Rabu, 28 Juli 2010

Bocah Laki-laki yang Jatuh Cinta pada Pohon


sebatang pohon curhat padaku siang itu. ia bilang baru didatangi bocah laki-laki yang mengaku cinta kepadanya. bocah itu mendekat, meraba gurat epidermis wajahnya, lalu ia tersenyum-senyum (rindu yang dikulum)

apa yang bocah itu mau?, kataku
kambium di pusat tubuhku!
kenapa begitu?
ia berkata dari sanalah dirinya bermula, ia ingin pulang ke kambiumku

dan malamku tiba tapi segera saja berlalu tanpa kejatuhan sebutir mimpi
dan pada sebuah fajar aku terbangun, terkesiap
mendapati bocah laki-laki itu terbaring
di sisiku
tersenyum senyum (rindu yang dikulum)

Minggu, 18 Juli 2010

Waspada! Koempeni dan Kenpeitai Moentjoel Lagi !




“Minggir!..Minggir..! Awas, haik! Bagerooo..!,”

Kenpeitai bermata sipit dengan samurai tersampir di pinggang itu mengibaskan tangan. Menyuruh seorang ibu muda yang menggandeng putri kecilnya itu menepi. Saat menghardik itu loh! Mimiknya serius meyakinkan, mulutnya dimonyong-monyongkan. Seragam hijau lumut bertabur pangkat kemiliteran kekaisaran Jepang di pundak dan dada, kian membuatnya berwibawa. Sesekali Sang Kenpei menaikturunkan kacamata bulatnya. Mendelik-delik ke arah si bocah. Eeh, alih-alih takut, si ibu dan putrinya malah senang dan cekikian. Lah, kok!

****

Woah! Pipiku tau ditampar kempei ping pindo! Pluok!..pluok! Loro tenan! Kempei kui kejam, galak’e ngepol!” (“Wah, pipiku pernah ditampar kenpeitai dua kali. Plok! Plok! Sakit banget. Kenpei itu kejam, galak banget!”) ujar Mbah Darmo (80an), menceritakan pengalamannya ditampar kenpei, lebih dari enampuluh tahun silam. Mbah Darmo yang saya temui di Yogyakarta, awal Juni, adalah satu dari sekian ribu mantan pekerja paksa di masa pendudukan Jepang (romusha). Di luar performa fisik dan pendengaran yang kian menurun, ingatan Mbah Darmo relatif tajam. Suatu ketika misalnya, Mbah Darmo bersama ratusan pemuda lainnya dari kawasan Prambanan, digiring ke lapangan terbuka di kawasan Maguwoharjo. “Nyang Meguwo, awakku kon ngatoske dalan pesawat Jepang. Bayarane beras sak pincukan. Kabeh korengen!,” (Di Maguwo, Saya disuruh mengeraskan landasan pesawat tentara Jepang. Bayarannya beras sepincuk. Semua romusha korengan!) papar Mbah Darmo dengan tatapan menerawang.

Kini, lapangan udara Maguwoharjo yang penggarapannya di masa Dai Nippon berkuasa melibatkan ribuan romusha, itu telah menjadi Bandara Internasional Adi Sutjipto. “Kancaku tau dibaret nganggo bayonet wetenge!,”(temanku pernah digores perutnya menggunakan bayonet) imbuh Mbah Darmo, yang juga adalah paman ayah saya.

***

Untunglah, Kenpei galak yang berlagak di Senayan dan seputaran Jakarta sejak 16 – 18 Juli lalu itu ternyata gadungan alias imitasi. Bilah samurai, pistol jenis Vickers, juga senapan semi otomatis di punggungnya, adalah tiruan belaka. Pula, mana ada kenpei Jepang menyandang nama Sutjipto. “Ya, saya ikut meramaikan saja, Mas!,” terang Kenpei Tjipto mengaku. Ketika saya cegat di “pasar klitikan”, sepanjang balkon kawasan kolam renang Gelora Bung Karno yang hari itu berubah jadi pasar onderdil sepeda bekas dari berbagai daerah, Kenpei Tjipto tengah memilah lampu sepeda bekas.

Ya, Kenpei Tjipto hanyalah satu dari lebih duaribu penghela sepeda onthels yang tengah berpesta dalaam… Kongres Sepeda Indonesiaa!

Rupa-rupa belaka dandanan para onthelis yang saya temui ahad (18/7) lalu. Dari yang berbaju adat daerah, sosok punakawan, koki, hingga (yang cukup banyak) adalah peserta dengan atribut serba djadoel. Tak heran jika bazaar memorabilia dan barang-barang bekas, paling heboh disatroni pengunjung. “Silakan, Mas! Ini kacamata asli loh!,” ujar Munadi, penjual aneka kacamata “tempo doeloe”. Ia membanderol dagangannya dengan kisaran harga belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Munadi yang datang dari Subang, Jawa Barat, juga menawarkan radio kuno dan bermacam kaset.

Lain lagi dengan Muntholib (48), yang datang dari Madiun beserta 50an rekan penggemar onthel. Diangkut kereta api barang mereka langsir ke Stasiun pasar Senen. Bersama sepeda onthel kesayangan, ikut terangkut perlengkapan masak dan pernak-pernik yang akan dipamerkan saat arak-arakan keliling Jakarta.

Suasana akrab dan guyup terlihat ketika Muntholib dan sohib penggemar onthel dari berbagai daerah bersua. “Ini nikmatnya ngonthel, Mas! Kita ndak menonjolkan apa yang kita punya, tapi menawarken apa yang kita bisa, hehe”. Siang itu, dari semula hanya karyawan swasta dengan tiga anak, Muntholib moncer jadi Letnan Kolonel Tentara Repoeblik Indonesia (TRI). Lengkap dengan seragam warna khaki, peci warna krem dipasang miring, plus selempang kulit dengan sepucuk pistol di pinggangnya yang gendut.

Aaangkat tangann..! Menyerah ato modiarr!,” ancam Muntholib kepada koleganya yang hari itu jadi tentara KNIL, salah satu korps tentara bentukan militer kolonial Belanda. Ditodong Letkol Muntholib, tentara Kumpeni yang menyandang senapan laras panjang itu pilih angkat tangan dengan raut muka belagak kecut. Fragmen guyon itu pun diakhiri dengan tawa yang pecah.

***

Asyik sekali bersua dan ngobrol dengan para onthelis dari berbagai kota yang mengepung Ibu Kota. Saya memang lebih terbiasa dengan sepeda gunung, dan cukup rutin bersepeda. Saya merasakan bagaimana para onthelis sangat jarang “pamer kekayaan” sepeda. Mereka lebih condong menawarkan kebersahajaan dan solidaritas. Tapi, buang jauh-jauh anggapan bahwa sepeda onthel berikut komponennya murahan belaka. Terlebih yang orisinil dan memang berusia lawas. Di sebuah stand “Gazzelle” misalnya, tampak dipajang sepeda tua seharga Rp 10 juta – Rp 20an juta. Lainnya di kisaran Rp 15 juta. Di kalangan penggemar sepeda gunung, sepeda seharga Rp 30 juta – Rp 100 juta lebih, tidaklah mengherankan.

Lebih dari semua itu, kalangan onthelis itu telah “memamerkan” sesuatu yang sangat bernilai. Etalase toko sepeda manapun tak mungkin memajangnya, karena teramat mahal dan langka : kebersahajaan dan solidaritas. Entah, di mana saya bisa membelinya untuk saya pamerkan setiap kali bersepeda.

Selasa, 13 Juli 2010

Layang-Layang Putus yang Melukis Sendiri Langit Rumahnya




ia datang menjelma layang-layang
menggembala kawanan awan berbulu abu-abu
mengawinkannya tiap sepasang, menjadikannya bunting dan beranak pinak
menjelmakan hujan
menyisakan pelangi
yang ia lukis dengan warna-warni tubuhnya sendiri
dan angin pun cemburu
enggan mengajaknya berdansa
sebuah hempasan bahkan memutuskan tali
layang-layang memilih pulang,
melukis sendiri langit rumahnya
yang tak bertepi

(gondangdia, 0710)

Sabtu, 10 Juli 2010

Gasing Bambu yang Mengitari Dunianya Sendiri


Seorang sahabat memberiku gasing bambu buat anakku ketika senja layu. Gasing yang indah dengan lubang hitam dari galaksi yang belum terpetakan. Stephen Hawking niscaya dibuat kagum manakala satu postulat tatasurya rancangannya telah gugur karenanya.

Tapi tidak bagi putraku. Ia mendekap gasing itu dari malam ke malam. Hingga ke tubir mimpi.

Dalam mimpinya gasing pemberian sahabatku itu terus berputar. Memanen gravitasi dan menyedot segala saja yang ada di sekitarnya. Guling. Selimut. Kasur. Setruman nyamuk. Laptop yang masih menyala menunggu ditulisi puisi. Minyak kayu putih. Sajadah. Papan selancar. Sepeda gunung. Terakhir, menyedot aku dan istriku yang belum selesai bercumbu.


Buitenzoorg. 07.10

Jumat, 09 Juli 2010

Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu (2)


Perempuan itu menjelma hujan sore tadi. Menawariku basah tepian musim yang tak mungkin menumbuhkan sekuntum kenanga di kebun benakku. Lelangit pekat. Seperti sekeping gulana di alisnya yang pekat dengan perdu berpucuk ungu. Tempat serangga menitipkan larva dan beranak pinak menjelma kupu.

Aspal masih lembab. Telanjang tanpa segumpil batu serupa onak di sela jari kakimu. Seperti telanjangmu ketika mengantarku pulang ke beranda waktu. Tuhan titip salam, kepadamu. Ujarnya diserta petir berulang kali.
Sampai di sebuah tikungan aku menatapnya untuk terakhir kali.
Ia menjelma api.

(Buitenzorg, July 2010)

Kamis, 08 Juli 2010

Perempuan yang Mengantarku Pulang Senja Itu


Perempuan itu datang sebagai hujan. Bertamu kepadaku ketika senja mulai menepi. Ia ketuk pintu benakku tiga kali antara ragu dan rindu bertemu. Tapi engsel pintu kubiarkan kaku. Mengawali diam benakku ragu. Sebab aku cemas ia masih menggenggam halilintar. Yang hanya menjadikanku terhenyak dan kuyup. Juga terbakar.

Perempuan itu datang menjelma badai. Tempias ujung rambutnya melembabkan waktu. Tiba-tiba jam dinding berhenti berdetak begitu binar matanya menyandera mataku. Sampai aku tak sanggup melihat selain sekeping ingatan masa lalu.

Keretaku datang dan perempuan itu mulai melambai dari kejauhan. Perlahan dengan jemari lentik rinai hujan. Yang tak sanggup aku genggam.

Keretaku menjauh. Benakku berpeluh. Ketika hujan reda, perempuan itu pulang sebagai awan.

(Buitenzorg, July 2010)

Selasa, 08 Juni 2010

Yuuk, Latihan Njogett...




Anik Triyani menulis begini…

"Mas bagaimana cara kita menemukan inspirasi dalam menulis?" Pertanyaan itu terlontar cukup semangat dari hati. "Coba temukan inspirasi-inspirasi itu dari kejadian yang kita temui dalam keseharian". It's simple answer. Tapi, jika dimaknai dengan semangat dari hati, kata-kata ini layaknya sebuah mutiara biru bagi yang tahu.

Entahlah, kenapa keinginan untuk menulis ini berkobar dalam setiap kedipan mata. Ada rasa bersalah lebih tepatnya, melintas dalam setiap ingatan. Memang, sudah seumur jagung tumbuh keinginan menulis ini. Setelah agak lama terkubur.

Sejak kejadian itu, kejadian yang membuatku merasa enggan untuk menulis. Ku stop kebiasaanku menulis apapun. Dulu fiksi, essay, perjalanan keseharian, pengalaman ironis bahkan yang tragis sekalipun aku tulis. Kini, bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali menulis. Aneh, aku tak menyadari hal itu hingga sekarang.

Dan sampai saatnya aku bertemu dengan "sang penangsang". Baru aku ingat bahwa selama ini aku telah melupakan kesukaanku. Hobi yang membuat imajinasiku tumbuh, hati kaya, dan tangan menjadi tebal (karena seringnya ngetik).

Hanya sedetik aku katakan, sebab aku merasa kekurangan waktu. Bertemu dengan "sang penangsang". Biar begitu, inspirasi mengalir dengan deras. Dan, hati ini merasa malu. Malu untuk membohongi diri bahwa ternyata keinginan menulis itu masih ada.

Sudah lama "semangat dari hati" tidak bergerak. Untuk mulai bermain dalam dunia yang selama ini kulupakan. Yup, dunia menulis, bermain dengan hati. Benar sekali kata-kata tokoh Mentari pada novel “9 Matahari”. Bahwa, "Roda memang berputar, namun adakala roda itu akan menjadi bocor atau kempis. Maka dari itu roda tidak bisa diputar lagi”. Eits, tunggu dulu... biarpun roda sudah tidak bisa menggelinding, setidaknya masih bisa dipindah tempatkan! Iya, bila perlu dengan diseret atau diangkat!

Dan…"Anik menulis lagi!!!".

Kuakui, dulu aku sempat kecewa dengan apa yang namanya "bermain" menulis. Aku down. Hasrat memainkan pena redup. Aku belum berusaha untuk membuat diri ini up lagi untuk menarikan pena dan mengekspresikan gelinjang dari relung hati dan pikiran lewat segores tulisan. Dan oke! aku akan membuat roda ini berpindah tempat. Akan kupaksa diri ini untuk menyeretnya!

Terima kasih "sang penangsang", yang telah menggerakkan dan membangkitkan kesadaran ini. Memulai lagi memainkan pena, mengekspresikan rasa dan mengelola pikiran dengan MENULIS.

Plok...Plok...Plok, kutepuk dada ini dengan semangat dari hati yang membara.

***

Di atas adalah “kesan” Anik Triani, seorang mahasiswa UGM, Yogyakarta, seusai menemani rekan- rekannya mengikuti pelatihan menulis di kampusnya, 2 Juni lalu. Dia menuliskan itu di dinding facebook saya. Itu adalah yang kedua kali saya diundang untuk menemani mereka belajar menulis. Kedua kali pula saya ketemu Anik. November dua tahun silam adalah yang pertama, di acara yang juga hampir sama. Mereka mengajak saya bareng-bareng belajar menulis.

Saya sendiri berpendapat menulis memang bukan hal gampang. Menulis yang bagus maksudnya. Dengan cukup “gizi” dan cukup "seksi". Untuk itulah saya tak pernah berhenti berlatih.

Senja seusai pelatihan, Anik, dan dua rekannya, Fajar dan Vemy, menemani saya mengganyang seporsi Nasi Ayam Brekele di Kafetaria. Tak jauh dari Gelanggang Mahasiswa UGM. Ebiet, adik yang saya minta antar- jemput, memilih menu Ayam Lumpur Lapindo. Menu yang disebut terakhir tak ada hubungannya dengan perusahaan Bakrie. Lapindo versi UGM itu berupa seporsi nasi dan daging ayam dengan siraman kuah kental warna coklat terang berikut empat iris buncis rebus dan wortel. Entah, apakah penggagas menu ini pernah melongok kawasan bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo sono… Seingat saya, “kuah” lumpur yang bikin ribuan warga Sidorajo jatuh nelangsa itu berwarna abu-abu pekat. “Betul, Mas, kafetaria ini memang baru setahun terakhir berdiri,” ujar Fajar.
Seporsi brekele dan lumpur lapindo dihargai Rp 6.500.

“Gimana cara Mas Prio mendapatkan inspirasi dalam menulis?” Anik membuka percakapan. Sembari meneguk segelas jeruk panas, saya cerita sekelumit pengalaman menulis kepada mereka. Menulis berita maupun fiksi.

Inspirasi? Saya jadi teringat dengan sebuah pengalaman pada 1997. Bersama dua rekan pers mahasiswa, Timotius Suwardi dan Aris Budiprasetyo, saya membuat janji wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer di rumahnya, Jalan Multikarya, kawasan Utan Kayu.
Menerima kami bertiga, laki-laki tua - wafat 2006 dalam usia 81 tahun - itu hanya mengenakan kaus oblong putih dengan warna yang sudah pudar. Celana pendek katun plus kaus usang yang sewarna dengan kaus oblong. Kebersahajaan itu tak mengurangi rasa “gentar” kami ketika bertemu sastrawan yang beberapa kali didapuk sebagai nominee peraih nobel sastra itu.

Siang itu, kami ingin melakukan verifikasi terkait budaya kekerasan yang merebak. Juga relasi kekerasan oleh negara yang dialaminya saat 14 tahun mendekam di Pulau Buru. Referensi saya untuk soal ini hanya satu, buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ditulis Pram semasa dalam pembuangan di di Pulau Buru, kesan saya hanya hanya satu : mengerikan! Selebihnya adalah soal kepiawaian Pram menuturkan fakta-fakta secara lugas dan nyaris tanpa emosi. Beberapa buku karya Pram lainnya yang sudah saya baca sebelum wawancara itu berlangsung adalah Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.
“Ah, kalian tak usah pura-pura tak tahu. Di pundak yang muda-muda ini kekerasan (orde baru) itu harus kalian tulis!” ujar Pram dengan air muka tenang. Lantas mengembuskan asap rokok kreteknya. Djambu Bol. Saya yang bukan perokok dibuatnya terbatuk setidaknya enam kali.

Di ruang dalam, Muthmainah Thamrin, istri Pram, menyiapkan teh manis buat berempat. Muthmainah, putri Muhammad Hoesni Thamrin, itu terlihat anggun dan masih gesit. Gurat-gurat kecantikan masih tampak di wajahnya. “Silakan diminum,” ujarnya dengan seulas senyum. Lalu bergegas menyingkir ke dalam saat kami kembali meneruskan obrolan. Saya yakin, Muthmainah bisa mendengar percakapan kami. Beberapa kali kami harus bertanya dengan volume suara tinggi agar Pram dengar apa yang kami tanyakan. Hajaran popor senapan seorang prajurit TNI bernama Sulaiman memang telah menjadikan pendengaran Pram rusak.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Pram adalah ketika saya mulai bekerja dan menetap di Jakarta, pada 2000. Percakapan tak pernah bisa berlangsung lama. Pram masih menjadi magnet bagi siapapun. Termasuk anak-anak muda yang ingin minta tanda tangan, berfoto.

“Buku apa lagi nih, yang akan bapak tulis?,” saya mendekati Pram seusai memberi orasi budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM).
Nggak. Saya nggak mampu menulis lagi sekarang. Sudah tua..”
Lah, terus ngapain aja di rumah?”
“Biasa, mbakar sampah di kebon, hehe..,” Pram tersenyum, membetulkan topi pet warna hitam di kepalanya sembari mengembuskan asap tembakau dari cangklong. Beberapa jenak kemudian percakapan terputus, lusinan anak muda menghambur mengajaknya foto bersama. Pram tak menolak. Terkekeh.

Pengalaman Pram, atau Pram itu sendiri, adalah salah satu inspirator saya dalam menulis. Ia tak lumer dengan kondisi penuh tekanan. Dan memilih terus menulis. Entah, bagaimana dia menggali sumber-sumber tulisannya ketika dalam pasungan era kolonial Belanda atau pun orde baru.

Buku-buku dan arsip penting di Perpustakaan, harta yang sangat dicintainya, ludes dibakar tentara sebelum ia digiring ke Buru sebagai tapol.
Atau jangan-jangan, penderitaan itulah sumber inspirasi terbesarnya. Mungkinkah “penderitaan inspiratif” dikondisikan?

Lah, terus sejak kapan Mas Prio mulai menulis?” ujar Anik di sela jeda latihan menulis sore itu.
“Sejak SMP, saya mulai rutin menulis puisi, juga cerpen,” saya mencoba mengingat. Buku catatan harian semasa SMP masih saya miliki. Kebanyakan puisi. Ketika berada di atas geladak kapal ferry di Selat Sunda, misalnya, saya menulis puisi. Tentang buih putih di laut, bintang di langit. Tentang harapan. Ya, saya akan mulai sekolah menengah di Yogyakarta sejak itu.
Juga puisi-puisi cinta anak ingusan. Jatuh hati pada seorang gadis berkacamata yang sering melintas di depan rumah. Saya hanya berani menatapnya dari balik pagar perdu. Dan membiarkan puisi saya merayunya diam-diam.

Sejak itu saya selalu ingat, menulis juga merupakan kerja kesunyian. Kerja diam-diam. Jika benak sedang kumuh dan rusuh, tak sepatah kata pun bisa kuanyam hari itu.

Di SMP pula saya mulai menulis prosa cukup kontinyu. Juga membaca.
Yohannes Ratoem, guru Bahasa Indonesia di SMP Xaverius Gisting, Lampung, sukar untuk tidak saya sebut perannya. Sepekan dua kali ia mengajarkan pada semua siswa bagaimana mengarang yang baik. Seingat saya, nilai tertinggi pelajaran mengarang di sekolah itu adalah tujuh. Tak lebih.

Pak Ratoem, paruh baya berpostur tinggi kurus dengan tatanan rambut klimis belah samping. Jika berdiri atau berjalan, posturnya agak melengkung seperti pisang ambon. Jago mendongeng. Ketika pelajaran Bahasa Indonesia menyisakan waktu sepuluh atau limabelas menit, ia akan mengisinya dengan dongeng bersambung. Macam-macam temanya. Kisah Burung Ardana dan Bejo Santoso adalah dua judul yang saya masih ingat jalan ceritanya. Jika mulai mendongeng seisi kelas seperti tersihir. Dari Ratoem pula saya belajar membahasakan imajinasi. Ratoem guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya kenal. Ratoem sangat disiplin. Sejumlah kawan pernah kena tampar gara-gara iseng saat ia mengurai sebuah tema.

Ratoem pula yang meminta saya untuk jadi “Pemimpin Redaksi” majalah dinding sekolah. Tugasnya mencari naskah, menulis, menempel dan mengganti naskah yang hendak “diterbitkan” di majalah dinding berukuran 1m x 3m. Dalam kegiatan yang mengasyikkan itu, saya dibantu Lidya, gadis keturunan Tionghoa yang juga senang menulis. Lidya baik dan rendah hati. Juga cantik.

Gara-gara sebuah puisi pula saya dan sejumlah rekan pernah di interogasi di ruang perpustakaan oleh guru BP. Ceritanya, banyak teman yang tak suka dengan cara seorang guru (baru) saat mengajar dan memberi nilai. Sering nyrempet saru dan royal jika merokok di depan kelas. Pernah, saat mengajar, ia menyuruh seorang teman untuk membelikan rokok di warung yang berlokasi di seberang jalan. Lebih lucu lagi, ia tak segan-segan membagi kunci jawaban saat ulangan harian. Saya lantas diminta membuat puisi kritik dan ditempel di majalah dinding oleh teman-teman sekelas. Saya kerjakan. Di bawah judul puisi terang-terangan saya tulis : "Kepada Pak SB". Belum genap dua jam ditempel, puisi saya kena breidel. Saya dengar Pak Ratoem yang memberangus puisi itu. Saya dan sejumlah rekan lantas ditanyai oleh guru BP. Sama sekali tak dimarahi. Mereka tanya apakah "fakta-fakta" dalam puisi itu benar adanya. "Kalian boleh mengkritik, tapi sebaiknya jangan ditulis nama yang kalian tuju. Ini juga agak keras," ujar Ratoem di depan kelas, sehari setelah insiden puisi protes itu. Saya lihat wajah Ratoem. Ia sama sekali tak marah atau kecewa. Ada segurat senyum, yang segera saja saya artikan sebagai sebentuk dukungan. Seorang guru paling sepuh dan sangat dihormati, juga terang-terangan memberi dukungan. "Katakan saja kalau memang benar, jangan takut-takut!," ujar Pak Ponijo Sepuh, pengampu pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) itu. Kabarnya, gara-gara puisi itu, guru yang kami kritik lewat puisi mendapat teguran dari dewan sekolah.

Atmosfer masa sekolah sungguh inspiratif bagi saya. Di sana saya juga menjalin hubungan baik dengan petugas perpustakaan. Membantu melayani peminjaman buku bagi murid-murid pada jam istirahat. Bonusnya, saya bisa meminjam buku sebanyak yang sanggup saya baca. Novel Layar Terkembang, Siti Nurbaya (Marah Roesli), Atheis (Achdiat KM), hingga Monte Cristo karya Alexander Dumas, adalah beberapa karya yang saat itu saya pinjam dan baca.

Seperti mengupas bawang, fakta-fakta yang hendak kita tulis harus dikupas lapis demi lapis. Semakin dalam, kebenaran (fungsional) akan terkuak. Untuk itu kita juga harus telaten membaca.

Seperti namanya, SMP itu dikelola sebuah yayasan Katolik. Sementara saya dari keluarga muslim. Seingat saya, mayoritas murid di kelas saya beragama Islam. Teman-teman saya juga berasal dari latar belakang beragam. Keturunan Tionghoa, Batak, Lampung, Palembang, juga Jawa. Hanya guru-gurunya yang mayoritas berasal dari Yogyakarta. Mungkin pengalaman itu yang, hingga saat ini, membantu saya dalam menenggang perbedaan.

Ibu memasukkan saya ke sekolah ini karena terkenal dengan kultur disiplin dan bereputasi akademik yang bagus. Mungkin juga karena Ibu kenal dengan beberapa guru di sana. Pilihannya cukup masuk akal. Kala kanak-kanak saya memang badung. Gemar bikin onar. Tapi, saya juga sholat dan rutin mengaji di rumah Mang Udin dan Lik Suwarni, ustadz kampung sebelah. Meski juga tetap suka bikin ribut.

Latar belakang yang beragam itulah yang mempengaruhi saya untuk tidak berfikir monolitik.

“Jika kamu menulis tentang konflik berlatarbelakang etnis dan primordial, kamu akan mendekati obyektif ketika ruang redaksi memiliki latar belakang yang beragam. Tak itu perbedaan etnik maupun agama,” saya memberikan contoh kepada Anik. Mahasiswi Sastra Inggris semester delapan ini manggut-manggut. Obyektifitas bukan tujuan jurnalisme. Orang akan lintang pukang untuk bisa bersikap obyektif. Malahan, akan cenderung utopis jika obyektifitas dipaksa dijadikan tujuan dalam jurnalisme. “Yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati obyektif. Caranya, dengan disiplin verifikasi, selalu nggak puas dengan fakta yang sudah didapat.”

Saya hanya ingin memberi tahu Anik, juga Fajar, Dilla, Galeh, Laras, Febby, Amanda, dan teman-teman peserta pelatihan menulis yang lain, bahwa menulis yang bagus memang tidak mudah. Dengan kesadaran itu kita terpacu untuk bersungguh-sungguh dan berusaha keras melakukannya.

Setelahnya, baru kamu bisa menari dalam kata-katamu sendiri. Yuuk, latihan njoget…
Nang ning nong ning nang ning gungg…