dan pekik guntur bersahutan.
“...Udan deress…gludug menggelegarr…,” balas saya.
Wakakakak…Bintaro juga sama, Mas! Klo begini terus sampe malam. Bisa2 br sampe gintung besok pagi..” balas Abdul Basith, arek Jombang yang sabtu dan ahad ( 2 – 3/10) lalu, sama-sama berniat menghadiri training of trainer (ToT) Sioux.

Lembaga Studi Ular ini memfasilitasi para relawan (muscle Sioux) yang berniat up grading kemampuan mereka dalam belajar menangani ular. Itu setelah sebelumnya mereka diikutkan dalam basic training muscle (BTM). Terakhir, saya ikut BTM sekitar enam bulan silam.

***

08.20 pagi (3/10), langit Situ Gintung bersaput mendung.
Sejumlah lelaki, anak-anak, dan perempuan dewasa berbalut sari tampak terpekik tertahan ketika laki-laki tua itu mulai memainkan tongkatnya. Bersama seorang asisten, laki-laki berambut tak bersisir berjanggut putih itu tengah berusaha menyergap seekor King Cobra (Ophiophagus hannah) yang merayap di tepian bukit curam yang dirimbuni pepohonan.

Kepala dan nyaris sepertiga bagian tubuh Si Raja Kobra mendongak tegang ketika Pak Tua mulai mendekat. “Sepertinya ini betina, panjangnya mungkin 15 kaki,” terangnya dengan seulas senyum tanpa menampakkan gentar sedikitpun. “Tongkat penjepit ini sepertinya tak efektif, ia masih bisa lolos. Kami tak ingin tergigit,” sambung Pak Tua sembari mesem.

Nun beberapa belas meter di atas jalan raya yang membelah bukit, perempuan-perempuan yang meyaksikan adegan itu terlihat mulai tegang. Sebagian menutup mulut atau menggigiti kuku jari. “Aiiih…”

Saya berandai, Pak Tua sejatinya punya pilihan cepat untuk meringkus Raja Kobra yang telah bikin panik orang lewat itu. Tapi Ia memilih cara yang lebih nyeni. Ular dengan bisa ekstra maut itu mula-mula digiring ke sudut-sudut sempit yang terhalang pepohonan. Sebuah pipa berdiameter 25 senti dan panjang sekitar 30 senti yang pangkalnya dikerudung kantung kain, disiapkan sang asisten.

Si Raja digiring mendekati lubang pipa. Gagal! Sosok gemulai itu dengan gesit menghindar ke celah pepohonan. Pak Tua tak menyerah. “Kita cegat dari sana! You siapkan pipanya..!,” Pak Tua mengingatkan asistennya. Dengan bantuan tongkat penjepit, Pak Tua mulai merangsek mendekati Si Raja. Butuh tiga hingga empat kali penyergapan yang menegangkan sebelum,…hups! Kepala Si Raja masuk ke liang pipa. Dengan sedikit dorongan tongkat, seluruh tubuh Si Kobra sukses diringkus tanpa terluka dan tak seorang pun yang tergigit.

Huraahh..!” Tepuk tangan terdengar dari atas sana. Pak Tua dan asistennya dengan tenang naik ke jalan raya dengan senyum kemenangan. Adegan itu disudahi dengan wajah-wajah semringah. Pak Tua dan asistennya beroleh aplaus panjang, jabatan tangan dan pelukan hangat. Adapun Si Raja, mungkin senewen sebab gagal lolos dari sergapan densus, eh Pak Tua..

Pagi itu, saya saksikan adegan di atas dari tayangan video yang direfleksikan melalui sebuah proyektor di ruangan wisma berukuran 3m X 7m di satu sudut Taman Wisata Situ Gintung, Tangerang. Bersama saya, hampir dua lusin orang duduk lesehan di atas karpet.

Pak Tua yang pemberani lagi nyentrik itu adalah Romulus Whitaker (67 tahun), herpetolog dan konservationis kehidupan alam liar. Tampang Romulus mengingatkan saya pada pelukis surealis kenamaan Salvador Dalli. Bedanya, Romulus “melukis” di alam liar dengan mendirikan Madras Snake Parks dan direktur The Andaman and Nicobar Environment Trust (ANET). Ia juga pendiri the Madras Crocodile Bank Trust. Semuanya di negeri Nehru.

Keahlian Romulus mengingatkan saya pada almarhum Steve Irwin yang beken dengan serial televisi The Crocodile Hunter (“Sang Pemburu Buaya”), sebuah dokumentasi mengenai hewan-hewan buas yang tak umum. Si bengal Irwin memiliki dan mengelola Australia Zoo di Beerwah, Queensland.

Pagi itu cuaca mendung ketika saya sampai di Situ Gintung, bersamaan dengan diputarnya video aksi Romulus menangkap dan meneliti karakter Raja Kobra. Itu adalah hari kedua acara training of trainer (ToT) yang diadakan Sioux. Saya memilih absen di hari pertama karena enggan mengambil resiko cuaca buruk msaat enuju lokasi. Lagipula saya masih sedikit flu.

**

Suara Aji Rachmat naik turun, beradu dengan alunan musik organ tunggal yang disewa sebuah paguyupan organisasi kedaerahan. Jarak antara wisma tempat ToT berlangsung dan aula tempat organ tunggal tak sampai 20 meter. Alhasil, suaranya benar-benar memekakkan kuping. Tahu audiens mulai terganggu, sesekali Aji mencoba rileks dengan menggoyang-goyangkan kepala di sela jeda presentasi.

Mungkin, satu dari tiga biduan berkostum seronok di aula tengah menembangkan “Kucing Garong” atau “Keong Racun”. Konsentrasi saya agak terpecah. “Sst, wah, stoking nya bolong-bolong,” Kresno dan Denny, peserta ToT, terkikik. Tak tahan untuk tak menggosipi biduan yang berjongkok seronok sembari menelepon. Millani Imenk, sesekali belagak goyang dengan mata setengah merem.

**

Hari itu materi pelatihan meliputi identifikasi ular, biologi ular, penanganan gigitan ular, hingga pengantar handling ular. Sebagian materi sudah saya dapat ketika BTM, Maret silam.

Saya sejenak terkesiap ketika proyektor slide menayangkan sebuah essei foto. Sebut saja kisah Mbok Mintorogo. Ini adalah mozaik kultur kompleks “industri” rumahan pengolahan ular, yang relatif jarang terekspose.

Mula-mula, tampak tangan keriput Mbok Mintorogo membuka ikatan sebuah karung berisi setidaknya belasan ekor kobra hidup. Dengan enteng, satu tangannya mencengkeram tubuh seekor kobra layaknya memegang anak kucing yang masih ingusan. Dalam hitungan detik, diguntingnya leher si kobra sampai putus. Dengan gerakan akrobatik, darah yang mengucur dari leher kobra dituang dalam gelas. Tangan Si Mbok yang satunya lagi menjungkirkan bagian ekor kobra ke atas. Posisi ini mencoba memanfaatkan gaya gravitasi untuk mempercepat keluarnya aliran darah.

Hmm, adegan ini sekilas mengingatkan saya pada aksi penjual legen (air sadapan pohon aren) pikulan, yang menuangkan tabung bambu berisi legen ke gelas pembeli.

“Dari informasi dan pengalaman yang ada, menelan empedu kobra adalah salah satu cara untuk meningkatkan stamina,” ujar Aji. Peserta ToT manggut-manggut. “Lah, emang komposisi empedu cobra apa, tho?, kok sampai bisa bikin “greng” stamina begitu? ” saya menukas. Pikiran saya sejenak mengawang pada efek ekstra ajaib ramuan yang diracik Dukun Panoramik dari Negeri Galia dalam Lakon Komik Asterix, besutan Uderzo dan Goschiny.

Hmm, sampai sekarang memang belum ada yang secara khusus meneliti kompisisi empedu cobra. Tapi pemanfaatannya memang sudah dipraktekkan dan diakui berbagai kalangan sejak lama,” jawab Aji.

Perkara ramuan, hingga saat ini, saya tak berhasrat untuk mengkonsumsi bagian tubuh manapun dari si kobra. Terlebih dikaitkan dengan upaya mendongkrak prana “greng” di tubuh saya. Saya tak malu memilih berpandangan konservatif dengan semboyan uzur yang saya comot dan plesetkan dari petuah Eropa beheula : "Di dalam tubuh dan jiwa yang sehat, terdapat “greng” yang dahsyat!". Eeng…iingg…eenggg…

“Lain lagi dengan darah kobra. Ini dipercaya untuk menghaluskan kulit,” imbuh Aji. Hmm… Saya melirik Dhyan Savitri, rekan peserta yang duduk persis di samping saya. Dhyan cuma mesem sembari menggeser posisi duduknya. Entah, merasa skeptis karena kulitnya merasa sudah mulus, atau malah diam-diam tergiur pingin mencicip darah cobra biar kulit jadi berpendar seperti kunang-kunang di hari gelap.

Saya gamang, apakah saya juga akan memberi tahu Melly Chan, istri saya, terkait khasiat darah kobra itu. Tapi, Melly yang lahir dan besar di Palembang punya versi sendiri. “Mau kulit halus? Makan duren!,” ujarnya singkat sambil ngeloyor ke dapur.

Saya cukup sering ke Palembang untuk berbagai keperluan. Jika diamati, rata-rata kulit gadis-gadisnya memang terang dan bersih.

Di beberapa kawasan penghasil durian di Thailand juga konon begitu. Gadis-gadis Chiangmay contohnya, terkenal berkulit halus dan menarik. Sayang, saya tak punya kenalan khusus awewe Chiangmay untuk sekadar konfirmasi.

“Bisa jadi, justru untuk meningkatkan stamina bukan empedunya, tapi daging kobranya,” sergah Mamih Agil, peserta ToT senior yang berlatar kedokteran Hewan. Mamih tak asal cuap. Yang saya tahu, daging kobra memang kaya protein, jadi relevan juga jika mengaitkannya dengan gizi tinggi.

Oho, kalo Mas Prio kepengin staminanya oke saat kerja keras atau masa pemulihan, asupan protein perlu didongkrak, yah!,” ujar dokter Boyke A. Nugraha dengan gayanya yang khas. Boyke, seksolog beken ini sempat saya temui seusai menjadi pembicara pada sebuah seminar, di Jakarta, Agustus Silam. Merujuk Boyke, Saya pikir Mamih masuk akal juga.

Pesan moralnya, tak perlu menjagal kobra untuk mendapatkan asupan protein ekstra.

**

Menjelang siang, acara yang cukup ditunggu akhirnya dimulai juga : praktek handling ular. Peserta dikenalkan pada teknik-teknik handling beragam jenis ular di alam terbuka. Beberapa ular koleksi Sioux dikeluarkan dari kandangnya. Mulai dari yang tak berbisa macam phyton, ular pelangi, ular tikus, hingga yang berbisa tinggi macam kobra dan king kobra.

Sayang, belum tuntas sesi handling dipraktekkan, kawasan Situgintung keburu dihumbalang angin rebut. Ranting-ranting dan dahan beberapa pohon berderak dan patah. Sejurus kemudian hujan lebat datang. Ular-ular kembali dikandangkan. Peserta dan panitia kembali memasuki wisma dengan hati separuh dongkol. Termasuk Anissa Sarah Ichachebong, yang siang itu baru bisa meraih buntut seekor kobra.

Menghemat waktu, acara disambung dengan simulasi identifikasi ular di hadapan audiens. Saya kebagian mengidentifikasi Phyton reticulatus. Bicara phyton, saya punya “ikatan emosional” dengan mahluk berkulit cantik ini. Cantik, motif “batik” natural nya tak ada yang menyamai. Dijamin tak ditemukan jika anda putar-putar sampai pusing di sentra batik Pasar Klewer, Solo. Ataupun jika anda ngotot memburunya sampai dehidrasi dan semaput di los pasar Beringharjo, Jogja.

Phyton sepanjang tiga meter pernah masuk rumah saya tanpa permisi, lebih dari lima tahun silam. Kepalanya nyungsep ke toilet. Berakhir dengan dijebolnya kloset untuk meringkus phyton yang belum diajari sopan santun itu. Phyton berkalung kloset. Cerita lengkapnya bisa disimak di blog ini juga (“Bermain Api Gosong, Bermain Ular…Sioux!”). Gratis.

Yang terbilang agak menyeramkan adalah tatkala menyimak sesi penanganan gigitan ular. “Jika bagian jempol anda yang tergigit ular berbisa tinggi, segera tekan bagian ini,” Aji mencontohkan. Abdul Basith dijadikan contoh Korban. "Segera balut lengan mulai dari pergelangan hingga mendekati bisep untuk menghidari bisa ular menjalar.,” imbuhnya. “Darah harus segera dikeluarkan sebanyak mungkin dari sekitar luka. Aji lantas memberi ilustrasi bagaimana mengeluarkan darah itu dengan cara menusuk-nusuk bagian lengan dengan benda tajam, diikuti dengan gerakan mengurut lengan untuk mengeluarkan darah. “Keluarkan darah sebanyak mungkin. Dan untuk menghidanri darah menggumpal, bagian lengan bisa dihangatkan dengan air hangat”.

Saya agak sulit membayangkannya simulasi ini terjadi di kehidupan riil. Ini mengingatkan saya pada adegan John Rambo mengoperasi sendiri pinggangnya yang tertembus ranting pohon . Atau Robert de Niro yang mengoperasi pengeluaran peluru dari tubuhnya sendiri dalam “The Ronin”. Fiktif saja ngeri, apalagi nyata. "Racun" Hollywood saja ngeri, apalagi racun king kobra. Ampuuun…

“Rekan-rekan senior di Yogya yang pernah digigit King Cobra, setelahnya tak mau lagi mengalami untuk yang kedua kali”.

**

“Hebat, baru saja dapat materi pelatihan, langsung praktek,” ujar Ischya ul Ulum, Ketua Sioux sembari mengajak peserta bertepuk tangan. Saya masih ragu pada komentarnya, serius atau guyon. Tapi saya memilih ikut tepuk tangan.
“Insiden” itu terjadi pada sore menjelang acara resmi berakhir. Dimotori oleh Mamih Agil dan Winniarlita Irmawatie atau akrab disapa kak Owien, keduanya mengajak peserta ToT untuk keluar ruangan dan mendatangi aula tempat paguyuban warga Pati se Jabotabek yang tengah menghela goyang dombret. Respons yang gamang. Sejumlah penghuni ruangan memilih berdiam di tempat. Tapi saya dan beberapa rekan memutuskan ikut. Saya ingin melihat cara eksponen Sioux berinteraksi dengan obyek persuasi dan melihat langsung respons audiens. Insidental sekalipun.

“Bapak-bapak, Ibu, dan adik-adik, ada yang pernah menemukan ular?,” tanya Owien di atas panggung.
“Beloom!,” suara dari bibir mungil bocah-bocah di barisan terdepan menggema dominan. Beberapa peserta pelatihan ToT ikut maju, praktek presentasi identifikasi ular.

“Ini namanya ular Lanang Sapi,” terang Krisno sembari mengangkat seekor Elaphe radiata yang dominan dengan warna kuning muda pada bagian depan dan perut. Empat garis longitudinal warna hitam menghiasi depan tubuhnya. “Ini tak berbisa…” imbuh Krisno mencoba tersenyum.

Wah, ono ulo sing jenenge sapi, tho?,” suara berbisik saya tangkap dari mulut seorang bapak persis di samping kiri saya. Bapak ini gumun, ada ular yang namanya sapi. “Macan juga ada, Pak. Malah bandot(an)pula,” saya menyergah. Tentu dalam hati. Saya ingin memberi tahu dia bahwa ada ular bernama lokal bandotan macan.

Berturut kemudian Abdul Basith, Adjie, Bintang, dan Denny Rudini mengenalkan dagangan, eh, ular koleksi Sioux yang mereka bawa.

Sauasana sedikit mencekam ketika Yulia Qim Deebraska mulai mengeluarkan kantung berisi King Kobra. Sepertinya Qim berencana mempraktekkan “death kissing” dengan mencium kepala King Kobra, meskipun belakangan urung dilakukan. Ichsya mengawasi adegan itu dari jarak beberapa langkah sebelum akhirnya memutuskan menghandling Sang Raja dengan tangan kosong. Memasukkannya ke dalam kantung. Millani Imenk pilih asyik menjepretkan kamera.

Bergantian, Mamih Agil dan Owien bertutur tentang Sioux. Presentasi dadakan tak lebih dari limabelas menit itu diakhiri dengan semboyan maut Sioux, “waspadai, tapi jangan bunuh ular.!.” Tepuk tangan terdengar ketika personel Sioux meninggalkan panggung.

**

Di akhir acara, sejumlah peserta ToT mendapat sertifikat. Hati kecil ini agak gamang juga. Ibarat menerima raport yang tak semua mata pelajarannya dikuasai. “Ini sebagai stimulus agar kita mau terus belajar,” papar Idur Rahadian.

**

Acara ini memang masih menyisakan celah untuk bisa disebut komprehensif. Tak ada evaluasi kegiatan secara menyeluruh, tempat semua yang hadir bisa mengutarakan kesan dan pendapat. Kritik dan otokritik.

Benar saja, setiba di rumah, hingga menjelang tengah malam, beberapa diskusi “ekstraparlementer” bersliweran di kolom chatting facebook saya.

Salah satu topik diskusi adalah terkait pemberian sertifikat. “Bagusnya up grading dilakukan bertahap, diuji kemampuannya terus menerus dan tak langsung diberi sertifikat,” ujar seorang rekan yang namanya enggan dikutip di blog ini. “Materi training yang diberikan perlu ditetapkan kriteriumnya dan level penguasaannya, ini untuk membantu mengukur penguasaan materi tiap-tiap muscle peserta ToT ,” ujar seorang muscle lainnya. Benar juga, batin saya.

Hari itu saya memang tak sempat melakukan simulasi secara resiprokal dengan rekan peserta. Tentang bagaimana cara membuat balutan di area gigitan ular yang benar, simulasi pembedahan darurat jaringan tubuh dan mengurut keluar darah korban yang terkontaminasi bisa ular berbisa. Atau sekadar praktek mencuci luka gigitan ular tak berbisa dengan air bersih dan antiseptik.

Praktek-praktek kecil macam itu niscaya menghadirkan trial and error yang bakal mempengaruhi sikap mental peserta jika berhadapan dengan kasus empirik di lapangan. Saya sungguh merasa kosong.

**

Ya, sesi training hari kedua itu memang agak dominan dengan persuasi dan “monolog” Aji Rachmat. Biarpun dalam beberapa hal bobot materinya saya anggap memiliki kelebihan dibandingkan ketika saya mendapatkan materi yang identik pada BTM beberapa bulan silam. Beberapa informasi di luar materi training juga terbilang menarik.

**

Hmm, terus terang saya pribadi masih jauh dari memadai untuk jadi seorang trainer. Tapi saya mencoba berfikir positif dan tak lantas pongah. Bagaimanapun, kemampuan riil dan fakta pengalaman interaksi di lapangan (dengan ular dan habitatnya) lah yang kelak akan menabalkan kemampuan sejati masing-masing muscle Sioux.

Siapapun yang berniat dan berhasrat melakukan advokasi publik terkait penanganan ular, ketika menghadapi kasus di lapangan, pertama-tama pastilah tak dengan menyorongkan sertifikat sebagai trainer. Partisipasi aktif dan kemampuan riilnya dalam mengatasi persoalan terkait ular, jauh lebih substantif.

Pula, tak itu bandotan macan, kadut, maupun kobra dan teman-temannya, tak menggigit orang dengan pertimbangan kepemilikan sertifikat.

Saya salut dengan rekan-rekan Sioux yang sudah lama berkiprah tanpa pamrih. Mengadvokasi publik pada bahaya laten kesalahkaprahan sebagian besar masyarakat kita dalam menangani ular. Etos ini layak dipertahankan, sekaligus diingatkan jika mulai menyeleweng dari misi awalnya. Kultur egalitarian dan sikap terbuka layak terus ditumbuhkan. Ee, siapa tahu figur-figur sekaliber Romulus Whitaker bisa lahir dari kepompong Sioux.

Juga, sembari berharap untuk bisa berbuat agar sosok-sosok macam Mbok Mintorogo mendapatkan alternatif sumber ekonomi yang lebih manusiawi sekaligus “ularwi”.

Dengan segala keterbatasannya, komentar-komentar terkait ToT yang masuk dalam inbox facebook saya dari sebagian muscle Sioux, anggaplah sebagai sebuah kegairahan. Kecintaan. Betapa mereka sayang dan berhasrat merawat komunitas yang sudah susah payah didirikan bertahun lamanya. Cukup memiliki nama dan diakui perannya. Tak ada ular yang tak retak, eh tak menggigit. Ibarat empedu ular, kritik itu pahit, tapi (konon) bikin “greng”.

Waktu yang terbatas, cuaca tak bersahabat, serta mayoritas peserta dan panitia yang kelelahan sehabis bergiat hingga dini hari sehari sebelumnya, mungkin juga mempengaruhi konsistensi panitia dalam menggarap ToT yang baru dihela untuk pertama kali. Wajar jika terlihat kurang komprehensif. Saya masih lebih enak, sebab baru datang ke Situgintung di hari kedua dengan kondisi fisik yang lebih bugar. Bisa jadi saya sedang bersemangat. Maklum lah, saya ini ular baru, eh.. muscle baru...