Jumat, 24 September 2010

"Aku Rindu Ia Bersuara, Memanggilku..Ibu.."




Hawa kawasan Cagaralam, Depok, gerah siang itu.

Jemarinya yang kurus dan agak pucat cekatan memainkan joy stick. Matanya tak berkedip menatap monitor televisi, tak sampai dua meter di hadapannya. Brazil vs Inggris. Games sepakbola adalah salah satu favorit remaja tinggi kurus berambut jabrik itu, Eko Prasetyo. Aroma obat menguar tipis dari ruangan itu, dan semakin pekat begitu mendekati sebuah nebulizer, perangkat elektrik pengencer dahak. Di tempat itulah selama lebih dari tiga tahun Eko “bermarkas”. Melawan kebosanan dan rasa sakit yang masih mendera. Entah sampai kapan.

Selain poster pesepakbola Inggris Frank Lampard, foto bersama kedua adiknya, kliping koran yang dibingkai sederhana menghias dinding kamar seluas empatmeter persegi. Kliping sebuah koran lokal yang menceritakan kisahnya.

Senyumnya mengembang begitu saya kembali menyambangi rumahnya, pada sebuah siang beberapa hari menjelang puasa Ramadan. Rumah petak dengan ongkos sewa tigaratus ribu per bulan. Ayah Eko karyawan biasa pada sebuah perusahaan swasta. “Pakabar, Ko?,” saya menyodorkan tangan. Ia balas menjabat, mengangguk, tersenyum lepas. “Baik, Mas,” kali ini ibunya, Etty Herawaty, yang membalas.

Sejak jatuh dari kereta api, tiga tahun silam, Eko masih belum mampu berucap sepatah kata. Persis di tengah batang lehernya terpasang perangkat logam untuk mengamankan fungsi pernafasan. Makanan cair masuk melalui selang yang menelusup melalui lubang hidungnya. “Di sini dibikin sayatan lagi. Terus di sini. Nah, yang ini bekas sayatan pertama,” Etty menunjuk gurat-gurat bekas sayatan pisau bedah di leher Eko. Gurat kemerahan.

Melihat leher Eko yang koyak moyak begitu, sebagian tengkorak kepalanya yang pernah remuk, plus logam terpasang di lehernya, saya jadi teringat aktor Hollywood Arnold Schwarzenegger dalam lakon “Terminator”. Manusia robot. Bedanya, Eko manis dan selalu terlihat optimis. “Bagi saya, Eko itu mukzizat,” Etty, 39 tahun, berujar lirih. Matanya menerawang.

***

Senin pagi 06 Agustus 2007.
Aku tengah mempersiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran sekolah anak keduaku yang mulai memasuki SMP ketika berita mengejutkan itu tiba. Tepat di hari ulang tahunku yang ke 36, senin pagi, sekitar pukul 08.00. Suara dari seberang HP berujar, bahwa saya harus tabah, sabar, tawakal, pasrah, dan segera ke RS Pasar Rebo, kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur. Segera. Eko Prasetyo (17 tahun), anakku sulungku mengalami kecelakaan, jatuh dari dalam gerbong dari KA di sepanjang rel Rawa Bambu, tak jauh dari Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Bagai disambar petir, sesak dadaku, telingaku terasa terbakar, panas sekali. Kakiku seperti tak bertulang, lemas sekali. Tapi aku harus segera melihat buah hatiku, yang keadaannya entah bagaimana aku tak tahu. Pikiranku campur aduk tak keruan. Di perjalanan pun aku mencoba untuk tenang, tapi kian tak bisa,…bahkan sempat tersirat di pikiranku bahwa aku sampai di rumah sakit hanya mendapati anakku telah menjadi mayat.

Akhirnya aku sampai juga di RS Pasar Rebo. Aku langsung mencari informasi dengan bertanya pada resepsionis, tapi Eko tak ada di situ. Katanya, tadi memang ada di situ tapi dipindahkan ke RS Harapan Bunda yang letaknya tak begitu jauh dari RS Pasar Rebo. Aku pun meluncur ke sana.

Dan apa yang terjadi di depan RS tersebut aku melihat dan mendapat sambutan dari para guru dan teman-teman anakku yang setia menemani. Mereka menghampiriku dengan menangis histeris memelukku seolah aku ibu mereka sendiri. Aku tak kuasa menahan semua itu. Segera aku menemui dan menghampiri anakku yang sedang sekarat. Dengan sekujur terbebat perban, darah berceceran ke mana-mana, dan tubuhnya terus mengejang menahan sakit. Hancur hatiku.
Ibu mana yang sanggup menyaksikan buah hatiunya seperti itu. Pupus sudah harapanku. Kematianlah yang ada di pikiranku saat itu. Siapkah aku ditinggal pergi buah hatiku, dengan cara seperti ini?

Aku, keluarga dan kerabatku berunding untuk mencapai kesepakatan dengan dokter. Sebab hari itu juga harus dan segera dioperasi. Anakku terluka parah “Kalau telat, anakmu takkan selamat,” suara itu seperti vonis malaikat pencabut nyawa. Hasil scanning menunjukkan bagian kepala anakku luka parah kalau tak bisa dikatakan remuk. Kehilangan banyak darah dan oksigen. Sebagian besar otaknya sudah tertutup darah beku. Kebingunga memuncak saat pihak rumah sakit memintai biaya Rp 36 juta untuk biaya operasi.

Keributan tak urung terjadi antara pihak RS Harapan Bunda dengan keluargaku. Emosi yang menggunung meledak dalam isak tangis. Sampai jam 3 sore, anakku masih dalam kondisi kritis. Musyawarah menguras pikiran, alot. Alasannya bermacam-macam, ICU penuh, peralatan kurang, juga karena anakku terluka parah. Hasilnya : anakku ditolak RS Harapan Bunda. Batinku, apakah ini semua karena kami bukan dari kalangan keluarga berpunya?

Waktu berlalu, anakku masih tergolek lemah antara hidup dan mati. Dua rumah sakit menolak tubuh tak berdaya anakku. Apa yang harus kami perbuat? Membiarkan anakku mati dengan cara seperti itu? Kami berbuat apa saja. Bapakku akhirnya menghubungi salah satu kerabatnya. Mobil ambulans akhirnya tiba, mengantarkan tubuh sekarat anakku dengan kepala remuk kehabisan darah (dari jam 08.00 sampai lepas maghrib!), menuju RSPAD Gatot Subroto. Sampai di UGD jarum jam menunjukkan pukul 19 WIB.

Setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, anakku pun masuk ke ruang ICU. Eko mengalami luka parah di bagian kepala. Berdasarkan hasil diagnosis dokter ICU RS Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Eko didiagnosa menderita cedera kepala berat (CKB).

Ada optmisme yang membuncah ketika dokter dan perawat sejenak membesarkan hati kami. Namun, masalah administrasi seringkali seperti es, beku, sehingga pertengkaran kecil kembali terjadi antara aku dengan bagian loket. Konsultasi dengan dokter menghasilkan percakapan panjang. Dokter menyarankan agar anakku segera dioperasi, rembukan keluarga kembali digelar. Malam itu kulalui dengan hati dan pikiran kalut.

7/8/07. Pagi tiba.
Kuputuskan untuk menerima saran operasi, dengan salah satu risiko adalah sebagian tempurung kepala anakku harus diangkat. Lembar persetujuan untuk melakukan operasi terhadap anakku pun kutandatangani. Pagi sekitar pukul 09.30 aku pun mempersiapkan segalanya. Empat jam kemudian anakku mulai masuk ruang operasi. Kami sekeluarga menunggu dengan benak dan pikiran tak menentu. Sekitar pukul enam sore, anakku sudah kembali berada di ruang ICU.

Dua minggu kemudian, anakku mengalami pembengkakan di bagian dada sebelah kanan. Ada cairan yang masuk ke dalam tubuhnya, di mana cairan tak masuk ke lambung melainkan ke paru-paru. Efeknya, badannya membengkak seperti balon diisi air. Akhirnya di sisi pinggangnya dibuat lubang, mengalirlah cairan itu keluar dengan menebar bau tak sedap. Selama dua hari cairan itu masih keluar. Sekitar tiga minggu kemudian dipasanglah alat bantu pernafasan di leher bagian depan.

Sehari-hari, terlihat wajah anakku, yang pucat, diam. Di sisinya tegak tiang infus berikut botolnya. Alat monitor detak jantung, dan ventilator terpasang di tubuh anakku. Dokter mengatakan bahwa anakku belum sadar. Masih membutuhkan perawatan ekstra. Anakku dalam kondisi antara koma dan trauma panjang. Dokter memintaku agar sabar dan pasrah, ikhlas dan berserah diri kepada Sang Pencipta.

8/8/07 Entah aku tak begitu paham, peralatan apa saja yang terhubung pada tubuh anakku.
Obat-obatan yang harganya teramat mahal bagi kami, harus ditebus. Kami hanya ingin anak kami selamat. Berikutnya, rutinitas baru harus kujalani untuk memantau keadaan anakku. Mulai dari menebus obat, mengambil hasil tes darah, dan aneka pemeriksaan lainnya. Hari-hari seperti teramat panjang. Aku Cuma bisa berdoa, berdoa, dan berdoa demi kesembuhan anakku.

Allah SWT penuh kasih. Hadiah yang amat berarti bagiku saat itu, didatangkannya, tepat sebulan dari saat anakku mengalami kecelakaan. Pada 6 September 2007, anakku untuk pertamakalinya tersadar dari tidur panjang. Matanya terbuka, biarpun cuma sebelah, mulut bergerak-gerak seperti hendak mengabarkan ‘perjalanannya’ selama tidur panjang. Dokter mengajukan sejumlah pertanyaan sederhana pada anakku yang tergolek lunglai di dipan. Alhamdulillah, ia bisa meresponsnya. Sore harinya, anakku dipindahkan di ruang perawatan isolasi PU (Perawatan Umum) di lantai empat.

Belum selesai. Sejumlah perilaku yang mengkhawatirkanku muncul dari tabiat anakku yang mulai meronta-ronta biarpun tangan dan kakinya terikat. Aku kasihan…marah…juga sedih campur aduk. Selama satu bulan, dibantu perawat, aku dilatih merawat anakku. Ujian kesabaran bagiku belum berada di garis akhir.

Ramadhan pun tiba. Pada 5 Oktober 2007 anakku sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dari atas kursi roda anakku tampak kurus. Belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk makan pun harus berupa cairan yang dialirkan melalui selang lewat hidung. Biarpun begitu kesehatannya berangsur membaik. Belum, belum selesai. Agenda operasi kembali dijadwalkan pada 9 Januari 2008 berupa operasi vistel. Ternyata, pada hari itu vistelnya tertutup sempurna dengan sendirinya. Merayakan Idul Fitri, lazimnya hari kemenangan itu adalah saat yang membahagiakan. Tapi, justru kesedihanlah yang kurasakan. Betapa tidak, melihat putraku terbaring lemah, tak mampu berjalan, makan dan minum pun masih menggunakan selang di hidung (sonde). Kursi roda lah yang menjadi pengganti kakinya selama enam bulan. Setiap pagi dan sore, kupapah anakku untuk belajar berjalan. Syukurlah, usaha itu membuahkan hasil, biarpun masih sempoyongan, perlahan tapi pasti anakku mulai bisa tegak di atas kakinya sendiri.

Akhirnya, pada 29 Februari operasi jadi dilaksanakan pada pukul 08.00 dan berakhir sekitar pukul 11.00. Seusai operasi dokter THT mengungkapkan padaku bahwa anakku harus kembali dioperasi pada 31 Maret. Sayang, rencana operasi gagal. Pada akhir April, rencana penutupan saluran pernafasan buatan pun gagal karena adanya infeksi dari virus Hepatitis C. Duh, dari man asalnya semua itu. Belum selesai satu persoalan muncul lagi persoalan baru. Setelah itu serangkaian operasi kembali dijalani anakku.

Menurut dokter, anakku harus menjalani pengobatan hepatitis. Terapi melalui suntikan selama satu tahun, dengan biaya sekali suntik setiap minggu Rp 3 juta. Dari mana saya harus memenuhi biaya itu? Rumah kontrakkan yang ditempati sejak lebih dari sepuluh tahun lalu itu pun hanya Rp 300 ribu per bulan? Akhirnya, terapi herbal yang lebih murah kujalani.

Operasi demi operasi harus segera dijalani anakku untuk kepulihannya, dan sayangnya, hingga saat ini belum berhasil memunculkan suaranya. Bahasa tarzan seringkali harus kami gunakan. Juga bahasa tulisan. Sungguh, aku rindu mendengar suaranya ia memanggilku ibu…

Yang membuatku berbesar hati adalah, dalam kondisinya yang tak seperti dulu, anakku beriskukuh untuk tetap bersekolah. Biarpun harus mengulang setingkat lebih rendah dari rekan-rekan seangkatannya dulu. Aku melihat ada semangat dalam binar mata anakku untuk menatap masa depannya. Senyumnya memang cerah seperti tak pernah terjadi apa-apa. Biarpun hingga kini aku belum juga punya jawaban, bagaimana harus menyekolahkan dua anakku lainnya, yang mulai masuk sekolah menengah dan akan memasuki TK.

Entah, mana yang harus kudahulukan, sementara suamiku, yang begitu sabar, adalah karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta. Anakku masih harus menjalani operasi lagi, agar ia bisa berkomunikasi dengan guru-guru, rekan dan saudaranya tak lagi dengan bahasa isyarat. ..

***

(Di atas penggalan cerita Etty kepada saya, lebih dari setahun lalu. Kini, kondisi Eko sepertinya terus membaik. Ia seperti tak pernah kehilangan optimisme. Dengan leher dililit scarf, ia berani bepergian sendirian. Naik angkot. Juga kereta api! Termasuk ketika melamar pekerjaan. Saya tak tahu bagaimana caranya ia lolos jika suatu ketika harus menjalani tes wawancara. Pita suaranya belum berfungsi normal. Karena itu, lewat tulisan ini saya mencoba menemani Eko bersuara…

Rabu, 28 Juli 2010

Bocah Laki-laki yang Jatuh Cinta pada Pohon


sebatang pohon curhat padaku siang itu. ia bilang baru didatangi bocah laki-laki yang mengaku cinta kepadanya. bocah itu mendekat, meraba gurat epidermis wajahnya, lalu ia tersenyum-senyum (rindu yang dikulum)

apa yang bocah itu mau?, kataku
kambium di pusat tubuhku!
kenapa begitu?
ia berkata dari sanalah dirinya bermula, ia ingin pulang ke kambiumku

dan malamku tiba tapi segera saja berlalu tanpa kejatuhan sebutir mimpi
dan pada sebuah fajar aku terbangun, terkesiap
mendapati bocah laki-laki itu terbaring
di sisiku
tersenyum senyum (rindu yang dikulum)

Minggu, 18 Juli 2010

Waspada! Koempeni dan Kenpeitai Moentjoel Lagi !




“Minggir!..Minggir..! Awas, haik! Bagerooo..!,”

Kenpeitai bermata sipit dengan samurai tersampir di pinggang itu mengibaskan tangan. Menyuruh seorang ibu muda yang menggandeng putri kecilnya itu menepi. Saat menghardik itu loh! Mimiknya serius meyakinkan, mulutnya dimonyong-monyongkan. Seragam hijau lumut bertabur pangkat kemiliteran kekaisaran Jepang di pundak dan dada, kian membuatnya berwibawa. Sesekali Sang Kenpei menaikturunkan kacamata bulatnya. Mendelik-delik ke arah si bocah. Eeh, alih-alih takut, si ibu dan putrinya malah senang dan cekikian. Lah, kok!

****

Woah! Pipiku tau ditampar kempei ping pindo! Pluok!..pluok! Loro tenan! Kempei kui kejam, galak’e ngepol!” (“Wah, pipiku pernah ditampar kenpeitai dua kali. Plok! Plok! Sakit banget. Kenpei itu kejam, galak banget!”) ujar Mbah Darmo (80an), menceritakan pengalamannya ditampar kenpei, lebih dari enampuluh tahun silam. Mbah Darmo yang saya temui di Yogyakarta, awal Juni, adalah satu dari sekian ribu mantan pekerja paksa di masa pendudukan Jepang (romusha). Di luar performa fisik dan pendengaran yang kian menurun, ingatan Mbah Darmo relatif tajam. Suatu ketika misalnya, Mbah Darmo bersama ratusan pemuda lainnya dari kawasan Prambanan, digiring ke lapangan terbuka di kawasan Maguwoharjo. “Nyang Meguwo, awakku kon ngatoske dalan pesawat Jepang. Bayarane beras sak pincukan. Kabeh korengen!,” (Di Maguwo, Saya disuruh mengeraskan landasan pesawat tentara Jepang. Bayarannya beras sepincuk. Semua romusha korengan!) papar Mbah Darmo dengan tatapan menerawang.

Kini, lapangan udara Maguwoharjo yang penggarapannya di masa Dai Nippon berkuasa melibatkan ribuan romusha, itu telah menjadi Bandara Internasional Adi Sutjipto. “Kancaku tau dibaret nganggo bayonet wetenge!,”(temanku pernah digores perutnya menggunakan bayonet) imbuh Mbah Darmo, yang juga adalah paman ayah saya.

***

Untunglah, Kenpei galak yang berlagak di Senayan dan seputaran Jakarta sejak 16 – 18 Juli lalu itu ternyata gadungan alias imitasi. Bilah samurai, pistol jenis Vickers, juga senapan semi otomatis di punggungnya, adalah tiruan belaka. Pula, mana ada kenpei Jepang menyandang nama Sutjipto. “Ya, saya ikut meramaikan saja, Mas!,” terang Kenpei Tjipto mengaku. Ketika saya cegat di “pasar klitikan”, sepanjang balkon kawasan kolam renang Gelora Bung Karno yang hari itu berubah jadi pasar onderdil sepeda bekas dari berbagai daerah, Kenpei Tjipto tengah memilah lampu sepeda bekas.

Ya, Kenpei Tjipto hanyalah satu dari lebih duaribu penghela sepeda onthels yang tengah berpesta dalaam… Kongres Sepeda Indonesiaa!

Rupa-rupa belaka dandanan para onthelis yang saya temui ahad (18/7) lalu. Dari yang berbaju adat daerah, sosok punakawan, koki, hingga (yang cukup banyak) adalah peserta dengan atribut serba djadoel. Tak heran jika bazaar memorabilia dan barang-barang bekas, paling heboh disatroni pengunjung. “Silakan, Mas! Ini kacamata asli loh!,” ujar Munadi, penjual aneka kacamata “tempo doeloe”. Ia membanderol dagangannya dengan kisaran harga belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Munadi yang datang dari Subang, Jawa Barat, juga menawarkan radio kuno dan bermacam kaset.

Lain lagi dengan Muntholib (48), yang datang dari Madiun beserta 50an rekan penggemar onthel. Diangkut kereta api barang mereka langsir ke Stasiun pasar Senen. Bersama sepeda onthel kesayangan, ikut terangkut perlengkapan masak dan pernak-pernik yang akan dipamerkan saat arak-arakan keliling Jakarta.

Suasana akrab dan guyup terlihat ketika Muntholib dan sohib penggemar onthel dari berbagai daerah bersua. “Ini nikmatnya ngonthel, Mas! Kita ndak menonjolkan apa yang kita punya, tapi menawarken apa yang kita bisa, hehe”. Siang itu, dari semula hanya karyawan swasta dengan tiga anak, Muntholib moncer jadi Letnan Kolonel Tentara Repoeblik Indonesia (TRI). Lengkap dengan seragam warna khaki, peci warna krem dipasang miring, plus selempang kulit dengan sepucuk pistol di pinggangnya yang gendut.

Aaangkat tangann..! Menyerah ato modiarr!,” ancam Muntholib kepada koleganya yang hari itu jadi tentara KNIL, salah satu korps tentara bentukan militer kolonial Belanda. Ditodong Letkol Muntholib, tentara Kumpeni yang menyandang senapan laras panjang itu pilih angkat tangan dengan raut muka belagak kecut. Fragmen guyon itu pun diakhiri dengan tawa yang pecah.

***

Asyik sekali bersua dan ngobrol dengan para onthelis dari berbagai kota yang mengepung Ibu Kota. Saya memang lebih terbiasa dengan sepeda gunung, dan cukup rutin bersepeda. Saya merasakan bagaimana para onthelis sangat jarang “pamer kekayaan” sepeda. Mereka lebih condong menawarkan kebersahajaan dan solidaritas. Tapi, buang jauh-jauh anggapan bahwa sepeda onthel berikut komponennya murahan belaka. Terlebih yang orisinil dan memang berusia lawas. Di sebuah stand “Gazzelle” misalnya, tampak dipajang sepeda tua seharga Rp 10 juta – Rp 20an juta. Lainnya di kisaran Rp 15 juta. Di kalangan penggemar sepeda gunung, sepeda seharga Rp 30 juta – Rp 100 juta lebih, tidaklah mengherankan.

Lebih dari semua itu, kalangan onthelis itu telah “memamerkan” sesuatu yang sangat bernilai. Etalase toko sepeda manapun tak mungkin memajangnya, karena teramat mahal dan langka : kebersahajaan dan solidaritas. Entah, di mana saya bisa membelinya untuk saya pamerkan setiap kali bersepeda.

Selasa, 13 Juli 2010

Layang-Layang Putus yang Melukis Sendiri Langit Rumahnya




ia datang menjelma layang-layang
menggembala kawanan awan berbulu abu-abu
mengawinkannya tiap sepasang, menjadikannya bunting dan beranak pinak
menjelmakan hujan
menyisakan pelangi
yang ia lukis dengan warna-warni tubuhnya sendiri
dan angin pun cemburu
enggan mengajaknya berdansa
sebuah hempasan bahkan memutuskan tali
layang-layang memilih pulang,
melukis sendiri langit rumahnya
yang tak bertepi

(gondangdia, 0710)

Sabtu, 10 Juli 2010

Gasing Bambu yang Mengitari Dunianya Sendiri


Seorang sahabat memberiku gasing bambu buat anakku ketika senja layu. Gasing yang indah dengan lubang hitam dari galaksi yang belum terpetakan. Stephen Hawking niscaya dibuat kagum manakala satu postulat tatasurya rancangannya telah gugur karenanya.

Tapi tidak bagi putraku. Ia mendekap gasing itu dari malam ke malam. Hingga ke tubir mimpi.

Dalam mimpinya gasing pemberian sahabatku itu terus berputar. Memanen gravitasi dan menyedot segala saja yang ada di sekitarnya. Guling. Selimut. Kasur. Setruman nyamuk. Laptop yang masih menyala menunggu ditulisi puisi. Minyak kayu putih. Sajadah. Papan selancar. Sepeda gunung. Terakhir, menyedot aku dan istriku yang belum selesai bercumbu.


Buitenzoorg. 07.10

Jumat, 09 Juli 2010

Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu (2)


Perempuan itu menjelma hujan sore tadi. Menawariku basah tepian musim yang tak mungkin menumbuhkan sekuntum kenanga di kebun benakku. Lelangit pekat. Seperti sekeping gulana di alisnya yang pekat dengan perdu berpucuk ungu. Tempat serangga menitipkan larva dan beranak pinak menjelma kupu.

Aspal masih lembab. Telanjang tanpa segumpil batu serupa onak di sela jari kakimu. Seperti telanjangmu ketika mengantarku pulang ke beranda waktu. Tuhan titip salam, kepadamu. Ujarnya diserta petir berulang kali.
Sampai di sebuah tikungan aku menatapnya untuk terakhir kali.
Ia menjelma api.

(Buitenzorg, July 2010)

Kamis, 08 Juli 2010

Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu


Perempuan itu datang sebagai hujan. Bertamu kepadaku ketika senja mulai menepi. Ia ketuk pintu benakku tiga kali antara ragu dan rindu bertemu. Tapi engsel pintu kubiarkan kaku. Mengawali diam benakku ragu. Sebab aku cemas ia masih menggenggam halilintar. Yang hanya menjadikanku terhenyak dan kuyup. Juga terbakar.

Perempuan itu datang menjelma badai. Tempias ujung rambutnya melembabkan waktu. Tiba-tiba jam dinding berhenti berdetak begitu binar matanya menyandera mataku. Sampai aku tak sanggup melihat selain sekeping ingatan masa lalu.

Keretaku datang dan perempuan itu mulai melambai dari kejauhan. Perlahan dengan jemari lentik rinai hujan. Yang tak sanggup aku genggam.

Keretaku menjauh. Benakku berpeluh. Ketika hujan reda, perempuan itu pulang sebagai awan.

(Buitenzorg, July 2010)