Rabu, 26 Mei 2010

Interview With "The Climate Hero" Hehe..


Tri Mumpuni Wiyatno
Social Entrepreneurs

“Banyak Orang Pintar yang 'Minteri'”

“Inilah, The Republic of Indonesia, Mas!, ujarnya dengan mata separuh mendelik dan jari telunjuk menuding wajah saya. Saya tersenyum, dia nyengir. Ceplas-ceplos ketika bertutur soal ironi di republik ini. Mimiknya ekspresif, kadang jenaka. Postur kelahiran Semarang 44 tahun silam itu boleh mungil, tapi jangan tanya kiprah dan energinya yang seperti tak pernah kehabisan “batre”. Ia membantu ribuan desa memberdayakan ekonominya melalui program energi mandiri. Karyanya diakui PBB, lantas mendapuknya dengan gelar “Climate Hero”. April kemarin di Washington, bahkan, Uncle Barrack memujinya sebagai sosok perempuan Social Entrepreneurs jempolan yang banyak menawarkan perubahan. Buah pemikiran dan aksi perempuan energik ini diterapkan dan berguna bagi masyarakat udik Cicemet, pedesaan Beijing hingga Dubrovnik di Kroasia. Saya lantas mengajaknya bercakap seusai menjadi pemateri sebuah seminar di sebuah hotel di Jakarta, akhir Februari silam. Saya suka kesederhanaan dan kerendahan hati perempuan yang akrab disapa Bu Puni, itu.


Bu Puni, ngapain sih sampeyan repot-repot ngurusin listrik di udik-udik. Kan dah ada PLN? “Kendaraannya” apa?

Masyarakat harus mandiri energi. Sebagian besar saya menggunakan wahana koperasi. Saya tidak punya tendensi pada orang-orang yang merusak koperasi. Saya ingin membuktikan. Saya pencinta Bung Hatta, saya membaca bukunya sampai mendapat ide-ide. Jadi, sebenarnya prisnip-prisnisp koperasi Hatta diikuti dengan benar dan juga koperasi yang benar maka Indonesia itu gampang dimakmurkan.

Sedikit pengetahuan saya, banyak juga koperasi yang jeblok. Piye, Bu?
Lah! Lah ! Persoalannya sekarang itu kan, seakan-akan koperasi itu pekerjaannya pemerintah. Kemudian orang-orang yang nggak benar bikin koperasi agar gampang korupsi dari situ, inilah yang merusak nama koperasi. Makanya saya ubah, bahwa koperasi itu alat yang bagus. Sapujagat untuk memakmurkan rakyat Indonesia. Geto loh, Mas..!

Nggak “disetrum” PLN? Jadi kompetitor, kan?
Nggak. Karena kami mengurusi listrik mikro hidro, pelan-pelan. Jika anda melihat koperasi di Cintamekar, Jawa Barat, bagaimana pengurusnya mempunyai power, bisa amanah. Jadi, yang terpenting bagaimana memilih orang yang bermoral. Itu pelan-pelan. Orang takut dengan agama , dia punya komitmen bahwa hidup ini cuma sebentar, kalau mati tak membawa duit.

Idealnya menurut Anda?
Pengurus (pemimpin) harus benar-benar dipilih oleh rakyat. Dipandang oleh rakyat sebagai orang yang punya amanah. Ini terjadi karena pemilihannya yang bersih dan bagus. Saya juga melibatkan semua stakeholder atau teman. Contohnya, waktu koperasi di Cintamekar dibentuk, namanya Koperasi Mekarsari. Saya kaget kenapa ada seorang ketua terpilih, padahal dia tidak pintar, ngomong saja susah. Belakangan saya tanyakan kepada warga, ternyata sang ketua itu dianggap jujur dalam segala hal, tak pernah nyolong atau berbohong. Jadi, dia dipilih bukan karena pintar. Orang pintar saat ini banyak yang ‘minteri’ (mengakali) kita. Maka orang seperti kita harus jeli. Nah, antara lain itulah caranya jika hendak mendirikan institusi pemberdaya masyarakat agar benar-benar baik. Yang hancur itu karena ulah segelintir orang yang tak benar. Gak genah.

Kunci sukses leadership ideal menurutmu gimana, Bu?
Kunci sukses itu orang yang punya visi membangun dengan hati untuk rakyat itu menjadi pendamping yang baik . Tanpa itu omong kosong! Rakyat itu harus dipercaya, dia everybody exchange speaker, semua orang itu adalah agen perubahan. Nah, itu yang kadang-kadang kita nggak yakin. Ini yang harus diyakini, yaummal yakin semua orang itu agen perubahan. Kalau dia tak bisa berubah berarti ada hal-hal yang kurang yang harus kita bantu agar bisa berubah menjadi ke arah yang lebih baik.

Bagaimana dengan peran institusi pemberdaya lain macam LSM, asosiasi dll?
Sama-sama menolong diri sendiri, merubah diri sendiri, sebetulnya sama. Cuma, katanya sih, embordingnya yang berbeda. Tapi intinya sama. Setiap orang itu bisa membantu diri sendiri. Hanya, seperti saya katakan tadi, ada yang bukan karena kesalahan mereka, secara struktural dia sudah dininabobokan. Atau memang dia miskin ekstrim secara struktural, dia miskin segala macem. Jadi kan (kesannya) bodoh. Kayak orang ketiduran, membangunkannya butuh kesabaran, perlu hati, ikhlas. Kalau tidak yah ketemu provokator, tapi jangan putus asa. Di developmentice, itu ibarat sebuah lorong, proses yang kita nggak boleh capek. Harus terus, jatuh bangun-jatuh bangun. Apalagi mendampingi rakyat, harus punya komitmen.

Apa pendapat anda terkait dana-dana pemerintah yang diterima institusi non pemerintah, koperasi, dll dengan alasan sebagai stimulus kemandirian?
Mas, coba anda keliling dulu. Tanya pada koperasi kalau dia mendapatkan (dana) program pemerintah lewat Kandep atau segala macam. Kalau Anda bisa menunjukkan kepada saya, misalnya, jika sebuah koperasi terima uang 100 juta dari pemerintah dan tetap diberikan utuh Rp 100 juta (tanpa ditilep), itu baru bagus. Faktanya? Lihat di lapangan seperti apa.

Anda punya cerita terkait kecenderungan korup di atas?
Tanya juga pada dinas, kalau dinas benar-benar ikhlas tidak melakukan pemotongan sedikitpun, itu baru sukses. Selama ini, saya sering ditelpon, Bu (kami) dibohongi. Memang gue bego apa? Mereka Tanya lagi, Bu, si ini dan itu pernah menyetor uang ke kami. Kira-kira yah, ibu akan mendapat uang Rp 900 juta, tapi ibu setor ke kami dulu Rp 100 juta. Saya banyak ketemu dengan koperasi-koperasi yang ditipu nyetor 1 mobil dan segala macam untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. Gimana itu? Kita mau bilang oknum? Yah, nggak mungkinlah. Dari mana orang-orang itu tahu kalau koperasi mau nyebar duit.

Pelajaran apa yang bisa diambil?
Intinya, accountability itu penting. Nah, ini yang kita kekurangan sampai sekarang. Baik di level aparatnya yang kemudian menular ke masyarakat. Muncullah budaya skeptis. Ah, ini kan uang pemerintah, bisa saya habisin lah, wong saya juga sering ditipu-tipu. Iya, kan? Itu Bukan uang pemerintah, itu uang rakyat! Dia (pemerintah) menjalankan amanah. Kalau menjalankan amanah untuk mendiskus uang saja enggak didiskus dengan baik. Nggak amanah, yah jangan harap sesuatu yang diawali dengan yang tidak baik akan sukses. Rasulullah bilang, hasilnya amburadul! That’s Republik Indonesia, Mas!

Betul, betul, betul..! Ooalaah..!

Senin, 03 Mei 2010

Yang Melata di Mata Sang Bocah



“Bagus ya, Kak. Uler apa ni namanya?”
“Sanca batik”
“Oo, batik… Kalo yang coklat ini?”
“Ini ular pelangi. Coba dielus, dipegang…”
“Pelangi ya…”


Wyna, bocah cilik menjelang kelas satu SD itu antusias betul. Matanya yang bening perpendar penuh rasa ingin tahu. Icha Cebong dari Lembaga Studi Ular SIOUX, dengan sabar menjawab semua tanya sang bocah. Mahluk-mahluk melata beraneka motif dan warna. Ruangan berpenerangan temaram di Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta-Pusat, itu memang terlalu remang. Memberi kesan “wingit” pada interior gedung peninggalan Belanda yang masih terawat apik itu.

Tak ada ekspresi takut atau geli sedikit pun tergurat di wajah Wyna yang siang itu datang ditemani adiknya yang belum genap empat tahun, Iwa, dan kedua orangtua mereka. Iwa sama antusiasnya dengan sang kakak ketika Icha memperkenalkan beberapa ular milik SIOUX yang hari itu dipajang. Wyna adalah satu dari ratusan, atau seribuan, pengunjung yang melintas di stand SIOUX. Hari itu Icha ditemani Defry, Bintang, Deny, dan beberapa Muscle SIOUX lainnya.

Pada Sabtu dan Ahad, 17 - 18 April lalu, SIOUX memang berpartisipasi dalam sebuah acara bersama lebih dari tigapuluh komunitas sosial dan lingkungan hidup yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Ada komunitas Bike to Work (B2W), Pecinta Astronomi, Komunitas 1001 Buku, Komunitas Musik, Pegiat Lingkungan, hingga komunitas batik dengan pewarna alami. Acara dihelat tanpa sponsor menjelang peringatan hari bumi. Komunitas-komunitas kecil ini dirasa memberikan energi positif di tengah tumpukan persoalan yang mendera Jakarta. Kemacetan, polusi, sampah, dan banyak lagi. “KumKum: Kumpul Yuk Kumpul! untuk Berbagi dan Berbuat”. Demikian panitia memberi judul acara dua hari yang meriah itu.

Saya datang bersama Qen dan bundanya yang tengah hamil. “Aku pengin lihat ular teman-teman Ayah, pengin pegang-pegang,” ujar Qen dengan mata berbinar. Hampir dua tahun lalu, dalam ajang pameran Flora dan Fauna, ia juga tampak senang bermain dengan ular koleksi sebuah pet shop. Di rumah, reptil peliharaan kami berupa lima ekor kura-kura dari tiga spesies. Qen menyebutnya Robert dan kawan-kawan. Tak ada seekor ular pun.

Dan hari itu, Qen berpuas-puas bermain dengan beberapa ular koleksi SIOUX. Melly Chan, bunda Qen, juga bisa ngobrol dengan sahabat-sahabat saya dari komunitas SIOUX. Melany (Imenk) misalnya, Ibu tiga anak yang tinggal di Bekasi ini selain mengoleksi sejumlah reptil, juga membuka pintu rumahnya lebar-lebar “menampung” ular temuan yang tak dikehendaki. Atau Dhiyan Savitri, perempuan fotografer penyuka travelling yang punya pengalaman digigit ular. “Hmm, ini kesayanganku,” ujarnya sembari mencium seekor Phyton reticulatus yang mencoba menyusup di celah jilbabnya.

Saya bersyukur bisa bergabung dalam Muscle SIOUX. Hasrat memperkenalkan rupa-rupa makhluk ciptaan-Nya yang luar biasa itu pada Qen, bisa tersalurkan. Makhluk melata yang sering dipahami secara salah kaprah oleh banyak orang. Blepp..blepp..blepp..!

Senin, 08 Maret 2010

“Bermain Api Gosong, Bermain Ular…Sioux!”



Tanpa permisi, sosok memanjang dan bergaya gemulai itu dengan percaya diri menyelinap melalui sela-sela jeruji besi pintu gerbang, mengarah ke beranda samping rumah. Tampangnya boleh juga, kombinasi warna kuning muda, cokelat tanah, hitam dan putih susu. Mozaik warna yang tak saya ketahui nama motif dan desainernya. Tak sopan memang, main slonong begitu saja. Tapi untuk sekedar mendekat dan say hello atau malah sekalian mengusirnya agar minggat, saya kurang bernyali. Lah, wong si gemulai itu, tak lain dan tak bukan adalah seekor ular phyton! Hrrr… Panjangnya saja tak kurang dari tiga meter. Itu artinya, panjang tubuh pebasket NBA dari klub Houston Rockets yang kondang itu, koh Yao Ming, yang menjulang dengan 2,34 meter masih kalah panjang dan gemulai dari Si Phyton yang median tubuhnya bergaris tengah mencapai sekitar delapan senti. Digebuk saja? Ah, secantik dan semontok itu? Teganya, teganya!

Oops..! Tahu aksinya tak terusik, memaksa saya membayar akibatnya. Ceritanya, dari beranda samping rumah, Si Phyton melata masuk ke pintu samping rumah. Berbelok menuju kamar mandi, persis ketika asisten rumah tangga kakak saya, sebut saja namanya Manoharum, tengah asyik mencuci pakaian sembari berdendang riang. “Marilah mencuci…hei..hei..heii, nyuci sambil nyanyi hei..hei..heii..,” lagaknya Titik Puspa di panggung Aneka Ria Safari TVRI. Begitu Si Phyton menampakkan diri di hadapan Mano yang hanya mengenakan celana pendek ketat, nyanyiannya sontak berubah jadi histeria. “ Hei!, Ula!..Ula!..Ula! Tuoloong..!” pekiknya tanpa sempat menyembunyikan logat tegal nya yang kental. Mano melonjak-lonjak menghambur keluar kamar mandi masih dengan sekujur lengan dan tubuh penuh cemong busa sabun.
Mendengar itu, kakak perempuan saya yang berada di ruangan berbeda tergopoh menuju sumber keributan. Eh, alih-alih menghibur Mano yang pucat pasi, kakak saya malah ketularan panik dan berteriak sejadi-jadinya. “Tuoloong…!” Alhasil, kampung di salah satu ruas Jalan Cagaralam, Pancoranmas, Depok itu pun jadi heboh. Berduyun tetangga dan orang yang melintas di jalan menengok, lantas masuk ke halaman rumah. Mungkin, siang itu ada lebih dari dua lusin orang yang datang.
Kegaduhan itu berdampak buruk, menjadikan Si Phyton panik. Ia lantas ngeloyor menuju toilet yang terletak bersebelahan dengan kamar mandi. Sepertinya ia ingin keluar, sementara lorong menuju pintu keluar sudah dipenuhi warga. Si Phyton malang terjebak, memaksa masuk dalam lubang toilet. (Waduh! Bau lah, Phyt!)
Beberapa orang mulai mendekat dan masuk ke toilet yang lubang (maaf) tinjanya sudah disusupi kepala ular. Rupanya kepala ular keras kepala itu tersangkut dalam rongga toilet. Macet!

Buat mengatasinya, mula-mula beberapa orang menggelitik bagian-bagian tubuh si ular. Dikiranya, jika syaraf gelinya terstimulasi ia akan memutuskan keluar dengan sukarela sembari terkekeh-kekeh kegelian, lantas menyerah. Eh, tak semudah itu. Tetap saja si ular keukeuh enggan keluar. Seorang warga yang tampaknya cerdas lantas mencari cara lain dengan menepuk-nepuk agak keras beberapa bagian tubuh ular. Pikirnya, jika dikitik-kitik tidak kegelian mungkin kalau ditampar-tampar si ular akan menjadi tahu diri dan sadar akan perbuatannya yang memalukan. Hasilnya? Gagal total! Skor 2 – 0 untuk ketabahan hati Si Phyton yang memilih semedi dalam kloset. Entah gemas atau jengkel, beberapa orang mulai hilang kesabaran dan menarik paksa tubuh si ular. “Potong aje lehernya, gelontor kepalanya pake aer, beres!” seru seorang warga yang mulai terserang penyakit syaraf nomor tiga likur saking putus asanya. “Jangan, jangan, kesian,” sergah yang lain. Alot! Skor pun berubah lagi menjadi 3 – 0, lagi-lagi untuk kemenangan Si Phyton! Hmm, gemulai-gemulai ternyata tangguh juga dia. Saya sentuh tubuhnya, hangat dan lembut. Sisiknya berkilau ditimpa cahaya lampu kamar mandi. Beberapa bagian permukaan kulit di dekat leher tampak lecet-lecet. Mungkin akibat ditarik paksa oleh warga yang kurang tahu dan rendah rasa 'peri keularannya'. Saya jelas salah satu dari yang paling merasa bersalah. Tak bisa berbuat apa-apa. “Emphaty is not enough!,” pekik pawang reptil beken asal Australia (almarhum) Steve Irwin, sembari lengannya yang kekar memiting leher seekor buaya bandot bergigi tonggos.

Tampaknya warga mulai hilang akal, dan itu menular. Setelah dengan terpaksa kakak saya mengijinkannya, menggunakan linggis dan palu godam, kloset diputuskan dibongkar. Sungguh keputusan yang demokratis diktatorial plus tengil tak ketulungan!
Setelah selama sekitar setengah jam yang menegangkan, evakuasi yang ekstra ngawur itu pun berhasil menjebol kloset sekaligus gagal mengeluarkan kepala si ular dari lubang tinja. Empat orang dengan tergopoh menggotong tubuh si ular yang berkalung kloset keluar kamar mandi dalam keadaan masih hidup. Entah, di bawa ke mana phyton malang itu selanjutnya. Yang jelas, kami harus membayar mahal untuk itu : kloset yang jebol dan harus diganti serta sirnanya kesempatan untuk menyelamatkan Si Phyton dari kemungkinan terburuk. Ini semua akibat ketidaktahuan saya dalam memperlakukan dan menangani ular. I’am sorry, bebe…

***

…Tau Terminal Lebak Bulus, kan? Terus aja, sbelum UIN Syarif belok ke kiri ke kampung utan. Tanya aja lokasi Pulau Wisata Situ Gintung…

Pesan singkat itu mampir ke telepon genggam saya, di malam akhir pekan 6 Maret lalu. Pengirimnya Timmi, Koordinator Diklat Sioux. Belakangan saya tahu, Timmi sesekali dipanggil rekan-rekan Sioux dengan sebutan Timothy. Lain waktu dipanggil Timun. Wajahnya memang belum setampan Timothy Dalton (salah satu pemeran James Bond yang playboy itu). Tapi juga terlalu manis untuk diberikan begitu saja pada Sang Kancil, karakter dalam dongeng pengantar tidur yang gemar mencuri dan melahap timun Pak Tani tanpa pernah merasa bersalah sedikitpun. (ctt : Bang Timmi, Peace..!)

***

Alhamdulillah, hasrat untuk bisa belajar memperlakukan dan menangani ular secara baik dan benar, di habitatnya di alam terbuka maupun yang slebor main slonong masuk rumah orang, baru kesampaian pada 7 Maret lalu. Itu artinya sekitar lima tahun setelah peristiwa ular phyton berkalung sorban eh, kloset, berlalu. Tak ada kata terlambat!

Lewat sebuah acara bertajuk Basic Training Muscle (BTM) Sioux, di kawasan Pulau Situ Gintung, Cirendeau, Ciputat, saya memulai proses pembelajaran yang menyenangkan. Bersama lebih dari dua lusin peserta lainnya yang datang dari Jabodetabekdung, saya dan teman-teman sama sekali tak berniat jadi pawang ular. Istilah “pawang” dalam konteks ‘sosiologis-klenik’ nya memang coba dihindari atau setidaknya direduksi, setidaknya untuk membedakannya dengan stigma “pawang” yang telanjur kental dengan irasionalitas atau serba “magic” di khalayak awam (biarpun juga tak berniat untuk berbenturan).

Jika boleh beranalogi, Sioux ibarat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), yang menganalisis gejala dan unsur-unsur cuaca untuk memprediksi cuaca itu sendiri. Adapun Sioux, berikhtiar menganalisis unsur-unsur biologi, fisik, ekologi dan bahkan psikologi ular agar perlakuan dan penanganannya tak salah kaprah seperti kasus phyton malang di awal cerita. Karena itu, unsur-unsur berupa kembang atau kemenyan tak ditemukan dalam setiap “ritual” Sioux.
“Persepsi masyarakat tentang ular masih cenderung negatif. Efeknya, saking dekatnya interaksi ular dengan manusia, kalau ketemu cenderung dibunuh. Ular identik dengan bahaya dan stigma buruk lainnya. Itu karena kurangnya pengetahuan manusia. Bukan salah ularnya, loh!,” Terang Boim Pengembara, salah seorang awak Sioux dalam pengantarnya.

Berdiri pada 23 November 2003, Sioux menabalkan diri sebagai organisasi terbuka yang bergiat dalam edukasi dan sosialisasi penanganan ular secara benar. Kata Sioux sendiri, bagi penggemar film-film wild west mungkin cukup familiar. Diametral dengan istilah Cherookee, Mohawk, Mohicans, atau Dakota, menyebut beberapa nama Suku Bangsa Indian di Amerika Utara, yang kini hanya tinggal nama (juga merk mobil dan gaya rambut). Sioux dalam khazanah setempat bisa bermakna ular. Bisa jadi Suku Sioux memang memuliakan ular. Saya belum sempat menggali lebih jauh literaturnya.

Ijtihad “memuliakan” ular a la Sioux ini jelas bukan gawe main-main. Personel Sioux yang terdiri dari beragam latar belakang itu memang tak mungkin merasa cukup dengan wawasan dan ilmu tentang ular yang terus berkembang. Biarpun begitu, dalam usianya yang belum genap satu dekade, benih-benih yang dengan susah payah disemai mulai tumbuh dan bahkan berbuah. Apresiasi khalayak mulai terlihat. “Terus terang kami tak menyangka Sioux bisa seperti sekarang. Sioux dulu hanya digawangi empat orang,” ujar Irwan, salah satu pendiri dan kini Ketua Umum Sioux 2009-2011. Irwan yang berlatar belakang pendidikan accounting itu semula mengaku tak tahu menahu dan tak tertarik pada ular. "Mengapa muscle? Kami ingin Anda menjadi otot penguat bagi Sioux dalam menjalankan visi dan misinya," imbuh Irwan."Dan saya berharap Anda tidak memperjualbelikan ular". Too well!

Buah manis usaha Sioux juga bisa berupa seringnya frekuensi ekspose dari media massa elektronik dan cetak dalam beragam mata acara. Sebut saja “Jejak Petualang” (TV7), Expedition (Metro TV), hingga “Laptop Si Unyil” (TV7), adalah beberapa acara TV yang sering melibatkan Sioux. Ekspose ini dinilai perlu dalam strategi branding. Popularitas Sioux perlahan ikut terkerek naik. Undangan untuk mengisi acara dan program edukasi pun mengalir dari berbagai daerah. Dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Dari kalangan pecinta alam, institusi militer hingga taman kanak-kanak. Apresiasi dan capaian yang patut disyukuri.

Sejatinya, apresiasi yang tulus juga tumbuh dari khalayak awam seperti peserta BTM Sioux yang hadir minggu awal Maret itu. Bukan hanya melalui sorotan kamera televisi yang mau tak mau, lambat atau cepat, bersinggungan dengan komersialisasi dan komodifikasi.

Simak beragam motif mereka untuk belajar tentang ular melalui BTM Sioux. Seorang perempuan guru Bahasa Inggris ,misalnya, mengajak dua keponakannya yang berusia 15 dan 11 tahun untuk turut serta. “Saya cuma ingin mengajak keponakan saya ini untuk melakukan kegiatan positif tapi tidak (berkesan) pamer. Ini daripada mereka, juga saya, keluyuran di mal !,” ujarnya lugas. Lain lagi dengan seorang peserta laki-laki yang tampaknya pendiam “ Saya takut ular. Dan saya punya saudara yang meninggal akibat gigitan ular. Saya tak mau jadi korban berikutnya,” ujarnya nyaris tanpa ekspresi.

Satu persatu peserta maju memperkenalkan diri dan memaparkan motivasi mereka bergabung dalam BTM Sioux. Termasuk beberapa muka lama Muscle Sioux yang terbilang sudah akrab dengan ular. Lany misalnya, perempuan paruh baya yang tinggal di Taman Wisma Asri, Bekasi ini, membawa serta Dimas yang masih berusia belasan tahun. “Saya baru saja berkonflik dengan warga di sekitar kompleks akibat ketidaktahuan mereka tentang ular. Mereka mengultimatum agar ular-ular yang saya tamping di rumah dibuang!,” imbuh perempuan penyuka kegiatan alam terbuka itu ekspresif. Hmm, menangani ular ternyata bukan perkara interaksi zoological belaka, bahkan sampai ke ranah (konflik) sosial.

Ketika jeda makan siang, Lany sempat berujar kepada saya, bahwa oknum-oknum tertentu di kompleks perumahannya memang tampak provokatif, merekalah yang diduga takut ular. Lany menengarai, “polemik ular” melulu hanya sasaran antara dari target sesungguhnya yang Lany sendiri mengaku tak tahu secara pasti. “Saya kan menampung dan merawat ular sudah lama, lah kok ribut-ributnya baru sekarang. Aneh kan?,” ujarnya masgul.

Acara BTM Sioux sendiri berlangsung menarik dan jauh dari membosankan. Dikemas dalam suasana cair, interaksi egaliter. Sederhana tapi terukur. Acara yang dimulai pukul 08.30 hingga berakhir pukul 17.15 itu serasa hanya bergulir dua jam saja. Mengasyikkan sekali.

Pelajaran Biologi Ular misalnya, cukup menyita waktu terkait banyaknya lontaran pertanyaan dari peserta. Dipresentasikan oleh ‘Gonyosoma’ Iil, materi pertama itu berupa pengenalan singkat morfologi dan anatomi ular. Organ dan sistem organ. Dari system respirasi, digesti, sekresi hingga reproduksi. Beberapa terminologi dalam sesi ini cukup saya akrabi. Kebetulan, ketika kuliah di Yogya lebih dari sepuluh tahun silam, selama tiga tahun saya sempat jadi co. assisten di laboratorium Biologi Umum. Dalam praktek pengenalan anatomi biasanya saya menemani adik kelas melakukan pembedahan aneka satwa dan mencandra organ dan sistem organ tubuhnya. Lazimnya pembedahan dilakukan pada hewan mamalia (binatang menyusui), reptilian, juga Aves (bangsa burung/unggas). Saya paling tak tega jika harus mengeksekusi seekor marmot nan lucu atau burung puyuh dengan memasukkannya dalam stoples yang di bagian dasarnya berisi segumpal kapas yang dibasahi kloroform sebelum selanjutnya membedah mahluk-mahluk tak berdosa itu dalam kaidah teknik yang dingin dan baku. Tapi lama-lama saya jadi biasa juga. Biarpun untuk keperluan ilmiah tetap saja bagi saya itu serupa penjagalan. Saya berharap Tuhan mengampuni dosa-dosa saya. Akan halnya membedah ular, saya belum pernah dan semoga saja tidak akan.

“Ular bereproduksi dengan tiga cara, melahirkan (vivipar), bertelur (ovipar) dan ovovivipar. Yang disebut terakhir ini ‘mengerami’ embrio telurnya di dalam tubuh sampai mature, kemudian melahirkannya layaknya vivipar,” ujar Iil menerangkan. Perempuan berjilbab jebolan Fakultas Kedokteran IPB 2002 ini adalah mantan Ketua Umum Sioux beberapa periode sebelumnya. Entah karena presenternya yang cantik atau memang materi presentasinya yang dirasa urgen, pertanyaan pun datang bertubi. Mulai dari fenomena ular berkepala dua, membedakan ular jantan dan betina, hingga bagaimana ular berkopulasi (berhubungan suami istri ular).

“Mbak, bagiamana dengan ular yang makan tubuhnya sendiri. Saya pernah melihat ada ular makan tubuhnya sendiri mulai dari ekornya,” pertanyaan surprise ini datang dari seorang peserta berambut a la Giring Nidji.

Wah, itu mah ular bunuh diri!,” celetuk peserta lainnya disambut tawa yang lain. Tapi Si Giring, eh, si penanya, tetap serius dengan pertanyaannya. “Mmm…kalau ular makan ular (kanibal) memang ada, tapi kalau ular yang makan tubuhnya sendiri sampai sekarang saya belum menemukan referensinya,” Iil mencoba berterus terang.

Hmm, ada-ada saja, ular kok harakiri.

Setelah sesi diskusi kelompok, sesi praktek penanganan ular menjadi salah satu atraksi yang menarik sekaligus mendebarkan. Diperagakan oleh kru Sioux yang berpengalaman, beberapa teknik menangkap ular diperlihatkan. Nurdin Jabrik misalnya, salah satu snake handler Sioux andal ini memperagakan teknik “bergaul” dengan seekor ular kobra. Jabrik cukup gampang dikenali lewat sejumlah posenya ketika mencium King Cobra. “Butuh keterampilan, keberanian khusus dan latihan kontinu untuk bisa melakukan hal semacam ini,” papar Jabrik.

Sesi berikutnya adalah cara menangkap ular. Ini tergantung lokasi ditemukan dan jenis ularnya. “Cara ini seperti matador di Amerika, eh, Spanyol,” Papar Rudi “Idur” Rahadian salah satu kru Sioux sembari tangannya meraih karung berbahan katun seukuran kantung kemasan tepung terigu. Bisa juga menggunakan selembar kain. Seekor Phyton reticulus sepanjang empat meter dan berdimater tubuh bagian tengah mencapai sepuluh senti dilepaskan dari kantung pembungkusnya. Hmm…agresif dan galak juga. Ketika Jabrik memegang ekornya kepala Si Phyton berusaha memburunya sembari bersiap mematuk. Jika kepala ular mengarah ke kanan Jabrik lantas berputar kekiri, begitu pula sebaliknya. Di depan, Idur bersiap dengan karung yang diregangkan di kedua sisi atas kiri dan kanan dengan kedua tangan. Jari-jari tangan agak dilipat ke sisi dalam untuk menghindari patukan ular. Sisi bawah kantung terigu atau lembaran kain sedikit ditekan menggunakan ujung kedua kaki sehingga kantung/kain matador tampak teregang merata. “Jika ularnya berukuran besar seperti ini, tak dianjurkan menangkapnya sendirian,” imbuh Idur mewanti-wanti.

Dengan perlahan dan tenang Idur lantas mengecilkan elevasi bentangan kain dari semula vertikal terhadap permukaan tanah menjadi diagonal dan secara perlahan sejajar tanah menutup seluruh kepala ular. Happ! Dalam hitungan detik kepala ular telah berada dalam genggaman (lihat foto).

Ular juga bisa ditangkap dengan tangan terbuka maupun dengan bantuan tongkat jika terutama untuk ular berbisa tinggi. Diluar pengetahuan karakter dan type ular, dibutuhkan ketenangan dan keyakinan yang kuat agar ular bisa ditangkap dengan benar dan aman. "Yang pasti selalu ingat STOP. Silence, Think, Observe, dan Prepare," kembali Boim Pengembara buka suara. Ini langkah standar untuk menghadapi ular. "Waspada dan jangan bunuh ular!"

Hmm, inilah saatnya! Jika sehari-hari saya hanya mampu mengelus-elus lima ekor kura-kura peliharaan saya, inilah waktunya mencoba menangkap ular yang ukurannya dua kali lipat dari Si Phyton yang menyatroni kloset di rumah saya nun lima tahun silam. Dengan tangan kosong tentunya. Karena beberapa peserta yang mencoba terlihat sukses melakukannya, nyali saya pun ikut naik berlipat. Antusias malah.

Dan…hihuu!, syukurlah saya bisa melakukannya. Saat itulah, rasa geli atau ketakutan saya pada ular mendadak sirna. Ah, mungkin hanya berkurang saja. Plus rasa sayang pada ular mulai bersemi di hati. Engg…ingg…eeengg…!

“Kendurkan dulu pegangannya, rahang atas dan bawah diratakan begini,” ujar Bang Oney merapikan latihan menangkap phyton galak pertama saya hari itu. Ya, saya juga merasakannya, pegangan saya masih terlihat kaku dan terlalu keras menekan kepala dan leher si phyton. Tapi saya cukup senang dengan latihan saya hari itu. Pikiran saya lantas melayang, seandainya saya lebih tenang dan terlatih lima tahun lalu, mungkin kloset di rumah saya masih aman sampai sekarang, dan saya punya ular phyton baru tanpa perlu memeliharanya dari orok atau membelinya dari pengepul mata duitan.

***

Semburat matahari senja mengulas epidermis ranting-ranting angsana. Pelepah Cocos nucifera berkesiur disapu angin, bersiul.

“Makasih banget, Bang. Terus terang saya belum puas. Masih banyak hal yang pengen saya tahu dan butuh saya latih,” kata saya sembari menjabat erat tangan Timmi. Jabat erat penuh rasa terimakasih juga saya sodorkan pada kru Sioux lain. Mbak Iil, Riri Goddes, Qim, Bang Oney, Bang Irwan, Nurdin Jabrik, Idur rahadian, Boim Pengembara, Icha Cebong, semuanya. Juga rekan-rekan BTM Sioux yang sejak hari itu akan menjadi sahabat-sahabat baru saya. “Jangan lupa kontak FB, Mas,” papar Sigit dan Abdul Basith. “Wah, kamu dah mulai keracunan uler tuh,” celetuk Denny Rudini, rekan peserta yang berasal dari Cimanggis, Depok. “Hehe..lihat saja,” balas saya sembari berjanji suatu saat akan mampir ke rumahnya melihat ular peliharaannya.
Senja itu hati dan pikiran saya terasa penuh. Penuh yang nyaman, dan terus saya nikmati sensasi itu dengan mengemudikan sepeda motor dengan kecepatan santai sepanjang Ciputat menuju Depok.

***

Tiba di rumah lewat maghrib, sosok kecil dengan senyum jenaka itu sudah menunggu. “Huh, gak enak seharian gak ada Ayah,” ujarnya dengan bibir agak cemberut. Saya peluk bocah kecil itu. Sungguh, saya tak sabar untuk mentransfer pengetahuan dan pengalaman yang saya dapat barusan ke tubuh mungil dalam pelukan saya itu. Saya berjanji akan mengajaknya serta di event-event Sioux selanjutnya.

Malam itu, agar tak disebut pulang dengan tangan hampa, saya memilih mengawalinya dengan mengajarkan tepuk ular pada Qen Ghifary Wisanggenie, putra saya yang akan genap lima tahun akhir april mendatang. “Tepuk ular…plok!-plok!-plok!, panjang…plok!-plok!-plok!, bersisik…plok!plok!plok!, berbisa…plok!plok!plok!, blep blep blep… (menjulurkan lidah maju mundur)”. Hehe…mata Qen berpendar girang. “Lagi, Yah! Lagi, Yah!.,” ujarnya dengan raut muka penasaran minta diajari. Mudah-mudahan guru TK nya tak ketakutan nanti. Tapi, jika toh akhirnya Tepuk Ular akan dicantumkan dalam kurikulum tambahan di TK Qen kelak, saya akan minta gurunya agar mengurus izin ke Sioux sebagai pemegang hak cipta Tepuk Ular yang menggelikan tapi cihui itu. Blep blep blep..!

Selasa, 02 Februari 2010

Cerita Bocah Pasar : Salep Tokcer sampai 'Sex Education' Tangkur Buaya


Saya tak keberatan disebut bocah pasar. Itu sekitar 25 tahun silam. Ketika saya masih sekolah dasar di Gisting Bawah, lebih 70 kilometer jaraknya dari Tanjungkarang, Lampung Selatan. Itu sekedar untuk membedakannya dengan kawan-kawan saya yang berumah di lereng Gunung Tanggamus. Bocah alas, hutan. Lagipula saya memang senang sekali dengan suasana pasar tradisional Gisting Bawah, terlebih ketika hari jumat.

Gisting, sebuah desa berhawa sejuk, masih termasuk lereng Gunung Tanggamus (2.500 mdpl), penghasil kol, sawi, dan hortikultura musiman lainnya.

Jumat adalah ketika bagian depan pasar yang berhadapan dengan jalan raya akan dipenuhi tenda-tenda besar dengan pengeras suara terpacak di atas tiang bambu. Saling beradu kencang menarik perhatian penghuni pasar dan lalu lalang orang. Dari semua itu, saya paling senang mendekati tenda penjual obat. Atraksi-atraksinya menarik.

"Aaaaakh!..aaaakh..! aaaaakh!...grrrk...!" Bunyi mengerikan itu menguar dari corong pengeras suara. Saya tergopoh, juga beberapa orang, mendekati tenda penjual obat gosok. Bukan cuma saya, kerumunan puluhan, mungkin seratusan orang segera saja membentuk koloni. Menyaingi tenda-tenda lain yang sontak sepi. O, ya, di sini tak pernah ada anggapan, obat yg laku adalah obat yang manjur, melainkan yang laku adalah yang paling menarik 'atraksi marketingnya'.

Teriakan menegangkan bulu kuduk tadi bersumber dari tenda penjual salep. Mengerikan kawan! Sungguh bar-bar yang saya lihat di sebuah jumat menjelang siang itu. Sesosok tubuh laki-laki dewasa bertelanjang dada dengan kepala tertutup kain terbaring di tengah arena. Penonton, laki-laki perempuan, dewasa, kakek-kakak, dan anak-anak seperti saya, berebut mendekat. Antara takut dan penasaran.

Di leher laki-laki dewasa itu...astagfirullah! Menancap sebilah golok! Dari samping kiri leher tembus ke sisi kanan. Darah berleleran. Sekitar tiga orang "pawang" acara itu, anehnya, tak tampak panik. Santai saja. Mengelap keringat, menghirup kopi, menata kotak-kotak kecil seukuran boks film negatif yang disusun di atas koper hitam lusuh. Satu orang saja yang serius memperhatikan korban 'pembunuhan' sadis itu. Ya, itulah untuk pertama kali saya melihat dengan mata kepala sendiri orang yang lehernya ditembus golok.

Belum habis rasa ngeri, seorang kru laki-laki lantas menyomot sekotak obat yang tertata rapi di atas koper. Membuka tutupnya, lantas jari telunjuk gemuknya mencolek banyak-banyak salep berwarna kehitaman, mendekati si korban pejagalan. Ah! Tanpa perubahan berarti pada air mukanya, dicabutnya sebilah golok dari leher si korban dengan tangan kiri. Sreezz..! Salep warna hitam yang munjung di ujung jari tangan kanannya segera saja dioleskan ke kedua sisi leher bekas 'tembusan' golok. Ajaib! Tak ada bekas luka menganga sedikitpun di leher 'korban'. Halus. Tak berbekas. Manjur nian itu salep.

Tanpa diperintah para penonton yang terkejut berebut mundur beberapa langkah dari barisan. Ini dia! Laki-laki yang saya kira sudah wassalam oleh tembusan golok di leher itu lantas bangkit lagi! Berdiri seperti orang linglung dengan sebagian dada dan lehernya masih menyisakan bekas darah. Dengan entengnya ia duduk di bangku kecil yang sudah disiapkan di tengah-tengah arena. Tugas untuknya selesai. Ia pun minta minum.

Berikutnya saya kira sudah bisa diduga. Si penjual salep tak kesulitan meraup ribuan rupiah dari penonton yang masih terkesiap takjub pada horor barusan. Sekitar seribu rupiah harga satu kemasan salep hitam itu. Si penjual salep berujar bahwa salep hitam itu multi fungsi. Kadas, kurap, panu, korengan, bahkan kutil menahun, bisa ditumpas dalam sekali oles. Entah, apakah di antara pembeli ada yang berminat pada salep itu guna 'mengobati' kasus seperti adegan horor yang barusan ditampilkan.

Di atas adalah satu pengalaman si bocah pasar yang sangat mencekam. Kisah lainnya tentu masih banyak.

Pernah pula saya menjumpai penjual obat kulit (yang diklaim berbahan baku minyak ular) yang aneh. Bukan atraksinya benar yang aneh. Dua orang penjual itu hanya memamerkan dua ekor ular pithon jinak yang dikerangkeng dalam sebuah kotak kayu. Si pithon sebesar lengan anak kecil itu sendiri terlihat lamban dan malas. Menjulur-julurkan lidah hitamnya yang bercabang. Tak banyak pengunjung yang tertarik. Mungkin gemas karena sepi peminat, satu laki-laki penjual minyak gosok itu mencengkeram mikropon. Ia berkoar keras agar siapapun yang memiliki ular agar sudi dibawa ke sumber suara. "Kobra boleh, sanca mau, welang dan weling juga silakan!". Ia akan membelinya dengan harga tinggi.

Dengan penuh percaya diri diulanginya pengumuman itu. Hmm, ada yang mendengar 'tantangan' itu rupanya. Tak sampai limapuluh meter dari tempat si penjual minyak gosok buka praktek, seorang 'Mang Sol Sepatu (biasa disingkat Mang Solpatu) berambut kribo bertubuh kekar terlihat menghampiri tenda penjual obat. Pada lengannya yang dibelit gelang akar bahar terlihat seekor ular berwarna coklat kekuningan tengah melingkar. Lengan kanannya memegang leher si ular yang tampaknya galak. Mang Solpatu bermaksud menyambangi Mang Obat Gosok. Si tukang minyak gosok melihat itu. Eh, ndilalah menyambutnya dengan senang sebab tawaran terjawab, kedua Mang Obat Gosok malah tampak terperanjat dari tempat duduknya lantas menjauh dari arena dengan muka ketakutan. Meninggalkan puluhan botol minyak gosoknya yang sepi peminat. "mang Solpatu tentu saja bingung. Minta ular dijawab ular, eh malah kabur...

Seingat saya, selain atraksi sulap, 'mencekam' atau malah horor, atraksi berupa cerita-cerita semi cabul cukup menarik perhatian pengunjung. Saya bahkan belajar 'sex education' untuk pertama kali ya, dari bakul obat dan jamu di pasar itu!

Suatu jumat misalnya, berhubung saya masuk sekolah siang (seusai sembahyang jumat) pagi-pagi saya sudah berangkat ke pasar. Jalan kaki sekitar tujuh menit dari rumah. Di salah satu lapak penjual obat, saya mendapati sebuah benda aneh berselimut kain mori putih di sisi kanannya. Saya dekati, wah...kepala seekor buaya! Awetan tentu saja. Hanya kedua bola matanya saja yang diganti dengan dua butir kelereng.

Jualan minyak buaya? Bukan. Laki-laki itu mengacung-acungkan sebentuk benda tak lazim sepanjang duapuluh lima sentimeter berwarna putih dan kuning kecoklatan. Tak lurus benar, tapi melengkung dengan diameter pangkalnya tak lebih dari tiga senti.

"Ini tangkur buaya, Pak! Kon**l buaya! Manjur bagi yang lemah gairah rumah tangga!" pekik laki-laki yang hari itu tampaknya memilih beraksi single tanpa asisten. Hmm, tangkur buaya. Ini untuk pertama kali saya mendengar ada istilah 'tangkur' dalam jagad pengobatan alternatif khas pasar. Bapak penjual kemaluan buaya itu tampak bersemangat bercerita. Ia lantas memberi tips-tips agar gairah pasutri bangkit dan rumah tangga jadi sejahtera, disertai bunyi-bunyi rintihan dan lenguhan aneh. Mata saya mendelik, mulut melongo mendengar kata-katanya, tapi tak paham maksudnya.

Beberapa jenak kemudian, pengebiri buaya ini lantas dengan cekatan memainkan pisau tajamnya. Memotong batangan-batangan yang diklaim 'anu buaya' yang telah dikeringkan itu menjadi seukuran dua sentimeter dan membanderol nya seharga seribu rupiah. Cukup murah menimbang klaim fungsinya yang katanya bikin rumah tangga jadi sejahtera. Seingat saya, banyak juga peminatnya. Bahkan seorang ibu-ibu dengan celemek yang masih terikat di perutnya (biasanya penjual sayuran)dengan terkikik malu-malu ikut-ikutan membeli seiris kemaluan (buaya).

Melihat respons tak terduga, keruan saja si penjual tangkur kian bergairah tanpa harus mengunyah sendiri sepipil kecil pun tangkur hasil buruannya yang entah dari sungai dan rawa mana. Segera saja saya membayangkan si pemburu tangkur pastilah jagoan layaknya tarzan si raja rimba dan rawa.

"Silakan bapak-bapak, ibu-ibu, rendam tangkur ini di air panas, kopi atau teh. Lebih bagus lagi direndam di segelas anggur. Minum pagi dan malam hari. Rasakan khasiatnya!" ujarnya berapi-api. Melihat lusinan tangkur diiris-iris layaknya sebatang wortel, entah berapa ekor populasi buaya 'pria' yang jadi impoten. Kasihan.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya masih bingung dengan ungkapan-ungkapan berbau ranjang yang diceritakan si penjual tangkur buaya. Penasaran, saya datangi bapak saya yang tengah asyik dengan pekerjaannya. Saya ceritakan tentang tangkur buaya. Apa betul itu buaya sungguhan, dan seterusnya. Seingat saya bapak tidak marah. Malah, dengan senyum simpul bapak saya menjawab bahwa si penjual tengah 'ndobos'. Ngibul. "Itu tangkur sapi dari rumah jagal! Gak ada manfaat seupilpun mbok kamu makan setengah kilo sekalipun!" ujar bapak saya dengan nada yakin.

Penjelasan bapak menjadikan saya tambah bingung. "Ooh...tangkur buaya palsu, ya. Kalo begitu, bapak dah pernah pake tangkur yang asli, ya?". Bapak saya diam saja.

Pelajaran berhitung kreatif juga pernah saya serap dari pasar. Tapi bukan sebangsa kumon atau jarimatika yang sedang ngetren itu.

Ada penjual yang menawarkan rupa-rupa barang dengan harga banting. Barang-barang tertentu sungguh-sungguh dibantingkan di atas barang pertama yang ditawarkan. Rumit? Begini, pertama-tama si abang menawarkan kain batik sidomukti (saya belum pernah dengar lagi namanya saat ini). Diambilnya kain batik yang dikemas menarik dalam kardus berukuran panjang duapuluh lima senti, lebar tujuh, dan tebal tiga senti, diletakkan di tangan kiri. Si abang bilang harga batik ini di toko 25 ribu perak. Mengaku tak tega, si abang memang tak menurunkan harga, tapi...buk!...membantingkan sehelai kain katun di atas sidomukti. jangan kuatir, harga tetap.

Pada bantingan pertama, si abang akan melihat air muka para calon pembeli. Tak tampak ada yang berminat? Dibantingkan lagi sebuah radio transistor kecil di atas kain katun. Harga masih tetap! Saat itulah si abang berorasi, betapa murahnya barang-barang berguna ini. "Bapak-bapak dan ibu-ibu bisa pergi kondangan dengan batik baru sambil mendengarkan Rhoma Irama di radio!" ujarnya atraktif. Lantas meluncurlah lagu "Begadang" dari mulut si abang untuk mencairkan suasana yang mulai tegang. Keringat berleleran di sekujur muka, leher dan lengan. Eh, penontong bergeming. Rupanya menunggu 'bantingan maut' berikutnya.

"Baik! Ini yang terakhir bapak-bapak ibu-ibu. Jangan menyesal ya? Jangan menyesal ya? Duuua limaa reeboooo!" diangkatnya sebilah gunting kain berukuran sedang lantas dibanting pelan di atas gundukan barang di lengan kirinya. Suasana biasanya berubah hening. Hmm.., pada bantingan ketiga atau kadang keempat itu (biasanya tambahan berupa barang remeh temeh seperti sebungkus peniti atau kapur barus), lazimnya sudah ada penonton yang mengacungkan jari. "Dibungkuus! Dibungkuus!"

Begitu terus berulang kali. Kejutan-kejutan akan muncul dalam kombinasi barang yang ditawarkan atau dibanting. Apa tak rugi? Menurut pikiran bocah seusia saya kala itu, setumpuk barang itu jelas terbilang murah. Entah bagaimana strategi 'pricing' nya agar si abang beroleh untung. Sepotong kain batik, sehelai kain sarung tenun samarinda (lagi-lagi klaim sepihak), radio transistor, dan belasan item produk lainnya. Sebenarnya masih ada kipas angin, setrika dll, tapi sepertinya hanya gula-gula penarik minat. Siapa tahu dibantingkan juga, begitu mungkin benak para penonton, termasuk saya.

Sampai saat ini saya belum tahu cara menghitung untung dari metode jualan barang semacam itu. Soal atraktif dan efisien, sepertinya ya. Sebab sebelum azan duhur berkumandang, barang-barang dagangan si abang sudah sangat banyak berkurang. Mungkin barangnya banyak yang palsu, saya menduga. Mutunya rendah tapi diklaim sebagai asli dan bagus. Tak mungkin saya menanyakan langsung trik-trik berhitung a la si abang banting. Bocah ingusan mau tahu apa.

Kenangan sebagai bocah pasar itulah yang membuat saya selalu menyenangi atmosfer pasar tradisional. Pikuk, kumuh, becek tak jadi soal. Biarpun tentu semua penyayang pasar tardisioanl berharap ada perbaikan yang berarti.

Hingga kini pun saya masih rutin mengunjungi pasar tradisioanl, di Depok atau pinggiran Jakarta. Setidaknya menemani istri memilah cumi atau tenggiri di los ikan. Murah dan segar biarpun tanpa kulkas.

Saya sering sedih melihat pasar-pasar tradisional meredup dan (terlebih) berubah wujud jadi mal-mal mewah dengan harga kios yang hanya bisa dijangkau kantong pedagang sekelas cukong. Interaksi sosial yang akrab antara penjual dan pembeli di 'pasar becek'(yang kuat dengan motif ekonomi sekalipun)selalu menggelitik syaraf rindu. Di sana, tak ada penjual yang senyam-senyumnya suka dipaksakan layaknya pramuniaga di pasar swalayan. Di pasar tradisional, penjual sayur bisa senewen jika sayur dagangannya dibilang berulat. Tukang ikan bahkan bisa langsung mengumpat jika tongkolnya dibilang busuk. Terbuka saja. Dan pembeli memang tak harus selalu jadi raja. Wong zaman demokrasi begini.

Akhirul kalam, dari sehebat-hebat pasar swalayan modern yang semilir dengan AC dan kesiur wangi para pramuniaganya, saya tak pernah lagi mendapati 'atraksi dagang' yang penuh kejutan, pelajaran strategi 'pricing' abang 'bantingan', dan...apalagi, 'sex education' tangkur buaya.

_______________________________
*Untuk Adikku tersayang, Ebiet : (kau belum lahir) Dan aku sudah (pernah) berdagang di sini, bahkan ketika aku belum bisa menghapus ingusku sendiri. Bersama Emak.

Minggu, 25 Oktober 2009

Antara Verry, “Sum” dan Mujinem


Sorot matanya nanar, rasa getun teramat sangat yang lama dipendam. ”…Terminal tiga itu…sarang perampok!” sembur perempuan bertubuh ramping itu dengan bibir agak bergetar. Tata cahaya di panggung minimalis itu meredup perlahan. Beberapa jenak, lantas, byarr! Lampu-lampu kembali berpendar terang. Tepuk tangan terdengar dari bangku penonton.

Malam, 12 Oktober itu, Bernadetta Verry Handayani tengah mementaskan teater dalam monolog “Sum ; Cerita dari Rantau”. “Sum” adalah oleh-oleh hasil riset Verry selama sepekan mengamati fragmen hidup sejumlah TKW di bandara, juga di kampungnya.
Banyak orang mahfum, biarpun dielu-elu sebagai ‘Pahlawan Devisa’, para TKW seringkali diperas setiba di negeri sendiri. Bandara Soekarno Hatta disebu-sebut sebagai salah satu ladang empuk praktik pemerasan para “pahlawan” itu. “Sarang Perampok!”

Dengan naskah ditulis oleh Andri Nur Latif, rekan Verry di Teater Garasi, “Sum” dipentaskan di halaman parkir kantor Komnas HAM sebagai bagian dari kampanye mendorong perlindungan perempuan pekerja migran alias TKW.

“Besok langsung ke Semarang, dipentaskan di sana,” papar Verry kepada saya, beberapa jenak saat mulai memerankan “Sum”. Menjelang pentas, ia tak henti menggerakkan tubuh. Meregangkan otot. Melompat-lompat.

Dibantu Bahrul Ulum, rekan Verry di Teater Garasi, sebuah microphone berukuran mini diselipkan di sisi kaus dekat leher.

Tak banyak properti di panggung 5m x 8 m beralas karpet merah itu. Seperangkat meja kursi kecil. Tape recorder, gentong keramik tanah liat, juga beberapa foto. Satu foto perempuan dipastikan dikenal hampir semua penonton di pentas itu. Marsinah.

Verry harus melupakan semuanya malam itu. Sebab ia akan menjelma “Sum”. Tak mudah.

Ayah Verry, Antonius Sukirno, terbaring lemah di kasur tuanya. Stroke menjadikan ritus geraknya teramat jarang keluar dari radius emperan rumah, kamar mandi, tempat tidur. “Maemnya masih bagus, masih bisa merepons omongan orang. Cuma, Bapak memang harus menenangkan hati, itu yang nggak mudah” ujar Ibunda Verry kepada Saya di rumahnya, sekitar dua pekan sebelum Verry mementaskan “Sum” di Jakarta.

Jika ada tugas ke Yogya, sesekali saya menyempatkan mampir ke rumah Verry. Menengok putri kecilnya, Lantannya Randya Gentari. Obrolan saya dengan Sukirno tak jauh dari perkara cuaca, atau Jogja pasca gempa. Kegiatan sehari-hari. Kadang politik.

Seingat saya, Sukirno simpati pada sebuah partai politik besar yang dikenal memiliki garis politik oposisi dengan pemerintah. Ia antusias ketika diajak bicara. Tak pernah mencoba berjarak. Saya lihat, ia biasa mengoleskan minyak angin atau balsem di sekitar leher dan hidungnya.

"Mbakyu mu memang begitu. Hobby. Mungkin hatinya di situ," Ujar Sukirno sembari membetulkan gagang kacamatanya. Entah, Sukirno menyesal atau mengerti pilihan putri keduanya itu untuk menggeluti teater. "Woo, ya. Mbakyumu sampai ke Jepang juga, kok. Mbuh, mau mentas di mana lagi nanti," imbuh Sukirno. Kulirik air mukanya ketika mengucapkan kata itu. Mata Sukirno agak melebar, ada binar samar di sana.

Kabar terakhir yang saya terima, Sukirno dirawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta.

Lantannya, biasa disapa Tanya. Saat ini belajar di sebuah sekolah alam di Yogya. “Lantanya itu kan nama bunga. Lantana, Lantana camara linnaeus” kata saya kepada Teguh Susilo Adjie. “Lah, Randya Gentari, kuwi artine ora nduwe gentar,” imbuh Adjie dengan mata separuh mendelik dan gigi menyeringai. Sepertinya ia memang tak gentar memberi puterinya nama itu.

Tanya atau Nyanya, tampaknya punya hasrat seni juga. Saya pernah melihatnya meliukkan tubuh mengikuti lantunan akapela dari mulut Bapaknya. Geraknya spontan, tapi tampak tidak ngawur. Persendian di lengan dan jarinya nampak lentur.

Ia juga gemar menggambar. Obyek rumah dengan kupu-kupu, burung, dan jemuran. Sesekali diimbuhi balloon, kotak dialog antar penghuni bidang gambar.

Menari, mungkin ini karena Adjie yang dulunya memang seniman tari. Saya pernah menyaksikan salah satu nomor tarinya di Teater Utan Kayu (TUK), Jakarta Timur. Saya tak ingat apa judul tariannya. Penata tarinya adalah Sutopo Tedjo Baskoro. Ia menari antara lain bersama Flory Fono.

Pernah juga menyaksikannya pentas di Taman Ismail Marzuki. Ia berduet dengan penari asal Jepang, Uki Naka, dalam satu nomor tari dengan koreografer Bagus Budi Indarto. Semua tari kontemporer.

Jika Nyanya terlihat luwes membawakan sebuah tarian, mungkin memang karena pengaruh Adjie. Tapi, saya tak mendapati gelagat apapun dari keluarga Adjie dalam hal tari. Dalam hal menggambar, lukis, mungkin ada. Kakek dan Ayahnya terampil dalam menggambar. Pamannya pelukis dan guru seni rupa.

Bisa jadi, Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) lah yang pertama kali membentuknya menjadi penari.

Saya duduk si tahun akhir sebuah SLTA di Prambanan, ketika Adjie minta agar saya mengambilkan formulir pendaftaran cantrik PSBK. Adjie tak berani pergi ke PSBK di Kasihan, Bantul, sendiri saja. Berikutnya, saya juga yang mengantarkannya untuk mendaftar sebagai cantrik, murid tari. Saat itu, empu tari Bagong Kussudiardjo (BK), masih hidup dan berkarya.

Tapi saya belum pernah menyaksikan Nyanya berakting, secara sadar atau dikondisikan.
Jauh sebelum melakonkan “Sum”, saya menyaksikan aksi teatrikal Verry pertama kali pada 1999. Di Gedung Taman Budaya Yogyakarta (sebelumnya Gedung Societet Militer). Pada awal Desember sepuluh tahun silam itu Ia memerankan tokoh Lucky dalam lakon “Sementara Menunggu Godot” (While Waiting for Godot). Aslinya Waiting for Godot, karya Samuel Beckett.

Disutradarai Retno Ratih Damayanti, semua karakter dimainkan aktor perempuan Teater Garasi. Verry jugalah yang menerjemahkan script karya besar Beckett itu dalam bahasa Indonesia. Saat itu saya masih kuliah semester akhir di sebuah PT di Yogya.
Saya tak pernah benar-benar paham lakon Godot. Tapi pernah membaca polemiknya di beberapa mimbar sastra dan “pasar wacana”, jauh sebelum saya menyaksikan pementasan Godot oleh Garasi.

Seorang rekan yang menyaksikan pementasan itu berpendapat, bahwa jalinan dialog antara Estragon (Gogo), Vladimir (Didi), Pozzo, Boy dan Lucky yang dibawakan aktor-aktor Garasi itu memikat. Lantas ia minta pendapat saya. “Absurd. Lebih dari itu saya kasihan pada Lucky, punggungnya pasti memar sebab membungkuk dari awal hingga akhir pementasan,” jawab saya. Selanjutnya, di sepanjang perjalanan menuju kost, teman saya itu tak bertanya lagi sepatah kata pun menyoal pertunjukan malam itu.
Lamat-lamat saja yang bisa ingat dari pementasa Godot oleh Garasi. Satu hal, saya juga seperti diajak menunggu tak tentu temu oleh biksu cilik Do Nyeom (Kim Tae Jin ?) dalam film Korea, "a Little Monk". Nyeom teramat sukar meraba deskripsi, seperti apa sebenarnya raut muka ibunya. Sedari kecil ia dititipkan di kuil yang dirimbuni pokok-pokok maple dan digurat selarik sungai berair bening itu. Mungkin Nyeom lebih beruntung, sebab ia masih bisa membayangkan rupa sang ibu lewat perempuan-perempuan yang pernah melintas di selasar kuil itu. Gogo, Didi, Pozzo? Mengandaikan eksistensi Godot di ceruk-ceruk kegalauan mereka sendiri.

“...Banyak hal yang kita tunggu tak akan pernah datang. Meski magnolia-magnolia mekar dan rontok, lagi dan lagi. Meski goresan di pohon maple makin tinggi dan tinggi..
“.. yang bukan milik kita tak akan pernah datang pada kita..
” “Do Nyeom, kau beruntung, mempunyai sesuatu yang kau cari..,” hibur Paman Penebang Kayu, sebelum Nyeom memutuskan minggat dari kuil. Menerabas kepekatan hujan salju. Mencari Godot nya sendiri.

Akting Verry bersama Garasi lainnya yang sempat saya simak adalah Repertoar Hujan (Rain Repertoire). Teater yang naskah dan penyutradaraannya dibesut Gunawan Maryanto itu saya saksikan di Gedung Bentara Budaya, di kawasan Palmerah Selatan, sekitar 2001.

Sependek yang saya ingat, Verry bermain, antara lain, dengan Jamaluddin Latif.
Minim dialog, kaya gerak. Di penggal adegan, saya dapati keduanya berduel menggunakan gerakan silat, kuda lumping, tari topeng, dan entah apa lagi. Mengingat kuda-kudanya, sepertinya formasi Bangau Putih. Atau malah ten kutzu dachi, juga hiba dachi, formasi yang pernah saya pelajari bersama Adjie saat kami masih di sekolah menengah.

Gunawan, dibandingkan Repertoar, saya lebih bisa menikmati puisi-puisinya. Juga sejumlah cerpennya. Terakhir, saya baca cerpennya di sebuah harian terbitan Jakarta berjudul “Mugiyono”.

Satu pementasan teater lagi saya lupa judulnya. Digelar di Pusat Kebudayaan Perancis, Yogyakarta.

“’Waktu Batu’, apik banget. Lah kamu, ora nonton,” ujar Verry suatu ketika. Kali ini dengan nada menyayangkan.

Mungkin sekitar dua malam “Waktu Batu” dipentaskan di gedung kesenian yang hanya berjarak sepelemparan batu dari kantor saya di bilangan Cikini. Entah, berapa lusin lagi garapan awak Garasi yang absen saya tonton.

Tapi, dari yang sedikit itu, “Sum” adalah yang paling realis. Saya sempat ingin tanya, apakah lakon ini adalah pesanan sebuah institusi atau sebentuk partisipasi.
Ketika saya mulai duduk di kursi penonton menyaksikan Verry melakoni “Sum”, ingatan saya langsung melayang pada Mujinem.

Paruh baya, sulung dari tiga bersaudara kelahiran Dusun Adiluwih, Pringsewu, Lampung Selatan. Di kawasan eks transmigran asal Pulau Jawa itu, Mujinem tinggal bersama Ibunya, Suci dan kedua adik lelakinya, Mujiman dan Kukuh.

Perkenalan saya dengan Mujinem berlangsung sejak saya kanak-kanak. Gadis sederhana berparas manis, rutin membantu ibu di dapur dan warung kecilnya. Sesekali juga ke kebun. Tipikal gadis-gadis sebaya di kampung itu.

Sang adik, Mujiman, laki-laki tampan bertubuh tinggi, paling sering mengajak saya ke kebun yang cukup luas di belakang rumah. Rambutan, kelapa, pisang, dan vegetasi khas tegalan tumbuh rimbun di sana. Musim rambutan adalah saat paling dinanti, buahnya besar-besar dan nglotok.
Mujiman juga yang paling tahu melebihi siapapun bahwa saya menggemari kenthos. Itu istilah setempat untuk menamai bakal tunas yang menyembul di sisi dalam buah kelapa. Bentuknya membulat dengan warna putih kekuningan. Tekstur kenthos renyah dengan rasa legit yang khas. Berbutir-butir kelapa, umumnya berusia tua, telah dibelah oleh tangan kokoh Mujiman hanya untuk memenuhi hasrat saya mengudap kenthos.
Aksi Mujiman membelah kelapa tua untuk menemukan barang sebutir kenthos hanya bisa dihentikan oleh hardikan Suti, Bu Lik (tante) Mujiman. Hardikan itu melengking, yang anehnya selalu disertai telunjuk dan cemberut muka yang selalu mengarah kepada saya, putranya. Padahal saya hanya bertugas mengunyah kenthos, tak lebih.

Adapun Kukuh, laki-laki kekar tapi tak sejangkung Mujiman, lebih sering bermain dengan Teguh Susilo Adji, keponakannya yang relatif sebaya.
Di malam hari, Kukuh gemar mengeluarkan bunyi-bunyian aneh di samping dekat tempat tidur saya, itu jika saya menginap di rumahnya. Suara itu terdengar jelas, sebab dinding anyaman bambu (gedheg) selalu menyisakan banyak celah. Maka, suatu malam saya akan mendapati suara orong-orong, tokek, burung hantu, atau bahkan cekikik tawa kuntilanak.

Biarpun takut, saya tahu suara-suara itu keluar dari mulut Kukuh.

Kini, Mujiman terbilang sukses sebagai petani kakao. Pringsewu, dan sebagaian Lampung mengalami booming kakao lima tahun terakhir. “Kakao basah harganya Rp 14 ribu sekilo,” papar Mujiman ketika saya mengunjungi rumahnya dua tahun lalu. Sepekan dua kali Mujiman menghunus parang buat memotong buah berbentuk lonjong itu di kebun.
Sekali panen, Mujiman bisa menjemur setidaknya dua kuintal buah bahan baku utama industri coklat itu di emperan rumah. Mula-mula sepotong kayu dihantamkan pada permukaan buah kakao, dicongkel bijinya yang diselubungi lapisan lendir warna putih. Lantas dijemur. “Belum sampai kering saja sudah dibeli pemborong,” ujar Mujiman.
Kakao menjadikan mereka cukup makmur. Padahal, lebih dari dua dekade lalu, keluarga kecil Suci adalah konsumen oyek yang telaten. Oyek, penganan berbahan baku hasil parutan ubi kayu yang dikeringkan itu adalah makanan pokok pengganti beras di kawasan sulit air itu.

Suatu ketika, saya mendapati oyek yang ditanak layaknya beras itu disajikan bersama dadar telur bebek. Biarpun teramat lapar, jangan terlalu kenyang makan oyek. Buang air besar bakal menjadi ritus yang agak merepotkan. Sampai sepuluh tahun silam, jamban atau wc masih berupa kubangan kecil dengan air menggenang. WC cemplung istilah lainnya. Jaraknya dengan rumah tak selalu dalam hitungan langkah. Malahan bisa berada di tengah kebun, seratus atau duaratus meter dari pintu belakang rumah.

Berkat kakao, kini, di depan rumah Mujiman berdiri Warung sembako berukuran 5m x 7m. Setahun lalu, Mujiman bahkan bisa memberangkatkan Ibunya, Suci, ibadah haji di Mekkah.

Biarpun lebih makmur, saya tetap merasa ada yang hilang. Saya tak bisa lagi berharap biarpun hanya sebutir kenthos. Juga rambutan. Tanaman-tanaman yang selalu jadi motivasi utama saya mengunjungi tempat itu kini telah habis dibabat. Berganti dengan ratusan pokok kakao dengan tajuk merimbun. Mujinem, biarpun kini kampungnya lebih makmur berkat kakao, sepertinya belum berniat pulang. Sejak belasan tahun silam Mujinem telah menggantikan peran “Sum” dalam arti sesungguhnya. Jadi TKW di Arab Saudi.

Sepertinya Mujinem kerasan di Arab Saudi. Majikannya baik. “Ora tega ninggalke anakke majikanku suwe-suwe,” ujarnya ketika mampir ke tempat saya tinggal, di Depok, sekitar setahun lalu. Ia tak tega meninggalkan anak-anak majikannya terlalu lama.
Seperti dituturkan Mujinem, ibu-ibu warga Arab Saudi jarang sekali momong anak dengan ketelatenan khas umumnya emak-emak di negeri ini. Dari memandikan, mengganti popok, bikin susu, mengantar sekolah, hingga menidurkan, semua ditangani pembantu. Mujinem tak cerita, ke mana saja enyak-enyak Arab itu pergi begitu mereka tak di rumah.

Bisa jadi, saat di mana pembantu bisa lepas tangan adalah saat majikannya ‘membuat anak’ dan melahirkannya ke muka bumi.

Anak-anak Mujinem, saya mengenal puteranya, Sugeng Prantio. Lulusan Fakultas Kehutanan IPB. Anak yang cerdas dan mandiri. Hingga saat ini ia bekerja di sebuah lembaga internasional yang bergerak dalam kampanye pemberdayaan masyarakat hutan lestari, The Forest Trust (TFT), di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Jika “Sum” digambarkan sebagai ‘mengenaskan’, saya tak melihat sedikit pun tergambar hal itu di kerut wajah Mujinem. Sayang, saat itu saya tak tanya, apakah ia juga pernah mengalami “perampokan” di terminal tiga, seperti yang pernah dialami “Sum” dan kawan-kawan.

Sekilas, di gurat wajah Mujinem yang mulai menua, memang bisa dilihat raut kepasrahan. Menjadikannya gampang rindu untuk kembali ke rumah majikan di Arab Saudi daripada pulang ke kampung sendiri.
Atau, gemerincing rial tetaplah daya tarik yang sukar ditampik. Tak mudah didapat jika hanya mengandalkan sepetak dua kebun kakao di kampung sulit air. Belasan tahun jelas bukan waktu sekejap. Di tengah humbalang kisah derita TKW yang lazim tersaji di koran-koran.

Berubah modus, perampok seringkali tetaplah perampok. Di terminal berapa saja. Dan Mujinem hanya lebih beruntung daripada “Sum”. Bernadetta Verry Handayani dan garasi kembali menegaskan itu lewat pementasannya. Malam lalu.

Senin, 12 Oktober 2009

Ganji Ayu di Matsuri, Apem Terbang di Yaqowiyyu




Ganji yang satu ini sungguh membuat saya kesengsem. Bukan cuma senyum lebar di gurat wajah manisnya yang memesona, tapi kombinasi gerak memukul taiko (gendang) kecil seukuran rebana yang berpadu rancak dengan gerak tubuh dan langkah kakinya juga enak disimak. Ia satu dari empatbelas ganji yang sore itu mendapat jatah membawakan tarian Okinawa Esia, salah satu acara “Jakarta- Japan Matsuri 2009(JJM 2009)” yang berakhir ahad, 11 Oktober lalu.
Di habitatnya, Kota Okinawa, Festival Eisa digelar untuk menandai datangnya musim panas. Festival digelar sejak awal Juni. Lazimnya, tarian dengan instrumen taiko berbagai ukuran itu dibawakan oleh 20-30 penari yang sekaligus berperan sebagai pemukul taiko alias Ganji.
Lah, ganji ayu yang saya lihat dalam formasi penari Okinawa Esia itu pentas di salah satu sisi Lapangan Monas saat Jakarta memasuki musim hujan. Jadi, kebalikan dengan musim pergelaran serupa di Perfektur Okinawa sono. Alhamdulillah, biarpun digelar saat awal musim penghujan, cuaca di Jakarta sepanjang sore itu ndilalah cerah belaka. Entah, berapa pawang hujan yang disiagakan agar “Saudara Tua” bisa maksimal mementaskan fragmen budaya dari negerinya. Sesore itu hidung saya tak menghirup bau kemenyan..


Sayang, pagelaran tari Okinawa Eisa hari itu berlangsung teramat singkat, tak sampai sepuluh menit. Panggung semi terbuka berukuran 12 x 6 meter itu juga terlampau sesak oleh ratusan penonton yang berjubel merubunginya. Saya jadi kesulitan mengambil sudut yang pas untuk memotret Ganji ayu dan kawan-kawannya saat beraksi membawakan tarian Eisa Okinawa. Untuk jarak sedekat itu, saya hanya membawa kamera dengan lensa 200 milimeter. Ditambah lagi, Melly San, istri saya, sudah melayangkan sikutan kecil ke arah rusuk. Pertanda saya harus menjauhi panggung untuk menuju stand-stand lain yang juga dijubeli pengunjung. Gagal sudah rencana saya menuntaskan gairah yang masih meluap untuk mengabadikan lebih banyak lagi aksi mBak ganji…dan kawan-kawan.
Di sudut berbeda, keringat Odajima San terus mengucur dari wajahnya yang bulat. Handukkecil warna hijau yang tersampir di lehernya yang kekar nyaris kuyup. Ia adalah satu dari lebih dari selusin calon pembawa arak-arakan mikoshi. “Ini salah satu bentuk persembahan kepada Tuhan,” papar Odajima San kepada saya melalui percakapan yang diterjemahkan Erizawati, rekan saya, atau tepatnya sohib Melly San. Erizawati dan Melly San satu angkatan saat kuliah pada jurusan Sastra Jepang di Universitas Bung Hatta, Padang, pertengahan 90an.
Sungguh beruntung hari itu kami mengajak serta Erizawati. Kemampuan berbahasa Jepangnya jempolan. Gadis minang bertubuh mungil ini punya sertifikat level 1 ( skala 1-4) atau level tertinggi dalam kemampuan berbahasa Jepang. Erizawati, Melly Chan dan juga beberapa rekannya memanggilnya Iwat, pernah beberapa tahun belajar di Jepang. Makanya Erizawati alias Iwat cukup cas-cis-cus bercakap maupun menulis dalam Hiragana dan Katagana. Pengalaman kerjanya sebagai penerjemah di beberapa perusahaan memungkinkannya bolak-balik ‘melancong’ ke Jepang. Setelah resign dari pekerjaan penerjemah pada sebuah perusahaan di Batam, kini ia bekerja di sebuah perusahaan lain di Cikarang, lagi-lagi sebagai penerjemah. Kata Melly San, gajinya lumayan gede. “Lebih lagi masih single, keponakannya saja dibelikan Mio,” ujar Melly San kepada saya suatu ketika. Hingga tulisan ini selesai diposting, Iwat tampaknya masih senang melajang. Kalau tak ada aral melintang, kami merencanakan untuk menulis (adaptasi) sebuah novel penulis Jepang. Iwat sempat semalam menginap di rumah saya di kawasan Cagaralam, Depok. Tampaknya ia kangen ngobrol dengan Melly San. Masih menurut Melly, Iwat cenderung pendiam jika tak menemukan orang atau topik percakapan yang menurutnya menarik. Tapi, seharian menginap di rumah, saya sesekali mengamati Iwat bercakap dengan Qen Ghifary Wisanggenie (4,5 tahun) putra saya. Padahal, diantara kakak dan para keponakan Qen dikenal suka usil dan biang ribut.
Beberapa jam sebelum kami berangkat menonton JJM 2009 di kawasan Monas, Erizawati masih sempat memberikan saya halaman prolog, serta dua bab dari terjemahan novel yang jadi proyek kami. “Berapa lama kamu menerjemahkan ini,” kata saya sembari membaca paragraf demi paragraf prolog dan dua bab yang terlihat mengalir dan wajar lazimnya bukan hasil terjemahan itu. “Beberapa jam saja, kulakukan sepulang kerja,” ujar Erizawati enteng. Sekilas bisa dilihat novel yang ditulis berdasar kisah nyata itu. Mungil. Kertas tipis halus warna kekuningan, mirip kertas yang dipakai Majalah TIME, dengan size tak lebih dari 15 x 25 sentimeter. Tebalnya kira-kira dua sentimeter dengan aksara Jepang di lembar-lembarnya.
“Ya, di Jepang Mikoshi biasa diadakan pada musim panas,” imbuh Mishima San, rekan Odajima. Mishima San juga tampak berkeringat, kacamata hitamnya kontras dengan warna kulit mukanya yang kuning cerah. Ketika Erizawati, Mishima San dan Odajima Shan bercakap, gesture tubuh mereka beberapa kali terlihat terbungkuk-bungkuk. Batin saya, kalau Erizawati menguasai bahasa etnik India, saat bercakap seperti hari itu, pasti kepalanya yang menggeleng-geleng seperti aktor-aktris Bollywood berdialog. Punggungnya nganggur.
Sekilas, bentuk Mikoshi menyerupai miniatur kuil yang diletakkan pada dua bilah kayu panjang yang berfungsi sebagai tandu. “Kuil” mini itu dominan dengan warna merah dan emas. Di Jepang, tak jarang Mikoshi dilapisi emas dan aneka asesoris. Orang Jepang percaya ada Dewa yang tinggal disitu. “Beratnya satu ton dan 250 kg,” ujar Mishima San sembari menunjuk dua mikoshi itu. Satu ton? Salah duga, saya kira cukup enteng. Ukurannya saja tak lebih tinggi dari 1,5 m dan lebar 1,5 m. Mikoshi satunya lagi malah berukuran hampir separuh dari yang pertama. Sore itu saya melihat keduanya terongok tak jauh dari panggung utama festival. Diberi tali tambang pembatas warna putih dan dijaga setengah lusin petugas keamanan berseragam biru. Banyak juga pengunjung yang menjadikannya latar belakang untuk berfoto. Saya juga memotretnya dari beberapa sudut. Iseng saya amati, rata-rata pengunjung yang berfoto dengan latar belakang mikoshi berpose dengan jari tangan membentuk huruf V, victory. Saya tak yakin, mereka barusan memenangi kuis atau lotre.
Di sisi depan mikoshi ada sebotol sake dan beberapa gelas plastik. “Apakah para pemanggul mikoshi dibiarkan teler dulu sebelum mulai mengaraknya,” Tanya saya iseng. “Ah, tidak, tidak! Mereka tidak boleh mabuk saat memikulnya,” sergah Mishima San. Ooo..

Melihat sebotol sake, bir khas jepang hasil fermentasi beras, membuat saya membayangkan lagak langkah Jacky Chan dalam film kungfu Drunken Master, yang tetap sakti biarpun dalam keadaan teler. Ternyata, mabuk bagi pemikul mikoshi haram hukumnya.
Saya melihat lusinan pemikul Mikoshi sedang bersiap. Macam-macam model pakaian mereka, agak susah mendeskripsikannya di sini. Mereka terdiri dari orang tua hingga anak-anak (umumnya sebagai pengiring). Laki-laki maupun perempuan. Hari itu, cukup mudah membedakan mereka yang “warga” Jepang asli maupun partisipan lokal yang “kejepang-jepangan”. Warna kulit mereka khas. Dan, terus terang ini yang membuat saya cukup bergairah menikmati Matsuri : gadis-gadis Jepang yang rata-rata cantik. Ketika saya mengungkapkan ini dihadapan Melly San dan Erizawati, spontan mereka menjawab bersamaan “Wuooo….”. Wisanggenie yang kecapekan dan saya gendong di punggung memilih diam saja. Dari pengalaman bergaul dengan Wisanggenie selama ini, nampaknya dia tahu maksud kata-kata saya barusan. Tapi, sepertinya hari itu Wisanggenie ada di pihak kaum laki-laki.
Sinar matahari sore itu boleh redup, tapi tidak demikian dengan semangat seorang laki-laki berkewarganegaraan Jepang bertubuh tegap itu. Ia tengah memandu latihan gerak langkah duapuluhan gadis cilik (5 – 12 tahunan) yang akan berperan sebagai pengiring arak-arakan mikoshi. “Satu..! dua..! tiga..! ampat..! Ulangi-ulangi..! Yak, mulai, satu..! dua..! tiga..!,” teriaknya dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih. Dasar anak-anak, “Ee, tunggu! Tunggu! Kesini..! Saya kira kamu dibawa kucing garong!” ujarnya mengingatkan bocah-bocah yang memakai dandanan unik yang sering mencelat keluar dari barisan itu. Beberapa pengunjung tertawa melihat polah pemandu yang kocak plus tingkah bocah-bocah cilik dengan dandanan bak dewi-dewi khayangan dengan tongkatnya yang bergemerincing. Beberapa bocah berusia paling muda terlihat paling sering ngeloyor keluar barisan sebelum satu tahapan latihan usai. Mereka menuju emaknya masing-masing yang ikut menyaksikan latihan. Dewi-dewi khayangan mungil ber make up menor dengan bibir bergincu merah menyala itu rupanya kehausan, minta disuapi makanan kecil atau es buah. Maklum, bocah-bocah Indonesia asli, Pelatih San!

Yaaqowwiyuu…
Melihat arak-arakan Mikoshi hari itu mengingatkan saya dengan arak-arakan serupa, yang rutin digelar di salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bedanya, yang diarak bukannya miniatur kuil layaknya Mikoshi, melainkan gunungan kue apem. Dan entah, berapa ratus kilogram beratnya. Ritual Yaqowwiyu namanya.
Digelar dikawasan Jatinom, sekitar 20 kilometer utara Klaten. Arak-arakan pemanggul gunungan apem, penganan tradisional berbahan tepung beras dan gula merah itu, digelar setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa. Setelah didoakan, tumpukan ribuan potong apem itu disebarkan ke ribuan pengunjung yang menyemut. Mereka percaya apem yang mereka peroleh akan membawa berkah.
Tradisi ini konon digelar menandai kepulangan Kyai Ageng Gribig, seorang ulama penyebar ajaran Islam asal Jatinom seusai berhaji di Mekah. Kabarnya, beliau menenteng oleh-oleh kue apem untuk dibagikan kepada tetangga dan kerabatnya. Belum jelas benar, apakah apemnya made in Mekah atau racikan sang kyai sendiri. Yang jelas, sang kyai kekurangan stok apem akibat pincangnya supplay and demand. Alhasil, beliau memerintahkan pengikutnya untuk memproduksi lebih banyak apem untuk dibagikan pada hari Jum'at Pon.

Jangan samakan karakter warga Jepang yang biasa disiplin dan tertib dengan masyarakat Indonesia, terlebih di era Kyai Gribig sekian abad silam. Tumpukan kue apem berwarna coklat muda itu harus dibagikan dengan cara dilemparkan melalui panggung yang tinggi. Maklum, budaya antri belum ada.
Anehnya, biarpun sekarang budaya antri sudah mulai terlihat, setidaknya di depan teler bank, supermarket, atau di loket-loket bioskop Kota Klaten dan sekitarnya, panitia tradisi apeman tampaknya menolak keras mengubah metode pembagian apemnya. Tak ada ide, misalnya, pembagian apem melalui sistem kupon, paket pos, atau sekedar membuat barisan antrian. Alhasil, wuss…wuss…wuss.. Ribuan orang berebut kue berdiameter tak lebih dari sepuluh sentimeter berketebalan rata-rata dua sentimeter itu ke manapun ia dilemparkan. Apem terbang.

“Ketidakdisplinan” khas warga Indonesia ini anehnya tak pernah diprotes oleh siapapun. Termasuk Komnas Ham, Komnas Perempuan dan Anak, tak juga Kontras. Bayangkan, laki-perempuan, anak-anak hingga nenek-nenek berebut apem dengan gairah yang sama, tapi dengan tenaga dan daya tangkap apem yang berlainan. Tak terhitung kisah nenek-nenek atau mbakyu-mbakyu yang terinjak-injak hingga semaput, sementara hak-hak mereka sebagai warga negara (Jatinom) untuk mendapatkan barang sebiji apem malah luput. Belum lagi bocah-bocah cilik yang menangis hiteris terjepit massa, bahkan hilang sesaat sebab ditinggalkan orangtua mereka yang berjibaku berebut apem.

Seperti halnya Mikoshi, tradisi Yaqowwiyu alias apeman kental dengan nuansa religius. Seperti dikatakan Odajima San dan sohibnya, Mishima San di atas, Mikoshi adalah sebentuk bakti rakyat Jepang pada Tuhan mereka. Yaqowwiyu? Kalimat yang bermaknai Allah Yang Mahakuat, itu konon diucapkan Kyai Ageng Gribig pada saat membagi kue apem….

Jumat, 09 Oktober 2009

Tebing Siung#1


Ada deru di situ
Pada angin pada gelombang
Pasir dan kulit kerang
Dan ombak yang selalu patah sebelum sampai tepi kakimu
Begitu berulang tanpa enggan semusim pun
Dan ketika cakrawala redup
Sisa unggun api mencelup surai cemara
Geliat akar pandan dan remah cangkang serangga
Menjalankan sebuah lakon pada layar cadas purba
dan sampai unggun padam dan api memudar
Uap garam menggantung menyisakan tanya
Babad apakah yang tergelar semalam
(Siung, Dec 08)